SHOW ME

SHOW ME
membayar



"Terimakasih." Jessy mengambil dua paperbag dari kasir dan memberikannya pada Justin.


"Apa ini?" Justin mengerutkan keningnya, namun tetap menerima paperbag tersebut.


"Kau yang bawa. Kau tega membiarkan wanita membawanya?" Gerutu Jessy. Ia membuka sedikit tasnya, mengeluarkan dompet dan memasang wajah kebingungan.


"Ini tidak berat, mengapa harus tega?" Tanya Justin. Benar-benar menyusahkan belanja dengan wanita.


"Aku lupa membawa kartu." Mendengar itu Justin langsung menaikan alisnya.


"Bayarlah dengan uang." Jawab Justin, hatinya mulai tak enak.


"Aku tidak mempunyai cash. Bayarkan lah dulu, aku akan menggantinya." Justin tertawa kecil mengejek.


"Ah.. sekarang aku tahu modus para wanita saat berbelanja." Dengan hati yang kesal ia mengeluarkan dompetnya, ia tidak tega mengeluarkan kartu yang selama ini ia isi.


"Berapa totalnya." Tanya Justin terlebih dahulu sebelum memberikan kartunya.


"$2.760.-"


"Apa?! Dua baju ini?" Pekik Justin. Kasir itu mengangguk dan menunggu Justin memberikan kartunya.


"Jika dikurangi jas berapa? Hanya dress saja." Senggolan dibahu Justin membuatnya melirik Jessy yang menatapnya tajam.


"Sudah bayar saja, jangan mempermalukan ku." Sial, niatnya ingin membuat Justin kesal, malah ia yang malu melihat kelakuan Justin.


"Astaga, aku tidak ingin diajak berbelanja lagi dengan mu." Gerutu Justin, ia menyodorkan kartunya, ia tidak suka menghamburkan uangnya sendiri, tabungan ini adalah gajinya selama ini. Cita-citanya membeli rumah besar dengan uang hasil keringatnya sendiri.


"Permisi tuan, kartunya." Ujar kasir tersebut, ia berusaha mengambil kartu tersebut, namun Justin menahannya dengan begitu kuat.


"Lepaskan tangan mu. Jangan pelit seperti itu!" Pekik Jessy gemas. Justin menggigit bibir atasnya, menarik nafas dalam dan melepaskan kartu dengan sesabar mungkin.


"Kau tidak tahu, aku mendapatkan uang-uang itu dengan mengorbankan nyawa ku."


"Nyawa apa? Jangan berlebihan, dikantor kau bekerja seenak nya saja begitu." Sindir Jessy. Justin mulai berhitung, isi saldonya sudah $212.000 jika di kurang $2.760 sisanya adalah...


"Ah sebentar, aku lupa pin...nya." ujar Justin pelan. Jessy benar-benar sudah malu.


"Jangan bercanda Justin." Gumam Jessy gemas, ia hendak mengeluarkan kartu debitnya sendiri.


"Baiklah.. baiklah. Ingat ini tidak gratis Jessy." Justin menarik nafasnya panjang, ia menekan enam digit angka dan dengan berat hati menekan tombol hijau.


"Terimakasih." Ujar kasir itu ramah sambil memberikan stuck dan kartu Justin kembali.


Justin membalikan badannya, menatap gemas kearah Jessy yang sudah tersenyum tipis.


"Aku tak percaya dirampok secara sadar oleh calon istri ku." Ujar Justin dengan nada menyindir sambil tersenyum. Jessy membalas senyuman Justin dan menyelipkan tangannya pada tangan Justin, membuat mereka melangkah bersama keluar butik.


"Sekarang kita akan makan dan ke salon." Ujar Jessy riang, membuat telinga Justin mendadak sakit dan tidak bisa mendengar.


"Oh tidak sayang, kita akan pulang dan masak dirumah mu. Bukan kah stock makanan dirumah mu banyak? Makan berdua lebih romantis."


"Tapi aku..." Justin menggelengkan kepalanya, ia membukakan pintu mobil untuk Jessy. Setelah Jessy masuk, ia membuka pintu belakang dan memasukan paperbag.


Saat Justin mengelilingi mobil hendak membuka pintu pengemudi, senyumnya terlihat sinis.


"Aku tahu otak mu sedang merencanakan untuk membuat ku miskin." Gumam Justin, kemudian ia masuk kedalam mobil sambil menutupnya kembali dengan keras.


"Kau yakin tidak akan makan diluar?" Tanya Jessy. Justin mengangguk pasti.


"Sangat yakin." Jawab Justin.


___


Thank you


DHEA


Instagram: Dheanvta