
Keesokan harinya.
Justin sudah bersiap untuk pulang bersama dengan yang lainnya. Ia menonton perpisahan manja Jessy dengan orangtua dan saudaranya. Justin sedikit terkejut saat melihat Robert mambawa koper juga, ia kira Robert akan menemani Jessy sampai LA, namun ternyata Robert juga akan pulang ke Meksiko.
"Ingat ucapan ku kemarin! Jangan sampai aku mendengar kabar kau meninggalkan Jessy, aku pasti akan mencari mu dan memberikan pelajaran yang setimpal!" Justin tersenyum samar dan mengangguk dengan malas.
"Tenang saja, aku pria baik, bertanggung jawab, dan setia. Kemarin hanya sedang sibuk berbisnis." Jawab Justin santai.
"Tapi jangan salahkan aku jika ada beberapa wanita yang mendekati karena ketampanan ku."
"Akan aku hancurkan wajah yang menurut mu tampan itu jika berani berulah." Justin tertawa kecil mendengarnya.
"Tunggu sebentar, apa ini termasuk menekan mental ku? Kakak harus ingat surat perjanjian."
Robert menaikan sebelah alisnya. Bagaimana Jessy bisa sampai suka pada pria seperti ini?.
"Perjanjian itu berlaku jika kalian sudah menikah nanti, dan berhenti memanggilku kakak. Sangat menggangu telinga ku."
"Sudahlah. Sampai kapan kalian akan berdebat." Desis Jessy. Kedua pria ini apa tidak malu dilihat banyak orang?.
"Kita tidak berdebat, hanya memberi nasehat dan aku menjelaskan." Jessy menghela nafas, Justin selalu saja menjawab.
"Mom, Dad aku pulang sekarang." Pamit Jessy sekali lagi. Alex dan yang lainnya pun ikut pamit dan masuk kedalam 3 mobil yang sudah berjajar didepan rumah.
Seperti biasa, Alex dan Axton. Robert di mobil belakang. Sedangkan Justin, Jessy dan Sam di mobil Shawn.
"Sudah semua? Tidak ada yang tertinggal?" Tanya Shawn sambil menyalakan mobilnya.
"Sudah." Jawab mereka kompak. Mobil pun mulai berjalan dan kali ini ditemani music selama perjalanan mereka dan sedikit perbincangan seperti biasa.
Sesampainya di bandara, Jessy memeluk Shawn dan Robert. Penerbangan ke LA lebih awal dari pada Meksiko, membuat
Jessy harus buru-buru pamit, sedangkan Robert menunggu jadwal penerbangannya ditemani Shawn.
"Kita bertemu lagi Minggu depan!" Teriak Jessy dan sudah sedikit menjauh dari Shawn dan Robert sambil melambaikan tangannya.
"Ya! Kabari aku jika sudah sampai." Jawab Robert.
"Kabari aku juga!" Teriak Shawn.
Mereka ikut tersenyum saat melihat Jessy tersenyum lebar dan mulai masuk kedalam. Kini tinggal mereka berdua dan saling menatap seakan berbincang lewat pandangan.
"Ku kira Jessy akan mendapatkan suami yang gagah, berkarisma dan tegas." Ucap Robert pada akhirnya.
"Mungkin Jessy ingin mencari yang humoris dan membuatnya tertawa sepanjang hari." Jawab Shawn dengan nada tawa diakhir ucapannya.
"Awas saja jika dia berani menyakiti adik ku." Gumam Robert.
"Sudahlah, jangan terlalu menekan Justin. Kau ingat? Dulu saat Jessy sekolah, semua pria yang mendekati nya selalu kau takut-takuti sampai tak ada yang berani menjadikan nya pacar." Shawn menepuk halus bahu Robert, dari kecil Robert memang selalu menjahili Jessy, tapi jika ada yang berani menjahili Jessy, Justin tidak akan segan-segan memberikan pelajaran kepada orang itu.
"Aku masih ada satu jam lagi. Mau kesana?" Tanya Robert sambil menunjuk cafe diseberang.
"Baiklah." Shawn melirik orang yang ada didalam dua mobil yang terparkir.
"Kalian pulang duluan saja. Aku akan bersama Robert." Mereka mengangguk dan pulang terlebih dahulu, sedangkan Robert dan Shawn berjalan menuju cafe.
°•°•°•°
Jessy membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah novel. Perjalanannya sangat membosankan karena ia tidak mendapatkan teman mengobrol di pesawat, disebelahnya Justin sudah terlelap kembali saat duduk dikursi pesawat.
"Dia benar-benar kuat tertidur." Gumam Jessy sambil berdecak.
"Karena tidur adalah Hobby ku." Jawab Justin membuat Jessy terkejut.
"Kau tidak tidur?" Tanya Jessy, ia menepuk pipi Justin pelan, wajah pria ini benar-benar tampak tertidur.
Perlahan mata Justin terbuka dan Jessy menjauhkan tangannya.
"Jika aku menjawab artinya aku tidak tertidur Tom."
"Tom? Astaga kartun itu masih kau gunakan?!"
Justin tertawa pelan dan menarik tangan Jessy.
"Kau pemarah. Coba bacakan aku cerita novel itu, agar aku bisa benar-benar tertidur." Wajah Jessy sedikit memerah saat ia melihat tangannya digenggam Justin. Kini Justin tak tampak menyebalkan, ia tersenyum lembut dan kembali memejamkan matanya sambil menggenggam tangannya!.
"Aku juga belum pernah membaca novel ini." Jawab Jessy gugup.
"Baca saja sekarang, aku ingin tau rasanya di bacakan cerita hingga terlelap tidur." Gumam Justin, matanya masih terpejam. Ia harus beristirahat untuk pertemuan nya nanti, ia sangat tidak sabar dan harus bekerja maksimal untuk misi tersebut.
"Baiklah, aku mulai membacanya." Ujar Jessy. Ia sedikit tak tega mendengar itu, Justin mungkin memang dari keluarga kaya, tapi itu tidak selamanya bahagia, ia mungkin tidak merasakan hangatnya kedua orangtuanya yang berada dirumah.
---
Guys maaf ya kemarin ga upload bab. Bener-bener sibuk buat open PO Novel Dosen Killer dan belanja buat lebaran🤭