SHOW ME

SHOW ME
Sepatu



Jessy berada diatas, hendak menuruni anak tangga. Namun wajah gelisah Justin sangat terlihat dari atas sini. Kerutan diwajah Jessy semakin dalam saat melihat Justin menelfon dengan gerakan gelisah, wajahnya terlihat sedikit pucat dan suarnya seakan hilang, atau memang sengaja berbisik dengan seseorang yang sedang ia telfon?. Jessy bisa membaca semua gerak-gerik seseorang, tatapan yang tidak bisa fokus, semuanya bisa Jessy rasakan.


Dengan perlahan ia turun dan berjalan menghampiri Justin.


"Ada apa?" Tanya Jessy. Justin terlihat memasukkan ponselnya dan langsung berdiri, memaksakan diri untuk tersenyum.


"Tidak. Aku kita berangkat."


"Bohong. Ada apa? Kau bisa cerita pada ku." Ujar Jessy. Ia tau sekarang sedang ada yang tidak bener, semua yang Justin keluarkan tidak natural, mulai dari senyuman, gerak-gerik dan cara bicara.


"Tidak ada apa-apa. Aku tidak ingin merusak momen kita."


"Aku tidak akan berangkat jika kau tidak jujur pada ku." Justin terlihat frustasi, ia sedikit menggaruk kepala belakang nya.


"Aku mendapatkan berita seorang wanita dibunuh. Daerahnya didekat rumah teman ku."


"Astaga! Jauhi daerah itu, dan berhenti keluar dimalam hari!" Pekik Jessy. Memang berita akhir-akhir ini begitu menyeramkan dan ia selalu mengkhawatirkan pria tengil yang berkeliaran dimalam hari.


"Tidak, incarannya seorang wanita. Jadi aku mohon kau tidak usah keluar dimalam hari, bahkan jika teman mu mengajak keluar pun kau tidak boleh keluar, apalagi ketempat hiburan malam." Rasa takut Jessy berubah menjadi penasaran, mengapa Justin tahu sedetail itu? Mengapa yang diincar hanya wanita? Dan mengapa harus tempat hiburan malam yang ia sebutkan?.


"Sudahlah. Kita berangkat sekarang, kau kan yang menemani ku, aku tidak akan keluar malam selain bersama mu."


"Janji?" Justin menunjukkan jari kelingking nya, membuat Jessy tertawa kecil dan menautkan jarinya juga.


"Kau seperti bocah." Gumam Jessy pelan.


•••


Selama diperjalanan mereka berdua hanya mengeluarkan beberapa obrolan singkat, pikiran Justin terlalu kabur memikirkan kasus yang semakin besar ini.


"Menurut mu yang mana?" Tanya Jessy.


"Hah? Oh yang ini bagus." Ujar Justin. Ia tidak fokus jika tidak melihat TKP langsung, namun entah kenapa hatinya lebih tak tenang jika meninggalkan dan membuat Jessy kecewa. Bahkan tanpa pikir panjang, Justin hanya meminta Sara mengirimkan beberapa foto di lokasi dan dugaan-dugaan yang bisa memperkuat bukti senjata apa yang digunakan pelaku untuk membunuh korban.


"Apa ini tidak terlalu tinggi? Bagaimana jika yang ini?" Tanya Jessy kembali. Justin meneliti sepatu yang dipilih Jessy.


"Bagus. Tapi aku lebih suka yang berwarna hitam." Jawab Justin. Jessy mengangguk pelan, ia kembali berjalan sambil melihat-lihat sepatu yang berjajar cantik.


"Permisi nona. Kau ingin melihat koleksi terbaru kami?" Ucapan seorang pelayan toko membuat Jessy dan Justin menghentikan langkahnya. Jessy mengangguk dan mengikuti arah yang ditunjuk pelayan tersebut.


"Jika kau ingin menunggu ku, tunggu lah disana." Jessy mengerti, mungkin Justin lelah dan bosan mengantarkan wanita berbelanja, melihat dari raut wajah Justin yang kurang bersemangat.


"Kau tidak apa-apa memilih sendiri? Aku tetap mengawasi ku dari kursi." Jessy hanya tersenyum dan mengangguk menjawab ucapan Justin.


Setelah Jessy berjalan kearah tengah bersama pelayan tersebut, Justin duduk disebuah kursi tunggu yang ada didalam toko. Ia mengeluarkan ponselnya dan memeriksa email serta pesan masuk kenomornya.


Justin menarik nafasnya, ia menemukan email masuk dari Sara, sebuah dokumen yang berisi foto-foto dan ketikan.


10 foto yang menunjukkan lokasi, korban, dan beberapa foto korban dengan luka-luka lebam tanpa darah ditubuhnya. Justin men-zoom bagian simbol bintang yang ada ditubuh korban. Kini Justin hanya menunggu hasil otopsi dan mulai berfikir cara lain untuk menemukan pembunuh ini, ia terlihat pintar dan menghindari setiap CCTV yang ada. Sepertinya telah mengetahui letak CCTV dimana saja, hingga saat dilacak pun ia hanya bisa melihat bagian tubuh belakang pelaku.


Justin mengedarkan pandangannya, ia kembali fokus pada Jessy, wanita itu tampak senang dengan beberapa sepatu yang ditunjukan.


"Aku akan membelikan semua yang kau suka." Gumam Justin, lagi pula ia akan membayar ini enggan kartu kredit ayahnya haha. Ia berdiri dan berjalan mendekati Jessy.


___


jangan lupa like dan hadiah🥰