Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
9. Mulai Cinta?



Selamat Membaca !!


***


Menyudahi kegiatan menulisnya, Adistya kemudian keluar dari kamar dan pergi menuju dapur. Saat kakinya baru saja menginjak anak tangga terakhir, kening Adistya di buat mengerut saat mendapati seorang perempuan paruh baya yang tengah membersihkan rumah. 


“Gue kira Si Gagap gak punya ART,” gumam Adistya pelan. Memang, awalnya ia berpikir begitu dan sempat menjadi pikirannya harus bagaimana cara membersihkan rumah sebesar ini seorang diri di saat dirinya tidak sama sekali bisa melakukan semua itu, karena jujur saja di rumah ayahnya, jangankan untuk membersihkan rumah, kadang membersihkan kamar sendiri saja Adistya malas.


“Eh, Non siapa ya?” tanya wanita baya itu saat Adistya melangkah mendekat.


“Saya Adistya, Bi. Kalau boleh tahu Bibi siapa?” balik Adistya bertanya. Tidak apdol rasanya jika tidak mengenal Asisten Rumah Tangga yang ada di rumah yang kini dirinya tempati. Adistya tidak sesombong itu, tolong di ingat.


“Saya Nur, ART-nya Den Gavril,” Adistya mengangguk, karena itu sesuai dengan tebakkannya. “Non Istrinya Den--”


“Iya Bi.” Balas Adistya dengan cepat, sebelum wanita baya itu melanjutkan ucapannya. Adistya masih merasa horor mendengar nama Gavril sebagai suaminya.


“Kalau begitu salam kenal, Non. Saya kerja hanya dari siang sampai pukul tujuh malam, kalau ada apa-apa Non bisa panggil saya.” Senyum wanita baya itu terukir ramah dan Adistya tentu saja membalasnya diiringi dengan anggukan, sebelum kemudian pamit untuk melanjutkan tujuannya menuju dapur.


Jam yang sudah menunjukan pukul empat sore ini membuat perut Adistya lapar dan ia berniat untuk masak. Mengemil memang tidak pernah membuat perutnya kenyang.


Sosis baso asam manis, rolade telur dan capcay adalah menu yang Adistya buat untuk sekarang ini. Meskipun sebenarnya malas menyediakan makan untuk suaminya, Adistya tetap saja masih mempunya hati nurani, ia sengaja memasak agak banyak. Di makan atau tidaknya oleh Gavril itu urusan pria itu, yang penting dirinya sudah memasak menjalankan salah satu tugasnya sebagai istri. Meskipun Adistya belum dapat menerima pernikahan ini, tapi tetap saja dirinya sudah menjadi seorang istri. Perkataannya memang tidak mengakuinya, namun hatinya tetap sadar bahwa dirinya sudah menikah. Selemah itu memang hati wanita.


Selesai dengan urusan masak-memasaknya, Adistya kembali naik ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat, setelah itu barulah ia kembali ke bawah, dan tidak menyangka bahwa Gavril sudah ada di meja makan, melahap makanan yang di masaknya sore tadi. 


“Lahap banget makannya, lapar?” ujar Adistya sarat akan sindiran, lalu duduk di kursi beseberangan dengan Gavril yang menghentikan makannya untuk memberikan delikan pada istrinya yang malam ini entah mengapa membuat jantung Gavril berdebar hanya sekedar melihat Adistya yang terlihat segar dengan piyama tidurnya. 


Manisnya wanita itu benar-benar alami dan itu membuat Gavril terpesona, walau dirinya tidak akan pernah mengakui itu, apalagi di depan Adistya langsung.


“Itu lo tahu!” delik Gavril yang kemudian melanjutkan makannya. “Lo mau ngapain?” pertanyaan bodoh yang Gavril layangkan menghentikan Adistya yang akan menyendok nasi ke dalam piringnya, mengernyitkan kening menatap laki-laki di depannya.


“Makan. Kenapa memangnya? Gue gak boleh makan masakan gue sendiri?”


Uhuk ... uhuk ...


Gavril dengan segera meraih gelas di samping piringnya dan segera meneguk habis air di dalamnya. “Pantes rasanya beda. Sial gue malu sendiri. Kenapa juga bisa selahap ini makannya, ck malu-maluin!” gerutu Gavril dalam hati. Namun masa bodo dengan itu, Gavril memilih melanjutkan makannya. Toh, sudah terlanjur. Sayang jika tidak di habiskan.


Dalam hati Adistya terus mencibir dan ingin sekali tertawa melihat salah tingkah laki-laki di depannya. Ia sadar bahwa sebelumnya mungkin laki-laki itu akan memberikan nyinyiran dan mengajaknya berdebat. Namun rasa malu lebih dulu laki-laki itu terima.


Memilih untuk tidak mengundang perdebatan, Adistya kemudian menikmati makan malamnya hingga semua makanan yang ada di meja benar-benar habis oleh mereka bedua.


“Tumben baik,” cibir Adistya, mengundang dengusan Gavril yang baru saja melangkahkan kaki menuju wastafel.


“Sejak lahir gue baik,” ujar Gavril tanpa menoleh sedikitpun pada Adistya yang masih setia duduk di tempatnya.


“Masa? Kok gue gak percaya?” Adistya menaikan sebelah alisnya, walau Gavril tidak sama sekali menoleh.


“Makanya lo harus kenali gue, biar lo tahu seberapa baiknya gue.”


“Gue terlanjur mengenal sisi iblis lo, dan mungkin akan selalu itu yang gue ingat tentang lo.”


Setelah mengatakan itu, Adistya meninggalkan dapur dan Gavril langsung menghentikan pekerjaannya mencuci piring. Perkataan yang di layangkan Adistya cukup menampar Gavril untuk kembali ke masa beberapa tahun lalu, dimana dirinya memang senang mempermalukan dan merendahkan wanita yang menjadi istrinya saat ini. 


Mengedikkan bahu, Gavril kembali menyelesaikan mencuci piringnya sebelum kemudian naik ke kamarnya sendiri untuk membersihkan tubuh yang seharian ini lelah di ajak bekerja.


..._______...


Terlalu asyik dengan dunia menulisnya, Adistya sampai tidak menyadari bahwa malam semakin larut, namun kantuk tidak juga kunjung menyerang. Lelah, tentu saja Adistya rasakan, apalagi di bagian punggung dan lehernya yang terasa kaku, tapi tidak ada sedikitpun tanda matanya akan terpejam.


Memutuskan untuk keluar kamar dan menonton televisi mungkin menjadi pilihan terbaiknya saat ini. Adistya tidak lupa membawa selimutnya dan beberapa camilan untuk menemaninya menonton di tengah malam seperti ini. 


Ruangan yang sudah gelap tidak membuat wanita cantik itu merasa seram. Adistya sudah terlalu biasa dengan suasana sepi dan gelap seperti ini mengingat hampir setiap hari dirinya menghabiskan malam dengan mata melek, berkutat dengan hobi sekaligus pekerjaannya, dan baru akan tertidur begitu hari sudah menjelang pagi. Kebiasaan yang membuatnya jadi insomnia seperti ini, dan itu memang cukup sulit Adistya hilangkan.


“Lo belum tidur?” Gavril yang terbangun dari tidurnya dan berniat akan ke dapur, penasaran dengan suara televisi yang menyala, dan tidak menyangka akan mendapati istrinya duduk seorang diri di ruangan yang cahayanya hanya bersumber dari televisi.


Adistya menoleh begitu mendengar suara yang di kenalnya bertanya. “Kelihatannya?” 


Gavril mendengus mendengar jawaban dari Adistya yang membuatnya seketika menyesal sudah bertanya pada perempuan itu. Memilih melanjutkan langkah menuju dapur, Gavril meneguk dengan rakus air minum langsung dari botol yang baru saja di ambil dari dalam kulkas. Entah kenapa dirinya merasa kesal saat mendapati sikap cuek Adistya. 


Masih ingat bagaimana dulu perempuan itu yang selalu mengejarnya, mengabaikan setiap penolakannya, dan selalu tersenyum walau sudah di permalukan. Dan sekarang mendapati wanita itu bersikap cuek, cukup membuat Gavril terganggu, ia tidak menyukainya. Ah ralat, hatinya yang tidak menginginkan sikap wanita itu yang Sekarang.


Mengacak rambutnya frustasi, Gavril merasa tidak paham pada dirinya sendiri saat ini. Walau jujur beberapa tahun lalu dirinya memang sempat ingin menemui wanita itu untuk meminta maaf, tapi tidak ada sedikitpun niatan untuk jatuh cinta pada Adistya.


“Arggh, sial!” Gavril mengusap kasar wajahnya, sebelum kembali naik ke kamarnya tanpa menoleh kembali ke ruang tengah dimana istrinya sedang menonton televisi.


*****


See you next Chapter!!!