
Happy reading!!
***
"Gavril sudah tahu mengenai Gavin?” tanya Avril setelah puas bermain dengan cucunya yang kini tertidur di pangkuan bundanya karena kelelahan.
Adistya menggelengkan kepala, membuat Avril menghela napasnya pelan. Namun Avril paham tanpa meminta kejelasan dari menantunya itu. Adistya hanya butuh waktu.
Tidak ingin membuat Adistya kembali sedih dan tak nyaman, Avril memilih untuk menanyakan hal lain, mengenai Gavin, dan tentu saja mengenai ke mana perginya perempuan itu yang setelah perceraian tidak lagi terlihat keberadaannya.
Semuanya Adistya ceritakan terlebih tumbuh kembang Gavin yang sedikit menyulitkannya di saat awal-awal, namun beruntung ada ibu Irene yang membantu dan selalu mengajarinya merawat bayi. Hingga Adistya mengerti dan berani melakukannya seorang diri.
Tidak mudah berada di posisinya saat itu, hamil tanpa suami dan melahirkan tanpa adanya keluarga yang menyemangati. Adistya sudah ingin menyerah saat itu, tapi ia sadar mengenai tanggung jawabnya pada sang putra. Adistya tidak sanggup jika harus meninggalkan buah hatinya, sampai pada akhirnya ia kembali semangat untuk terus berjuang melahirkan Gavin ke dunia, merawatnya dengan penuh kasih sayang dan membesarkannya tanpa Gavril.
“Mama jangan kasih tahu Gavril dulu mengenai Gavin, ya, Tya belum siap. Tapi, Tya janji akan mempertemukan keduanya nanti. Tya hanya tidak ingin keluarga baru Gavril salah paham,” ucap Adistya sedikit memohon.
Avril tak langsung menjawab, wanita baya itu terdiam sejenak untuk mencerna sebelum kemudian mengangguk walau sebenarnya ia keberatan. Tapi Avril sadar bahwa ini adalah urusan anak-anaknya, ia tidak bisa ikut campur terlalu jauh. Biarlah mereka membicarakannya, menyelesaikan permasalahan mereka yang dulu mungkin belum sempat diselesaikan. Avril hanya berharap yang terbaik untuk kedepannya.
“Kalau begitu Tya pulang dulu Ma, udah sore. Lain kali Tya ajak Gavin main ke sini lagi,” ucap Adistya begitu putranya bangun dari tidur singkatnya yang mungkin terasa tak nyaman.
“Kenapa gak nginep aja? Mama masih kangen sama kalian,” ucap sedih Avril. Tidak rela berpisah dengan cucunya yang baru saja dirinya ketahui keberadaannya. Terlebih Gavin belum bertemu dengan kakeknya yang saat ini kebetulan tidak ada di rumah.
“Mungkin lain kali, Ma,” tolak halus Adistya dengan senyum lembutnya yang terlihat semakin manis.
Avril tidak bisa mencegahnya. Wanita paruh baya itu mengangguk dengan berat hati, lalu meraih Adistya ke dalam pelukannya sebelum kemudian melayangkan kecupan sayang pada puncak kepala Gavin yang masih terlihat kebingungan akibat bangun tidurnya.
“Sering-sering main ke sini biar Mama ada temannya.”
Adistya mengangguk sebagai jawaban, sebelum kemudian masuk ke dalam mobil milik Seno yang dipinjamnya dan melajukan mobil tersebut keluar dari pekarangan rumah mertuanya dengan perasaan yang lebih lega.
...****...
“Bunda, kapan kita akan bertemu Ayah?” tanya Gavin di tengah acara menonton televisi, begitu selesai makan malam. Membuat semua orang yang ada di sana menoleh dengan kebisuan masing-masing.
“Gavin udah gak sabar, ya, pengen ketemu Ayah?” Seno buka suara saat merasa tidak ada yang mau melakukannya.
Satu anggukan yang Gavin berikan membuat Seno menoleh pada sang kakak yang masih diam, tatapannya kosong dan kesedihan itu tergambar jelas di wajahnya.
Seno mengerti ketidaksiapan Adistya. Namun ia juga kasihan pada keponakannya yang sering kali menanyakan perihal ayahnya.
Wajar memang, karena tidak ada anak yang tidak ingin bertemu dengan ayahnya, apalagi Gavin yang hingga saat ini belum juga mengetahui sosok superheronya itu. Walau sebenarnya laki-laki yang sudah menyakiti hati perempuan tidak pantas disebut superhero.
Tapi mau bagaimana lagi, mengelak pun tetap saja Gavin adalah darah daging pria brengsek itu. Dan Gavin berhak mengetahui ayahnya. Terlebih bocah itu akan segera masuk sekolah kanak-kanak.
Seno khawatir Gavin akan mengalami kesulitan dan kecemburuan di saat melihat teman-teman sekolahnya nanti datang bersama ayah masing-masing, sementara dirinya sendiri tidak mengetahui sama sekali sosok itu.
“Gimana kalau besok Uncle temani kamu ketemu Ayah?”
“Seriously?” tanya bocah itu dengan semangat dan mata berbinar.
“Gak usah sok Inggris. Kamu tinggal di Indonesia, gunakanlah Bahasa Indonesia yang baik dan benar!” delik Seno, yang membuat bocah itu tertawa kencang.
“Bilang aja Uncle gak bisa bahasa Inggris,” cibir bocah itu, membuat istri dan ayah Seno tertawa, sementara Seno mendengus sebal. Adistya sendiri masih saja diam, tidak terusik sama sekali dengan tawa yang ada.
“Besok siang Uncle jemput kamu di rumah. Jangan sampai kamu belum siap,” kata Seno setelah tawa itu terhenti.
Gavin mengangguk dengan semangat dan segera berhambur ke dalam pelukan pamannya sambil mengucapkan kata terima kasih. Sementara Adistya yang kini sudah tersadar dari lamunannya mengulas senyum tipis melihat kebahagiaan di wajah putranya.
“Gak masalah kan Ty kalau gue yang bawa Gavin ke dia?” tanya Seno meminta persetujuan kakaknya.
Adistya mengangguk, mengizinkan. Biarlah Seno yang menemani anaknya, karena dengan begitu Adistya tidak perlu bertemu dengan Gavril. Ia takut tidak bisa mengendalikan hatinya, mengendalikan dirinya, dan ia takut luka dan kecewa itu kembali dirinya rasakan.
Adistya belum siap bertemu dengan Gavril, apalagi melihat kebahagiaan laki-laki itu bersama wanita yang dicintainya. Adistya takut hatinya belum bisa menerima kenyataan mengenai Gavril yang bukan lagi miliknya dan sepertinya tidak akan pernah bisa menjadi miliknya karena sejak dulu laki-laki itu tidak pernah mencintainya.
“Bunda gak ikut?” tanya Gavin.
Adistya menggeleng pelan. “Kamu pergi sama Uncle aja gak apa-apa kan? Bunda kurang enak badan,” ucap Adistya beralasan.
Gavin menunduk sedih, tapi kemudian memeluk bundanya itu dan memberikan kecupan-kecupan kecil di wajah Adistya.
“Jangan sakit Bunda,” ucapnya sedih dalam pelukan Adistya.
“Bunda gak sakit, Sayang. Cuma gak enak badan aja. Jadi boleh Bunda gak ikut kalian besok?” tanya Adistya lembut.
“Gak jadi aja ketemu Ayahnya, Gavin mau nemenin Bunda di rumah.”
Adistya menggeleng cepat. “Kamu pergi aja sama Uncle, Bunda kan ada Aunty kamu yang nemenin, ada Kakek juga. Bukannya kamu pengen banget ketemu Ayah?”
Bocah itu mengangguk lemas. “Tapi--”
“Ayah kamu juga pasti pengen banget ketemu kamu,” kata Adistya meyakinkan Gavin. Membuat bocah itu mendongak dengan mata yang menyiratkan akan sebuah keraguan.
“Apa benar Ayah pengen ketemu Gavin?” Adistya mengangguk, terus meyakinkan. “Lalu kenapa selama ini gak pernah pulang? Gak pernah temuin kita. Bunda, apa Ayah sayang sama Gavin?” pertanyaan bernada sedih itu membuat Adistya juga yang lainnya kembali membisu.
Sejujurnya Adistya tidak tahu mengenai apakah Gavril menyayangi anaknya, dan apakah pria itu akan menerima kehadiran Gavin, karena jika tidak, Adistya tidak tahu akan sesedih apa putranya nanti.
“Kakek yakin Ayah kamu menyayangimu, dia pasti senang ketemu kamu nanti,” ucap Satya membantu meyakinkan cucunya itu.
Gavin menoleh. “Kakek serius?”
Satya mengangguk yakin. “Apa perlu Kakek ikut menemani Gavin bertemu dengan Ayah?” tanya Satya pada cucu tersayangnya. Gavin menggeleng cepat dengan senyum yang sudah kembali ceria.
“Kakek di rumah aja, temani Bunda. Gavin gak mau nanti Kakek ngeluh sakit pinggang lagi seperti kemarin,” ujarnya dengan polos saat kembali mengingat acara lari pagi yang kemarin mereka lakukan, dan Satya mengeluh sakit pinggang padahal belum berlari jauh, membuat acara lari mereka terhenti karena Seno yang harus menggendong ayahnya kembali ke rumah. Lari di batalkan dan pada akhirnya mereka semua diam di rumah.
Tawa berderai setelahnya begitu melihat wajah cemberut Gavin yang sepertinya masih belum terima mengenai kejadian kemarin. Padahal bocah itu sudah begitu semangat untuk lari pagi, main di taman komplek dan mencari teman, mengingat selama hampir satu bulan berada di Indonesia, Gavin belum juga memiliki teman, dan itu membuatnya kesepian apalagi saat tidak ada sang paman di rumah yang biasa di ajaknya bermain bola atau memainkan mainan lainnya.
***
see you next part !!