Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
10. Lain di Mulut Lain di Hati



Selamat Membaca !!


***


Begitu selesai mandi, Adistya berdiri di depan lemari, mencari-cari pakaian mana yang sekiranya akan ia kenakan pada siang ini untuk bertemu dengan sahabatnya di Café Bintang milik Elma. Semalam Azura menghubunginya untuk berkumpul, nongkrong sebagaimana anak muda kekinian, melupakan sejenak statusnya yang sudah berkeluarga.


Sebenarnya Adistya sempat menolak, tapi Elma dan Azura tidak sama sekali menerima itu. Jadilah mau tak mau, Adistya akhirnya menyetujui ajakan kedua sahabatnya yang memang mengetahui bagaimana perjalanan cintanya dengan Gavril. 


Azura, meskipun tidak berada di sekolah yang sama ketika SMA dulu, tapi Adistya selalu menjadikan wanita itu sebagai tempat curhatnya, mengingat bahwa Azura begitu berpengalaman mengenai laki-laki dan cinta.


“Lo mau ke mana?” tanya Gavril saat melihat Adistya sudah rapi dengan jeans Panjang berwarna hitam yang di padukan dengan blus berwarna biru muda. Rambut panjangnya yang indah tergerai di hiasi jepitan kecil di sisi kiri, membuat Adistya terlihat seperti remaja SMA.


“Kepo!” balas Adistya yang berlalu begitu saja, meninggalkan Gavril di rumah seorang diri.


Sebenarnya Gavril tidak ingin peduli mau ke mana pun wanita itu pergi. Tapi mengingat status mereka yang sudah menjadi suami istri, membuat Gavril berlari menyusul perempuan itu, yang untungnya belum sempat meninggalkan rumah.


“Lo mau ke mana, Dis? Seenggaknya gue bisa jawab saat orang tua gue nanyain keberadaan menantunya.” 


Adistya yang mendengar suara suaminya itu, menoleh dan mendapati Gavril berdiri di ambang pintu. Untuk beberapa saat, Adistya diam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi mengenai pertanyaan yang mungkin saja meluncur dari kedua orang tua laki-laki itu, juga bisa saja ayah atau adiknya. Meskipun Adistya yakin bahwa mereka semua tidak akan datang hanya untuk menanyakan keberadaannya. Tapi bukankah berjaga-jaga itu perlu? Setidaknya jika kemungkinan itu terjadi dan Gavril tahu akan keberadaannya, keluarga tidak akan curiga mengenai keadaan rumah tangganya yang memang berada dalam sebuah kesepakatan.


 “Gue mau ke café Elma sama Azura.” Pada akhirnya Adistya memilih untuk memberitahu pria itu mengenai kepergiannya.


“Ngapain?” tanya Gavril melangkah mendekat.


Adistya mengernyitkan keningnya, menatap laki-laki di depannya itu. “Bukannya di perjanjian yang kita buat sudah jelas bahwa tidak boleh mencampuri urusan masing-masing? Sekarang kenapa lo mau tahu urusan gue?”


Gavril menggaruk tengkuknya salah tingkah. “It—itu karena biar gue bisa ja--”


“Lo cuma perlu bilang gue pergi sama teman-teman gue kalau memang mereka datang dan nanyain gue. Atau memang karena lo yang pengen tahu gue mau ngapain?” Adistya memicingkan matanya curiga, membuat Gavril semakin gelagapan. “Udahlah lo cuma buang-buang waktu gue aja. Bye!” Adistya pergi bersama ojek pesanannya yang baru saja datang.


“Aish, Bego! Lagian ngapain juga gue peduliin dia, bikin tuh cewek besar kepala aja.” Gavril memukul kepalanya cukup keras, lalu kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di depan televisi. Menghabiskan waktu seorang diri memang tidak menyenangkan, tapi mau bagaimana lagi, berkunjung ke rumah orang tuanya pun yang ada mereka curiga karena dirinya tidak membawa serta sang istri.


Drettt … dreett …


Senyum Gavril mengembang begitu ponsel yang diletakkannya di atas meja bergetar dan menampilkan nama seseorang yang sejak dulu dirinya harapkan akan menghubunginya. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya hari ini terjadi, dan tanpa berpikir lebih lama, Gavril segera menggeser tombol hijau di layar datar perseginya.


“Iya hallo, kamu sudah pulang?” tanya Gavril pada seseorang di seberang sana. Senyum tidak juga luntur dari bibirnya saat mendengar jawaban dari sosok yang begitu dirindukannya itu.


“Kalau gitu sekarang aku siap-siap dulu. Setelah itu langsung jemput kamu.” Gavril mematikan sambungan teleponnya dan berlari cepat menaiki undakan tangga menuju kamarnya, untunglah ia sudah mandi tadi pagi, jadi tidak harus membuang waktu lama untuk bersiap dan membiarkan seseorang menunggunya terlalu lama.


...****...


Adistya tiba di Café Bintang di saat kedua sahabatnya sudah duduk dan menikmati secangkir kopi masing-masing. Sementara dirinya langsung duduk tanpa menyapa kedua orang itu. Kemalasan yang membuatnya tidak mood saat ini, tapi gara-gara paksaan kedua orang menyebalkan itu lah membuatnya terpaksa datang, meninggalkan kamar nyamannya juga mengabaikan dunia keduanya. Ya, menulis sudah menjadi dunia kedua baginya dan Adistya tidak pernah ingin meninggalkan itu. 


Meskipun dunianya itu semu, tapi setidaknya dapat membangkitkan sebuah harapan. Tidak seperti dunia nyata yang tengah di pijaki dan di jalaninya, penuh kepalsuan.


“Gara-gara lo berdua, gue harus meninggalkan tulisan gue, ck!” decak Adistya kesal, menatap kedua temannya secara bergantian seraya melayangkan tatapan tajamnya.


“Sekali-kali, Ty. Lo jangan mantengin komputer dan mengkhayal, nanti yang ada lo makin gila karena kebanyakan halu.” Cibir Elma. Azura tentu saja memberikan anggukan setuju.


“Lagian lo udah nikah masih aja senang berduaan sama laptop, jangan bilang kalau kebiasaan tidur malam pun masih lo lakuin?” tebak Azura dengan mata memicing. 


“Kalau iya memangnya kenapa? Kebiasaan gue susah ilang, Ra.” Desah Adistya yang memang sudah lama ingin menghilangkan kebiasaan tidur larutnya. Namun itu tidak pernah bisa dilakukan apalagi jika sudah asyik duduk di depan layar yang menjadi pemandangan indahnya.


Azura dan Elma kompak membulatkan mata dan menggelengkan kepala. “Terus setiap malam Gavril lo apain?” tanya Elma dengan tak habis pikir.


“Gak gue apa-apain, lagi pula kami tidur terpisah,” jujur Adistya dan itu lebih membuat kedua sahabatnya terkejut lagi.


“Serius lo, Ty?” satu anggukan Adistya berikan.


“Memangnya apa yang bisa di harapkan dari pernikahan gue?” Adistya meluruhkan pundaknya, bersandar pada kepala kursi. Cukup menyesal mengapa saat itu menyetujui pernikahan ini yang berakhir dengan menyiksa batinnya sendiri. 


Adistya tidak menyalahkan siapa pun atas ini, karena sepenuhnya ia sadar bahwa semua yang terjadi adalah atas kebodohannya sendiri. Sebenarnya Adistya tidak ingin bermain-main dengan pernikahan, tapi … ah, sudahlah lagi pula ini sudah terjadi, dan saat ini Adistya hanya berharap bahwa keajaiban akan datang. 


Tidak salah bukan jika dirinya berharap bahwa ini hanya mimpi buruk belaka, dan ia akan di bangunkan pada kenyataan hidup seperti sebelumnya, dimana tidak ada Gavril dan pernikahannya saat ini.


“Sampai kapan?” tanya Azura yang memang wanita satu anak itu lebih peka pada keadaan sahabat-sahabatnya, tidak salah memang karena bagaimanapun, dulu wanita itu pernah kuliah jurusan psikologi, meskipun tidak di salurkan dengan baik.


Azura terlanjur menikah dan di larang bekerja oleh suaminya, membuat Azura hanya menggunakan ilmunya itu untuk mengamati orang-orang terdekatnya termasuk Adistya yang lebih banyak memilih mengurung diri di dalam kamar. Wanita itu bilang, dia terlalu takut Adistya depresi karena terlalu pusing dengan tulisan-tulisannya dan hujatan dari pembaca yang tidak menghargai karyanya, atau terlalu gila karena lebih banyak mengkhayal hal-hal yang jauh dari dunia nyata.


“Gak ada yang menentukan waktunya. Mungkin hingga Gavril bertemu dengan cintanya, atau hingga batas sabar gue tiba pada waktunya. Entahlah.” Adistya mengedikan bahunya.


“Gue bukan bermaksud menggurui, Ty, tapi lo tahu sendiri bahwa mempermainkan pernikahan itu adalah hal yang sangat di benci Tuhan. Kalau memang lo tidak menginginkan pernikahan ini, kenapa lo menyetujuinya saat itu?” tanya Azura yang masih tak habis pikir pada sahabat satunya itu.


“Kata setuju itu tiba-tiba terlontar, Ra, salahin nih kepala gue yang main ngangguk aja, dan juga salahkan hati gue yang terlalu lemah hanya dengan tatapan berharap Mama April. Gue seakan melihat tatapan Bunda sebelum beliau pergi, gue menyesal karena saat itu tidak menghiraukan permintaannya. Andai dulu gue tahu bahwa itu hari terakhir Bunda ….” Adistya menundukkan kepala, menarik napasnya dalam-dalam agar air matanya tidak terjatuh.


Elma dan Azura yang mengerti dengan keadaan sahabatnya itu langsung saja memeluk Adistya secara bersamaan, tidak lupa mengucapkan kata maaf karena sudah mengingatkan kembali pada masa terberat Adistya saat itu. 


“Udah-udah jangan sedih lagi, sekarang ini kita mau happy-happy meninggalkan sejenak kesuntukan dari aktivitas yang di lakukan. Lebih baik sekarang kita ke mall, cuci mata!” Azura yang lebih dulu melepaskan pelukannya, lalu mengedipkan matanya.


“Udah punya laki, woy ingat!” teriak Elma dan Adistya bersamaan tepat di depan telinga Azura yang saat ini refleks menutup telinganya.


“Budeg kuping gue, sialan!”


*****


See you next chapter !!!