
Selamat membaca!!!
***
“Bukannya kita mau pulang?” heran Adistya begitu suaminya malah menariknya masuk ke dalam aula yang masih begitu ramai, mengingat ini belum terlalu malam, dan acara memang belum selesai.
“Iya, tapi kita pamit dulu sama yang lain, sekalian ketemu Elma juga. Dia tadi khawatir banget waktu tahu kamu ngilang,” kata Gavril dengan tatapan lembut penuh cintanya, membuat Adistya menyesal telah menuduh pria itu yang tidak-tidak. Padahal selama beberapa bulan belakangan ini, Gavril tidak pernah sekalipun mengecewakannya. Hanya kejadian tadi yang membuat Adistya malah salah paham.
Padahal benar apa yang di katakan Gavril beberapa menit lalu, seharusnya Adistya bisa melangkah percaya diri menghampiri Gavril dan memberi tahu semua orang yang dulu menghina dan merendahkannya, bahwa kini ia bisa menaklukan Gavril yang dulu menjadi iblis tak punya hati.
“Adistya!” pekik Elma heboh seraya berlari menuju Adistya dan langsung memeluknya dengan erat, mengutarakan kecemasannya. “Lo dari mana, sih, hah!” geram Elma melayangkan satu jitakan kecil di kening sahabat menyebalkannya itu, sahabat yang membuatnya jantungan sekaligus ingin melahirkan saat itu juga saking khawatirnya.
“Gue nyasar tadi,” bohong Adistya karena tidak ingin membuat Elma semakin khawatir dan menghajar Gavril saat ini juga di depan puluhan atau bahkan ratusan orang yang saat ini memperhatikan mereka dengan berbagai tatapan.
“Ck, lo kayak gak pernah sekolah disini aja, pake nyasar segala,” cibir Elma namun tidak lagi membahasnya. Ibu hamil itu memilih menarik Adistya menuju stand makanan, dan memakan apa saja yang tersedia di sana. Meninggalkan para suami dan mengabaikan orang-orang di sekitarnya. Adistya sampai lupa dengan niatnya yang akan pulang, pada akhirnya menjadi menikmati acara reuni ini bersama Elma dan beberapa teman sekelasnya yang lain yang baru pertama kali ini bertemu lagi, mengobrol banyak hal mengenang masa sekolah mereka, minus dengan kisah kebodohan Adistya.
“Tes … tes. Ekhem,” dehem Gavril mengecek mic yang baru saja diterimanya dari si MC. “Selamat malam teman-teman, sebuah kebahagian kita dapat berkumpul kembali di tempat ini, sekolah tercinta yang dulu adalah tempat membosankan untuk orang-orang yang malas dengan segala pembelajaran. Tempat menyenangkan bagi semua orang karena dapat berjumpa teman baru, perasaan baru dan kisah manis yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Namun tak sedikit yang menjadikan masa itu adalah masa yang begitu menegangkan, masa yang penuh luka dan menyakitkan. Tapi kini, kita berkumpul dengan rindu yang sama akan sekolah tercinta kita, tempat dimana awal kenangan di masa remaja tercipta, bahagia, terluka, tawa bahkan air mata,”
Gavril menyunggingkan senyum tipisnya, menatap orang-orang di aula yang kini tatapannya tertuju padanya. Menatap wajah-wajah yang tidak semua Gavril kenal itu membuatnya ingat akan masa remajanya yang dikelilingi banyak orang karena kecerdasan, ketampanan, kepopuleran dan juga sikap Gavril yang memang pandai mendekatkan diri.
Saat itu adalah masa yang menyenangkan bagi Gavril, masa yang penuh dengan cerita, masa dimana dirinya bisa bertingkah seenaknya tanpa takut orang lain menggunjingnya, karena Gavril adalah si penguasa, Gavril adalah bintangnya saat itu.
Namun kemudian tatapan Gavril terkunci pada sosok manis yang berdiri di samping meja yang berisi berbagai macam makanan juga minuman. Dan di sana pun Adistya tengah menatapnya, dengan tatapan yang tidak dapat Gavril artikan. Berbeda dengan tatapannya yang penuh dengan penyesalan.
Malam ini, bukan tanpa alasan Gavril berdiri di atas panggung. Ia ingin menyampaikan pada semua orang, ia ingin menunjukan pada semua yang dulu pernah menjadi saksi kekejamannya terhadap Adistya, dan Gavril ingin, disini, di depan teman-teman sekolahnya dulu mengakui bahwa ia kalah. Kalah pada satu sosok yang dulu menjadi bahan bully-an nya. Sosok yang dulu dirinya rendahkan, yang dulu dirinya maki-maki dan sosok yang dulu pernah Gavril sakiti begitu dalam.
“Takdir memang begitu kejam, tapi siapa yang mampu melawan?” Gavril menggelengkan kepalanya. Sementara semua orang yang ada di aula masih tetap menyimak, belum sepenuhnya paham akan maksud yang berusaha laki-laki itu sampaikan.
“Benci tidak selamanya benci, begitupun dengan cinta,” Gavril melepaskan tatapannya dari Adistya, lalu beralih pada Byanca yang berdiri bersama kumpulan teman-temannya. “Seseorang yang dulu di anggap tak berarti tidak akan selama di tolak hati. Begitupun dengan seseorang yang semula dicintai, tidak menutup kemungkinan bahwa di masa kini tidak lagi merajai hati.
Dulu ada seseorang yang amat gue cintai, ada pula seseorang yang amat gue benci, namun siapa yang menyangka bahwa keadaannya kini berbalik. Meski sadar bahwa dia yang gue cintai tidak sama sekali pernah gue benci, tapi nyatanya rasa cinta itu tak lagi bersarang di hati. Rasa ini telah berubah. Benci yang dulu menjadi penyakit hati kini berubah menjadi cinta yang ingin seutuhnya dimiliki. Dan kini gue sadar, inilah takdir.”
Gavril mengakhiri cerita panjang lebarnya dengan sebuah senyuman. Sebagian sudah ada yang mengerti, namun sebagian lagi ada yang masih bingung dari ucapan yang Gavril sampaikan, sampai pada akhirnya Gavril turun dari panggung dan menghampiri Adistya yang berdiri di tempatnya dengan tatapan penuh tanya. Lalu membawa perempuan itu naik ke atas panggung.
“Dan dengan bangga gue akan perkenalkan, inilah takdir yang tidak pernah gue sangka, namun menjadi takdir terindah yang tidak akan pernah gue sesali. Perempuan yang dulu begitu kejam gue permalukan kini berubah menjadi perempuan yang tidak ingin gue lepaskan. Inilah istri gue, perempuan yang tidak akan pernah gue kecewakan dan akan berusaha gue bahagiakan. Menggantikan kesedihan yang lalu dengan haru yang tidak akan pernah gue biarkan berlalu.”
...***...
Karena kejadian kemarin malam, banyak orang yang tidak menyangka, tidak percaya dan juga syok mendengar kenyataan bahwa pada akhirnya Gavril terjatuh juga pada pesona seorang Adistya yang dulu mati-matian pria itu tolak.
Grup angkatan menjadi begitu ramai membicarakan Adistya, menanyakan bagaimana cara mereka bisa bersama dan apa yang membuat Gavril pada akhirnya luluh hingga menjadikan Adistya sebagai teman disisa hidupnya.
Banyak dari mereka yang memberikan selamat, tapi tidak sedikit juga yang mencibir. Namun Adistya maupun Gavril tidak ingin menghiraukan mereka yang tidak menyukai. Biarkanlah, toh hidup memang sudah seperti ini jalannya. Kita yang menjalani, orang lain yang sibuk mengomentari.
Kini tidak ada lagi yang perlu Adistya khawatirkan, Karena Gavril pun sudah menegaskan mengenai perasaannya terhadap Byanca. Bukan hanya pada Adistya saja, tapi pada mereka yang malam itu mengusulkan untuk Gavril dan Byanca balikan. Kini semua orang tahu bahwa meski keduanya dekat, ikatan lebih dari pertemanan itu tidak akan pernah bisa ada lagi. Dan semoga saja Byanca pun paham akan hal itu.
“Ada apa sih, Yang? Aku perhatiin dari tadi kamu senyum-senyum aja,” heran Gavril begitu mereka duduk di kursi ruang tengah, menonton televisi untuk menghabiskan siang mereka yang tidak bisa pergi ke mana-mana karena hujan deras yang mengguyur daerahnya hingga menimbulkan banjir di beberapa ruas jalan.
“Kenapa memangnya, aku gak boleh senyum?”
“Boleh sih, kamu makin cantik kalau senyum. Tapi kalau tanpa sebab, aku kok jadi ngeri, ya,” ujar Gavril bergidik, lalu menggeser duduknya sedikit menjauhi Adistya. Membuat Perempuan manis itu memberenggut kesal dan melayangkan pukulan-pukulan kecilnya di lengan dan dada bidang sang suami. Lantas Gavril meledakkan tawanya, karena berhasil membuat istri cantiknya itu kesal.
“Aku senyum-senyum karena terlalu senang. Siapa bilang tanpa sebab,” dengus Adistya.
“Senang kenapa? Pasti gara-gara punya suami ganteng kayak aku, ya kan, ya kan,” goda Gavril seraya mencolek-colek dagu Adistya yang dengan cepat perempuan itu tepis.
“Ge’er!” kilah Adistya dengan senyum tertahan di bibirnya.
“Heleh, gak mau ngaku,” ujar Gavril menyentil pelan hidung istri manisnya itu, lalu keduanya tertawa. Tawa yang tak jelas sumbernya, namun terdengar begitu alami dan lepas. Hal yang dulu rasanya amat mustahil untuk sekedar di bayangkan, kini Adistya bersyukur karena itu bisa ia nikmati setiap saat. Bahkan untuk hal-hal yang lebih intim sekalipun.
“Terima kasih, Gavril,” ucap Adistya dengan tulus.
“Terima kasih? Untuk?” Gavril mengernyitkan keningnya tak paham.
“Untuk segalanya.”
***
see you next part!!