Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
13. Tolong Beri Aku Kesempatan



Selamat membaca !!!


***


Gavril keluar dari kamarnya, berpapasan dengan Adistya yang sudah berpakaian rapi entah mau ke mana. Untuk beberapa detik pandangan mereka bertemu, tapi Adistya dengan cepat memutuskannya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Gavril yang hendak mengeluarkan sebuah sapaan. 


Tidak nyaman, itu yang Gavril rasakan. Sebenarnya ia tidak ingin menjalani rumah tangga seperti ini, berlaku seolah tak saling mengenal padahal mereka berada di dalam atap yang sama. Namun mau bagaimana lagi, Adistya nyatanya tidak ingin membuat pernikahan mereka layaknya pernikahan normal lainnya. 


Menyesal rasanya karena sejak awal Gavril malah seolah-olah tidak ingin di nikahkan dengan perempuan itu. Meskipun Gavril akui bahwa menikah dengan Adistya tidak pernah masuk dalam bayangannya. Tapi jika gengsi itu tidak ada, tidak mustahil bahwa kini mereka menjadi pasangan suami istri pada umumnya. Sekarang Gavril bingung harus memulai pendekatan dari mana. 


“Apa harus gue ngejar dia seperti dia ngejar gue dulu?” tanya Gavril pada dirinya sendiri.


Mengenyahkan pikiran itu, Gavril memilih untuk segera berangkat menuju rumah sakit, karena bagaimanapun pasiennya lebih membutuhkan perhatiannya saat ini. Urusannya dengan Adistya bisa di bahas lain kali. Semoga perempuan yang sudah dirinya nikahi itu berubah pikiran nanti.


“Gak mau bareng gue, Dis?” tanya Gavril begitu mendapati sang istri masih berdiri di depan gerbang rumah.


“Gak usah, ojeg gue udah datang.” Tolak Adistya yang memang bertepatan dengan ojek pesanannya datang.


Gavril mengangguk, memperhatikan sang istri yang tengah memakai pelindung kepala sebelum naik ke atas motor.


“Hati-hati bawa motornya, Pak. Istri saya jangan sampai lecet.” Pesan Gavril pada si pengendara sebelum kemudian melajukan mobilnya, tanpa melihat lebih dulu respons Adistya yang memaku di tempatnya dengan getaran di dada yang memacu cepat dan desiran hangat merambat hingga membuat wajahnya kini bersemu merah.


“Sudah siap, Mbak?” tanya si pengendara menyadarkan Adistya dari lamunannya.


“Ah, sudah Pak.” Adistya menjawab gelagapan. Pengendara ojek online itu mengangguk dan melajukan motornya ke alamat yang di tuju Adistya.


Sepanjang perjalanan, Adistya tidak hentinya merutuki diri yang bisa-bisanya bersemu hanya karena ucapan Gavril tadi. Dan saking sibuk dengan pikirannya sendiri, Adistya sampai tidak sadar bahwa ojek yang di tumpanginya sudah berhenti di depan kantor penerbitan yang memang menjadi tujuan Adistya. 


Tidak cukup sampai disitu saja, karena setelahnya Adistya pun sampai melupakan helm si pengendara yang masih dirinya gunakan. Hingga membuat supir ojek itu menyusul Adistya masuk dan dirinya menjadi perhatian banyak orang di lobi. Bukankah itu sangat memalukan? 


“Lo keliatan gak fokus, Ty, kenapa?” tanya Milla selaku editor yang selama ini membantu Adistya dalam proses penerbitan karyanya. Selain menulis secara online, Adistya pun sudah menerbitkan beberapa karyanya dalam bentuk sebuah buku. Maka itulah alasan kenapa dirinya ada di sini sekarang.


“Gak apa-apa, gue cuma kurang enak badan aja.” Adistya melayangkan senyum tipisnya. Namun apa yang dikatakannya itu tentu saja sebuah kebohongan, karena pada kenyataannya Gavril-lah yang menjadi alasannya tidak fokus hari ini. Tapi untunglah Milla percaya begitu saja, dan mulai membahas mengenai novelnya yang akan terbit pada awal bulan depan.


Hanya dua jam waktu yang mereka habiskan untuk membahas dan sedikit merevisi tahap akhir, setelah itu Adistya memilih untuk datang ke café milik sahabatnya, menikmati kopi untuk menjernihkan pikirannya dan menghilangkan pikiran yang sejak pagi tertuju pada Gavril, suaminya.


“Lo lagi ada masalah, Ty?” tanya Elma begitu meletakan cangkir berisi kopi yang biasa di pesan sahabatnya itu. 


Adistya hanya menjawab dengan gelengan kepala, lalu menghirup aroma dari kopi yang baru saja di raihnya, sebelum kemudian menyesapnya sedikit. 


“Lo gak bisa bohong sama gue, Ty.”


Adistya mengukir senyum tipis sebelum kemudian menceritakan mengenai Gavril dan ucapan pria itu kemarin malam, mengenai ajakan damainya yang membuat Adistya bahagia dan kecewa secara bersamaan.


“Kenapa gak lo terima aja?”


“Gak semudah itu, El!” Adistya melirik pada sahabatnya, lalu menggeleng pelan. 


“Lo masih cinta sama dia?” tebak Elma. Adistya tidak mampu membantah itu, bukan berarti tebakan sahabatnya benar, tapi Adistya terlalu bingung untuk mengartikan perasaannya sendiri. 


Adistya ingin menerima ajakan damai Gavril, namun terlalu takut terjatuh kembali dalam pesona laki-laki itu. Ia benci, tapi hati kecilnya tidak dapat dirinya bohongi bahwa cinta itu mungkin tersisa untuk laki-laki di masa lalunya yang menjadi cinta pertamanya dan yang membuat ia bodoh.


Elma menghela napasnya pelan mendapati keterdiaman Adistya. Ia dapat memastikan bahwa memang perasaan yang dulu ada masih tersisa walau tidak sebesar itu, dan sebagai sahabat yang tahu bagaimana menderitanya Adistya ketika itu karena ulah Gavril, cukup tahu bagaimana ketakutan Adistya saat ini. Masa lalu tidak mudah dilupakan, apalagi kejadian itu begitu memalukan. Harga diri yang di pertaruhkan dan Adistya sudah kehilangan muka pada saat itu. Kini kenyataan membawanya pada sebuah pernikahan, mungkinkah kejadian dulu tidak akan lagi terulang? Entahlah, Elma tidak bisa menebak itu. 


*****


 “Baru pulang, Dis?” 


Adistya yang baru saja menginjakan kaki di tangga hendak naik segera menoleh begitu suara Gavril terdengar. “Hem,” hanya jawaban singkat itulah yang Adistya beri sebelum melanjutkan langkahnya menuju kamar, mengabaikan Gavril yang datang dari arah dapur dengan cangkir di tangannya yang mengeluarkan aroma kopi.


Adistya pulang begitu jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, perempuan cantik itu terlalu asyik di café Elma sambil melanjutkan tulisannya hingga lupa pulang jika saja sang sahabat tidak mengingatkannya. Sementara Gavril yang sudah tiba di rumah dari jam lima sore tadi cukup cemas karena sang istri yang belum juga pulang padahal perempuan itu berangkat dari pagi-pagi sekali. Sayangnya yang di khawatirkan keadaannya malah terlihat cuek-cuek saja, bahkan mengabaikannya.


Gavril ingin sekali marah, menegur istrinya yang pergi selama itu. Namun sebelum itu Gavril lebih dulu sadar bahwa hubungan mereka tidaklah sebaik itu, hubungan rumah tangganya tidak senormal orang-orang di luaran sana. Gavril merasa tidak berhak meski menurut hukum dan agama dirinya amatlah berhak untuk menegur istrinya. Tapi balik lagi pada kesadarannya sendiri, Gavril amat sadar bahwa dirinya belum menjadi suami yang sesungguhnya untuk sang istri. Kewajibannya sebagai seorang suami belum pernah ia penuhi. Bahkan mungkin menerima pernikahannya saja belum setulus sanubari. 


Namun sekarang Gavril ingin memperbaiki pernikahannya, memperbaiki hubungannya dengan Adistya. Ia ingin menjalani pernikahan yang layak, pernikahan yang sesungguhnya dan pernikahan yang dirinya harapkan meskipun bukan dengan perempuan yang dirinya inginkan. Sayangnya itu tidak semudah yang ia pikirkan, karena Adistya menolak untuk berdamai. Andai tidak ada kejadian menyakitkan itu, mungkin tidak akan seperti ini cerita pernikahannya dengan perempuan manis berlesung pipit itu.


“Dis, lo udah makan?” setelah beberapa detik terdiam, Gavril memutuskan mengetuk pintu kamar sang istri, berniat mengajak perempuan itu makan malam bersama yang sayangnya sahutan berupa penolakan malah Gavril dapatkan.


“Lo gak bisa temenin gue aja gitu, Dis? Makan sendiri gak enak, sepi.” Dalam hati Gavril berharap bahwa Adistya akan bersedia menemaninya, tapi sayang sebuah penolakan kembali dirinya dapatkan. Wanita itu mengatakan bahwa dia tengah sibuk dengan pekerjaannya, dan lagi sudah makan malam bersama sahabatnya yang entah siapa, Gavril tidak tahu.


“Apa sesulit ini Dis bisa dekat sama lo? Gue minta maaf mengenai kejadian dulu. Sumpah gue menyesal, Dis. Please, maafin gue,” mohon Gavril masih di depan pintu kamar Adistya yang tertutup sempurna. Tidak ada suara sedikitpun dari dalam sana, membuat Gavril menghela napasnya kecewa. 


“Beri gue kesempatan untuk menebus kesalahan gue dulu, Dis, dan izinkan gue untuk menjadi suami yang baik untuk lo. Menjadi suami yang bisa lo andalkan, dan menjadi suami yang lo harapkan. Tolong, Dis, beri gue kesempatan untuk mewujudkan semua itu. Gue janji gak akan mengecewakan lo, gue janji gak akan lagi nyakitin lo seperti dulu. Lo istri gue sekarang, dan gue pengan pernikahan kita layaknya pernikahan sesungguhnya, pernikahan yang semana mestinya, pernikahan yang banyak orang lain harapkan termasuk yang lo dan gue dambakan,” Gavril tentu saja serius dengan ucapannya, ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Adistya, menebus luka yang pernah perempuan itu terima dan menggantinya dengan kebahagiaan. 


“Dis, ayo kita bangun rumah tangga kita. Kita hidupkan pernikahan ini,” tambahnya dengan suara lirih yang sarat akan sebuah permohonan. Apa yang dikatakannya murni dari lubuk hatinya yang terdalam. Meskipun cinta itu belum bisa dirinya akui, tapi Gavril tidak akan ragu untuk membangunnya demi sang istri. Tidak akan sulit jatuh cinta pada Adistya, Gavril sadar akan hal itu.


******


See you next chapter!!!