Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
20. Salah Paham



Selamat Membaca !!!


***


Hari demi hari berlalu dan hubungan Adistya dengan Gavril semakin dekat. Bahkan keduanya kadang kala menghabiskan waktu berdua di kamar salah satunya hanya untuk sekedar mengobrol, berbagi cerita mengenai kegiatan hari masing-masing juga becanda sampai tak jarang ketiduran dan paginya bangun dalam keadaan saling berpelukan. Entah itu di kamar Adistya atau kamar Gavril, yang jelas keduanya sudah sering tidur dalam satu ranjang yang sama. 


Tidur dalam artian yang sebenarnya, karena untuk aktivitas lainnya Gavril belum melakukannya. Bukan tak ingin, tapi Gavril menghargai ketidaksiapan istrinya.


Hubungan mereka yang baru membaik membuat Gavril bergerak dengan perlahan dan akan melakukan apa yang seharusnya setelah Adistya merasa nyaman dan benar-benar yakin juga percaya padanya. Gavril tidak ingin membuat Adistya kecewa jika memaksakan kehendak nafsunya, meskipun sebenarnya Gavril sedikit tersiksa. Tak apa, Gavril yakin nanti akan indah pada waktunya.


“Gav, bangun,” satu guncangan di tubuhnya terasa, dan Gavril tahu bahwa itu adalah istrinya.


Malas bangun, Gavril memilih tidak menghiraukan Adistya dan menarik selimut sampai menenggelamkan kepalanya hingga guncangan selanjutnya kembali ia rasakan lebih kencang dari sebelumnya, dan omelan kesal Adistya membuat Gavril yang masih ingin tertidur menjadi terjaga walau masih dengan mata yang tertutup.


Semakin hari, Gavril jadi semakin senang menggoda istrinya itu, karena wajah kesal dan malu Adistya adalah yang terbaik menurut Gavril.


“Gavril, bangun. Ini sudah siang!” kali ini Adistya menarik selimut yang menutupi seluruh wajah Gavril sambil terus menyuruh suami tampannya itu bangun. Tapi tidak sama sekali Gavril hiraukan, ia malah justru menggeliat malas dan mengubah posisi membelakangi Adistya yang semakin kesal hingga satu cubitan panas diterima Gavril di tangannya yang polos. Membuat laki-laki itu terbangun seketika dan melayangkan tatapan protesnya pada sang istri


“Sakit, Yank!” 


“Makanya jangan susah di bangunin!” delik Adistya. “Ayo bangun, gosok gigi, cuci muka terus kita sarapan. Abis ini aku harus pergi,” lanjut Adistya seraya bangkit dari duduknya, namun kembali terjatuh ke ranjang karena Gavril yang baru sadar istrinya sudah rapi dan cantik, menarik tangan ramping itu.


“Kamu mau pergi ke mana?” tanya Gavril dengan sorot mata yang menyiratkan akan keberatannya.


“Meet & Greet di toko buku angkasa,” jawab Adistya singkat.


“Aku boleh ikut?”


“Ngapain?” Adistya menaikan sebelah alisnya. “Yang datang hampir cewek semua loh?” bukan karena Adistya keberatan, hanya saja ia takut Gavril akan bosan di sana karena tidak adanya teman ngobrol meskipun acara tidak akan berlangsung lama.


“Laki-laki gak ada yang datang memangnya?” tanya Gavril


“Ada, cuma beberapa. Lagi pula novel aku ‘kan banyaknya di baca perempuan jadi—”


“Udah gak apa-apa, aku mau ikut pokoknya,” potong Gavril yang langsung turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari istrinya itu.


Adistya hanya mengedikan bahunya singkat lalu mulai berdiri dan merapikan ranjang Gavril, setelah itu menyiapkan pakaian suaminya sebelum kemudian keluar dari kamar pria itu, menunggunya di meja makan.


...*****...


Pukul sepuluh tepat, Adistya dan juga Gavril sudah tiba di Mall, dimana toko buku Angkasa berada. Semua orang yang mendaftar dari dua minggu lalu untuk mengikuti Meet & Greet ini sudah hadir semua dan seruan gembira langsung terdengar, menyambut kedatangan Adistya di toko buku yang luas ini. Toko buku terbesar yang ada di kotanya.


Namun kemudian suasana mendadak hening begitu tahu bahwa Adistya tidak datang seorang diri, melainkan ada seseorang yang mengekorinya dari belakang, membuat pertanyaan mengenai siapa laki-laki itu bersarang di kepala orang-orang yang sudah hadir memenuhi ruangan, termasuk tim yang membantu Adistya menyiapkan acaranya ini yang memang tidak ada yang Adistya undang di pernikahannya beberapa bulan lalu.


Sadar akan rasa penasaran orang-orang di sekelilingnya, Adistya hanya memberikan senyum manisnya, lalu meminta Gavril untuk duduk di salah satu kursi yang ada di belakangnya, setelah itu ia memulai acara Meet & Greet-nya yang mana ia menceritakan garis besar novelnya, pengalaman menulisnya dan maksud dari cerita yang ada di dalamnya, hingga kemudian sesi tanya jawab di buka, dan hampir semua orang lebih dulu bertanya mengenai siapa laki-laki yang Adistya bawa.


Dengan senyum mengembang dan atas izin dari Gavril, Adistya menjawabnya sekaligus memperkenalkan Gavril pada orang-orang yang ada di sana.


Semua terkejut, tentu saja, karena selama ini yang mereka tahu bahwa Adistya belum menikah, bahkan pacar saja tidak ada. Begitu para penggemarnya meminta untuk Adistya menceritakan kisah mereka kenapa bisa menikah, Adistya hanya tersenyum dan kembali melirik pada Gavril yang terlihat sedikit tak nyaman dengan sorot mata penuh rasa sesal.


“Untuk itu saya tidak bisa menjawabnya …” dan seruan kecewa terdengar memenuhi ruangan. “Tapi nanti akan saya kisahkan dalam novel saya selanjutnya,” lanjut Adistya masih dengan senyumnya, lalu kembali menoleh pada Gavril, memberikan senyum lembut yang menenangkan, meyakinkan suaminya itu bahwa tidak akan ada hujatan yang di berikan penggemarnya, setidaknya untuk kali ini. Entah jika nanti setelah mereka tahu bagaimana perjalanan cinta dan rumah tangganya yang Adistya akui jauh dari kata baik di awal.


Selesai dengan sesi tanya jawab, Adistya kemudian menutup acara dengan memberi tanda tangan di buku yang penggemarnya bawa, tidak lupa memberikan cendramata sederhana untuk kenang-kenangan sebelum kemudian Adistya sibuk dengan tim-nya yang menuntut penjelasan mengenai pernikahannya yang tidak sama sekali mereka ketahui. Jadilah Gavril dan Adistya terjebak selama satu jam lagi di tempat itu sebelum kemudian bisa keluar dengan tenang meski keadaan perut keroncongan.


“Enggak, cuma Elma sama Azura dan suami-suaminya yang tahu. Teman-teman aku di penerbitan gak ada yang tahu. Lagi pula aku jarang ke kantor kalau gak nyerahin naskah.” Jawab Adistya jujur.


“Kenapa?” kembali Gavril bertanya dan kali ini nadanya berubah dingin, sangat jelas terdengar di indra Adistya yang langsung mengernyitkan keningnya bingung.


“Segitu gak sukanya nikah sama aku sampai orang-orang di tempat kerja kamu aja enggak kamu kasih tahu,” kali ini sorot kecewa Adistya temukan di mata gelap suaminya, dan Adistya sadar bahwa Gavril tengah salah paham saat ini.


“Gav—”


“Semua temanku di rumah sakit tahu mengenai pernikahan kita."


Adistya meringis kecil mendengar ucapan Gavril. Ia merasa bersalah, tapi sungguh bukan maksud Adistya menyembunyikan pernikahannya. Rekan kerjanya tidak pernah ada yang bertanya, jadi tidak ada alasan untuk Adistya menceritakan status terbarunya. Dan lagi saat pernikahan beberapa bulan lalu, Adistya merasa bahwa itu tidak perlu di ketahui banyak orang yang nantinya malah akan menatapnya dengan kasihan di saat Gavril mencampakkannya. 


Adistya tidak pernah berpikir bahwa hubungan mereka akan membaik, terlebih ingat bagaimana kebencian Gavril terhadapnya dulu. Adistya sudah dapat menebak bahwa pernikahannya tidak memiliki masa depan. Mana ia tahu bahwa akhirnya akan jadi seperti ini. Mana ia tahu bahwa Gavril masih memiliki hati dan menyesali perbuatannya dulu.


“Habiskan dulu makanannya, ya, setelah itu kita pulang. Kita bicarakan semua ini di rumah.” Putus Adistya.


Gavril tidak sama sekali menjawab, hanya menyantap makanannya dan menghabiskannya dengan cepat, ia tidak sabar untuk pulang dan mendengar penjelasan istrinya itu. Semoga apa yang menjadi alasan Adistya tidak membuatnya kecewa karena sungguh Gavril sudah sangat mencintai wanita itu dan tidak ingin kehilangan Adistya-nya.


Sepanjang perjalanan menuju pulang hanya di isi dengan keheningan, dan Adistya mulai merasa tidak nyaman dengan ini.


Belakangan ini mereka sudah terbiasa mengobrol dan becanda, rasanya aneh jika harus saling diam seperti ini. Tapi sepertinya Gavril tidak ingin mengeluarkan suara dan Adistya bingung harus mengucapkan apa. Sejak tadi kepalanya sibuk memikirkan penjelasan apa yang harus dirinya sampaikan agar tidak membuat suaminya itu kecewa. 


Adistya bingung harus memulainya dari mana, ia tidak ingin lagi mengungkit masa lalu mereka, masa lalu menyakitkan yang tidak pernah ingin hilang dari ingatan dan bayangannya. Masa lalu yang membuat Gavril menyesal dengan rasa bersalah yang masih saja menggerogotinya.


Adistya tidak ingin membuka luka lama di saat hubungan mereka sudah sebaik ini. Ia tidak ingin melihat raut wajah Gavril yang lesu akibat sesal yang di rasakannya. Karena sungguh, itu menyakitkan untuk Adistya yang sejak dulu tidak pernah bisa menghilangkan rasa cintanya terhadap Gavril, sejahat dan setega apa pun laki-laki itu dulu.


Setibanya di rumah, Gavril keluar terlebih dulu dari mobil dan Adistya mengira bahwa suaminya itu akan langsung masuk meninggalkannya, tapi yang terjadi malah membuatnya terkejut, dimana Gavril membukakan pintu mobil seperti biasanya, mengulurkan tangan untuk Adistya raih dan mereka berjalan bersama masuk ke dalam rumah.


Biasanya itu di iringi dengan canda dan obrolan, tapi kali ini tidak ada suara yang Gavril keluarkan untuk sekedar basa basi atau menggoda Adistya seperti biasanya.


Sedih, tentu saja Adistya rasakan saat ini, juga bingung bagaimana ia menjelaskan mengenai apa yang ditanyakan Gavril di café tadi.


Kini keduanya duduk di sofa ruang tengah dengan berlatarkan televisi untuk menyamarkan kesunyian yang tercipta.


Gavril yang menatap lurus pada layar datar 42ich itu menunggu istrinya mengeluarkan suara, sementara Adistya berkali-kali menoleh pada suaminya kemudian membuang napas pelan, terlihat bingung untuk memulai berbicara.


Namun setelah lama waktu yang di habiskan dalam diam, Adistya akhirnya membuka suara memberi penjelasan pada Gavril atas pertanyaannya tadi. Dan seperti apa yang ditakutkannya, luka itu kembali di ingat dan penyesalan Gavril terasa begitu nyata. Tapi setidaknya ini lebih baik dan tidak ada lagi kesalahpahaman.


"Lagi pula sekarang mereka sudah tahu, bahkan sudah bertemu kamu langsung. Tidak ada yang aku rahasiakan lagi mengenai statusku. Dan dari awal memang aku tidak berniat seperti itu. Kamu tahu aku selalu menghabiskan waktu di rumah,” Adistya mendongak untuk menatap mata sang suami. “Menulis itu butuh berpikir dan suasana yang tenang, tidak bisa jika sambil mengobrol bahkan bergosip.”


Gavril langsung menarik istrinya ke dalam pelukan begitu Adistya menyelesaikan penjelasannya. “Maaf sudah salah paham dan maaf sudah bersikap kekanakan,” ungkap Gavril tulus.


Adistya mengangguk dalam pelukan Gavril kemudian ikut melingkarkan tangannya di pinggang suami tampannya itu dengan senyum yang terukir manis di bibirnya.


“I love you.” Bisik Gavril kemudian. 


****


See you next part !!!