Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
16. Perhatian Gavril



Selamat Membaca!!!


***


"Kamu belum tidur?" Gavril yang terbangun dari tidur akibat rasa hausnya masuk ke kamar Adistya setelah beberapa kali mengetuk pintu, dan tentu saja setelah si empunya kamar mempersilahkan.


"Belum," jawab singkat Adistya yang menoleh sekilas seraya memberikan senyum manisnya sebelum kemudian kembali fokus pada layar laptop di depannya.


"Kamu kebangun?" tanyanya kemudian tanpa menatap Gavril yang kini sudah berdiri di belakang kursi kerjanya.


Entah sejak kapan panggilan mereka berubah jadi 'aku-kamu' karena yang jelas Gavril merasa nyaman dengan panggilan itu hingga pada akhirnya memutuskan untuk mempertahankan itu meskipun Adistya awalnya sedikit kaku.


"Iya, aku haus makanya bangun."


Adistya mengangguk paham, dan untuk beberapa saat selanjutnya tidak ada lagi percakapan. Gavril dengan pikirannya begitupun dengan Adistya, namun beruntung karena perempuan itu memiliki pengalihan pada tombol dan layar laptopnya. Walau dalam kepalanya berputar memikirkan apa yang harus ia katakan untuk mengusir suasana canggung yang tercipta ini.


"Kapan terakhir kamu minum obat tidur?" tanya Gavril pada akhirnya.


Adistya menghentikan ketikan jemari lentiknya pada papan keyboard dan menunduk dalam, jemarinya kini pindah memainkan ujung piyama yang dikenakannya. Gugup dan takut akan reaksi marah Gavril yang sudah dapat Adistya perkirakan.


"Dis-"


"Kemarin," cicit Adistya pelan, memotong kalimat Gavril.


Jawaban yang Adistya berikan sukses membuat rahang Gavril mengeras.


Sial gue kecolongan!


Dengan kasar Gavril menghembuskan napasnya, dan itu terdengar jelas oleh indra Adistya yang semakin mencengkeram kuat piyama satin warna maroon-nya hingga kain tersebut benar-benar kusut.


Gavril menoleh pada jam berbentuk buah apel yang menempel di dinding atas pintu kamar Adistya yang terbuka, dan kembali menghela napasnya saat tahu bahwa jam sudah menunjukan pukul dua dini hari sementara Adistya masih terlihat segar walau gurat lelah tidak bisa perempuan itu sembunyikan.


"Sekarang matiin laptopnya. Kamu harus tidur, Dis," kata Gavril dengan suara lembutnya, menyentuh pundak Adistya yang masih menundukkan kepala.


"Aku belum ngantuk," jawabnya pelan.


"Gak apa-apa, sekarang matiin laptopnya, terus naik ke tempat tidur. Aku ke bawah dulu bikin susu untuk kamu,"


"Gav--" terlambat, laki-laki itu sudah berjalan keluar dan sepertinya memang tidak berniat menghiraukan protesan Adistya.


Menghela napasnya pelan, Adistya pada akhirnya menurut saja karena sungguh ia tidak ingin mendapati kemarahan Gavril yang lebih ke arah mengkhawatirkannya.


Tidak lama Gavril kembali dengan segelas susu coklat hangat yang kemudian di berikan pada Adistya yang kini sudah berada di ranjang.


Adistya menerima gelas tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih sebelum meneguknya hingga setengah. Tapi instruksi Gavril yang menyuruhnya menghabiskan cairan coklat manis itu membuat Adistya kembali meneguknya hingga tandas dan meletakan gelas kosong di tangannya ke atas nakas, setelah itu melayangkan delikan kesalnya pada Gavril.


"Gak masukin racun di dalam susunya 'kan?" tuduh Adistya begitu mendapati senyum puas Gavril yang mencurigakan.


"Aku masukin racun cinta tadi," katanya dengan kedipan jahil, membuat Adistya mendengus pelan. "Gak aku masukin apa-apa, itu cuma susu coklat yang biasa aku minum. Sekarang kamu tidur," tambah Gavril lalu ikut naik ke atas ranjang Adistya yang langsung saja membuat mata indah dengan warna coklat gelap itu membulat sempurna.


"Kamu ngapain?!" panik Adistya


"Tidur sayang," lembut Gavril menarik tangan Adistya hingga tubuh ramping sang istri terjatuh tepat di dadanya, dan itu sukses membuat Adistya semakin panik dengan debaran jantung yang benar-benar menggila. "Udah diam, aku gak akan apa-apain kamu juga. Lagi pula takut banget kayaknya aku apa-apain," kekeh Gavril geli, seraya menarik tangan Adistya yang memberikan pemberontakan atas pelukan eratnya.


"Gav-"


"Tidur Dis, ini sudah hampir pagi," bisik Gavril di depan ceruk leher Adistya.


"Tidur sayang," potong Gavril dengan suara mengantuknya, lalu membubuhkan satu kecupan di kening wanita dalam pelukannya, sebelum kemudian memposisikan kembali kepalanya di ceruk leher Adistya yang tidak kembali memberi pemberontakan. Perempuan itu terlihat pasrah saat ini dan ikut memejamkan mata sampai tidak butuh waktu lama untuknya ikut larut ke dalam mimpi. Hal yang tidak biasa terjadi sebelum Adistya meminum obat tidurnya. Namun ia mengira bahwa itu hanya karena dirinya terlalu lelah.


Ya, karena ia terlalu lelah.


...***...


"Cerah amat muka lo, Ty," ucap Azura begitu duduk di kursi café milik Elma. Tempat yang selalu mereka jadikan untuk bersantai, berkumpul dan mengobrol bahkan bergosip di saat waktu kosong mengingat mereka kini sudah berkeluarga dan bahkan Azura sudah memiliki buah hati, sementara Elma baru saja di kabarkan hamil, dan Adistya sudah jelas pengantin yang masih perawan karena belum juga di jamah suaminya hingga saat ini, dimana usia pernikahan mereka jalan tiga bulan.


"Serba salah emang hidup gue di mata lo, Ra," Adistya memutar bola matanya malas, lalu mengambil alih bocah dua tahun yang berada dalam gendongan sahabatnya itu sambil menunggu pesanannya datang, juga menunggu Elma yang masih di perjalanan pulang dari rumah sakit.


"Tapi beneran loh, Ty, gue ngerasa lo beda hari ini, aura bahagianya memancar silau kena mata gue. Kenapa sih? Udah bobol perawan?" tanyanya dengan raut penasaran akut.


"Language please!" delik Adistya kesal mendengar ucapan tanpa saringan sahabatnya itu. Namun Azura tidak sama sekali menghiraukan karena rasa penasarannya yang terlalu besar.


"Lo beneran udah bobol perawan? Si Gavril mau nyentuh lo, Ty? Bukan karena dia mabuk atau khilaf 'kan?" pertanyaan bertubi-tubi Azura layangkan dan itu membuat Adistya memutar bola matanya jengah.


"Siapa yang bobol perawan?" satu suara di belakang Adistya menyahut, dan tanpa menoleh pun ia sudah tahu bahwa yang berbicara itu adalah Elma, sahabatnya yang baru saja di nyatakan hamil oleh dokter.


"Si Tya, di bobol Si Gavril. Lo percaya gak, sih, El kalau dia gak khilaf waktu bobol perawannya Si Tya?"


Elma yang tertarik langsung menarik kursi kosong di samping Azura, memajukan sedikit tubuhnya agar lebih condong, siap mendengar berita membahagiakan dari sahabatnya yang terlalu lama jomlo dan tahu-tahu menikah dengan si gebetan yang membuat gagal move on.


"Astaga, bener Ty? Gak lo guna-guna kan si Gavril?" tanya Elma penuh minat.


Ini yang membuat Adistya malas jika nongkrong-nongkrong bareng sahabat. Menggosip. Dan ini ia tentu saja terpaksa. Setiap kali berkumpul seperti ini Adistya memang terpaksa.


"Ck, gak! Lagian lo percaya aja sih El sama ucapan medusa," dengus Adistya. "Gue gak bobol perawan. Udah." Tambahnya dengan malas.


"Heleh, bohong banget lo!" Azura mencebikkan bibirnya tidak percaya dengan penyangkalan Adistya. "Kalau gak bobol perawan kenapa dong muka lo cerah banget hari ini?"


"Tiap hari juga wajah gue cerah meskipun gak rutin perawatan kayak lo," jawab Adistya ringan.


"Ty!" desis Elma dan Azura bersamaan.


Adistya terkekeh pelan melihat raut wajah penasaran sekaligus geram kedua sahabatnya itu. Akhirnya Adistya memilih untuk menceritakan hubungannya dengan Gavril yang sudah membaik, dan seperti dugaannya, kedua sahabatnya itu merespons dengan berlebihan. Mereka tidak percaya, tentu saja, karena keduanya tahu bagaimana berengseknya Gavril dulu.


Elma masih ingat bagaimana dulu Gavril mempermalukan Adistya dengan tidak berperasaannya dan menatap jijik Adistya, seolah Adistya adalah lalat di atas tumpukan sampah. Dan sekarang mendengar laki-laki itu sudah meminta maaf, membuat Elma sedikit sulit untuk mempercayainya.


Memang, semua orang berhak untuk berubah termasuk Gavril, tapi salahkah jika dirinya masih ragu? Elma masih ingat betul bahwa beberapa waktu lalu melihat Gavril dengan perempuan yang sama menjijikannya dengan laki-laki itu. Perempuan yang ikut mempermalukan Adistya saat SMA dulu, dan bukan hanya dirinya yang melihat karena Adistya dan Azura pun sama melihatnya.


"Ty, lo udah tanya hubungan dia sama si Nenek lampir itu?" tanya Elma sedetik setelah cerita Adistya berakhir. "Lo tentu masih ingat bukan saat di Mall waktu itu?"


Adistya tidak langsung menjawab, perempuan itu terdiam dengan senyum yang perlahan menyusut, meyakinkan Elma bahwa Adistya melupakan kejadian itu.


Sebenarnya Elma tidak ingin menghancurkan kebahagiaan sahabatnya yang baru saja di mulai, tapi ia rasa ini lebih baik, setidaknya belum terlalu dalam harapan Adistya mengenai perikahannya dan pria itu.


"Lo tahu, gue gak bermaksud merusak kebahagiaan lo, tapi-"


"Iya, gue paham El." Segera Adistya memotong ucapan sahabatnya itu, bukan karena ia marah atau tidak suka. Tapi Adistya terlalu takut mendengar kelanjutan ucapan sahabat terdekatnya. Adistya terlalu takut membayangkan bagaimana seandainya Gavril kembali menorehkan luka seperti dulu. Ia tidak siap, dan mungkin tidak akan pernah siap jika sampai kejadian dulu kembali terulang.


"Gue akan tanya Gavril nanti," putus Adistya dengan raut yang tidak secerah satu jam lalu.


****


See you next part !!!