Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
32. Kecewa



Selamat Membaca!!!


***


“Adis?” panggil Gavril pelan begitu masuk ke dalam ruangannya dan mendapati Adistya duduk di sofa. 


Adistya yang hampir ketiduran mengerjap dan menyunggingkan senyumnya saat mendapati suaminya kembali setelah hampir setengah jam menunggu tanpa tahu ke mana perginya Gavril.


“Kamu udah kembali,” kata Adistya seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri suaminya. “Dari tadi aku nunggu kamu di café-nya Elma, tapi kamu gak datang juga. Nomor kamu juga gak aktif, jadi aku ke sini deh begitu selesai makan,” jelas Adistya tanpa diminta. “Tahunya kamu malah gak ada. Suster di depan bilang kamu pergi makan siang. Tadi kamu jadi jemput aku di rumah?” tanyanya kemudian setelah berada tepat di depan sang suami.


“Maaf, aku gak nungguin kamu. Abis kelamaan, aku udah keburu lapar. Jadi berangkat sendiri deh,” lanjutnya menggaruk tengkuk, kemudian melayangkan cengiran polosnya. “Kamu gak marah ‘kan?”


Gavril menggeleng kaku. Membuat Adistya menghela napasnya lega. Sementara Gavril tidak tahu harus berkata apa.


“Duduk yuk, aku tadi sekalian pesan buat kamu dari cafenya Elma. Kamu pasti belum makan ‘kan?” Adistya menarik lembut lengan Gavril dan membawa suaminya itu duduk di sofa yang semula didudukinya, kemudian membuka bungkusan makanan yang Adistya bawa sebelumnya. 


Drreett ...


Pergerakan Adistya berhenti saat mendapati ponselnya bergetar di atas meja, membuatnya menoleh dan meraih benda pipih tersebut untuk melihat siapa yang menghubunginya. Dan begitu nama Seno tertera di layar, dengan dengusan kecil Adistya menggeser tombol hijau sebelum kemudian meletakkan gawainya di depan telinga dengan di ampit bahunya, sementara kedua tangannya kembali sibuk membuka bungkusan yang di bawanya, menyiapkan makan siang untuk Gavril.


“Ada apa, sih, Sen! Langsung sama intinya aja kenapa sih, belibet tahu gak lo!” dengus kesal Adistya pada seseorang yang menjadi lawan bicaranya, yang tak lain adalah sang adik menyebalkan.


Laki-laki itu terlalu bertele-tele, membuat Adistya sebal dan ingin sekali melayangkan tendangan jika saja adik lelakinya itu berada dekat saat ini. Namun sayangnya Seno berada berkilo-kilo meter dari jaraknya saat ini.


“…”


Gerakan tangan Adistya terhenti begitu mendengar ucapan dari sang adik di seberang sana, kemudian menoleh pada Gavril yang masih diam hingga saat ini. Laki-laki itu terlihat bingung dan seperti ada yang tengah dipikirkannya. Adistya tidak tahu apa itu, tapi yang jelas ini ada kaitannya dengan apa yang Seno sampaikan dan mengenai ketidak hadiran pria itu di café Elma. Mengingkari janjinya untuk makan siang bersama.


“Gue tutup teleponnya, Sen,” ucap Adistya seraya mematikan sambungan teleponnya dengan sesak di dada yang kembali merasukinya. Kabar dari Seno cukup mengejutkan dan tentu saja membuatnya kecewa, tapi Adistya berusaha untuk tidak emosi. Ia memilih untuk tegar, walau sesak itu semakin menyiksanya.


Cepat-cepat Adistya kembali merapikan makanan yang sebelumnya di tata di meja, memasukannya kembali pada kantong yang bertuliskan logo café Bintang milik Elma, membuat Gavril mengerutkan kening dan menghentikan gerakan Adistya.


“Kok di masukin lagi?” tanya Gavril dengan salah satu alisnya yang terangkat, heran.


“Iya, mau aku bawa pulang buat Bi Nur,” ucap Adistya seraya menarik tangannya dari cekalan Gavril yang tidak terlalu erat.


“Kok—”


“Kamu udah makan ‘kan?” tanpa sadar Gavril mengangguk, membuat Adistya tersenyum perih mengetahui kenyataan bahwa Gavril memilih makan siang dengan perempuan lain dari pada dengan dirinya yang notabennya adalah istrinya sendiri.


Awalnya ia mengira bahwa mungkin adiknya itu salah lihat, tapi tidak menyangka bahwa ternyata itu memang benar. Anggukan Gavril adalah pengakuan tidak langsung pria itu.


“Baguslah, tadi aku takut kamu belum sempat makan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan,” ucap Adistya dengan helaan napas pelan, berusaha mendorong rasa sakit dan kecewanya yang semakin menggerogoti.


“Dis—”


“Kamu udah harus kerja lagi ‘kan?” tanya Adistya kembali memotong kalimat Gavril. “Kalau begitu aku pu—"


“Gak perlu, saya sudah selesai kok,” sahut cepat Adistya seraya bangkit dan melangkah cepat keluar dari ruangan Gavril, membawa rasa perih di hati dengan luka yang semakin menganga lebar. 


Adistya belum mengerti apa yang harus dirinya lakukan saat ini, terlebih belum ada penjelasan apa pun dari Gavril.


Ingin marah, tapi Adistya belum tahu posisinya disini seperti apa. Ia tidak ingin mempermalukan diri sendiri jika harus melabrak perempuan itu walau statusnya adalah istri Gavril.


Tapi, tidak menutup kemungkinan bahwa Gavril akan lebih berpihak kepada perempuan itu dibandingkan dirinya. Adistya tidak ingin malu.


Cukup dulu, sekarang tidak akan lagi Adistya mau di permalukan.


...****...


Harapan Adistya adalah di kejar, tapi sepertinya itu hanyalah sekedar angan karena nyatanya hingga tiba di rumah dan Adistya menyibukkan diri di depan komputer berjam-jam pun sosok itu tidak juga kunjung menampakkan diri. Meyakinkan Adistya bahwa memang dirinya tidaklah lebih berarti dari sosok cantik di ruangan Gavril tadi.


Rania, perempuan berparas cantik, anggun, dewasa, pintar. Terlebih dia ternyata adalah seorang dokter, sangat serasi di sandingkan dengan Gavril yang juga berprofesi sama.


Dengan lembut Adistya menyentuh permukaan perutnya yang masih rata, seulas senyum pedih terbit bersamaan dengan air mata yang menetes tanpa persetujuan.


Adistya tidak mengerti pada takdir hidupnya, tidak mengerti dengan rencana Tuhan untuknya yang selama ini seolah mempermainkannya. Adistya tidak mengerti pada hidup yang dijalani dengan kisah cinta yang selalu saja menyakitinya. 


Sejak dulu Adistya memang tidak pernah beruntung jika itu berurusan dengan kisah cinta. Tapi kenapa harus Gavril yang terus saja melukainya? Menarik ulur hati dan perasaannya, menjatuhkan harapannya yang belum lama pria itu lambungkan hingga menyentuh awan. Kini malah dihempaskan ke dasar jurang yang begitu curam tanpa kata dan penjelasan.


Sepertinya lebih mudah dulu, ketika laki-laki itu menolak, menghina dan merendahkannya secara terang-terangan di depan semua orang dari pada diam seperti sekarang. Mengantungkan harapan tanpa kepastian, melukai tanpa sebuah bukti dan mengabaikan tanpa memberi sebuah penjelasan. Ini lebih menyakitkan dan tentu saja lebih mengerikan dari caci maki yang dulu selalu pria itu lontarkan.


Tok … tok … tok.


“Neng, pekerjaan Bibi sudah selesai.”


Suara ketukan dari pintu kamarnya membuat Adistya mengerjap dan bangkit dari duduknya, melangkah menuju pintu bercat putih tersebut dan membukanya, menampilkan wajah teduh Bi Nur yang keriput dan terlihat kelelahan.


“Bibi pulang dulu. Neng Tya gak apa-apa di rumah sendiri?” tanyanya dengan raut khawatir.


“Gak apa-apa, Bi. Gavril juga sebentar lagi pulang,” Adistya berbohong. Karena sebenarnya dirinya sendiri tidak tahu kapan suaminya itu akan pulang.


“Ya sudah kalau begitu, Bibi pulang, Neng hati-hati di rumah. Itu Bibi udah siapin makan malamnya juga.”


Adistya mengangguk dan tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih sebelum kemudian ikut mengantar wanita baya itu hingga ke depan, dan diam selama beberapa saat berharap mobil Gavril datang bersama si pemilik, tapi sayangnya Adistya tidak dipuaskan dengan harapannya itu. 


Sebenarnya bisa saja Adistya menunggu lebih lama lagi, tapi ia teringat akan kondisinya yang tengah hamil dan angin malam jelas tidak baik untuknya. Jadilah Adistya memutuskan untuk masuk dan kembali ke kamarnya setelah sebelumnya membuat susu ibu hamil yang belakangan ini rutin dirinya konsumsi tanpa di ketahui siapapun termasuk Bi Nur, karena Adistya menyimpan susu itu di kamarnya. Tidak ingin kehamilannya di ketahui siapapun sebelum dirinya memberitahukan Gavril. 


Meskipun Adistya sendiri kini tak yakin untuk memberi tahu keberadaan anaknya pada pria yang sudah menikahinya itu mengingat Gavril yang sepertinya lebih memilih perempuan bernama Rania itu dibandingkan dengan dirinya. Bahkan Adistya sudah tak yakin akan bertahan dalam pernikahannya jika Gavril terus-terusan bertingkah pengecut dan berengsek seperti ini. 


***


See you next part !!