Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
35. Penyesalan



Happy Reading!!!


***


“Vril, kamu baik-baik aja ‘kan?” tanya cemas Rania pada Gavril yang sejak beberapa hari belakangan ini terlihat lebih murung. Bahkan Gavril tidak lagi mengambil pasien untuk ditanganinya, lebih memilih berada di meja kerja dengan tumpukkan berkas-berkas pentingnya meskipun lebih sering laki-laki itu pandangi dari pada pelajari.


"Aku baik-baik aja kok,” jawab Gavril tak semangat, semakin memperdalam kerutan heran di kening Rania. 


“Kalau memang ada masalah, kamu bisa cerita sama aku, Vril. Ingat sebentar lagi kita akan menikah,” ucap Rania, mengelus lembut punggung tangan Gavril yang berada di meja.


Gavril yang semula terpejam kembali membuka matanya, menatap Rania dengan tatapan yang sulit di artikan. Ada sesal dan juga rasa bersalah, namun Gavril masih bingung untuk menyampaikan apa yang sesungguhnya. Ia tidak tahu harus memulainya dari mana dan Gavril juga tidak tega untuk menyakiti hati gadis tercintanya.


Tapi Gavril sadar bahwa ia tidak bisa terus menyembunyikan semua ini, Rania berhak tahu statusnya yang sudah menikah walau kini sedang berada dalam proses perceraian. Namun lebih dari pada itu semua, Gavril merasakan sesak setiap kali mengingat perceraiannya dengan Adistya, Gavril tidak rela, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Mempertahankan Adistya sama saja dengan melukai wanita itu semakin dalam, mengingat cintanya terhadap Rania masih bersarang hingga saat ini, terlebih persetujuannya menikahi perempuan itu.


“Ra,” panggil Gavril pelan.


“Ya?” Rania semakin memfokuskan diri pada Gavril, siap mendengar cerita pria tercintanya itu.


“Maaf,” cicitnya pelan, membuat Rania mengerutkan keningnya bingung, merasa tidak ada kesalahan yang pria itu buat. Mungkin.


“Maaf untuk apa?”


“Ketidak jujuranku,”


Kerutan di kening Rania semakin dalam, masih tidak mengerti dengan maksud yang Gavril coba sampaikan, juga penasaran akan kejujuran yang tidak pria itu katakan kepadanya, karena selama mengenal Gavril, Rania tahu bahwa laki-laki itu tidak pernah membohonginya. Tapi bertahun-tahun terlewati semua bisa saja berubah bukan? Ya tentu, termasuk perasaan.


“Aku sudah menikah,” bagai di sambar petir di siang bolong, Rania benar-benar terkejut mendengar pernyataan itu. “Satu tahun yang lalu,” lanjut Gavril seraya menundukkan kepalanya. Bukan merasa bersalah pada Rania, melainkan karena sesak itu kembali dirasakannya, dan air mata tidak dapat Gavril cegah begitu ingatannya lari pada tangis kepedihan Adistya, tatapan terluka Adistya dan kenyataan bahwa mereka sedang dalam proses perceraian. Gavril ikut terluka, dan hatinya hancur tak bersisa.


Rania menutup mulutnya, terlulu syok mendengar kenyataan itu. Air matanya pun kini sudah menetes dan kepalanya menggeleng tak percaya. Rania ingin membantah itu, menganggap semuanya hanya kebohongan Gavril, namun mulutnya terasa kelu, tenggorokannya tercekat. Ia tidak bisa berkata-kata.


“Namanya Adistya, perempuan yang beberapa waktu lalu kamu lihat keberadaannya di ruanganku, dan yang saat itu berpas-pasan di depan pintu ruanganku. Dia ... istriku,” Gavril menyeka sudut matanya yang kembali basah, ingatannya kembali pada saat itu, saat dimana Adistya melihat pengkhiatannya, saat dimana dengan terang-terangan ia mengabaikannya, dan kini Gavril menyesali itu.


“La—lalu ....”


“Dia mendengar obrolan kita saat itu, dan menggugat ceraiku,” merasa ada yang meremas kuat dadanya, Gavril lagi-lagi tercekat, tidak dapat meneruskan ucapannya. 


Tapi kini air mata itu tak lagi berarti. Adistya-nya lebih terluka, dan air mata yang perempuan itu keluarkan lebih banyak dari pada air matanya. Melepaskannya seharusnya sudah membuat Gavril lega karena itu artinya tidak akan ada lagi luka yang Adistya terima karenanya, tapi Gavril rasanya tak sanggup. Ia tidak yakin bisa tanpa Adistya, walau kini ada Rania yang menggantikannya.


"Kenapa kamu gak bicara dari awal? Kenapa kamu gak jujur tentang status kamu? Kenapa Gavril!”


Isak tangis tak bisa lagi di tahannya, Rania kecewa, ia marah pada dirinya sendiri, pada Gavril dan pada perempuan yang menjadi istri dari laki-laki tercintanya. Kenapa … kenapa mereka harus bungkam di saat banyak kesempatan untuk bicara?


“Karena aku mencintaimu,” jawab Gavril menegakkan kepalanya.


“Bulshit!” teriak Rania marah. “Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan pernah menikahinya--"


“Aku menikah karena orang tuaku menjodohkan kami,” potong cepat Gavril, menatap serius pada perempuan di depannya yang sudah banjir air mata. “Aku dan Adistya menikah karena perjodohan. Aku tidak mencintainya,” ya, pada awalnya. Lanjut Gavril dalam hati.


Rania menatap Gavril tak percaya. Mulut laki-laki itu bisa saja berkata tidak mencintai, tapi matanya menjelaskan semuanya. Rania tidak sebodoh itu, lagi pula untuk apa pria itu murung belakangan ini jika memang tidak mencintai istrinya.


Bukankah perpisahan seharusnya membuat Gavril lega karena terbebas? Lalu mengapa malah lebih terlihat tersiksa dengan penyesalan yang tak dapat di sembunyikan?


Ya, Rania tahu bahwa cinta itu ada, walau dirinya tidak dapat menebak seberapa besar perasaan yang Gavril miliki untuk mantan istrinya.


...****...


Persidangan pertama, Adistya masih menghadiri dan tidak sama sekali berniat membatalkan gugatannya, membuat Gavril terpaksa harus menerima, padahal dalam hati Gavril berharap bahwa Adistya mau kembali mempertimbangkannya, memberinya satu lagi kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga mereka. Tapi sepertinya Gavril harus dengan cepat sadar, keputusan ini Adistya ambil karena sikapnya, karena kesalahannya, dan pengkhianatan yang dirinya lakukan terhadap pernikahan mereka. Sementara saat itu Gavril sudah berjanji tak akan lagi memberi Adistya luka, tidak akan mengecewakannya dan akan berusaha membuat wanita itu bahagia, menebus kesalahannya ketika remaja dulu. Namun Gavril mengacaukannya, ia mengingkari janjinya sendiri. Jadi inilah resiko yang harus Gavril terima.


Persidangan kedua hingga selesai, kehadiran Adistya tidak lagi terlihat, membuat perceraian mereka semakin cepat selesai dan hakim mengetukkan palunya, mengatakan bahwa keduanya resmi bercerai.


Seharusnya lega bukan? Tapi yang Gavril rasakan malah sebaliknya, hatinya sakit, dadanya sesak dan hidupnya seakan tak lagi memiliki tujuan. Gavril merasa kosong walau Rania setia mendampinginya. Keinginan menikahi perempuan itu tidak lagi menggebu, namun Gavril tidak berniat untuk membatalkannya. 


Rencana pernikahan masih tetap berlanjut, bahkan kini sudah mulai mempersiapkannya. Orang tua Gavril dan juga orang tua Adistya kini tahu apa alasan di balik perceraian anak-anaknya, dan mereka jelas kecewa terlebih ibu Gavril. Wanita baya itu bahkan tidak segan-segan memaki anaknya dan meminta laki-laki itu pergi sejauh mungkin dari hadapannya. Rania pun terkena imbas. Hubungan yang sejak dulu memang tidak terlalu Avril setujui membuat wanita baya itu semakin membenci Rania, menyalahkan perempuan itu atas kekacauan yang menimpa rumah tangga putranya.


Rania jelas tidak bisa berbuat apa-apa karena sadar bahwa sedikit banyaknya memang dirinyalah yang menyebabkan kehancuran rumah tangga Gavril dan Adistya. Tapi jelas semua ini tidak akan terjadi jika Gavril jujur sejak awal mengenai statusnya, atau setidaknya laki-laki itu menolak saat Rania mempertanyakan mengenai hubungan mereka. Semua tidak akan terjadi jika Gavril tidak menjanjikan pernikahan yang sudah lama menjadi impian mereka. 


Dan, semua tidak akan pernah terjadi jika saat itu dirinya tidak menghampiri Gavril dan menjelaskan mengenai kesalahpahaman diantara mereka. Semua tidak akan terjadi jika perasaan yang Rania dan Gavril miliki tidak lagi ada saat ini. Tapi semuanya sudah terjadi, penyesalan tidak lagi berarti, karena hati sudah sama-sama tersakit. 


****


See you next Part !!!