
Selamat Membaca!!!
***
"Kenapa kamu gak jujur mengenai kehamilan kamu sama Gavril, Ty?” tanya Satya yang baru saja tahu bahwa sang putri ternyata tengah berbadan dua. Satya syok, sedih sekaligus juga bahagia mendapati dirinya yang akan segera memiliki seorang cucu, tapi tidak dapat di pungkiri bahwa kenyataan Adistya tak lagi memiliki seorang suami membuatnya khawatir.
Sebagai ayah ia tidak tega membiarkan anaknya berjuang sendiri dengan kehamilannya. Namun sebagai ayah juga Satya tidak bisa bertindak banyak, Adistya tetap kukuh melarangnya memberitahu Gavril dengan alasan tidak ingin membuat mantan suaminya itu merasa bertanggung jawab. Meskipun seharusnya memang itulah yang dilakukan seorang suami dan calon ayah dari anak dalam kandungan Adistya.
“Tya mohon, Yah, Tya gak mau merusak kebahagiaan Gavril untuk yang kesekian kalinya. Perempuan itu yang Gavril cintai, bukan Tya. Anak ini biar Tya rawat dan besarkan seorang diri aja. Tya juga gak mau kembali tersakiti. Tya mohon, jangan kasih tahu Gavril. Ada saatnya nanti dia tahu mengenai keberadaan anaknya, tapi tidak sekarang."
Mau tidak mau Satya memilih untuk menyetujui keinginan anaknya karena merasa tidak tega juga, dan sebagai ayah ia tidak akan pernah rela putri satu-satunya di sakiti orang lain.
“Dan, tolong izinin Adistya pergi, Yah,” pinta Adistya kemudian, matanya yang sudah basah sejak tadi menatap Satya dengan penuh permohonan. “Izinin Tya pergi dari rumah ini. Tya ingin menenangkan diri.”
“Ke mana kamu akan pergi?”
“Swiss,” jawab Adistya dengan yakin, membuat Satya terkejut dengan mata membulat sempurna.
“Jangan becanda kamu, Tya! Swiss terlalu jauh, dan kita tidak memiliki kerabat sama sekali di sana,” ujar Satya mengeluarkan keberatannya. Sebagai orang tua ia tentu saja khawatir, apalagi Adistya tengah berada dalam keadaan hamil muda.
“Tya punya teman di sana, Yah, dan dia gak keberatan menemani Tya selama di sana. Ayah gak perlu khawatir, Tya pasti bisa jaga diri dengan baik. Tolong izinin Tya, Yah,” mohonnya. Satya masih tetap menggelengkan kepalanya, berat untuk mengizinkan sang putri yang tidak pernah pergi jauh dari rumah harus tinggal di tempat yang amat jauh dan asing.
Namun Adistya tidak menyerah, wanita hamil itu terus memohon dan membujuk ayahnya, meyakinkan Satya bahwa dirinya bisa dan akan baik-baik saja. Sampai pada akhirnya mau tidak mau Satya mengizinkan dengan syarat selalu menghubunginya.
...***...
Hari kepergian Adistya tiba, di antar Seno dan juga sang ayah tentu saja. Tak lupa kedua sahabatnya yang masing-masing membawa suami, membuat Adistya iri sekaligus sedih karena teringat akan rumah tangganya dengan Gavril yang tidak bertahan lama.
Sebenarnya Adistya merasa berat meninggalkan kedua laki-laki tersayangnya itu, meninggalkan sahabat-sahabatnya dan juga orang-orang tersayangnya yang lain. Tapi ia sudah bertekad untuk pergi, meninggalkan kenangan pahit dan manisnya dengan Gavril yang tentu saja tidak mengetahui kepergiannya.
Adistya berharap dengan kepergiannya ini, ia dapat menyembuhkan hatinya, membuang kesedihannya dan tentu saja melupakan kenangannya bersama Gavril. Dan harapan terakhirnya, semoga saja ia dapat berbahagia walau tidak bersama laki-laki yang selama ini dirinya cintai.
“Jaga diri baik-baik di sana, Ty. Jangan lupa kasih kabar sama kita-kita. Doain semoga aja saat lahiran lo nanti gue bisa datang ke sana,” ucap Elma seraya memeluk erat sahabat tersayangnya itu.
“Jangan lupa cari laki orang sana, Ty. Lo harus tunjukin sama mantan berengsek lo itu, bahwa lo bisa dapat yang lebih dari dia, yang bisa mencintai lo dengan tulus, tidak seperti dia yang selalu sia-siain lo. Buat dia menyesal telah melepas lo,” kali ini Azura yang bicara. Perempuan satu anak itu memang paling marah saat tahu Adistya menggugat cerai Gavril karena laki-laki itu selingkuh, dan Azura pula lah yang paling membenci Gavril dan menyumpahinya.
“Gue pasti kangen kalian nanti,” ucap Adistya, berusaha menahan air matanya agar tidak menetes di depan sahabat juga orang tua dan adiknya.
“Kita juga pasti kangen sama lo, Ty. Gak akan ada lagi yang bisa kita paksa-paksa ikut nongkrong, ikut belanja dan gibahin suami masing-masing.”
...****...
“Vril, menurut kamu yang ini apa yang ini?” tanya Rania seraya menunjukkan contoh undangan di tangannya.
“Aku ikut kamu aja, Ra. Kamu pilih yang kamu suka,” jawab Gavril tanpa menoleh sedikitpun, membuat Rania mendesah lusu.
Sejak perceraian Gavril dan Adistya di resmikan pengadilan, Gavril menjadi pribadi yang tidak lagi hangat, bahkan untuk Rania yang tak lain adalah calon istrinya sendiri. Laki-laki itu selalu sibuk dengan pekerjaannya, bukan sebagai dokter, tapi sebagai manager rumah sakit.
Gavril mengundurkan diri dari profesi dokternya satu minggu sebelum sidang pertama berlangsung. Ketidakfokusannyalah yang membuat Gavril akhirnya mengundurkan diri sebagai dokter karena tidak ingin sampai membahayakan pasien yang di tanganinya. Dan sejak palu di ketuk tanda Gavril dan Adistya resmi bercerai, saat itu pula Gavril menjadi sosok yang gila kerja hingga tak jarang Rania terabaikan dan terpaksa mengurus pernikahannya seorang diri.
Sama hal-nya seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun Gavril seolah tak lagi peduli dengan persiapan pernikahan mereka yang hanya tingga satu bulan lagi. Ya, walau tanpa restu orangtuanya, Gavril tetap akan menikahi Rania sesuai janjinya. Namun entah ini karena dirinya mencintai Rania, atau hanya karena tanggung jawab atas ucapannya, karena yang jelas Gavril sudah tidak lagi seantusias dulu. Gavril merasa kosong, dan perasaannya terhadap Rania tidak semenggebu saat mereka kembali dipertemukan beberapa waktu lalu. Kali ini terasa hambar, tapi sebisa mungkin untuk Gavril tidak memperlihatkannya, walau sebenarnya Rania merasakan itu.
...****...
Adistya meregangkan otot-ototnya terlebih dulu sebelum kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk sebuah apartemant yang sudah temannya siapkan untuk tempat tinggal Adistya selama berada di Swiss. Negara pelarian Adistya dari rasa sakit yang ditimbulkan mantan suaminya.
Sejujurnya tidak pernah terpikirkan untuk pergi sejauh ini dari rumah, meninggalkan keluarganya dan kedua sahabat yang disayanginya, tapi keadaan yang memaksa Adistya melakukan ini.
Luka yang Gavril torehkan sukses membuat dirinya menyerah untuk tetap berada di negara kelahirannya, negara yang amat dicintainya, dan negara yang tentu saja memberinya kenangan yang teramat berat untuk ditinggalkan.
Namun kepahitan yang belakangan kembali di dapatkan membuat Adistya ingin sekali melupakan apa yang pernah dirinya alami di negara itu. Adistya ingin melupakan semuanya. Tentang Gavril tentu saja. Dan semoga saja pilihannya untuk pergi ke negara yang tidak pernah ia kenal sebelumnya adalah pilihan yang tepat, dan ia bisa terbebas dari rasa sakit yang menyiksanya selama ini.
“Apa kau yakin tidak ingin tinggal bersamaku?” tanya Irene, teman Adistya yang merupakan penduduk asli Swiss yang beberapa tahun lalu tinggal di Indonesia dan kembali ke negara asalnya setelah mendapat kabar bawa sang ayah telah berpulang ke hadapan Tuhan, membuat perempuan itu terpaksa berpisah dengan Adistya dan kedua temannya yang lain karena harus menemani sang ibu.
Adistya bangkit dari tidurannya dan memilih untuk duduk, bersandar pada kepala ranjang diikuti oleh Irene. “Tidak Rene, aku tidak ingin terlalu merepotkanmu. Disini lebih baik,” ucap Adistya. “Terima kasih sudah membantuku mengurus segalanya, termasuk tempat tinggal yang nyaman ini,” tambah Adistya seraya tersenyum tulus, kemudian memeluk erat sahabat yang sudah lama tidak ditemuinya itu selain melalui call video yang tentu saja amat jarang mereka lakukan.
“Aku bahagia akhirnya kau datang mengunjungiku, bahkan akan tinggal disini untuk waktu yang tidak kau tentukan. Aku senang, Tya,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku pun bahagia bisa bertemu denganmu lagi, Irene. Azura dan Elma pasti iri denganku,” Adistya terkekeh pelan begitu ingatan akan kedua sahabatnya melintas. Apalagi saat Adistya mengatakan akan pergi ke Swiss dan menemui Irene, kedua sahabatnya itu mengomel tiada henti dan menginginkan untuk ikut, tapi terhalang oleh para suami yang tidak ingin berjauhan.
“Ah, aku pun rindu kedua cecunguk itu,” ujar Irene, kemudian keduanya tertawa dan mengobrol banyak hal. Sebelum kemudian Irene pamit pulang karena hari sudah beranjak malam dan Adistya pun butuh istirahat setelah belasan jam berada di udara.
****
See you next part !!!