Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
31. Janji Makan Siang



Happy Reading!!


***


“Kerjaan kamu banyak ya, malam terus pulangnya?" tanya Adistya saat mendapati suaminya masuk ke dalam kamar. 


Adistya sengaja selalu menunggu Gavril di kamar pria itu, karena tidak yakin suaminya akan masuk ke dalam kamarnya setelah beberapa hari belakangan ini Gavril semakin terlihat lebih asyik dengan ponsel dan selalu telat pulang dengan keadaan lelah tapi selalu dalam suasana senang. Membuat Adistya selalu bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi sebelum pria itu tiba di rumah. Mungkinkah karena perempuan itu? Atau karena alasan lain? Adistya belum bisa memastikannya.


“Iya." Sesingkat itu jawaban yang Gavril berikan, sebelum kemudian laki-laki itu masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Adistya yang kembali tidak dipuaskan dengan jawabannya.


Tak lama gemiricik air terdengar, suara dering dari ponsel Gavril masuk ke dalam indra Adistya, membuatnya penasaran akan siapa yang menghubungi suaminya itu, tapi tidak cukup keberanian untuk Adistya melihatnya. Hingga dering itu mati dan beberapa detik kemudian kembali berbunyi semakin menambah rasa penasaran Adistya dan berakhir perang dalam batinnya, sampai pada akhirnya Adistya memutuskan untuk meraih gawai milik Gavril yang berada di atas nakas, yang masih berbunyi hingga saat ini.


Melihat nama yang tertera di layar sebelum kemudian kembali menyimpannya di tempat semula karena suara air tidak lagi Adistya dengar, sebagai tanda bahwa suaminya sudah selesai dengan aktivitas mandinya.


Dan benar saja, tak lama kemudian Gavril keluar dengan tubuh bagian bawah yang hanya dililiti handuk. Laki-laki itu melewati begitu saja lemari dan memilih untuk mengambil ponselnya yang kembali berdering. Pergerakannya itu tidak lepas dari penglihatan Adistya yang saat ini duduk bersandar di kepala ranjang dengan komputer di pangkuannya.


“Pakai bajunya dulu, Gav,” titah Adistya begitu melihat suaminya hendak melangkah menuju balkon untuk mengangkat telepon.


“Iya, nanti,” kata Gavril tidak sama sekali menghiraukan ucapan Adistya. Pria itu malah melanjutkan langkahnya membuka pintu balkon dan menutupnya kembali seolah tidak ingin Adistya mendengar percakapannya dengan si lawan bicara. Membuat Adistya merasakan sesak kembali, dan kali ini lebih nyata.


“Kamu lebih memilih masuk angin ternyata dari pada membiarkan dia menunggu,” gumam pedih Adistya yang memutuskan untuk turun dari ranjang Gavril dan membawa serta laptopnya menuju kamarnya sendiri.


Adistya merasa tak sanggup jika dirinya terus-terusan berada di kamar yang sama dengan suaminya di saat pria itu dengan terang-terangan asyik dengan dunia dan kebahagiaannya sendiri bersama perempuan itu.


“Kamu masih kuat untuk bersabar ‘kan, Sayang?” tanya Adistya pada sang buah hati di dalam perutnya. “Bantu Bunda untuk terus bertegar hati, ya? dan doakan ayahmu segera sadar dari kekhilafannya.” Elusan demi elusan Adistya berikan pada perut ratanya, sampai tak terasa butir kristal menetes dari pelupuk matanya. 


...***...


Adistya mengernyitkan kening saat Gavril menampakkan diri di dapur, duduk di meja makan dan menyesap kopi yang sebelumnya sudah Adistya siapkan.


Walau belakangan pria itu selalu melewatkan sarapannya di rumah, tapi Adistya tidak pernah absen menyiapkan kopi untuk suaminya meskipun tidak laki-laki itu lirik sekalipun. Dan pagi ini senyum Adistya kembali berkembang, senang karena akhirnya Gavril sarapan di rumah dan melahap semua yang dirinya siapkan, meskipun tanpa pujian, gombalan dan obrolan lainnya seperti biasa.


“Hari ini kerjaan kamu banyak?” tanya Adistya membuka obrolan. 


Gavril terlebih dulu menyelesaikan kunyahan di dalam mulut sebelum menjawab, “Enggak, cuma ada satu operasi.”


“Mau makan siang bareng? Di café Elma, atau nanti aku masak dan kita makan di ruangan kamu,” kata Adistya dengan semangat. Menerbitkan senyum di bibir Gavril.


“Kita makan di café Elma saja, nanti aku jemput kamu.”


Adistya semakin menyunggingkan senyumnya dan mengangguk dengan semangat. Dalam kepalanya Adistya merencanakan untuk memberi kabar perihal kehamilannya pada Gavril, dengan harapan bahwa kabar ini akan menyadarkan Gavril dari kekhilafannya dan melupakan sosok Rania yang belum juga Adistya ketahui hubungan jelasnya dengan sang suami. Selain kabar dari Byanca tempo hari.


“Kalau begitu, aku berangkat kerja dulu,” ucap Gavril seraya bangkit dari duduknya setelah menyelesaikan sarapannya.


Adistya tentu saja ikut bangkit dan mengikuti langkah suaminya menuju ke teras rumah, meraih tangan Gavril untuk di kecupnya seperti biasa. Kebiasaan yang beberapa hari belakangan ini tidak Adistya lakukan karena Gavril yang selalu berangkat terburu-buru, bahkan sebelum Adistya menyelesaikan menyiapkan sarapan.


Cup.


Adistya membeku dengan hati menghangat dan mata yang memanas begitu satu kecupan yang beberapa hari belakangan tak mampir di keningnya kembali Adistya rasakan, membuatnya bahagia sekaligus juga sedih.


Semoga ini bukan hanya sekedar bayangannya saja.


...****...


Pukul sebelas siang, Adistya sudah siap dengan kemeja putih yang dipadukan dengan slip dress bermotif floral, membuat penampilan Adistya terlihat lebih fresh, apalagi dengan di dukung wajah berbinarnya yang membuat penampilan Adistya siang ini semakin cerah. Secerah matahari di luar sana.


“Cantik banget, Neng, mau ke mana?” tanya Bi Nur begitu melihat majikannya turun dari tangga.


“Mau makan siang di luar sama Gavril, Bi,” jawab Adistya dengan senyum yang tak hentinya terukir, membuat asisten rumah tangganya itu ikut tersenyum sebelum kemudian pamit untuk melanjutkan pekerjaannya, dan Adistya melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu, menunggu sang suami menjemput untuk berangkat bersama menuju Café Bintang milik Elma.


Dengan tak sabar, Adistya menunggu dan sesekali melirik pada jam di pergelangan tangannya lalu mengecek ponsel di tangannya, menunggu pesan dari Gavril yang sudah berjanji akan menghubungi begitu berada di perjalanan. 


Namun hingga jarum jam menunjukkan di angka dua belas lewat belum juga ada kabar dari suaminya itu. Membuat Adistya mengerucutkan bibirnya sebal, dan memilih untuk menghubungi pria itu menanyakan dimana keberadaan Gavril saat ini, tapi sayangnya tidak juga ada jawaban selain suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang di hubungi tidak aktif.


Akhirnya Adistya memutuskan untuk berangkat sendiri, tidak lupa menitipkan pesan pada satpam rumahnya jika kemungkinan Gavril datang.


“Tumben lo ke sini tanpa diminta?” heran Elma begitu menemukan sahabatnya masuk ke dalam cafenya yang saat ini cukup ramai karena memang tengah jam makan siang.


“Mau makan siang sama Gavril,” jawab Adistya seadaanya, dan melirik sekeliling untuk mencari tempat yang kosong kemudian berjalan dan mendudukinya, diikuti Elma di belakangnya yang berniat akan menemani hingga suami dari sahabatnya itu datang.


“Kok gak barengan?” tanya Elma setelah duduk di kursi yang berhadapan dengan Adistya.


“Bilangnya dia mau jemput, tapi lama. Nomornya juga gak bisa di hubungi, jadi ya udah deh gue berangkat sendiri aja,” jelas Adistya singkat. “Udah laper banget gue, El. Bikinin nasi goreng dong,” pintanya dengan cengiran polos.


“Bentar, gue minta Re—”


“No! Gue pengen lo yang masak,” potong Adistya cepat, lalu melayangkan tatapan memohonnya. Membuat Elma mendengus keberatan.


“Mas Fikri gak ijinin gue masak dan melakukan aktivitas berat lainnya, Ty!”


“Ayolah El, please! Laki lo gak ada disini, gak akan tahu kalau lo masak. Gue kangen nasi goreng buatan lo,” mohon Adistya masih dengan tatapan memelasnya bahkan kini tangannya sudah bergerak mengelus perutnya yang masih rata, tapi Elma tidak melihatnya karena terhalang oleh meja yang ada di antara mereka.


Elma berpikir sejenak, sebelum kemudian mengangguk pasrah. Bukan sepenuhnya karena permintaan Adistya, tapi juga karena kerinduannya untuk memasak membuat Elma menyetujui memasak nasi goreng untuk sahabatnya, sekaligus untuk dirinya sendiri. Urusan suaminya biarlah nanti ia pikirkan. Toh hanya memasak nasi goreng untuk dua porsi tidak akan membuat dirinya kelelahan dan kesusahan mengingat kehamilannya belum terlalu besar dan masih dapat menyesuaikan dengan geraknya.


Memang tidak ada masalah dengan kehamilannya sebenarnya, hanya saja suaminya terlalu protektif setelah tahu bahwa di perut Elma ada darah dagingnya. Jadi sejak itulah Elma yang amat suka berkutat di dapur dengan berbagai masakan berhenti karena terpaksa demi menghindari perdebatan panjang dengan suaminya.


Setelah kepergian Elma, Adistya kembali mencoba menghubungi nomor suaminya, tapi hasilnya masih tetap sama, yaitu nomor yang di tuju tidak aktif. Menghubungi rumah pun jawaban dari Bi Nur tidak memuaskan. Gavril tidak kunjung datang. 


Kecewa? Tentu Adistya rasakan, tapi sebagai istri dari seorang dokter, Adistya berusaha untuk mengerti. Menganggap bahwa mungkin suaminya mendapatkan tugas operasi mendadak atau kesibukan lainnya yang tidak dapat di tinggalkan.


Positif thingking, itu yang Adistya lakukan saat ini. 


***


see you next part!!