
Selamat Membaca !!!
***
“Dis, ayo,” Satya mengulurkan tangannya di depan Adistya yang sejak tadi menunduk gelisah karena belum juga menemukan keberadaan Gavril, gugup juga mengingat ia akan menikah kembali dengan mantan suaminya.
Dulu Adistya tidak merasa segugup ini karena pernikahannya tidak terlalu di harapkan, tapi sekarang jelas berbeda, perasaan itu ada dan harapan itu nyata. Adistya mencintai Gavril dan ia pernah terluka karena cinta itu di masa pernikahannya yang pertama. Jadi boleh bukan jika sekarang ia merasakan takut?
“Dis?” panggil pria paruh baya itu, menyadarkan Adistya.
“Ayah, apa Gavril-nya udah ada?” pertanyaan itu yang meluncur pertama kali, membuat Satya mengulas senyum, paham akan ketakutan sang putri.
“Dia sudah menunggumu di depan penghulu,” kata Satya mengelus hati-hati kepala Adistya yang sudah tersanggul rapi. “Apa kamu ragu?” tanya Satya kemudian, takut bahwa putrinya itu masih ragu untuk kembali membina rumah tangga dengan pria yang sama yang sudah menghancurkan harapannya.
Mengerti kekhawatiran ayahnya, Adistya lantas menggeleng dan bangkit dari duduknya. “Tya bukannya ragu, tapi lebih kepada takut dan gugup,” jujurnya.
“Ayah paham. Tapi percayalah bahwa bahagia itu ada dan sedang menantimu. Lagi pula Ayah dengar dari mertuamu bahwa kamu mengajukan syarat untuk Gavril?”
Adistya yang menatap ayahnya mengangguk ragu, takut ayahnya itu marah atas tindakannya. Tapi ketakutan Adistya tidak berdasar karena Satya malah memberikan senyum lembutnya.
“Dan Gavril memenuhinya,” kata sang ayah masih dengan seulas senyumnya. “Itu artinya dia bersungguh-sungguh terhadapmu, sampai dia tidak peduli kehilangan apa pun yang dimilikinya demi bisa kembali bersamamu. Ayah percaya bahwa Gavril adalah laki-laki yang baik, meskipun tidak bisa dilupakan bahwa dia telah menyakiti putri Ayah. Tapi tidak ada salahnya memberi kesempatan untuk dia memperbaiki kesalahannya. Dulu pernikahan kalian ada karena sebuah perjodohan yang kami -para orang tua lakukan. Sekarang pernikahan ini atas dasar keinginannya, keinginanmu, Ayah yakin hati kalian sudah sama-sama kuat untuk saling mempertahankan.”
Adistya mengangguki itu, membenarkan apa yang dikatakan ayahnya. Setelahnya senyum lega terbit di bibir Adistya, lalu memeluk ayahnya itu penuh sayang. Tak lupa mengucapkan terima kasih.
“Nih,” Satya menyerahka sebuah map yang sejak tadi tidak Adistya sadari berada di tangan pria paruh baya itu. Sebelah alis Adistya terangkat, bertanya mengenai apa yang diberikan sang ayah. “Mertua kamu yang memberikan itu kepada Ayah, biar kamu melihat dulu isinya.”
Tanpa bertanya lagi, Adistya langsung membuka map tersebut dan membaca isinya, senyumnya terukir dan kini ia mengerti. Gavril benar-benar melakukan apa yang di mintanya, bahkan semua aset pria itu sudah beralih atas nama dirinya dan sang putra. Adistya tidak menyangka bahwa Gavril akan semurah hati ini.
“Semua hartanya tidak lebih berharga dari kamu dan Gavin,” Satya kembali berucap. “Jadi apakah kamu sudah bersedia menikah lagi dengannya?” tanyanya kemudian dengan seulas senyum geli.
“Ayo, Tya siap menikah lagi dengan Gavril,” ujar Adistya semangat dan bangkit lebih dulu dari duduknya, di susul oleh Satya satu detik kemudian.
“Astaga, sejak kapan Ayah punya anak sematre ini,” desahnya menyentil pelipis Adistya main-main.
“Jaga-jaga untuk masa depan, Yah,” cengir wanita berkebaya putih khas pengantin itu. Lalu keduanya berjalan menuju tempat dimana ijab kobul akan di laksanakan.
Di ruangan yang lebih luas sepuluh kali lipat dari ruangan yang Adistya gunakan untuk berias tadi, semua orang sudah berkumpul termasuk kedua sahabat Adistya dengan para suami dan anak mereka. Adistya tidak menyangka bahwa Azura dan Elma akan datang.
Benar-benar sebuah kejutan, dan Adistya tidak percaya Gavril melakukan ini semua untuknya.
“Hai calon istri,” bisik Gavril tepat setelah Adistya mendudukan diri di samping pria itu.
“Hallo calon suami,” balas Adistya berbisik pula. “Aku kira kamu tidak akan menyanggupi permintaanku. Tapi ternyata …." Adistya tersenyum begitu manis pada laki-laki di hadapannya, tak lagi bisa berkata-kata.
“Bagaimana, apa kamu suka?” tanya Gavril masih berbisik.
“Aku hanya memintamu untuk datang ke rumah dan membawa penghulu. Tidak sama sekali aku mengharapkan semua ini, tapi … terima kasih Gavril. Aku menyukainya,” katanya dengan mata berkaca-kaca, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dan rasa harunya atas apa yang pria itu lakukan untuknya.
Gavril mengulas senyumnya lalu menarik Adistya ke dalam pelukan, tidak sama sekali menyadari bahwa di sekitarnya orang-orang yang siap menjadi saksi pernikahan mereka sedang menyaksikan. Sampai beberapa detik kemudian sebuah deheman menyadarkan Gavril dan juga Adistya.
“Laki lo udah gak sabar kayaknya, Ty,” goda Azura yang kembali mengundang tawa semua orang yang ada di ruangan itu. Sungguh wajah Adistya sudah memanas saat ini, dan sudah dapat di pastikan bahwa semburat merah itu tidak lagi bisa di sembunyikan. Sial, ini benar-benar memalukan.
“Bisa kita mulai?” tanya penghulu saat suasana sudah kembali kondusif. Gavril mengangguk mantap. Dan setelahnya penghulu meminta untuk Satya menjabat tangan Gavril dan mereka menarik napas lalu membuangnya sebelum kemudian ijab kobul mulai di ucapkan kedua laki-laki beda usia yang saling menjabat itu.
“… di bayar tunai!” tegas Gavril sedikit menghentakkan tangannya yang tertaut dengan tangan Satya.
“Bagaimana para saksi, sah?”
“SAH.”
Seruan itu terdengar riuh, membuat Adistya menghela napas lega dan tanpa sadar air mata menetes begitu saja mengiringi doa yang di panjatkan penghulu untuk sepasang pengantin yang baru di sahkan agama, dan secara hukum masih proses mengingat acara pernikahan yang mendadak, tapi Gavril tentu saja sudah mendaftarkan pernikahan mereka ke KUA.
Jika dulu Adistya menangis karena meratapi nasibnya yang akan menjalani pernikahan tanpa cinta, kini tangisnya mengiringi rasa bahagianya, tangis haru dengan ungkapan rasa syukur atas kesempatan yang Tuhan berikan untuknya dan Gavril.
*****
“Mas, liat Adistya sama Gavril aku kok jadi pengen nikah lagi, ya,” kata Azura pada suaminya. Haris yang mendengar itu langsung saja memelototkan matanya, menatap sengit sang istri yang menatapnya dengan polos.
“Jangan berani-berani kamu, Ra,” ujarnya tajam. Tapi Azura tidak sama sekali merasa takut.
“Cerai dulu yuk, Mas, nanti kita nikah lagi. Beneran loh aku pengen kayak Tya,” rengek perempuan hamil itu mengejutkan Haris, Adistya dan yang lainnya yang saat ini berkumpul di meja bundar yang ada di tengah ruangan luas itu, menikmati hidangan yang di siapkan katring.
“Nanti aku ceraikan, kamu nangis,” ejek Haris.
Azura dengan cepat menggelengkan kepalanya, lalu kembali merengek pada suaminya, meminta untuk menikah lagi, dan menyebalkannya alasan itu dikaitkan dengan acara ngidamnya, membuat semua orang yang ada di meja itu kembali menggelengkan kepala. Sementara Haris, si suami wanita hamil itu menarik rambutnya frustasi.
“Dasar gila!” seru Elma mendelik tak percaya pada sahabat satunya itu. Azura memang paling cantik diantara kedua sahabatnya, tapi dia juga paling aneh diantara yang lainnya. Untung saja Haris si pria sabar dan bucin yang menikahi perempuan itu, jika tidak, entah bagaimana nasib Azura sekarang.
“Dia emang udah gila dari dulu,” kekeh Adistya yang langsung mendapat tatapan galak wanita hamil itu.
“Dan sialnya kita mau aja berteman sama orang gila itu,” Elma mendesah lesu, lalu mereka tertawa dan obrolan kembali mengalir hingga para orang tua mengintrupsikan mereka untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Sementara acara sudah selesai dari dua jam yang lalu. Jangan salah, meskipun pernikahan mereka mendadak, tamu undangan tetap banyak berdatangan dan itu sudah jelas pihak Gavril lah yang mengundang, karena Adistya hanya membawa keluarganya saja, itu pun hanya ayah, Seno dan istri sang adik.
“Cie yang mau bobol gawang lagi,” goda Azura saat mereka berjalan keluar menuju parkiran. “Vril, jangan lupa pelan-pelan. Tujuh tahun gak di tengok, gue yakin punya Si Tya rapet lagi,” tambahnya dan kali ini beralih pada Gavril. Dan Adistya hanya bisa mendengus sambil menahan malu. Dalam hati Aditsya merutuki mulut vulgar sahabatnya itu.
Lakban mana lakban! Teriak Adistya dalam hati, lalu mendelik tajam pada sahabatnya itu yang sama sekali tidak dihiraukannya.
Tamat ...
***
Ending guys !!!
Terima kasih sudah bersedia membaca karyaku. Jangan lupa mampir ke karyaku yang lainnya ya.
See you !!