Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
1. Lagi-lagi Perihal Jodoh



Happy reading guys...


*****


Seperti hari-hari sebelumnya selama empat tahun belakangan ini, Adistya sibuk berkutat dengan laptopnya, ditemani berbagai macam camilan dan musik yang mengalun. Jari-jari lentik perempuan itu menari dengan lincah di atas keyboard, sesekali sudut bibirnya akan terangkat, atau berdiam diri dengan kening berkerut dan tak jarang juga air matanya meleleh mengiringi ketukan tombol-tombol huruf di depannya.


Adistya menyukai kegiatannya yang hanya di habiskan di dalam kamar, tidak peduli adik serta orang tuanya selalu menjuluki sebagai penghuni gua. Tidak ada penghuni gua secantik dirinya. Itu yang selalu Adistya katakan pada kedua orang tersayangnya.


Di usianya yang baru menginjak 27 tahun ini, Adistya memilih terkurung di kamar dari pada harus menghabiskan waktu petantang-petenteng tidak jelas di luaran sana, ketawa ketiwi bersama sahabat di sebuah Cafe atau justru mengecengi pria-pria tampan berdompet tebal. Adistya tidak tertarik dengan semua itu meskipun teman-teman kuliahnya dulu selalu mengatakan bahwa itu adalah kegiatan yang menyenangkan.


Oke, Adistya memang tidak selalu selamanya berada di kamar, karena sesekali pun ia pergi keluar walau hanya mampir ke minimarket untuk membeli camilan dan kebutuhan lainnya, dirinya pun sesekali ke tempat hiburan atau sekedar menikmati pijatan lembut di salon. Hanya saja, Adistya tidak seperti orang-orang yang selalu suka menghabiskan diri berada di luar rumah, bukan karena dirinya anti sosial, Adistya tentu saja memiliki teman dan pandai bergaul. Tapi menurut perempuan dua puluh tujuh tahun itu rumah adalah tempat ternyamannya apa lagi kamar bernuansa girly-nya.


Hobi setiap orang itu bukankah berbeda? Jadi tidak ada salahnya kan jika dirinya memiliki hobi seperti ini? Sibuk dengan laptop, ponsel dan camilan. Bagi Adistya sendiri ini sudah membuatnya seperti berada di surga.


Adistya melirik jendela kamarnya yang terbuka, menampilkan semburat kemerahan yang membuatnya sadar bahwa hari sudah mulai gelap. Melangkah, Adistya menutup gorden dan menyalakan lampu kamarnya yang sedikit temaram, setelah itu membersihkan mejanya dari kantong-kantong bekas camilannya kemudian mengambil Pitcher kacanya yang sudah kosong untuk ia isi kembali dengan air putih yang akan membasahi tenggorokan keringnya.


Seperti biasa, di jam-jam seperti ini, Adistya selalu menemukan adik dan ayahnya yang berada di ruang tengah, menonton siaran berita yang bagi Adistya sendiri memusingkan di tambah dengan obrolan-obrolan yang tidak jauh dari pekerjaan, membuat Adistya selalu merinding, dan lebih memilih mengurung diri di kamar. Namun sepertinya untuk kali ini, ia tidak bisa secepatnya kembali ke persembunyian, karena sang ayah memaksanya untuk bergabung dan tidak ada alasan untuknya menolak.


“Kapan kamu akan menikah?” tanya sang ayah sedetik begitu bokongnya mendarat di sofa berwarna hitam itu.


Adistya memutarkan bola matanya malas atas pertanyaan yang entah sudah ke berapa kali ayahnya layangkan. “Sabar kali, Ayah. Sekarang belum ada jodohnya.” Dan ini pun yang menjadi jawaban Adistya untuk setiap pertanyaan itu.


“Mau ada gimana kalau gak kamu cari.”


Malas sebenarnya jika terus-terusan membahas masalah yang sama setiap harinya. Namun mau bagaimana lagi, Adistya sebagai anak perempuan satu-satunya dan lagi tertua pasti persoalan menikah adalah hal yang pantas untuk di pertanyakan di usianya yang sudah cukup matang ini, tapi itu sepertinya belum ada dalam rencananya di waktu dekat ini. Jelas saja tidak masuk dalam rencana, toh pacar saja ia tak punya.


“Jodoh gak akan ke mana kok, Yah. Nanti juga Tya pasti akan menikah.”


“Jodoh memang gak akan ke mana, tapi kalau kamunya gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya!”


Adistya mencebikkan bibirnya tidak lagi mampu menjawab. Sementara Seno, adiknya hanya menahan tawa, dan menatap kakaknya itu dengan tatapan mengejek. Adiknya itu memang paling senang jika sang ayah sudah mulai mendesaknya menikah. Ha, dikira nyari calon suami semudah cari bakwan di tukang gorengan!


“Lebih baik besok kamu ikut ayah makan malam di luar,” kata sang ayah pada akhirnya.


“Perjodohan lagi?” dengan malas perempuan cantik itu bertanya.


“Bukan, cuma perkenalan aja.”


Berdecak, Adistya kemudian menatap ayahnya malas. “Bukankah, sebelum-sebelumnya juga ayah bicara seperti itu? Perkenalan dan berakhir dengan perjodohan. Untung semua laki-laki yang ayah kenalkan selama ini memilih mundur teratur.”


“Kali ini benar-benar hanya pengenalan, mau atau tidaknya itu terserah kamu. Ayah tidak akan memaksa.” Ucapan sang ayah kali ini terdengar putus asa, membuat Adistya tak tega untuk menolak


“Oke, Tya akan ikut ayah. Tapi, Tya harap ini adalah yang terakhir. Jika nanti tak ada ketertarikan sama sekali di antara Tya dan laki-laki itu, Tya mohon jangan ada lagi perjodohan-perjodohan lainnya.”


“Oke Deal!”


Setelah kata sepakat terlontar, Adistya kembali naik ke kamarnya melanjutkan aktivitas kesukaannya di depan laptop. Melupakan sejenak permintaan sang ayah yang akan membawanya kembali bertemu dengan jodoh pilihan laki-laki tua kesayangannya itu. Sejak sang bunda meninggal akibat serangan jantung dua tahun lalu, ayahnya itu memang kerap kali menjodoh-jodohkannya dengan berbagai laki-laki meski pun mapan dan tampan, tapi tidak sama sekali ada yang menarik perhatian dan minatnya.


Sang adik bahkan sampai mengira bahwa dirinya memiliki kelainan seksual yang mana tidak menyukai lawan jenis. Bukankah sangat perhatian adiknya itu? Adistya tentu saja kesal, dan ingin sekali melempar Seno ke kumpulan buaya di kebun binatang.


Mengingat perihal jodoh, Adistya selalu bertanya-tanya dalam hatinya, ada apa sih dengan jodoh? Apa harus di khawatirkan? Bukankah Tuhan menciptakan semua makhluknya berpasang-pasangan jadi, bukankah sudah pasti bahwa suatu saat nanti Adistya pun akan memiliki pasangan? Tapi kenapa ayahnya heboh sendiri? Membuatnya pusing dan pada akhirnya Adistya malas melanjutkan tulisannya yang baru setengah jalan dirinya tulis.


Mood-nya kacau gara-gara sang ayah akan kembali menjodohkannya dengan pria asing yang tentu saja tidak ingin Adistya temui jika saja dirinya bisa kabur dari perjodohan ini.


Andai saja pacarnya yang dulu tidak ia putuskan, mungkin hingga saat ini ayahnya tidak akan gentar mencarikannya jodoh. Namun, jika di pikir kembali siapa yang mau menikah dengan laki-laki pengangguran yang malasnya minta ampun, apa-apa mengandalkan perempuan bahkan sampai membayar air mineral saja harus Adistya yang bayar kala itu. Sungguh laki-laki tak bermodal yang hanya memiliki tampang yang tentu saja tidak akan pernah membuat pasangan kenyang. Sayangnya wajah tampannya itu dulu pernah membuat Adistya bodoh terjebak dalam pesona sialannya.


Entah apa yang akan dirinya hadapi jika masih menjalani hubungan dengan laki-laki itu, bisa-bisa ia miskin kena tipu rayuan mautnya yang selalu membuat perempuan-perempuan terjatuh dalam tipuannya. Lagi pula jika pun berlanjut sudah dapat di pastikan bahwa sang ayah tidak akan memberi mereka restu.


Sejak saat itulah Adistya tidak lagi berani pacaran, bukan trauma tapi menurutnya sendiri pacaran hanyalah buang-buang waktu dan energi, terlebih memiliki pasangan seperti mantannya dulu, kalau tidak berengsek ya matre. Lebih parah lagi laki-laki berengsek yang matre seperti mantan terakhirnya tiga tahun lalu.


Hidup sungguh kejam memang, tapi anehnya ia tidak ingin mengakhiri hidupnya ini. Cita-cita dan mimpinya masih banyak yang belum terwujud, salah satunya adalah menikah dengan laki-laki baik yang mencintainya dengan tulus. Mungkinkah ia akan mendapatkannya? Huh semoga saja.


**


See you next chapt ...