
Selamat Membaca !!!
***
Sesuai janji, Seno menjemput keponakannya sebelum jam makan siang untuk menghindari katiadaan Gavril yang sama sekali tidak pernah Seno temui lagi setelah perceraian kakaknya. Namun ia tahu bahwa laki-laki itu masih bekerja di rumah sakit mengingat itu adalah milik kelurganya.
“Kita kok ke rumah sakit, Uncle. Apa Ayah sakit?” tanya Gavin heran begitu mereka baru saja tiba di lobi.
“Ayah kamu kerja di sini,” jawab Seno singkat, lalu menuntun keponakannya menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan Gavril, dan setelah menemukan jawabannya, meskipun banyak pertanyaan yang resepsionis itu lontarkan, Seno akhirnya membawa Gavin masuk ke dalam lift yang akan mengantar mereka menuju dimana ruangan Gavril berada.
Seno baru mengetahui bahwa laki-laki itu tidak lagi menjadi dokter di rumah sakit ini, tapi tidak terlalu peduli juga karena tujuannya bukan untuk itu, melainkan untuk mempertemukan Gavin dengan ayahnya. Setelah itu Seno akan kembali ke kantor, atau mengantar Gavin kembali ke rumah.
Lift yang dinaikinya berhenti tepat di lantai delapan rumah sakit yang terlihat sepi dan hanya ada beberapa pintu yang masing-masing tertutup dengan nama di atasnya. Membuat Seno mudah untuk tahu dimana ruangan Gavril berada.
“Permisi Pak, mencari siapa?” tanya seorang perempuan muda seusianya dengan ramah.
“Saya mau ketemu Gavril, apa dia ada di ruangannya?”
“Maaf, dengan Bapak siapa? Apa sudah memiliki janji?” kembali perempuan itu bertanya, membuat Seno memutar bola matanya jengah. Namun akhirnya menyebutkan namanya juga dan meminta perempuan itu untuk segera memberitahukan keberadaannya pada Gavril yang ada di dalam ruangannya. Sampai tak lama kemudian Seno di persilahkan untuk masuk dan disambut dengan tatapan heran Gavril.
Seno memang tidak pernah datang untuk menemui pria itu, bahkan enggan jika tidak demi keponakannya. Wajar jika Gavril menatap dengan heran, tapi Seno jelas tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskannya.
“Gue datang ke sini cuma nemenin ponakan gue yang pengen ketemu Ayah-nya,” kata Seno tanpa menunggu pertanyaan dari laki-laki yang berdiri kaku di depannya.
Tatapan Gavril beralih pada bocah yang berdiri di samping Seno, dan tanpa mempertanyakan siapa bocah itu, Gavril dapat dengan cepat menebaknya karena wajah anak itu begitu mirip dengan wajahnya saat kecil.
Tanpa sadar air mata menetes dari pelupuk mata Gavril yang kemudian melangkah cepat menghampiri bocah lima tahun itu dan membawanya ke dalam pelukan sambil menggumamkan kata maaf.
Seno yang melihat itu menyungingkan senyumnya, terharu. Meskipun tidak dapat di bohongi bahwa dirinya masih menyimpan amarah enam tahun lalu, dimana kakaknya pulang dengan tangis kekecewaan dan mengabarkan retaknya rumah tangga mereka. Seno belum puas menghajar mantan kakak iparnya itu, tapi Seno sadar bukan haknya untuk mencampuri urusan rumah tangga kakaknya.
“Sebelum Tya menggugat cerai lo, dia sedang hamil. Kenyataan itu gue dan ayah ketahui saat sidang kedua berjalan. Kami terkejut dan berusaha membujuk Tya untuk membatalkan gugatannya, tapi dia menolak. Dia kukuh untuk bercerai dan gue maupun ayah gak bisa mencegahnya meskipun tidak tega harus membiarkan dia hamil dalam keadaan sendiri.
Tya bukan berniat menyembunyikan anaknya, tapi dia hanya tidak ingin mengganggu lo dengan perempuan yang lo cintai. Tya gak ingin keberadaan Gavin di dalam perutnya saat itu menghancurkan rencana pernikahan lo dengan perempuan itu. Tya tidak ingin merusak kebahagiaan lo, walau gue tahu bahwa dia mengorbankan kebahagiaannya sendiri,”
Seno menghentikan sejenak ucapannya, melihat reaksi Gavril yang masih bersimpuh untuk menyetarakan tinggi badannya dengan Gavin. Air mata itu masih sesekali menetes walau selalu dengan cepat pria itu hapus.
“Dan kedatangan gue hari ini membawa serta Gavin bukan karena ingin mengacaukan kebahagiaan yang mungkin sudah lo dan perempuan itu dapatkan, melainkan karena kami tidak tega mendengar Gavin yang selalu menanyakan keberadaan ayahnya,” Seno menarik napasnya dalam, kemudian tangannya terulur untuk mengusak rambut tebal keponakan tampannya dengan seulas senyum terukir di bibirnya.
“Uncle ….”
“Sesuai janji, Uncle bawa kamu ketemu Ayah. Ini Gavril, Ayah kamu. Apa Gavin senang ketemu Ayah?” tanya Seno menunduk menatap keponakannya yang saat ini mendongak ke arahnya, sementara Gavril masih dalam posisi yang sama, berjongkok dengan tatapan yang sulit Seno artikan, yang jelas ada sesal juga kerinduan di dalamnya.
Gavin tidak sama sekali menjawab, walau senang bisa bertemu dengan ayahnya, ada perasaan lain yang membuatnya tidak tersenyum atau menghambur pada dekapan pria dewasa itu. Gavin masih bingung, dan ia tidak bisa mengutarakan perasaannya.
“Gavin mau ikut Uncle pulang, atau tinggal di sini sama ayah kamu?” tanya Seno lagi saat tak ada jawaban yang keluar dari mulut keponakannya.
“Kamu disini dulu aja, ya, sama Ayah. Mau kan? Nanti biar Ayah yang antar kamu pulang,” kata Gavril cepat sebelum bocah di depannya itu membuka suara.
Gavin menatap Gavril lama, kemudian menoleh pada sang paman seolah meminta dukungan.
Seno tersenyum dan mengangguk kecil, membuat bocah itu ikut mengangguk dan Gavril langsung memeluk kembali Gavin yang masih terlihat belum terbiasa juga enggan membalas pelukannya.
...***...
Entah bagaimana Gavril menggambarkan perasaannya saat ini, terkejut, bahagia, sedih, haru, menyesal dan berbagai perasaan lainnya seolah berkecamuk, bercampur menjadi satu.
Gavril masih tidak menyangka bahwa dirinya sudah memiliki anak yang usianya bahkan sudah lima tahun. Tidak kah ia terlihat semakin berengsek karena tidak mengetahui keberadaan darah dagingnya sendiri? Tidakkah ia terlihat semakin jahat karena membiarkan anaknya tanpa kasih sayang darinya selama ini?
Menyesal? Bahkan sudah Gavril rasakan sejak Adistya menggugat cerainya. Lalu dengan cara apa ia akan menebus semua waktu, perjuangan, dan kesakitan yang Adistya korbankan selama ini untuk melahirkan, merawat dan membesarkan buah hati mereka? Meskipun Gavril tidak tahu sesulit apa, tapi ia tahu bahwa itu tidaklah mudah.
“Ayah, apa sampai hari ini Ayah masih sibuk bekerja?” pertanyaan pertama yang Gavril dengar dari putranya sejak kepergian Seno tiga puluh menit lalu.
“Bunda bilang Ayah sibuk kerja, makanya gak pernah pulang, gak pernah nemuin Gavin,” tambah bocah itu dengan polos. Membuat Gavril yang mendengar berkaca-kaca. Menyesal karena tidak menyadari hadirnya sang jagoan sejak awal.
“Maafin Ayah, Nak, maaf,” lirih Gavril dengan air mata yang kembali menetes.
“Ayah kenapa nangis?” heran Gavin yang tangan mungilnya kini bergerak menyeka bulir bening di sudut mata Gavril, yang bukannya berhenti malah menetes semakin sering.
“Ayah hanya terlalu bahagia karena akhirnya bisa ketemu kamu, Ayah kangen. Maafin Ayah yang tidak pernah ada di samping kamu selama ini. Maafin Ayah, Nak,” ucap tulus Gavril seraya menarik bocah itu ke dalam pelukannya.
Tok … tok … tok.
“Permisi, Pak meeting-nya ak—”
“Batalkan semua jadwal saya hari ini dan besok. Saya ingin menghabiskan waktu bersama anak saya. Saya mohon!” pinta Gavril kepada sekretarisnya yang baru saja masuk. Tidak peduli dengan wajah merah khas orang menangis. Gavril tidak lagi peduli dengan itu, karena hari ini ia terlalu bahagia mendapat kenyataan bahwa dirinya memiliki seorang anak dengan Adistya. Gavril tidak akan menyia-nyiakannya lagi mulai detik ini.
Sekretaris Gavril tentu saja terkejut, karena selama ini tidak ada yang tahu mengenai sang bos yang sudah memiliki anak. Mereka hanya tahu bahwa Gavril sudah menikah. Hanya sebatas itu, selebihnya tidak ada yang tahu kehidupan bos mereka yang di kenal pekerja keras dan dingin tak tersentuh.
Banyak orang mengira bahwa itu karena Gavril terlalu mencintai keluarganya sampai tidak pernah menanggapi godaan dari perempuan manapun, tapi kenyataannya hanya Gavril lah yang tahu.
“Ba- baik Pak. Permisi,” pamit perempuan itu masih dengan keterkejutan yang nyata, tapi tidak sama sekali Gavril hiraukan karena fokusnya tentu pada sang jagoan dalam pangkuannya saat ini.
“Hari ini Ayah udah gak sibuk. Gavin mau ke mana? Main, makan atau kita jalan-jalan? Ayah akan temenin,” kata Gavril dengan wajah yang kini sudah berubah ceria.
Air matanya sudah tidak lagi menetes. Di gantikan dengan senyum lebar yang membuatnya semakin tampan.
“Seriously? Ayah akan temenin aku main, jalan-jalan, makan? Apa aku boleh makan apa pun yang aku mau?” tanya bocah itu dengan semangat, sikapnya yang tadi masih malu-malu dan tak nyaman berubah selayaknya pasangan ayah dan anak yang sudah terbiasa bersama.
Gavril senang, tentu saja. Dan ia janji akan menuruti apa pun keinginan putranya itu. Menebus waktu yang sudah dirinya lewatkan, walau sadar bahwa itu tidak akan pernah sebanding. Tapi setidaknya Gavril ingin memberi yang terbaik untuk kedepannya, memperbaiki kesalahan dan kelalaiannya lima tahun yang sudah berlalu.
“Tentu. Tapi dengan syarat, Gavin harus ceritain semua pengalaman kamu selama tidak bersama Ayah. Bagaimana?”
Tentu saja Gavin mengangguk antusias, karena ia memang begitu suka menceritakan apa pun yang terjadi padanya.
Biasanya sang bunda lah yang menjadi tempatnya bercerita, tapi kali ini ia memiliki ayah, kakek dan yang lainnya. Gavin yakin bahwa harinya akan lebih menyenangkan.
****
See you next part!!