
Happy Reading!!!
***
“Dis…”
Suara Gavril yang terdengar lirih dan putus asa itu Adistya dengar dengan jelas di balik pintu yang masih tertutup.
Bingung, Adistya tidak tahu harus bagaimana saat ini, satu sisi hati kecilnya mendorongnya untuk segera membuka pintu dan menghampiri Gavril, menerima ajakan damai pria itu. Namun di satu sisi yang lain ego menghalanginya, menolak untuk luluh begitu saja, apalagi saat bayangan mengenai masa lalu melintas di benaknya.
“Bunda, Tya harus bagaimana?” batinnya meminta pendapat pada sang bunda yang keberadaannya sudah tak lagi bisa di jangkau mata.
“Kasih gue kesempatan untuk menebus kesalahan gue dulu, Dis. kasih gue kesempatan untuk mengubah kenangan buruk semasa remaja dulu dengan kenangan indah rumah tangga kita. Gue janji gak akan mengulangi kejahatan gue dulu. Gue janji gak akan menyakiti lo ….”
Suara Gavril kembali terdengar setelah beberapa menit dalam kebisuan yang Adistya kira bahwa laki-laki itu sudah pergi karena menyerah, tapi ternyata suaminya masih berada di luar sana. Dan mendapati kenyataan itu Adistya menutup mulutnya dengan kedua tangan, meredam isak tangis yang lolos begitu saja.
Selama beberapa menit larut dalam tangis dan berperang dengan batinnya, Adistya bergegas bangkit dari duduknya lalu membuka pintu kamar sedikit kasar.
Gavril yang sudah berbalik hendak pergi dari depan kamar Adistya mengurungkan langkahnya dan kembali menoleh hingga tatapannya bertemu dengan mata sembab Adistya.
“Apa yang lo bisa jaminkan?” tanya Adistya di tengah isak tangisnya, menatap laki-laki di depannya untuk mencari sebuah keseriusan.
“Apa pun. Apa pun yang lo inginkan boleh menjadi jaminannya, meski nyawa gue sekalipun,” kata Gavril tidak main-main.
“Lo yakin?” mata Adistya memicing tak percaya.
“Selama dua puluh tujuh tahun gue hidup, tidak pernah gue seyakin ini.” Gavril melangkah mendekati perempuan manis yang berdiri di ambang pintu menatapnya masih dengan keraguan, lalu meraih tangan dingin Adistya untuknya remas, memberi keyakinan lewat sentuhan lembutnya.
“Tolong percaya sama gue, Dis. Janji gue gak akan pernah tercapai jika tanpa bantuan dari lo. Jadi gue mohon beri gue kesempatan untuk membuktikan keseriusan gue terhadap segala hal yang gue ucapkan barusan. Lo mau ‘kan menjalani pernikahan ini sama gue? Membangun rumah tangga yang sesungguhnya. Rumah tangga yang lo dan gue harapkan, rumah tangga yang penuh kebahagiaan dan tanpa kepalsuan. Lo mau ‘kan, Dis?”
Kesungguhan itu dapat Adistya lihat di manik hitam milik Gavril, hingga sebuah anggukan tercipta dan selanjutnya Gavril membawa Adistya ke dalam pelukan hangatnya. Tidak henti laki-laki itu menggumamkan kata terima kasih dan janji untuk membahagiakan Adistya sepanjang hidupnya, membuat senyum di bibir tipis Adistya mengembang sempurna.
“Tuhan, semoga ini awal dari kebahagiaan yang aku damba, semoga ini awal dari rumah tangga yang aku harapkan dan semoga tidak ada kerikil yang membayangi, cobaan yang menghampiri dan luka yang kembali menggores nadi.” Bisik hati Adistya berdoa pada Sang Pencipta.
...****...
Senyum tidak pernah surut dari bibir Gavril, sementara Adistya terlihat salah tingkah karena selalu saja di tatap dengan intens oleh pria di depannya. Saat ini mereka duduk di meja makan, menikmati hidangan yang sudah disiapkan Bi Nur sebelum wanita baya itu pulang.
“Bisa berhenti natap gue seperti itu? Gue risi,” kata Adistya mengutarakan ketidaknyamanannya.
Gavril meringis kecil, tidak menyangka bahwa dirinya akan membuat istrinya tak nyaman. Salahkan matanya yang tidak ingin beralih dari sosok manis di depannya. “Sorry udah buat lo gak nyaman. Lo cantik sih, makanya mata gue gak mau berpaling.” Kata Gavril sukses membuat semburat merah di kedua pipi Adistya timbul, dan Adistya semakin salah tingkah dibuatnya.
Tidak ingin semakin membuat istrinya tidak nyaman, Gavril akhirnya mengalah, memilih fokus pada makanannya meski sesekali masih melirik wanita cantik di depannya. Entah kenapa sejak pengakuannya satu jam lalu, Gavril merasakan bahagia yang tidak bisa dirinya sebutkan, pengakuan dan janji yang diucapkannya pada Adistya tidak membuat ia menyesali itu. Gavril justru lega dan ingin segera membuktikan janjinya agar tidak lagi ada keraguan di mata dan hati sang istri.
“Lo mau ke mana?” Gavril menghentikan langkah Adistya yang hendak menaiki undakan tangga.
“Ke kamar,” jawab singkat Adistya.
“Kok ke kamar?"
Mendengar ucapan suaminya, Adistya menaikan sebelah alisnya tidak paham, selesai makan malam bukankah dirinya memang terbiasa langsung ke kamarnya dan Gavril biasa saja, kenapa sekarang pria itu malah protes?
“Temenin gue nonton dulu lah, Dis, lagi pula kita harus banyak ngobrol biar bisa makin dekat.”
“Tapi gue ada kerjaan,” Adistya tidak berniat untuk menghindar karena memang begitulah pada kenyataannya. Ada naskah yang harus ia revisi sebelum novelnya terbit nanti.
“Lo gak lagi menghindar dari gue kan?” tuduhnya dengan mata memicing.
Adistya dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Lo kerja apa sebenarnya, sampai malam kayak gini masih aja ngurusin kerjaan?” masih tidak ingin kehilangan perempuan manis itu, Gavril kembali melayangkan tanya. Jika dulu ia tidak ingin tahu apa pun tentang Adistya, mulai sekarang apa pun yang perempuan itu lakukan ingin Gavril ketahui termasuk pekerjaannya.
“Lo benar-benar gak tahu kerjaan gue?” dengan polosnya Gavril menggelengkan kepala.
Inginnya Adistya marah, tapi jelas itu tidak bisa ia lakukan karena bagaimanapun wajar jika suaminya tidak tahu mengenai pekerjaannya. Mereka sudah begitu lama tidak bertemu, dan menikah karena sebuah perjodohan juga keterpaksaan. Adistya pun tidak akan pernah tahu apa pekerjaan laki-laki itu jika saja saat pertemuan keluarga waktu itu Gavril tidak membahas soal pasien dan mertuanya tidak menceritakan mengenai anaknya.
“Boleh gue baca karya lo?”
“Emangnya lo suka novel?” Adistya mengerutkan kening, setahunya sejak dulu Gavril tidak menyukai cerita fiksi seperti itu, karena merasa bahwa membaca novel tidaklah ada manfaatnya. Hanya kumpulan cerita palsu yang membuat si pembaca semakin berkhayal akan kehidupan sempurna dengan pasangan yang menjadi dambaan para wanita.
“Enggak, tapi sepertinya mulai sekarang gue bakalan suka karena yang nulisnya istri gue sendiri,” kata Gavril yang kembali sukses menerbitkan semburat kemerahan di kedua pipi Adistya. “Jadi, bolehkan?” tanya Gavril yang entah sejak kapan berada di hadapan Adistya, bahkan laki-laki itu sudah meraih tangan Adistya dan menariknya lembut, melanjutkan langkah menaiki undakan tangga. Adistya yang bagai terhipnotis hanya mengikuti pria itu dalam diam, jantungnya terlalu berisik dan sulit dirinya kendalikan.
...*****...
Niat yang akan merevisi tulisannya, Adistya malah tidak fokus karena keberadaan Gavril di kamarnya. Meskipun suaminya itu hanya diam bersandar di kepala ranjang sambil membaca novel karyanya, tetap saja Adistya merasakan kegugupan itu.
Revisi yang biasanya dapat Adistya selesaikan dengan cepat, tapi tidak untuk kali ini. Adistya sampai harus mengulangnya berkali-kali karena merasa tidak yakin, sampai akhirnya pekerjaannya itu selesai juga di saat jam sudah menunjukan pukul dua dini hari, bahkan Gavril yang sejak tadi berada di ranjangnya sudah terlelap begitu nyenyak.
Adistya bangkit dari meja kerjanya, melangkah menuju ranjang, lalu menarik selimut tebalnya menutupi tubuh Gavril hingga batas dada agar suaminya itu terhindar dari rasa dingin. Setelahnya Adistya keluar dari kamar, membawa serta pitcher-nya yang telah kosong untuk di isi kembali.
Begitu tiba di dapur, Adistya bukannya melakukan tujuannya datang ke tempat itu tapi malah duduk melamun. Kembali mengulang kejadian malam tadi dimana dirinya menerima permintaan maaf Gavril, menyetujui ajakan damai laki-laki itu dan bersedia memperbaiki pernikahan mereka. Adistya masih sulit mempercayai ini, masih sedikit ragu juga takut, tapi tidak bisa di bohongi bahwa di sudut hatinya ada hangat yang dirinya rasa, namun juga bingung bagaimana ia bersikap. Haruskah ia bermanja? Atau tetap cuek seperti biasanya?
“Dis, ngapain disini? Kenapa gak tidur?”
Terkejut, Adistya langsung menoleh ke arah suara yang menyadarkannya dari lamunan dan mendapati Gavril dengan muka bantalnya berjalan menghampiri.
“Kenapa belum tidur?” ulang Gavril seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan perempuan manis itu.
“Belum ngantuk,” jawab Adistya singkat, kemudian menunduk untuk menghindari tatapan Gavril. Bukan karena dirinya berbohong, melainkan Adistya tidak sanggup menatap pria itu lebih lama. Ia takut semakin luluh dan jatuh cinta begitu dalam seperti bertahun-tahun lalu. Sungguh Adistya belum siap, meski debaran jantungnya menggebu seperti saat dirinya pertama kali jatuh cinta pada laki-laki itu.
Gavril memicingkan matanya. “Yakin belum ngantuk? Ini udah hampir pagi loh, Dis? Atau jangan-jangan karena ada gue di ranjang lo, makanya lo gak tidur?” mata Gavril semakin memicing, namun Adistya dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Gue memang belum ngantuk,” Adistya mendongak, menatap Gavril dengan serius, memberi tahu bahwa ia memang tidak berusaha untuk membohongi laki-laki itu. “Gue biasa tidur begitu menjelang pagi.” Cicitnya pelan, lalu kembali menundukan kepala. Sementara Gavril mendelik tak suka, di susul dengan raut khawatir.
“Setiap hari lo kayak gini?” tanyanya.
“Kecuali kalau terlalu lelah.”
Gavril menghela napasnya pelan, baru tahu bahwa ternyata istrinya menderita insomnia. Pantas saja ia jarang sekali melihat perempuan itu di pagi hari.
“Lo tahu kalau itu gak baik untuk kesehatan?”
Kali ini Adistya yang menghela napasnya, mendongak menatap laki-laki di depannya. “Mau bagaimana lagi,” Adistya mengedikkan bahunya. “Paling gue minum obat tid--”
Brak!
“Lo …!” Gavril dengan cepat memotong dengan gebrakan keras di meja makan didepannya, bangkit dari duduknya dan wajahnya yang memerah meyakinkan Adistya bahwa laki-laki itu tengah marah. Tapi ia tidak paham apa yang membuat Gavril marah. Adistya merasa ucapannya tidak ada yang salah, lalu apa yang membuat suaminya itu semarah ini?
“Berhenti minum obat tidur!” tegas Gavril begitu bisa mengendalikan emosinya. Entahlah mengapa ia bisa semarah ini, karena yang jelas, Gavril tidak suka istrinya mengkonsumsi obat-obatan semacam itu. Gavril adalah seorang dokter, ia tahu apa efek samping dari obat tersebut apalagi jika di konsumsi tanpa arahan dari dokter.
“Loh kenapa?” heran Adistya. “Lagi pula gue konsumsi itu atas izin dari dokter, dan gue minum sesuai anjuran.” Adistya semakin mengerutkan keningnya. Sedangkan Gavril yang semula terlihat marah kini sudah sedikit lebih lega, tapi tetap saja ia tidak suka istrinya mengkonsumsi obat semacam itu.
“Jangan minum lagi, buang sekalian obatnya. Nanti gue bantu lo terapi supaya gak lagi sulit tidur,” kata Gavril dengan sorot mata serius. “Sebentar lagi pagi, lebih baik kita tidur.” Gavril bangkit dari duduknya, melangkah menghampiri Adistya lalu mengulurkan tangannya, meminta perempuan itu untuk ikut berdiri.
Meski terlambat dalam mencerna, Adistya akhirnya menerima uluran tangan suaminya lalu mengikuti langkah pria itu menuju lantai atas dimana kamarnya berada.
“Lo ngapain?” panik Adistya saat Gavril ikut naik ke atas tempat tidurnya.
“Hah!” Gavril menatap tak paham istrinya, namun beberapa saat kemudian sadar dan menggaruk tengkuknya salah tingkah. “Sorry, gue kira udah boleh tidur di samping lo,” katanya di akhiri dengan cengiran. Sementara Adistya wajahnya kini memerah. Seharusnya tidak masalah jika pria itu ikut naik ke atas ranjangnya, namun Adistya sepertinya belum siap untuk hal itu, atau mungkin juga karena malu. Entahlah.
“Kalau gitu gue ke kamar. Lo tidur!” katanya dengan nada memperingati, lalu turun kembali dari ranjang Adistya dan berjalan ke luar dari sana sambil merutuki diri dalam hati.
“Gavril,” panggil Adistya begitu laki-laki itu sudah hendak membuka pintu. “Maaf,” cicitnya pelan, merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, ia benar-benar belum siap jika harus tidur satu ranjang dengan pria itu.
Gavril mengulas senyumnya. “Gak apa-apa, gue paham kok. Lo gak perlu merasa bersalah gitu,” ujarnya penuh pengertian, lagi pula Gavril tidak ingin terlalu memaksa, Adistya memaafkannya saja, ia sudah bersyukur. Biarlah hubungannya ini berjalan dengan perlahan. Gavril yakin, suatu saat nanti tidak akan ada lagi penghalang di antara mereka. “Jangan sampai lo gak tidur, Dis,” katanya sebelum benar-benar meninggalkan kamar Adistya.
****
See you next part!!!