Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
5. Prenuptial Agreement



Happy reading !!!


***


Begitu jam sudah menunjukan angka 11:15 siang, Adistya segera membenahi meja belajarnya yang selama ini ia jadikan sebagai meja kerja. Laptopnya ia matikan, bungkusan snack Adistya bersihkan begitupun dengan sisa-sisa makanan yang berjatuhan. Setelah itu melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap karena hari ini Adistya berniat untuk mengunjungi Gavril di rumah sakit.


Tentu saja karena hal penting yang harus dirinya sampaikan mengingat pernikahan akan berlangsung seminggu lagi. Jika bukan mengenai itu, mana mau Adistya menghampiri laki-laki itu.


Cih, menyebut namanya saja Adistya enggan, apa lagi menemuinya.


Siap dengan penampilannya yang hanya mengenakan celana jeans panjang dan kemeja baby pink, Adistya keluar dari kamarnya, mengecek semua jendela sebelum kemudian keluar dari rumah dan mengunci pintu rumahnya, bertepatan dengan datangnya ojek yang Adistya pesan.


Hanya membutuhkan waktu empat puluh lima menit untuk sampai di rumah sakit tempat Gavril bekerja, dan Adistya langsung menanyakan ruangan laki-laki itu pada resepsionis yang bertugas.


Begitu disebutkan, Adistya langsung berlalu, tentu saja setelah mengucapkan kata terima kasih dan senyum manis andalannya.


Menatap sekeliling, Adistya mengukir senyum singkat saat merasa bahwa hari ini tidak terlalu banyak pasien yang mengantri untuk calon suaminya tangani, kerena Adistya tentu tahu bahwa ia tidak bisa begitu saja menerobos masuk dan meminta Gavril meluangkan waktu di saat orang-orang butuh pertolongan laki-laki itu.


"Apa dokter Gavril sedang menerima pasien?" tanya Adistya pada seorang perawat yang bertugas di mejanya, depan ruangan Gavril.


"Beliau sedang istirahat. Ada yang bisa saya bantu?"


Adistya dengan cepat menggeleng, dan memberikan senyumnya. Setelah itu melewati meja perawat tersebut dan masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu, membuat Gavril yang berada di dalam, tengah menikmati makan siangnya pun mendengus kesal, kemudian menatap tajam saat tahu bahwa Adistya-lah orang yang tidak sopan masuk ke ruangannya itu.


"Lo bisa gak sih ketuk pintu dulu?!"


"Ck, kelamaan!" decak Adistya tidak peduli. Dan tanpa di persilahkan ia langsung duduk di sofa di ruangan Gavril yang cukup luas, berhadapan dengan laki-laki itu yang masih menatapnya tak suka. Namun tentu saja Adistya tidak menghiraukannya dan memilih mengeluarkan kertas dari dalam sling bag yang di bawanya, setelan itu ia berikan pada Gavril yang menatap dengan satu alis terangkat, seolah bertanya.


"Surat perjanjian," kata Adistya dengan singkat. Sementara Gavril masih juga belum paham dengan maksud perempuan di depannya yang datang-datang langsung menyodorkan selembar kertas.


Memutar bola matanya malas, Adistya kemudian meletakkan kertas tersebut di atas meja, samping kotak makan Gavril yang masih belum di habiskan pemiliknya. "Prenuptial Agreement. Lo belum lupa 'kan kalau satu minggu lagi kita nikah?"


Kerutan di kening Gavril pada akhirnya hilang di gantikan dengan bibir yang membentuk 'o' juga anggukan kepala tanda paham. "Gue juga emang niat ngajuin hal yang sama. Tapi tadinya mau gue kasih setelah pernikahan di laksanakan."


"Ck, perjanjian sebelum menikah lebih sah. Jadi lebih baik sekarang aja."


"Oke." Gavril mengambil kertas yang di berikan calon istri yang tak diharapkannya, membaca beberapa poin yang perempuan itu tulis, sebelum kemudian Gavril bangkit dan mengambil pulpen dari atas meja kerjanya, menuliskan beberapa poin yang dirinya ajukan setelah itu membubuhkan tanda tangan di tempat yang sudah di tempeli materai oleh perempuan di depannya, sebelum kemudian ia kembalikan pada Adistya.


"Tidak boleh memberikan larangan menjalin hubungan dengan perempuan. Oke, berarti lo juga gak berhak larang gue menjalin hubungan dengan laki-laki lain," ujar Adistya begitu membaca poin tambahan yang di tulis Gavril.


"Kayak ada aja cowok yang mau sama lo," cibirnya membuat Adistya melayangkan delikan tajam. "Oh iya, karena di sana juga tercatat bahwa tidak berhak meminta hak sebagai suami istri, itu artinya lo gak berhak minta nafkah sama gue. Terserah lo mau makan atau enggak, gue gak akan peduli."


"Oke, di kira gue gak mampu beli makan sendiri, cih!" Adistya merebut pulpen di tangan Gavril dan membubuhkan tanda tangannya juga, lalu kembali memasukan kertas berisi perjanjian itu ke dalam tasnya.


"Jadi, inti dari surat perjanjian ini adalah dilarang mencampuri urusan masing-masing. Di tambah pernikahan ini hanya sah menurut agama dan hukum, hati tidak ikut serta mengesahkan?" Gavril mengangguk membenarkan. "Oke perjanjian selesai. Gue balik, dan sampai bertemu di hari pernikahan ... calon suami."


Mendengar itu Gavril mendengus dan membiarkan Adistya pergi tanpa mau repot-repot mengantarkannya. Melanjutkan makan adalah hal yang lebih menyenangkan dari pada harus repot-repot membuang waktu untuk memastikan perempuan itu selamat sampai tujuan.


...***...


"Punya kesalahan apa gue selama hidup di dunia ini?" Adistya bertanya pada dirinya sendiri. "Punya calon laki model Si Gavril sialan itu. Ck, nyesel gue pernah segitu sukanya sama itu cowok." Bergidik ngeri, Adistya melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah sakit dan menghentikan taksi yang baru saja melintas di depannya.


"Ke Bintang, Pak."


Si supir malah menoleh dan mengernyitkan kening menatap Adistya yang sibuk dengan ponselnya. "Neng gak salah sebut? Ke Bintang jauh loh, Neng. Saya gak bisa antar."


"Cuma butuh waktu setengah jam aja, Pak. Jauh apanya coba?" Adistya menaikan sebelah alisnya, sebelum kemudian menepuk jidatnya sendiri, saat paham dengan yang di pikirkan sang supir. "Bukan Bintang yang ada di langit, Pak, tapi Cafe Bintang."


"Oh, Cafe Bintang. Kalau itu saya tahu!" ujar si supir yang kemudian melaju meninggalkan pelataran rumah sakit.


Adistya hanya terkekeh pelan, setelah itu kembali menyibukkan diri dengan ponsel ditangannya, hingga tak sadar bahwa taksi yang ditumpanginya sudah berhenti di tempat tujuan yang hari ini terlihat cukup ramai. Setelah memberikan ongkos sesuai dengan kargo, Adistya turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


"Ty, lo beneran mau nikah sama Gavril? Teman SMA kita dulu?" Elma, sahabat Adistya sejak SMA langsung menodongnya dengan pertanyaan.


"Lo kerajinan banget nunggu gue di ambang pintu gini?"


"Saking penasarannya gue," perempuan cantik yang baru melepas masa lajangnya tiga bulan lalu itu menjawab dengan cepat, menariknya masuk dan duduk di meja yang berada di pojok ruangan. "Gimana, kok, bisa lo nikah sama dia?"


"Sabar El, gue minta minum dulu napa," Adistya memutar bola matanya mendengar ketidaksabaran sang sahabat.


"Di kira ini rumah minta minum. Beli woy, gue buka nih Cafe juga pake modal!"


Adistya hanya memberikan delikan juga dengusan kecil pada sahabat sekaligus pemilik Cafe Bintang ini. Setelah itu memanggil salah satu karyawan dan meminta di buatkan minum dingin yang semoga saja bisa menyegarkan otaknya yang beberapa minggu ini penuh dengan pemikiran untuk membatalkan pernikahan, yang sayangnya tidak juga mendapat jalan keluar.


Sial memang.


***


See you next Chap !!!