
Selamat Membaca !!!
***
Gavril tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya saat Adistya menyetujui untuk meluangkan waktu. Bahagia? Tentu saja. Tapi sekarang ia bingung harus memulai percakapan dari mana. Sudah sepuluh menit mereka lalui dengan keheningan di kursi taman yang terasa sepi walau banyak orang yang berada di sana termasuk sang putra yang tengah asyik bermain dengan teman-teman yang baru bocah itu temui.
Sesungguhnya Gavril belum mempunyai persiapan untuk bicara pada Adistya, tapi Gavril yakin bahwa mungkin kedepannya ia tidak akan seberuntung ini, mengingat seberapa susahnya ia bertemu dengan mantan istrinya itu. Gavril tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Maaf,” ucap Gavril memulai.
Adistya menoleh sekejap sebelum kembali menatap ke depan dimana anak-anak yang berlarian, bermain bola dan melakukan aktivitas lainnya menjadi pemandangan.
“Aku sadar, kata maaf tidak akan mampu menyembuhkan hatimu yang terluka, kata maaf tidak akan mengubah keadaan dan menggantikan air mata yang telah terlanjur terjatuh. Tapi aku tetap ingin mengucapkannya, maaf telah mengkhianatimu, maaf membuatmu kecewa, maaf karena aku lagi-lagi membuatmu terluka, dan maaf karena tidak menyadari kehadiran buah hati kita,”
Gavril mengehentikan ucapannya, ingin tahu respons Adistya. Namun menunggu hingga satu menit, wanita itu tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan membuka suara. Tapi Gavril yakin bahwa Adistya mendengarkan ucapannya.
“Banyak kata maaf yang ingin aku ungkapkan dan banyak pula penyesalan yang ingin aku sampaikan. Aku sadar salahku terlalu besar, membuatmu sakit hati dan benci padaku yang selalu saja membuatmu menjatuhkan air mata. Aku sadar, bertemu denganmu saja seharusnya aku malu, tapi aku tidak bisa jika menyimpan penyesalan ini seorang diri. Aku tidak mampu, Dis! Aku terluka, namun aku sadar bahwa lukamu lebih besar dan dalam,” Gavril menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang ingin sekali terjatuh meskipun sudah sekuat tenaga ia tahan.
Adistya yang sejak tadi mendengarkan dalam diam, menoleh menatap Gavril dengan sendu. Adistya sadar bukan hanya dirinya yang terluka selama ini, keputusannya saat itu menghancurkan semuanya termasuk dirinya dan juga Gavril. Tapi saat itu Adistya tidak lagi bisa berpikir, hatinya terlalu sakit saat tahu Gavril mencintai perempuan lain. Lebih sakit saat tak ada bantahan ketika dirinya menggugat cerai. Padahal saat itu Adistya ingin di pertahankan, tapi Gavril memilih untuk melepaskan dan itu membuat Adistya semakin terluka. Ia merasa bahwa selama ini dirinya tidak pria itu inginkan. Cinta yang pria itu ucapkan hanyalah bualan, dan janji yang Gavril lontarkan hanyalah sebuah guyonan, meskipun hatinya selalu meyakinkan bahwa ada ketulusan yang pernah Gavril berikan.
“Bertahun-tahun aku berusaha menemuimu, menunggumu tak jauh dari rumah ayah, berharap kamu akan keluar, tapi tidak pernah sekalipun aku melihatku. Aku tidak tahu bahwa ternyata kamu memilih pergi jauh. Tapi sekali lagi aku sadar, bahwa memang sebenci itu lah kamu kepadaku,” Gavril menyeka bulir bening itu, lalu kembali mengangkat kepalanya dan tatapan mereka bertemu. Gavril tak menyangka bahwa Adistya sudah menoleh ke arahnya.
“Maafkan aku, Dis, maafkan aku atas semua yang telah aku lakukan kepadamu dimasa lalu.”
...***...
Canggung, itulah yang Adistya rasakan saat ini. duduk bersebelahan dengan mantan suaminya di dalam mobil menuju sekolah baru Gavin. Bocah itu sejak kemarin merengek ingin diantar oleh bunda dan juga ayahnya, membuat Adistya mau tak mau akhirnya pasrah juga.
Berbeda dengan Gavril yang justru senang bisa kembali duduk bersisian dengan Adistya setelah sekian lama mereka tak bertemu. Meskipun sedikit canggung karena hubungan mereka yang tidak baik sebelumnya, tapi Gavril tetap menikmatinya. Dan ia berharap bahwa hubungannya dengan Adistya dapat membaik, walau sadar untuk kembali bersama seperti dulu sangatlah mustahil.
“Nanti pulang sekolah Gavin mau di jemput sama Ayah, sama Bunda juga, ya,” ucap bocah itu begitu tiba di sekolahnya.
“Ayah kamu harus kerja, sayang. Biar Bunda sendiri aja yang jemput kamu, ya?”
Gavin menggeleng tak setuju. “Pokoknya harus kalian berdua, kalau cuma Bunda, Gavin gak mau!”
“Ya udah, nanti Ayah sama Bunda yang jemput kamu,” jawab ringan Gavril, membuat Adistya menoleh dan melayangkan tatapan protesnya.
Gavril tahu, mantan istrinya itu enggan berduaan dengannya. Tapi Gavril tidak tega jika harus menolak permintaan anaknya. Lagi pula setidaknya dengan ini Gavril memiliki kesempatan untuk merubah suasana agar tidak secanggung sekarang.
“Benar, Yah? Awas kalau bohong!” ujarnya dengan tatapan mengancam yang membuat wajah tampan Gavin terlihat makin menggemaskan.
“Iya. Sekarang kamu masuk kelas sana, tuh ibu gurunya sudah nunggu,” Gavril menunjuk wanita dengan senyum ramah keibuannya yang sejak tadi berdiri di ambang pintu kelas. Gavin menoleh, kemudian kembali menatap ayah dan bundanya untuk pamit, tidak lupa bocah itu mencium punggung tangan kedua orang tuanya sebelum melenggang masuk ke dalam kelas.
Adistya lebih dulu menghampiri wanita yang usianya lebih tua darinya itu untuk menitipkan sang putra selama di sekolah, dan memintanya untuk mengabari mengenai apa pun tentang putranya. Meskipun Gavin mandiri, karena selama di Swiss Adistya mengajarkan itu pada putranya, tetap saja sebagai ibu ia merasa khawatir.
Setelah berbincang sebentar dengan wanita yang menjadi guru anaknya, Adistya kemudian pamit undur diri dan melangkahkan kaki untuk mencari taksi, tapi tidak menyangka bahwa ternyata Gavril menunggunya dan menyuruhnya untuk naik.
Sebenarnya Adistya enggan, karena merasa tak enak jika harus satu mobil dengan pria itu hanya berdua. Namun Gavril terus memaksa agar dirinya naik, membuat Adistya mau tak mau menurut dari pada berdebat lebih lama dan menjadi tontonan orang-orang.
“Dis,” tidak tahan dengan kebisuan yang tercipta, Gavril akhirnya membuka suara.
“Hem,” hanya deheman itu yang menjadi jawaban Adistya, bahkan perempuan itu tidak sama sekali menoleh.
Sebenci itukah kamu kepadaku, Dis? Batin Gavril meringis pilu.
“Kamu gak keberatan 'kan jemput Gavin bersamaku?” awal pertanyaan yang bodoh! Sudah jelas-jelas bahwa wanita itu keberatan.
“Sebenarnya keberatan, tapi mau bagaimana lagi, kamu sudah terlanjur berjanji dan aku tidak ingin mengecewakan Gavin. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya,” Adistya menoleh pada laki-laki di sampingnya yang baru saja menghentikan mobilnya ketika mereka bertemu dengan lampu merah. “Apakah istrimu tahu mengenai Gavin? Kedatanganmu yang hampir setiap hari menjemputnya, dan waktu yang kamu habiskan bersama Gavin. Apakah istrimu mengetahuinya? Aku hanya tidak ingin ada kesalahpa—”
“Dia sudah meninggal. Tidak akan ada yang salah paham walau aku tidak pulang sekalipun,” Gavril memotong cepat kalimat Adistya, dan Gavril dapat menangkap keterkejutan dari wanita itu.
“Ma—maksudmu?”
“Setelah kita bercerai, aku memang memenuhi janjiku untuk menikahi Rania—”
“Aku tahu,” sahut Adistya kembali menoleh ke samping jendela yang saat ini menampakan beberapa kendaraan yang juga ikut berhenti, menunggu lampu merah berganti.
Adistya tidak dapat memungkiri bahwa hatinya sakit mendengar Gavril menikahi perempuan itu, tapi Adistya sadar bahwa saat Gavril menikahi Rania status mereka sudah bukan lagi suami istri.
Namun tetap saja rasanya menyakitkan mendapati kenyataan bahwa laki-laki tercintanya pernah dimiliki wanita lain.
Adistya tidak dapat membayangkan bagaimana bahagianya kedua orang itu membina rumah tangga yang sudah di rencanakan sejak dulu, jauh sebelum dirinya hadir dan perjodohan itu ada.
“Enam bulan setelah kami menikah, penyakit Rania yang dulu di nyatakan sembuh kembali menyerangnya hingga kemudian merenggut nyawanya satu tahun kemudian. Itu salahku, membuatnya stress dan tertekan dengan pernikahan yang dikiranya akan membahagiakan malah justru membuatnya tersakiti,”
Gavril tersenyum kecut saat kembali mengingat bagaimana Rania tersakiti karena sikapnya hingga membuat perempuan itu drop dan kembali terserang oleh penyakit yang dulu di deritanya, penyakit yang dulu juga membuat Gavril kehilangan perempuan itu karena salah paham, dan tiga tahun lalu, karena penyakit itu juga Gavril kembali kehilangan Rania untuk selamanya.
“Saat awal kami menikah, aku memang sempat mengabaikannya karena hati, pikiran dan semuanya hanya tertuju kepadamu, aku terbelenggu pada penyesalanku yang telah menyakitimu, mengkhianatimu dan membiarkan kamu pergi dari hidupku. Aku menyesal tidak berusaha mempertahankan pernikahan kita ketika itu. Sampai pada akhirnya aku sadar bahwa aku mungkin akan kembali melakukan hal yang sama jika aku terus menerus memikirkan kamu,”
Gavril menghentikan sejenak ucapannya, kemudian menoleh pada Adistya dan tersenyum kecil sebelum kemudian melajukan mobilnya kembali karena lampu sudah berganti hijau.
"Aku berusaha untuk menyembuhkan lukaku sendiri dan mulai menerima Rania sebagai istriku, menjalani rumah tangga seperti pada umumnya meskipun semuanya terasa hambar bagiku. Tapi aku tak peduli selagi bisa membuat istriku bahagia. Aku tidak ingin kembali menjadi berengsek dengan melukai hati wanita. Tapi aku keliru, Rania yang aku kira bahagia, nyatanya menyimpan luka dan kepedihan sendiri karena aku yang tidak bisa melupakanmu,” menoleh sejenak, Gavril dapat melihat tatapan Adistya yang enggan percaya. Tak masalah, toh dirinya hanya berusaha berkata jujur.
“Rania tahu jika aku selalu meninggalkannya saat tengah malam dan tidur di kamar yang dulu kamu tempati, memeluk foto serta novel milikmu, karena hanya dengan itu aku bisa mengikis rinduku. Namun tanpa sadar aku menyakitinya, menyakiti kembali wanita yang menjadi istriku,” Gavril membuang napasnya berat sebelum kemudian mengukir senyumnya sendu.
“Aku tidak akan tahu semua itu jika tidak membaca catatan diary yang Rania tinggalkan di tumpukan buku mikikku. Bahkan aku tidak tahu sejak kapan penyakitnya kembali menyerang jika saja saat itu aku tidak memergokinya yang sedang berobat di rumah sakit sebelah, dimana temannya yang dulu juga membantunya sembuh bekerja. Dan aku bersyukur karena tahu lebih cepat, setidaknya aku masih bisa memberinya kebahagiaan yang wanita itu harapkan, walau hanya sebentar.”
Gavril menyudahi ceritanya dengan senyum yang terlihat lega. Sementara Adistya malah justru banjir air mata, seharusnya Gavril lah yang menangis, tapi justru laki-laki itu yang terlihat tegar. Tidak ada air mata yang Gavril keluarkan walau wajah sedihnya dapat di lihat dengan jelas.
Adistya tidak tahu bagaimana harus menanggapi cerita Gavril, tapi di dalam lubuk hatinya yang terdalam ia merasakan sedih dan menyesal karena telah membenci wanita itu selama ini. Karena memang wanita itulah yang membuat rumah tangganya dengan Gavril hancur, walau Adistya tahu bahwa Rania tidak mengetahui apa pun mengenai dirinya saat itu.
***
See you next part!!