Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
27. Bukan Kepura-puraan



Selamat membaca!!!


***


“Gelisah banget kayaknya kamu, Vril?” tanya Byanca yang sejak tadi mengamati gerak gerik Gavril yang terlihat cemas.


“Udah hampir lima belas menit, Adistya belum balik juga dari toilet,” kata Gavril mengutarakan kecemasannya, seraya menoleh ke kanan dan kirinya untuk mencari sosok manis sang istri. Namun sejauh mata memandang, sosok Adistya tidak juga terlihat oleh indera Gavril. Menambah kekhawatirannya saat ini. 


Wajah Byanca memerah, marah karena harus di pukul begitu keras dengan kenyataan mengenai pernikahan Gavril dan Adistya yang benar adanya, bahkan laki-laki itu tengah mencemaskannya. 


“Vril, mau ke mana?” teriak Byanca saat mendapati laki-laki itu berjalan cepat meninggalkannya di tengah kerumunan orang yang saat ini tengah seru menikmati acara reuni yang diadakan sekolah.


Tadi Byanca sudah senang bertemu dengan Gavril yang sendiri, berpikir bahwa mungkin laki-laki itu malu menggandeng Adistya dan mengenalkan perempuan itu sebagai istrinya. Tapi ternyata Byanca salah.


Tak ingin kehilangan jejak sang mantan kekasih, Byanca akhirnya mengikuti Gavril hingga ia berada tepat di belakang pria itu yang sedang mengobrol dengan perempuan yang entah siapa. Raut wajahnya semakin cemas, begitu pula orang yang baru saja Gavril ajak mengobrol, meyakinkan Byanca bahwa mungkin itu adalah teman dari perempuan yang tengah Gavril cari.


“Ya udah, El, kalau gitu gue cari Adis dulu, nanti kalau dia ada hampiri lo jangan lupa kabari gue,” pesan Gavril, kemudian melangkah pergi sebelum melihat anggukan Elma.


“Gavril stop!” teriak Byanca dengan napas ngos-ngosannya karena terlalu lelah mengikuti langkah Gavril yang panjang. “Dia udah besar, gak akan nyasar. Udahlah kita nikmati aja acaranya. Jarang-jarang loh, Vril kita bisa kumpul sama teman-teman yang lain.”


“Gak bisa, By, Adistya istri aku. Aku gak mau sampai terjadi apa-apa sama dia,” ujar Gavril masih dengan nada cemasnya, berkali-kali laki-laki itu memainkan ponselnya untuk mengirim pesan dan juga menelepon ponsel istrinya.


Sama sekali Gavril tidak menghentikan langkahnya seperti apa yang Byanca minta. Membuat perempuan cantik dengan gaun malam sedikit terbukanya itu semakin naik pitam dan mempercepat langkah untuk menarik tangan Gavril, agar laki-laki itu berhenti melangkah.


“Dia cuma cewek cupu rendahan yang sejak dulu kita benci, Vril. Dia itu benalu, kuman, cewek tidak tahu diri yang merasa dirinya putri!” kesal Byanca.


“Itu dulu, karena sekarang Adistya adalah istri aku. Perempuan yang aku cintai,” balas Gavril tak kalah kesalnya. Ia tidak suka Byanca merendahkan Adistya. 


Gavril sadar, dulu dirinya memang kerap kali mengatai Adistya seperti itu, tapi itu dulu, sebelum dirinya sadar bahwa Adistya begitu berharga, bahwa Adistya begitu istimewa, dan Adistya adalah perempuan yang akan dirinya cintai hingga kapan pun. 


Byanca menggelengkan kepalanya tak percaya. “Cinta?” Byanca tertawa meremehkan. “Sejak dulu, aku yang kamu cintai, Gavril. Dan hingga saat ini perasaan kamu itu masih tetap sama terhadap aku. Kamu tidak mencintai cewek cupu itu. Tidak pernah!" ujar Byanca dengan percaya dirinya. Namun dengan segera Gavril menggeleng.


“Itu dulu, bertahun-tahun yang lalu. Sekarang dan untuk kedepannya hanya Adistya yang aku cintai, bukan kamu, bukan juga perempuan lainnya. Jadi berhenti untuk terus menganggap aku masih mencintai kamu, karena perasaan untukmu sudah benar-benar tidak ada lagi. Sejak kata putus itu kita sepakati, sejak itulah aku hanya menganggap kamu sebagai temanku. Tidak lebih.” 


Setelahnya Gavril melanjutkan langkah, meninggalkan Byanca seorang diri dengan keterkejutannya atas pengakuan kejam Gavril. 


“Dia bohong, By, dia hanya terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya. Gavril tidak pernah melupakan kamu, Gavril tidak pernah mencintai perempuan lain selain kamu,” gumam Byanca seolah tengah menguatkan hatinya, hingga kemudian perempuan itu kembali mengejar langkah Gavril yang entah ke arah mana perginya.


...*****...


Hampir setiap ruangan Gavril singgahi, tapi sosok sang istri tidak juga terlihat. Hingga kemudian suara tangis dapat Gavril dengar dari arah taman belakang.


Malam-malam seperti ini jelas saja itu terasa horor, tapi Gavril tidak menghiraukannya, ia justru semakin melangkah mendekati suara tangisan tersebut sampai akhirnya ia menemukan istrinya. Dan suara isak tangis itu berasal dari perempuan yang sejak tadi dicemaskannya.


Melepaskan jasnya, Gavril kemudian berjalan mendekat dan menyampirkannya di bahu telanjang Adistya, membuat perempuan itu terkejut dan menoleh. 


“Kenapa disini? Aku nyari kamu sejak tadi,” ucap Gavril berdiri di depan istri manisnya yang kini berwajah sembab, membuat Gavril meringis dan menebak-nebak mengenai apa yang terjadi pada Adistya.


“Kenapa nangis, hem?” jemari Gavril meraih dagu Adistya, membawa wajah itu agar menatapnya. Dan Gavril sedih saat melihat air mata mengalir melewati pipi istrinya.


Adistya dengan cepat menepis tangan Gavril, tatapannya marah dan sorot terluka dengan mudah Gavril tangkap walau dalam kegelapan malam. Bingung? Tentu Gavril rasakan saat ini. Sebelumnya mereka baik-baik saja, bahkan masih mesra saat berada diperjalanan, lalu kenapa tiba-tiba istrinya itu menangis dan tak ingin dirinya sentuh. Punya salahkan ia?


“Berengsek!” maki Adistya tajam, mengejutkan Gavril yang tengah berusaha menebak-nebak mengenai apa yang terjadi pada istrinya.


“Sejak awal harusnya lo gak perlu bertingkah manis, berlaku seolah lo mencintai gue dan sok-sokan meminta maaf atas kesalahan lo di masa lalu dengan berjanji akan menebusnya, memperbaikinya, dan sok-sokan akan membahagiakan gue. Seharusnya sejak awal juga gue gak menerima tawaran damai lo, tidak terbuai oleh mulut manis lo, dan tidak percaya akan semua janji yang nyatanya hanya sebagai pemanis agar sandiwara lo makin meyakinkan. Seharusnya sejak awal gue tahu bahwa yang berengsek akan tetap berengsek! Dan sekarang gue nyesel masuk ke dalam tipu muslihat lo. Gue benci lo, sialan. Gue benci!” 


Pukulan demi pukulan Adistya layangkan di dada bidang Gavril, membuat laki-laki itu meringis. Tapi Gavril tidak terlalu menghiraukan rasa sakit itu karena saat ini ia terlalu bingung dengan apa yang di ucapkan istrinya. Gavril tidak mengerti.


“Dis, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bicara seperti itu? Siapa yang berpura-pura? Siapa yang bersandiwara?” tanya Gavril bertubi-tubi dengan kebingungan yang amat begitu nyata.


“Seharusnya sejak dulu gue tahu bahwa lo tidak akan pernah suka sama gue, karena nyatanya cuma Byanca yang hingga saat ini lo cintai. Gak pernah gue,” lirih Adistya bersamaan dengan melemahnya pukulan tangan rampingnya. 


Isak tangis semakin terdengar dan siapa saja yang mendengar akan merasakan seberapa sedihnya Adistya saat ini, seberapa terlukanya perempuan itu. Karena Gavril pun merasakan semua itu. Ia sedih melihat istrinya menangis meraung seperti ini, lebih sedih lagi karena nyatanya kesungguhannya tidak juga Adistya jadikan pegangan.


“Kenapa lo setega ini sama gue, Gav? Kenapa lo selalu saja membuat gue terluka? Setidak pantas itukah gue? Selama ini gue percaya sama lo, sama perasaan lo, dan ungkapan cinta lo. Tapi kenapa lo harus jatuhin gue dari ketinggian ini, kenapa?” Adistya menatap kecewa pada Gavril yang kini berlutut di depannya. “Sejak dulu gue udah lo hancurin, kenapa sekarang lo semakin menghancurkan gue, Gav? Apa sebenarnya salah gue hingga membuat lo setega ini sama gue?”


Gavril menggelengkan kepalanya dengan lirih, menatap sendu perempuan di hadapannya dan tangannya bergerak merengkuh wajah sembab Adistya yang air matanya seperti enggan untuk berhenti.


“Aku cinta kamu, Dis. Sungguh. Beberapa bulan belakangan ini, sikapku, pengakuanku bukanlah sebuah kebohongan. Aku serius, aku bersungguh-sungguh, aku tulus mencintai kamu. Apa yang aku lakukan tidak sedikitpun aku bumbui kepura-puraan. Apa kamu tidak bisa melihat kesungguhan itu? Tidak bisakah kamu lihat keseriusanku untuk menebus kesalahan dulu? Byanca memang pernah menjadi yang amat aku cintai, tapi setelah hubungan kami berakhir rasa itu tak lagi ada, Dis, terlebih setelah kita menikah. Hanya kamu, Adistya! Hanya kamu yang aku cintai.” Tidak ada kebohongan sedikitpun dari apa yang Gavril ucapkan. Ia benar-benar tulus, dan sangat serius dengan apa yang di ungkapkannya.


“Harus bagaimana lagi aku membuktikannya sama kamu, Yang? Harus dengan apa aku meyakinkan kamu bahwa aku memang sungguh mencintaimu?” tanya Gavril setengah putus asa.


Adistya tak menjawab, perempuan itu masih diam pada posisinya. Tapi sekarang tak lagi ada penolakan yang Adistya berikan pada sentuhan Gavril di wajahnya bahkan saat laki-laki itu meraih tangannya dan mengecupnya dengan lembut, sampai kemudian Adistya merasakan bahwa tangannya di tetesi air yang ia kira karena hujan, namun nyatanya malam dengan ribuan bintang di angkasa itu tidak sama sekali menunjukan bahwa malam ini akan turun hujan. Hingga satu lagi tetesan terasa jatuh di tangannya yang tengah Gavril genggam erat, barulah Adistya sadar bahwa air itu jatuh dari pelupuk mata suaminya. Gavril menangis, dan itu seakan mengiris hati Adistya. 


*****


See you next part !!!