
Selamat Membaca!!!
***
Adistya bangun dari tidurnya saat hari sudah beranjak malam. Dengan refleks perempuan manis itu menyentuh pipinya yang terasa hangat, entah apa alasannya, karena yang jelas Adistya merasa tidurnya nyenyak dengan perasaan hangat yang menjalar ke hatinya.
Tidak ingin terlalu menebak-nebak, Adistya bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia ingat bahwa sejak pagi tadi dirinya belum melaksanakan mandi. Sepulang dari menemui Gavril, ia langsung sibuk dengan tulisannya yang hingga saat ini belum bisa ia selesaikan. Gara-gara pernikahannya bersama Gavril yang menyita pikirannya, membuat Adistya tidak bisa menyelesaikan tulisannya sesuai jadwal, padahal pembaca sudah menunggu hasil tulisannya.
Selesai membersihkan diri dan berpakaian lengkap, Adistya keluar dari kamar. Tujuannya saat ini adalah dapur akibat perut yang sudah keroncongan mengingat sejak siang ia tidak makan apa pun saking fokusnya menulis sambil meratapi nasib pernikahannya yang entah akan bagaimana ke depannya.
Sejujurnya, Adistya masih belum siap bertatap muka dengan Gavril gara-gara kejadian siang tadi. Tapi mau bagaimana lagi, laki-laki itu pemilik rumah yang ditinggalinya saat ini. Mau menghindar pun nyatanya Gavril sudah berada di meja makan lebih dulu, menikmati makanan yang dari aromanya sudah tercium membuat perut Adistya semakin berontak minta di isi.
Adistya sudah berniat duduk di kursi yang berhadapan dengan Gavril, tapi niatnya itu ia urungkan begitu teringat mengenai perjanjian yang mereka buat dimana Gavril yang tidak berkewajiban menafkahinya, mengingat Adistya sendirilah yang tidak ingin memberi hak sebagai istri.
Pada akhirnya Adistya memilih melanjutkan langkah menuju kulkas dan mengambil telur juga sayuran yang beberapa waktu lalu dirinya beli dari supermarket, niatnya saat ini adalah membuat mie rebus untuk mengganjal perutnya yang keroncongan.
“Lo mau ngapain?” tanya heran Gavril yang sejak awal sudah memperhatikan gerak-gerik istrinya.
“Masak mie," jawab Adistya singkat tanpa menoleh pada si lawan bicara.
“Makanan banyak di meja, kenapa harus buat mie?” tanya Gavril lagi masih dengan nada keheranan. “Lagi pula gak baik makan mie terus-terusan, Dis, nanti lambung lo sakit.”
“Gue lagi kepengen makan mie.” Bohong. Adistya hanya terlalu gengsi memakan-makanan yang di beli dari hasil uang milik suaminya itu. Meskipun ia adalah istrinya, Adistya masih ingat dengan posisinya sebagai istri yang tidak di inginkan. Ia tidak ingin memakan yang bukan haknya. Gavril sudah mengatakan bahwa dia tidak akan peduli meski Adistya kelaparan.
“Gue gak izinin lo makan mie!” Gavril yang entah sejak kapan bangkit dari duduknya langsung mematikan kompor yang baru saja Adistya nyalakan. Dan itu cukup membuat Adistya terkejut.
“Apa-apaan sih lo,” delik Adistya tak suka. “Lagi pula terserah gue mau makan apa aja.”
“Nanti lambung lo sakit, Dis!” geram Gavril.
“Urusannya sama lo apa? Lambung juga lambung gue.” Adistya menaikan sebelah alisnya heran.
Gavril gelagapan sendiri untuk menjawab. “Ya- gue dokter,”
“Terus urusannya apa kalau lo dokter? Gue bukan pasien lo.” Bantahnya tak peduli, dan kembali menyalakan kompor yang sempat suaminya itu matikan.
“Iya, tapi lo istri gue!” seru Gavril sedikit membentak.
Perkataan itu entah disadarinya atau tidak, yang jelas Adistya dibuat bungkam, dadanya berdebar hebat dan hatinya sedikit menghangat. Namun dengan cepat Adistya kembali pada kesadarannya, menepis segala pemikiran mengenai kepedulian laki-laki di hadapannya. Adistya tidak ingin terlalu awal untuk mengartikan itu. Adistya takut kecewa akibat pengharapannya.
Tidak ada lagi yang membuka suara, Adistya kembali melanjutkan memasak mie instannya dengan pikiran yang datang mengganggu, dan Gavril menikmati detakan di dadanya yang menggila. Gavril sadar akan apa yang dilontarkannya barusan, tapi tidak pernah tahu akan mendapatkan efek yang sedahsyat ini pada jantungnya.
Begitu mie yang di buatnya matang, Adistya membawa mangkuk berisi penuh makanan tidak menyehatkan itu ke meja makan, duduk berseberangan dengan Gavril yang sejak tadi tidak lagi mengeluarkan suaranya.
Adistya segera menggeleng untuk menghilangkan pemikirannya itu. Memilih menikmati mie rebusnya yang terasa hambar di lidahnya saat ini. Entah karena bumbunya yang kurang, atau justru karena tatapan Gavril yang terus tertuju padanya. Yang jelas Adistya merasa tak nyaman dan tidak bisa menikmati mie rebus yang berbau nikmat itu.
Namun sebisa mungkin Adistya menghabiskannya cepat agar bisa segera pergi kembali ke kamarnya. Tidak baik bagi jantungnya jika harus berada di depan laki-laki yang sejak dulu mencuri hatinya. Adistya tidak ingin kembali jatuh cinta pada laki-laki yang sudah menyakitinya. Meskipun saat ini bisa di bilang bahwa perasaan itu masih tetap ada meski tidak segila dulu.
“Gue duluan.” Adistya melangkah pergi begitu selesai mencuci piring kotor habis dirinya gunakan. Namun baru saja beberapa langkah ia berjalan, suara Gavril lebih dulu menghentikannya.
Adistya tak langsung berbalik, ia berusaha mencerna mengenai apa yang di ucapkan laki-laki yang menjadi suaminya itu. Ayo baikan? Tidak salahkan laki-laki itu mengucapkannya, atau telinga Adistya yang bermasalah?
“Kita sudah menikah, Dis, tinggal di atap yang sama. Rasanya gak enak kalau seperti ini terus menerus. Gue gak nyaman, begitu juga lo. Jadi, ayo baikan.” Ulang Gavril dengan sungguh-sungguh. Bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Adistya yang masih bergeming.
“Meskipun pernikahan itu gak lo dan gue inginkan, tapi setidaknya kita bisa menjadi teman.” Meskipun sebenarnya gue berharap bisa menjalani pernikahan ini sama lo. Lanjut Gavril dalam hati.
Adistya yang masih berdiri membelakangi laki-laki itu mengulas senyum miris. Terlalu awal mengartikan pun nyatanya tidak baik untuk hatinya. Gavril hanya menginginkan mereka berteman, bukan untuk menjalani pernikahan yang sesungguhnya. Tidak seharusnya Adistya kecewa, bukan? Toh apa yang di katakan Gavril benar adanya. Pernikahan ini sama-sama tidak mereka inginkan. Tapi kenapa rasanya hantaman itu begitu menyakitkan? Apa yang sebenarnya Adistya harapkan dari pernikahannya? Adistya pada akhirnya merutuki surat perjanjian yang telah ditandatangi itu.
“Dis,” panggil Gavril pelan, saat tidak ada suara yang perempuan itu keluarkan.
“Lebih baik kita jalani sesuai surat perjanjian yang kita buat sebelum menikah.” Ujar Adistya pada akhirnya. Memilih mengabaikan ajakan damai Gavril sama saja dengan melukai hatinya. Jadi, Adistya memilih untuk berlindung pada surat perjanjian itu. Ia tidak ingin terlalu berharap pada pernikahannya, Adistya tidak ingin berharap pada Gavril mengingat laki-laki itu masih berhubungan dengan Byanca. Cukup dulu ia menjadi bodoh akibat mencintai Gavril, sekarang tidak akan pernah Adistya biarkan itu terulang kembali.
Gavril menjambak rambutnya frustrasi, tidak menyangka penolakan itu dirinya dapatkan, padahal ia sudah menjatuhkan harga dirinya untuk mengajak berdamai lebih dulu pada perempuan itu. Namun satu hal yang Gavril sadari, kekeraskepalaan Adistya tidak juga berubah sejak dulu. Tekadnya tidak mudah dipatahkan.
...****...
Setibanya di kamar, lagi-lagi Adistya meraih surat perjanjian pernikahannya bersama Gavril, perjanjian yang ia buat untuk melindungi hatinya agar tidak terjerumus pada luka yang sama akibat orang yang sama pula. Perjanjian yang sejak awal Adistya kira akan mempertahankan rasa bencinya. Namun malah membawanya pada sebuah kebimbangan.
Adistya kembali membaca poin-poin yang dirinya dan Gavril buat seminggu sebelum pernikahan berlangsung. Poin pertama, tidur terpisah. Itu yang Adistya tulis, poin penting menurut Adistya yang tidak ingin tidur satu ranjang dengan Gavril, karena itu bisa membahayakan dirinya sendiri. Adistya belum siap melepas kegadisannya, apalagi pada orang yang sama sekali tidak mencintainya.
Poin kedua, tidak boleh meminta hak suami/istri. Sebenarnya sah-sah saja, karena bagaimanapun mereka sudah terikat dalam pernikahan, tapi kembali ingat bahwa Adistya tidak ingin hanya dijadikan pemuas oleh suaminya sendiri. Adistya tidak ingin menjadi istri yang hanya di butuhkan untuk menghangatkan ranjang.
Poin ketiga, dilarang mencampuri urusan masing-masing. Poin keempat, dilarang jatuh cinta satu sama lain. Pada poin ini, Adistya tertawa sendiri, ia yang menulis malah justru ia sendiri yang mengingkari, bahkan jauh sebelum perjanjian ini di buat Adistya sudah jatuh cinta lebih dulu pada laki-laki yang kini menjadi suaminya. Niatnya menuliskan itu agar ia sadar bahwa sejak dulu jatuh cinta pada Gavril sudah di larang oleh laki-laki itu sendiri.
Poin kelima, tidak boleh melarang menjalin hubungan dengan lawan jenis. Itu adalah poin yang Gavril tulis. Kini Adistya tahu alasan pria itu menulisnya. Karena Gavril masih menjalin hubungan dengan Byanca, kekasih Gavril semasa SMA dulu. Padahal tadinya Adistya ingin menuliskan dilarang menjalin hubungan dengan lawan jenis, tapi ia tidak ingin Gavril salah paham, menyangka dirinya memanfaatkan kesempatan mendapatkan laki-laki itu. Meskipun pada kenyataannya Adistya hanya ingin melindungi keluarganya. Ia tidak ingin membuat ayahnya dan orang tua Gavril menyadari ketidakbaikan rumah tangga anak-anaknya.
“Adistya minta maaf, Yah. Maaf sudah membohongi ayah, maaf sudah mengecewakan Ayah.” Gumam Adistya, mengusap foto ayahnya yang terpajang di atas meja kerjanya.
“Andai tidak ada masa lalu yang menyakitkan itu …” Adistya segera menggelengkan kepalanya, merasa tidak berguna menyesali masa lalu yang sudah terlewati.
Adistya membuang napasnya kasar. “Semangat Tya!” serunya menyemangati diri sendiri. Entah semangat untuk apa, yang jelas Adistya merasa dirinya harus lebih semangat lagi menjalani hari mulai detik ini.
*****