Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
51. Pelaku



Selamat Membaca!!!


***


"Kamu sudah menemukan pelaku tabrak lari itu?” tanya Gatan pada sang putra yang kini duduk lesu di meja kerjanya.


“Sudah Pa, berkat CCTV di supermarket yang sepertinya akan Adistya tuju, Gavril bisa menemukan mobil yang menabrak Adistya. Dan menurut kesaksian dari orang-orang yang kebetulan ada di lokasi kejadian mengira bahwa itu adalah kesengajaan. Yang menyeberang saat itu bukan hanya Adistya, ada laki-laki paruh baya dan dua remaja yang ada di belakang Adistya. Tapi si mobil malah justru melaju ke arah Adistya yang sebenarnya sudah lewat dari jalur kanan,” jelas Gavril panjang lebar.


“Kamu tahu si pemilik mobil itu? Dan apa motifnya?” Gatan kembali bertanya, namun kali ini Gavril tidak langsung menjawab. Beberapa kali laki-laki itu terlihat menghela napasnya sebelum kemudian memilih menceritakan yang sesungguhnya. 


Ya, Gavril tentu saja mengenali mobil yang menabrak Adistya karena selama tiga tahun belakangan ini ia sering melihatnya bahkan beberapa kali pernah menumpang. Tapi untuk motif si pelaku itu sendiri Gavril tidak tahu. Dan itu yang harus dirinya cari tahu. Namun Gavril pastikan bahwa ia tidak akan pernah memaafkannya. Gavril janji akan membawa ini ke jalur hukum dan orang itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Tidak peduli bahwa mereka dulu pernah saling mencintai.


*****


Di salah satu kamar dengan pencahayaan minim, seorang perempuan terduduk ketakutan di atas ranjangnya. Sudah tiga hari perempuan itu menangis, tertawa lalu kemudian menjerit tanpa sebab, membuat penghuni rumah lainnya cemas akan apa yang terjadi pada perempuan itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Byanca.


Segala bujukan sudah kedua orang tua perempuan itu lakukan, tapi tanggapan Byanca tidak pernah berubah dari jeritan, tangis, dan tawa. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya selain larangan untuk membuka gorden dan penerangan di kamarnya. Padahal sebagai orang tua jelas mereka tahu bahwa anaknya itu tidak pernah suka dengan kegelapan, tapi tiga hari ini perempuan itu seolah berlindung pada kegelapan.


Sementara di salah satu kamar rumah sakit, Adistya yang baru saja bangun dari tidur panjangnya, syok mendapati keadaannya yang lumpuh. Kedua kakinya tidak bisa di gerakan dengan tangan kiri yang juga sama tidak berfungsinya. Jeritan tangis tentu saja mewarnai ruangan VIP itu bahkan Gavril sampai harus menyuntikkan obat penenang agar Adistya dapat kembali tertidur.


Satya dan semua orang yang ada di ruangan itu menangis terlebih Gavin yang baru saja sembuh dari demamnya, tidak tega melihat sang bunda yang histeris seperti itu.


Gavril yang ingin berusaha tegar pun nyatanya tidak bisa membendung air matanya. Dan kondisi Adistya yang seperti ini, membuat Gavril tidak bisa lagi menahan amarah. Saat itu juga Gavril mendatangi rumah yang sudah lama tidak dikunjunginya, tidak lupa ia membawa beberapa orang polisi untuk melakukan penangkapan.


Kedatangannya itu tentu saja membuat si penghuni rumah terkejut terlebih dengan penjelasan Gavril mengenai apa yang dilakukan putri mereka. 


Tanpa banyak berbasa-basi, Gavril menerobos masuk ke dalam rumah itu dan menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamar orang yang di carinya berada, tentu saja di ikuti polisi yang sengaja di bawanya.


Di ruangan gelap itu, seorang perempuan semakin memojokkan dirinya seolah berlindung. Ketakutan itu jelas terlihat dan sedikit membuat Gavril iba, tapi bayangan wajah Adistya yang begitu terluka mendapati kondisinya mengenyahkan rasa iba Gavril. Ia tetap meminta polisi membawa Byanca ke kantor dan memasukannya ke dalam jeruji besi. Tidak peduli dengan berontakan yang dilakukan Byanca. Tidak ada rasa kasihan sama sekali dari Gavril meskipun kedua orang tua perempuan itu memohon.


Setibanya di kantor polisi, Byanca tidak memberikan tanggapan apa pun selain gelengan dan wajah ketakutannya. Namun satu kalimat singkat yang keluar setelah tiga puluh menit berusaha mengintrogasi berhasil menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan polisi. Byanca resmi di tahan dan akan di periksa lebih lanjut apalagi mengenai kejiwaan perempuan itu.


Gavril akhirnya bisa sedikit bernapas lega keluar dari kantor polisi meskipun belum menemukan alasan di balik penabrakan yang di lakukan Byanca terhadap Adistya karena perempuan itu memang benar-benar sulit di tanya. Yang keluar dari mulutnya hanya gumaman tidak jelas dan sesekali perempuan itu mengatakan bahwa bukan dia yang menabraknya, dia bukan pembunuh dan racauan tak jelas lainnya.


Masih ingat sekali pertemuan mereka beberapa hari lalu di kantin rumah sakit. Gavril masih melihat perempuan itu baik-baik saja dan jika di pikir kembali kecelakaan yang menimpa Adistya pun terjadi masih di hari yang sama.


Apa mungkin Byanca nekat mencelakai Adistya karena cemburu?


Dia marah gue membatalkan makan siang karena terlalu khawatir dengan kondisi Gavin? Mungkinkah?


Tapi kenapa? Bahkan dia tahu bahwa Adistya pernah jadi istri gue. Dan sudah gue tegaskan juga bahwa diantara dirinya dan Byanca tak lebih dari sekedar teman.


Atau … jangan-jangan dia masih berharap sama gue?


****


“Ayah!” pekik gembira Gavin seraya meloncat dari ranjang rawat Adistya dan berlari menghampiri Gavril begitu sosoknya masuk setelah seharian ini menghilang tanpa kabar.


Azura yang tengah berada di sana bersama suami dan anaknya ikut menoleh, dan seperti biasa wanita dua anak itu menatap terpesona pada Gavril, yang walau penampilannya berantakan masih saja terlihat tampan. Bahkan lebih seksi, membuat Azura yang memang sedang mengandung anak ketiganya ingin memangsa pria itu saat ini juga.


“Gak ngedip juga gue colok tuh mata!” dengus Haris, suami Azura.


“Ish, ganggu aja sih!” kesal Azura pada sang suami yang mengacaukan imajinasinya terhadap laki-laki yang kini sudah berjalan masuk, mendekat ke arah ranjang rawat Adistya dengan Gavin dalam gendongannya.


“Bagaimana keadaan kamu, masih sering merasa sakit?” tanya Gavril pada mantan istrinya itu. Adistya yang sejak kedatangan sahabatnya sudah dapat mengukir senyum menggeleng singkat tanda tidak ada yang sakit selain hatinya. Ya, mendapati kenyataan seperti ini membuat hati Adistya sakit karena dengan begini ia pastilah akan merepotkan semua orang terlebih ayahnya, adiknya dan iparnya.


Sebenarnya Adistya masih ingin menangis meraung dengan nasib yang menimpanya, tapi itu hanya akan membuat semua orang tersayangnya semakin terluka, semakin sedih dan semakin terbebani. Sekali lagi Adistya harus berusaha untuk tegar, menyimpan kesedihannya seorang diri seperti yang selama ini ia lakukan.


“Kalau ada yang ke rasa sakit jangan sungkan kasih tahu aku,” Adistya mengangguk sebagai jawaban.


“Uhh, sweet banget sih kalian berdua meskipun udah mantanan," ucap Azura dengan tatapan iri. “Gavril lo mau gak jadi suami gue? Gue butuh suami yang perhatian kayak lo nih, yang di sebelah udah gak semanis dulu,” ujar Azura menyindir suaminya yang tengah berkutat dengan ponsel. Membuat laki-laki itu menoleh dan melayangkan tatapan tajamnya. Sementara Gavril dan Adistya hanya menggelengkan kepala melihat sepasang suami istri di depannya.


Azura tidak pernah berubah, begitu suka menggoda suaminya, sementara Haris yang tidak terlalu banyak bicara tapi selalu mesum pada istrinya dan juga cemburuan tidak juga peka dengan tingkah si cantik. Pasangan unik yang saling melengkapi menurut Adistya.


“Ya udah, ah, Ty, gue mau pulang aja, lo juga udah ada Gavril yang nungguin. Siapa tahu kan lo berdua mau kembali PDKT,” Azura mengedipkan sebelah matanya jahil. Adistya mendengus pelan, ingin sekali melempar sahabatnya itu dengan bantal yang di gunakan untuk menyangga tubuhnya, sayang tangannya terlalu sakit untuk melakukan itu.


“Cepet sembuh ya lo, beib. Nanti gue teraktir lo makan sepuasnya di Café Si Elma, tenang laki lo yang bayar,” ujar Azura begitu sudah berdiri di samping ranjang Adistya.


“Itu artinya bukan lo yang traktir!” Adistya mendelik sebal. 


“Ya jelas gue dong, kan gue yang ngajak dan punya niat, yang bayar juga gue nanti, tapi uangnya dari laki lo,” jawabnya kemudian menyengir.


“Ish, banyak omong! Ayo cepat pulang, Tya mau istirahat,” Haris menarik pelan lengan istrinya itu, tapi wanita hamil itu tidak sama sekali bergerak dari posisinya.


“Gak sabaran banget sih kamu, Mas. Ini masih siang, ya, jatah kamu belum turun,” ucap Azura dengan tatapan tajamnya lalu beralih kembali pada Adistya. “Ya udah deh, Ty, gue pulang. Lo cepat sembuh, jangan sedih mulu. Tuh, ada mantan rasa calon suami yang akan jagain lo dengan baik. Ingat jangan banyak pikiran, jangan merasa lo gak berguna, pokoknya hilangkan pikiran buruk dalam kepala lo itu. Lo cukup semangat untuk sembuh dan ingat bahwa gue, kita semua sayang sama lo, peduli sama lo. Anak lo dan mantan laki lo masih butuh lo, Dis. Jangan jadikan keadaan lo yang sekarang ini alasan untuk lo gak percaya diri. Gue yakin lo pasti sembuh seperti sediakala, yang penting lo mau berusaha. Jangan segan minta bantuan gue, Elma dan mungkin mantan laki lo, kami semua akan membantu lo untuk sembuh,” Azura menoleh pada Gavril, dan laki-laki itu mengangguk setuju sambil menatap serius pada Adistya yang kini sudah berkaca-kaca.


Azura memang banyak becanda, tapi wanita itu selalu saja bisa bijak di waktu yang dibutuhkan. Adistya memang tak salah memilih Azura sebagai sahabatnya.


“Thanks, Ra,” ucap tulus Adistya. Azura mengangguk lalu memeluk sahabatnya itu cukup hati-hati, tidak ingin sampai menyentuh luka di tubuh Adistya.


****


See you next part!!!