Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
54. Semangat Baru



Selamat Membaca!!!


***


“Sendinya sudah mulai kuat, tapi Bu Adistya jangan dulu mencoba untuk banyak mengangkat beban ya, karena itu malah akan memperburuk keadaan ibu. Obatnya jangan lupa di minum,” jelas sang dokter begitu selesai memeriksa keadaan kaki dan tangan Adistya.


“Berapa lama kira-kira kaki dan tangan saya bisa kembali di gunakan dengan normal?” tanya Adistya yang sudah tak sabar ingin segera melakukan aktivitas seperti biasanya, dan lebih ingin lagi membawa anaknya jalan-jalan seperti yang dulu sering mereka lakukan.


“Itu tergantung seberapa semangat ibu menjalani terapi dan menjaga pola makan sehat. Disini saya hanya membantu melakukan terapi, selebihnya serahkanlah pada Tuhan karena Dialah sebaik-baik pemberi kesembuhan,” ucap sang dokter panjang lebar. Adistya menyunggingkan senyumnya, lalu pamit undur diri setelah menerima resep dari dokter. 


“Mau langsung pulang atau mampir dulu?” tanya Satya yang setia menemani dan mendorong kursi roda Adistya.


“Mampir ke mana?” 


“Ya mungkin kamu pengen ke mana gitu, siapa tahu bosan di rumah.”


Mendapat tawaran itu Adistya sebenarnya sudah ingin setuju dan menyebutkan salah satu tempat yang begitu ia rindukan, tapi …


“Enggak deh, Yah, Tya mau langsung pulang aja, pengen istirahat,” jawab Adistya pada akhirnya. Ia terlalu sadar diri akan kondisinya saat ini dan tentu saja Adistya tidak ingin lebih merepotkan ayah dan juga sang perawat.


Adistya memilih untuk pulang ke rumah, berdiam diri seperti biasa lalu menyalurkan ide menulisnya untuk membunuh kebosanan. Sejak dulu bukankah memang selalu itu yang Adistya lakukan? Entah itu masih gadis, sudah menikah bahkan sudah cerai dan memiliki anak sekalipun. Adistya tidak pernah meninggalkan laptop dan buku-buku diarynya dan ia tidak pernah untuk berhenti menulis, membubuhkan curahan hatinya yang tidak mampu di ungkapkan secara langsung, namun Adistya mampu menjabarkan semua itu dalam lembar-lembar putih yang sudah menemani dan menjadi wadah untuk menampung segala perasaan yang dimilikinya.


“Kamu yakin? Gak mau ke café Elma atau ke toko buku gitu?” Satya tidak menyerah membujuk agar anaknya itu mau pergi untuk sekedar membuang penat, namun Adistya tetap pada pendiriannya, menolak, walau sebenarnya ingin. Tapi biarlah keinginannya itu ia simpan hingga bisa melakukan semuanya seorang diri.


“Pulang aja, Yah, Tya benar-benar gak minat kemanapun untuk saat ini. Mungkin lain kali.” 


****


Dua bulan berlalu sejak kecelakaan itu, Adistya masih setia duduk di kursi roda dengan bantuan perawat, sang ayah dan adiknya. Ini semua tidak mudah, sungguh. Tapi Adistya jalani dengan berusaha ikhlas, karena ia percaya bahwa Tuhan tidak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan hambanya.


Dua bulan itu pula, Adistya tidak bertemu putranya dan tidak bisa memeluk malaikat kecilnya, hanya bertatap muka lewat layar datar ponselnya, itu pun dengan waktu yang amat singkat karena Adistya selalu merasa tak sanggup jika harus berlama-lama. Kerinduannya membuat air mata tak bisa lagi untuk di tahan dan Adistya tidak mau anaknya melihat tangisan kerinduannya. Hanya maaf yang selalu digumamkannya, berharap bahwa sang putra tidak akan membencinya karena hal ini.


“Bu Tya ada tamu di depan,” sang perawat menyadarkan Adistya dari lamunannya dan dengan segera menyeka sudut matanya yang tidak sengaja mengeluarkan air.


“Siapa?” Nisa menggeleng tanda bahwa perempuan berusia 24 tahun itu tidak tahu. Saat ini di rumah memang hanya ada mereka berdua karena yang lainnya pergi setelah makan siang tadi. 


Dalam kepala Adistya bertanya-tanya mengenai siapa kira-kira yang datang, ia takut bahwa tamunya adalah kedua orang tua dari perempuan yang mencelakainya seperti beberapa waktu lalu, karena sungguh Adistya belum siap jika harus kembali bertemu dengan mereka. Emosinya selalu tidak stabil dan ingin menenggelamkan mereka semua andai Adistya memiliki kuasa.


Setelah beberapa saat berpikir dan menebak-nebak, Adistya akhirnya mengangguk dan tanpa diberi perintah lebih lanjut, Nisa, sang perawat paham akan kode yang diberikan Adistya lalu memposisikan diri di belakang kemudian mendorong pelan kursi roda yang Adistya duduki.


Di teras depan kerutan di kening Adistya semakin dalam saat melihat siapa tamu yang datang. Tamu Asing namun cukup familiar untuk Adistya.


“Kau tidak ingat aku?” tanya si tamu dengan Bahasa inggris yang begitu fasih.


Untuk beberapa saat Adistya diam mengamati tamunya itu yang memang mengenakan masker hingga menyembunyikan sebagian wajahnya, sebelum kemudian berteriak girang dan merentangkan satu tangannya yang sehat, meminta tamunya itu datang ke pelukannya.


“Romeo, kau benar-benar datang? Menemuiku?” tanya Adistya tak percaya. Laki-laki yang di panggil Romeo itu mengangguk dalam pelukan Adistya, lalu memundurkan tubuhnya memberi jarak agar dapat melihat dengan jelas wajah cantik yang dirindukannya itu.


“Long time no see, Honey,” ucapnya seraya meraih tangan Adistya yang sehat dan membawanya menuju bibir untuk dikecup. “You miss me, honey?” Adistya dengan semangat mengangguk dan kembali merentangkan tangannya meminta laki-laki itu peluk.


“Kamu datang seorang diri?” tanya Adistya begitu sudah mempersilahkan tamunya itu masuk.


“Seperti yang kamu lihat,” laki-laki itu mengedikkan bahunya singkat.


“Kok, bisa tahu rumahku?”


“kamu lupa pernah memberi alamat rumahmu padaku?”


“Ta—”


“Alamat yang kamu berikan begitu lengkap, Honey, seolah kamu memang ingin dikunjungi,” ujarnya memutar bola mata malas sementara Adistya tertawa geli mendengar jawaban yang di ucapkan laki-laki di depannya.


“Dan ya, kau benar, aku memang ingin di kunjungi karena aku tidak bisa datang ke tempatmu,” ucap Adistya dengan nada sedih dan menatap pada kondisinya sendiri. Laki-laki itu ikut memperhatikan dan raut wajahnya berubah sedih.


“Bagaimana kamu bisa seperti ini, Honey? Kenapa bisa kamu tidak hati-hati,”


“Bukan karena aku tak hati-hati, tapi memang si pelaku berniat membunuhku,” jawab Adistya dengan kemarahan yang masih terlihat dengan jelas. Ya, Adistya marah, bahkan amat marah sampai kebencian itu tumbuh di hatinya.


“Maksudmu?” tanya laki-laki itu sedikit tak paham.


“Akan aku ceritakan nanti. Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu, biar aku minta bibi untuk menyiapkan makanan untukmu.”


“No, Baby. Aku ingin kamu bercerita sekarang. Aku sudah istirahat sejak kemarin, hari ini aku datang sengaja untuk mendengar ceritamu dan mungkin untuk membawamu jalan-jalan,” jawab cepat Romeo. Adistya mencari kebohongan di kedua mata pria itu, tapi yang ia dapat hanya kesungguhan, dan memang tidak ada gurat lelah di sana, itu artinya pria itu memang sudah istirahat.


Adistya akhirnya menceritakan kejadian yang menimpanya, sebelumnya selama di Swiss, Adistya pernah menceritakan mengenai mantan suaminya, masa lalu mereka dan juga perasaannya. Remeo adalah teman yang Adistya temukan di negara tempat pelariannya enam tahun yang lalu. Laki-laki itu begitu baik dan tulus.


Mereka bertemu saat acara pernikahan Irene, sahabatnya. Awalnya Adistya enggan berdekatan dan menanggapi Romeo, tapi karena seringnya mereka bertemu entah di sengaja atau tidak, Adistya mulai sedikit nyaman dan bisa menerima laki-laki itu sebagai temannya. Ya, hanya teman, setidaknya itu empat tahun yang lalu, karena di tahun berikutnya Adistya mulai menerima laki-laki itu sebagai kekasihnya, tentu saja Romeo yang menginginkan itu, sementara Adistya awalnya menolak, tapi karena kegigihan dan ketulusan pria itu akhirnya Adistya menerima Romeo. Pikirnya tidak ada salahnya untuk mulai membuka hati untuk laki-laki lain, toh yang dicintainya sudah bahagia dengan perempuan yang dicintainya. 


Bukan hanya Gavril, karena nyatanya Adistya juga ingin bahagia, dan mungkin lewat Romeo lah ia akan mendapatkan kebahagiaannya. Dan benar saja, selama beberapa bulan menjalani hubungan yang dinamakan pacaran, Adistya cukup di buat bahagia oleh laki-laki itu, terlebih Romeo bisa menerima Gavin dengan tangan terbuka dan Gavin pun merasa nyaman dengan Romeo.


Dan Adistya berharap bahwa ia akan bahagia seterusnya dengan laki-laki itu juga dengan anaknya. Tapi itu harapan sebelum dirinya kembali ke tanah air, karena begitu kembali bertemu dengan Gavril, perasaan Adistya goyah. Meskipun ia tidak kembali menerima Gavril, tapi jujur saja bahwa harapan itu ada. Setidaknya sebelum kecelakaan ini menimpanya dan membuat dirinya cacat hingga kebencian itu muncul membawa pergi semua harapan Adistya.


Sekarang di depannya ada Romeo, kekasihnya, laki-laki yang satu tahun belakangan ini memberinya cinta, kasih sayang dan harapan baru. Tapi dengan kondisinya yang seperti ini apa mungkin laki-laki itu masih mau menerimanya? Adistya pesimis. Ia tidak lagi berani berharap pada siapapun dan mengenai apa pun.


“Lalu sekarang dimana anakku?” tanyanya begitu Adistya selesai dengan ceritanya.


“Dia bersama Ayahnya di kota lain. Aku yang menyuruh dia membawa Gavin, bukan karena aku tidak lagi menyayanginya tapi kamu tahu … dengan kondisiku seperti ini, sulit untuk aku mengurusnya. Aku saja memerlukan orang lain untuk melakukan apa pun.” Adistya menjawab dengan lesu.


“Honey, kamu tidak boleh seperti ini, berdoalah pada Tuhan agar di berikan kesembuhan. Jangan bersedih, Beib, jangan putus asa. Kecacatanmu bukanlah akhir dari hidupmu. Jadikanlah ini sebagai cobaan dari Tuhan untukmu. Penciptamu ingin tahu seberapa kuat, sabar dan tegarnya dirimu. Aku yakin kamu pasti sembuh.”


Adistya mengulas senyumnya lalu mengangguk. Mendegar ucapan Romeo membuat Adistya seolah mendapatkan semangat baru, dan ia janji akan berusaha sekuat tenaga untuk sembuh.


***


See you next part!!!