
Selamat Membaca!!!
***
Hoeekk …
Entah sudah berapa kali, Adistya pulang pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Dua hari belakangan ini ia sering kali merasakan mual, pusing dan juga lemas. Entah apa penyebabnya, tapi yang jelas ia begitu tersiksa, apalagi di saat Gavril tidak ada di sampingnya.
Suami tampannya itu pergi ke luar kota untuk menghadiri seminar dan baru akan pulang siang nanti, itu pun harus langsung menuju rumah sakit tempatnya bekerja karena banyak pekerjaan yang harus laki-laki selesaikan.
Memang, satu bulan belakangan ini Gavril begitu sibuk sampai pulang selalu larut malam dan dalam keadaan lelah. Kasihan sebenarnya, tapi Adistya tidak mampu berbuat apa-apa. Gavril adalah seorang dokter yang memang sudah seharusnya mendahulukan pasien-pasiennya jika sedang dibutuhkan, tapi kadang Adistya yang statusnya adalah seorang istri Gavril kesal karena pria itu tidak memikirkan kondisinya sendiri.
Hoeekk …
Kembali Adistya memuntahkan isi perutnya yang hanya tinggal cairan bening saja. Wajahnya pucat dan tubuhnya pun lemah, di tambah lagi memang sejak kemarin tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Selera makan Adistya tiba-tiba hilang begitupun dengan kebiasaannya mengemil.
“Mbak, gue gak jadi datang sekarang gak apa-apa?” ucap Adistya begitu teleponnya di angkat oleh seseorang di seberang sana. “Sejak kemarin gak enak badan, muntah-muntah juga. Masuk angin kayaknya,” jawab Adistya saat sebuah tanya terdengar di inderanya. “Masa iya?” kening Adistya mengerut tak yakin mendengar jawaban dari lawan bicaranya, lalu setelah itu mengangguk meski tahu bahwa Milla, sang editor yang menjadi lawan bicaranya saat ini tidak dapat melihat. “Ya udah nanti gue coba. Makasi Mbak, dan sorry.”
Setelahnya Adistya mematikan sambungan telepon, menyimpan kembali gawainya di atas nakas dengan pikiran yang berputar mengenai apa yang editornya barusan katakan.
Hamil?
Mungkinkah?
Tidak ingin hanya menebak-nebak, akhirnya Adistya memutuskan untuk memesan ojek online menuju apotik, membeli beberapa alat tes kehamilan yang akan dirinya gunakan untuk membuktikan rasa penasarannya. Dan yah, hasilnya sesuai dengan apa yang di harapkan Adistya. Dua garis merah nyata tertera di tiga testpack berbeda yang digunakannya.
Saking bahagianya, Adistya dengan segera meraih ponselnya dan menghubungi nomor sang suami untuk memberitahukan kabar gembira ini, namun sayang, nomor yang ditujunya tidak sedang bisa di hubungi.
Adistya kemudian menatap jam di dinding kamarnya. baru menunjukan pukul sepuluh lewat dua puluh lima menit, itu artinya Gavril masih berada dalam pesawat. Seketika Adistya merutuki kebodohannya sendiri.
“Saking bahagianya, sampai lupa kalau laki gue belum balik dari luar kota.” Adistya menepuk jidatnya sendiri, lalu menggelengkan kepala dengan senyum yang belum juga surut di bibirnya. Terlalu senang dengan kabar kehamilannya yang sejak berkunjung ke rumah mertua menjadi pertanyaan ibu dari laki-laki yang dinikahinya kurang dari satu tahun ini.
“Kasih tahu Ayah sama Mama April sekarang gak ya,” Adistya duduk bimbang di tepi ranjangnya. Menimbang-nimbang untuk menghubungi sang ayah dan mertuanya atau tidak. Namun beberapa menit kemudian Adistya menggelengkan kepala, dan beberapa detik setelahnya kembali mengotak atik ponsel di tangan sebelum kembali berhenti dan menggeleng lagi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak memberi tahu siapapun dulu untuk saat ini. Adistya ingin suaminya lah yang tahu lebih awal.
Dan karena ketidak sabarannya itulah, Adistya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit tempat sang suami bekerja, sekaligus rumah sakit milik mertuanya. Ia memutuskan untuk menunggu Gavril di sana, karena jika menunggu laki-laki itu pulang ke rumah, Adistya tidak yakin bisa.
Keinginannya untuk memberi tahu Gavril mengenai kehamilannya sudah tidak dapat di tahan lagi, dan Adistya sudah tidak sabar melihat respons suaminya. Akankah suaminya itu menangis terharu? Atau malah berteriak kegirangan dan langsung memeluknya erat? Ah, membayangkan itu malah membuat Adistya semakin tak sabar untuk segera bertemu dengan sang suami tercinta.
Beberapa perawat dan juga dokter yang tahu bahwa Adistya adalah istri Gavril menyapa dengan senyum ramah yang tentu saja Adistya balas tak kalah ramahnya, apalagi kini tengah dalam suasana yang benar-benar bahagia. Adistya tidak mungkin untuk tidak membaginya dengan orang lain.
Namun nyatanya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena begitu tiba di ruangan Gavril, senyum yang sejak tadi berkembang dengan cepat hilang tak kala di hadapannya kini Adistya mendapati suaminya tengah berpelukan dengan perempuan yang entah siapa. Membuat Adistya terkejut dan mundur perlahan untuk mencari pegangan, tidak kuat menahan tubuhnya yang melemas dengan sesak di dada yang menyiksa.
Adistya mengerutkan keningnya tak paham. “Maksud lo?”
“Lo gak tahu perempuan itu?” Adistya menggeleng polos. Byanca berdecak pelan seraya memutar bola matanya. “Gue jadi curiga, kalau Gavril memang gak benar-benar cinta sama lo,” cibirnya yang membuat Adistya mendelik tajam. “Buktinya dia gak cerita mengenai Rania sama lo,” Byanca menunjuk pintu ruangan Gavril yang sedikit terbuka dengan dagunya.
“Kurang jelas apa yang Gavril sampaikan di acara reuni malam itu?”
“Cih, mulut bisa berkata dan tatapan mata mampu memanipulasi. Hal seperti itu Aktor juga bisa lakuin. Mungkin Gavril memang udah gak cinta gue, tapi siapa yang tahu perasaannya terhadap Rania, perempuan yang beberapa tahun lalu hampir Gavril nikahi, tapi tiba-tiba dia menghilang tanpa sebab. Dan kini dia kembali. Apa lo yakin bahwa mereka tidak akan kembali? Lo bisa nilai sendiri 'kan betapa kedua orang itu saling merindukan? Adistya, lo terlalu polos untuk mengartikan perasaannya. Dan pada akhirnya lo tetap tidak bisa mendapatkan hati Gavril seutuhnya walau status lo adalah istrinya.”
Setelah mengucapkan itu, Byanca pergi meninggalkan Adistya seorang diri dengan berbagai pikiran di dalam kepalanya. Hingga kemudian pintu ruangan Gavril terbuka dan sepasang manusia yang tadi tengah berpelukan itu keluar secara bersamaan.
Adistya dapat melihat keterkejutan di wajah Gavril, tapi laki-laki itu langsung menyembunyikannya begitu perempuan cantik di sampingnya bertanya, “Kamu punya pasien hari ini, Vril?” dan gelengan kepala menjadi jawaban yang pria itu berikan.
“Bagus deh, karena aku pengen ajak kamu ke restoran yang dulu sering kita kunjungi, aku kangen makanan di sana. Kamu mau kan temenin aku? Sekalian kita makan siang,” kata perempuan yang Adistya tebak sebagai Rania. Gavril mengangguk tak yakin, tatapannya masih tertuju pada Adistya, begitupun dengan tatapan Adistya yang meminta penjelasan.
Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Gavril, membuat Adistya kecewa. Padahal ia berharap bahwa pria itu akan meraihnya dan mengenalkan pada perempuan itu, bahwa ia adalah istrinya.
Namun, sayangnya Gavril malah justru melangkah pergi bersama perempuan itu, mengabaikan Adistya seperti layaknya orang yang tak saling kenal. Sakit. Itu yang kini Adistya rasakan, hingga tanpa sadar air matanya mengalir sambil menatap nanar punggung Gavril yang semakin menjauh dari pandangannya.
...***...
Sambil menangis, Adistya menatap nanar ketiga tes kehamilan yang menunjukkan garis dua di tangannya. Kabar gembira yang semula dikiranya akan membahagiakan nyatanya malah berakhir pilu. Gavril mengecewakannya, dan kini entah dimana pria itu berada.
Tidak ada satu pun pesan yang mampir di ponsel Adistya, padahal sejak tadi ia berharap akan ada penjelasan yang suaminya itu berikan. Tapi nyatanya hingga pukul sebelas malam pun sosok yang dirindukannya itu belum juga menunjukkan tanda-tanda kepulangannya.
Selintas ucapan Byanca siang tadi kembali terngiang di telinga Adistya mengenai sosok cantik Rania yang katanya dulu sempat akan menikah dengan Gavril. Entah ia harus percaya atau tidak, tapi kemungkinan itu bisa saja benar mengingat bagaimana Gavril memandang perempuan cantik yang bersamanya. Tatapan itu seolah mengatakan bahwa Gavril begitu merindukan sosok Rania. Bahkan mungkin saja laki-laki itu masih mencintainya.
Lalu bagaimana dengan Adistya? Bagaimana dengan ucapan pria itu yang katanya tidak akan mengecewakannya, yang katanya akan membahagiakannya, yang katanya tidak akan pernah menyakitinya. Lalu sekarang ... bukankah Gavril berhasil menyakitinya, berhasil mengecewakannya? Apalagi saat dengan teganya pria itu pergi begitu saja meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.
Inginnya Adistya hanya sekedar salah paham, inginnya ia hanya terlalu banyak berpikir, namun sayangnya Gavril tidak berusaha menghubungi, pria itu tidak berusaha menjelaskan dan memberinya pengertian, membuat Adistya ingin sekali tertawa, tapi ia sadar bahwa kenyataan tidak selucu itu, karena nyatanya ini benar-benar menyakitkan.
Janji yang beberapa waktu lalu Gavril ucapkan nyatanya hanya sebuah bualan, bodohnya Adistya kembali tertipu, bodohnya Adistya percaya akan cinta yang selalu saja menyiksa.
Terluka dan kecewa, haruskah terus Adistya dapatkan? Haruskah terus ia korbankan hati dan perasaannya pada sosok yang selalu saja memberinya kesakitan?
Tuhan, haruskah aku bertahan pada sakit yang membayang karena luka yang semakin menggores dalam?
***
See you next part !!!