Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
Bonus Chapter



Selamat Membaca !!!


***


“Ayah!!” teriak Gavin saat dengan jahilnya Gavril merebut balon pelampung yang hendak digunakan untuk berenang.


“Kamu sudah besar, Vin. Cobalah berenang tanpa balon ini,” Gavril melempar balon pelampung itu jauh dari sang putra, membuat bocah itu cemberut dan menghentakan kakinya kesal. Tapi Gavril tidak menghiraukan, memilih untuk menarik anaknya itu masuk ke dalam kolam dan membimbingnya untuk berenang.


Awalnya Gavin kesulitan, tapi setelah terus berusaha mencoba menggerakan kedua kakinya untuk menyeimbangkan diri di atas air, barulah bocah itu berseru senang dan meminta sang ayah untuk menariknya lebih cepat. Namun Gavril malah justru melepaskan pegangannya, membiarkan anaknya itu bergerak seorang diri di atas air, dan ulahnya itu membuat Gavin hampir saja tenggelam karena merasa belum siap di lepaskan. Tapi Gavril justru membiarkannya, memilih untuk menuntun sang putra lewat ucapannya untuk menggerakkan tangan dan kakinya, mendongakkan kepala dan menjaga keseimbangannya.


Meski sedikit kesulitan, Gavin tetap mengikuti instruksi ayahnya itu, hingga tak lama kemudian Gavin bisa mengambang di atas air dan bergerak sedikit demi sedikit, masih dalam pengawasan dan instruksi laki-laki dewasa, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Guru super tega yang membiarkan anaknya tenggelam berkali-kali. Untung dirinya sudah lebih dulu diajarkan mengenai cara bernapas di dalam air. Kalau belum … bisa-bisa ia mengambang kaku sekarang.


“Berenangnya udahan, Vin,” Adistya datang dari arah dalam rumah dengan handuk di tangannya, meminta untuk putranya itu naik.


“Bentar lagi, Bun, aku baru bisa berenang sendiri nih,” tolak bocah itu yang kembali menggerakkan tangan dan kakinya, berenang kembali ke tengah kolam.


“Besok lagi aja, sekarang udahan, bibir kamu udah pucat itu.” Nada cemas Adistya coba sembunyikan. Sebagai ibu ia baner-benar khawatir pada sang putra. Tidak ingin anaknya itu kembali sakit.


“Gavin aja nih yang di suruh naik, aku enggak?” Gavril yang tubuhnya masih berada di dalam air menatap sang istri dengan raut wajah yang dibuat seolah terluka karena tidak ikut dicemaskan.


“Kamu bukan anak kecil, daya tahan tubuhnya lebih kuat, dan aku yakin jika kamu sudah bosan juga akan naik dengan sendirinya,” kata Adistya lalu kembali fokus pada putranya dan menyuruh bocah itu untuk naik dengan tatapan mengancamnya, membuat mau tak mau Gavin akhirnya menurut dan menerima handuk dari sang bunda, setelahnya meneguk susu hangat yang sudah wanita cantik yang di sayanginya itu siapkan.


“Langsung mandi pakai air hangat Vin, setelah itu kita ke rumah Uncle Seno, jenguk dede bayinya.” Gavin hanya menjawab lewat anggukan karena mulutnya terhalang gelas yang isinya belum tandas.


“Kamu mau ikut atau masih mau berenang?” Adistya beralih menatap sang suami yang masih bertahan di dalam air.


“Memangnya kamu yakin aku bakal ngijinin kamu pergi tanpa aku?” sebelah alis Gavril terangkat menatap istrinya itu.


“Kalau begitu cepat naik, kenapa masih betah disana?”


Tanpa menjawab apa pun lagi, Gavril berjalan menuju tepi dan meraih tangan istrinya yang hendak melangkah pergi, membuat tubuh Adistya terhuyung dan jatuh ke kolam.


Byurr …


“Gavril!!!” teriak kesal Adistya.


Laki-laki itu hanya tertawa puas dan segera mengambil langkah naik dari kolam, meninggalkan Adistya dengan kekesalahnya. Tapi Gavril tidak benar-benar meninggalkan wanita itu, ia hanya pergi untuk mengambilkan handuk dan memberikannya pada sang istri tercinta yang saat ini masih melayangkan tatapan kesal dengan wajah merah menahan emosinya.


“Maaf Sayang,” Gavril berucap lalu melayangkan satu kecupan di bibir istrinya itu. “Kamu makin menggemaskan kalau lagi kesal gitu, aku suka,” tambahnya mengerling nakal.


“Awas kamu, Gav!” tunjuknya dengan wajah mengancam.


“Awas apa sayang? Aku siap kok nanti malam,” ujarnya menggoda. “Atau mau sekarang aja? Disana,” tunjuknya pada kolam yang airnya mulai kembali tenang.


Delikan Adistya semakin tajam dan wajah wanita itu semakin memerah, antara marah, kesal dan malu. Membuat Gavril gemas dan tidak lagi bisa menahan dirinya, hingga sebuah ******* langsung menyambar bibir tipis Adistya, dan kedua tangannya meremas gundukan kenyal yang mencetak jelas di baik kaus over size basah yang dikenakan istrinya.


“Eunghh, kamu menggoda sayang,” bisik Gavril.


****


Gavin menatap lekat bayi mungil di depannya, bayi merah yang baru saja di lahirkan tiga hari yang lalu itu mencuri seluruh perhatian Gavin hingga membuatnya bisa bertahan lama hanya untuk memandanginya. Mengabaikan orang-orang di sekelilingnya yang heboh mengobrol dan para anak sibuk bermain. Gavin hanya duduk diam, lalu beberapa menit kemudian berjalan menghampiri bundanya yang masih mengobrol dengan teman-temannya yang juga datang untuk menjenguk, tidak lupa si ibu baru yang baru saja melahirkan duduk bersampingan dengan Adistya dan Seno. Sementara para orang tua memilih untuk duduk di teras depan sambil menikmati kudapan dan teh.


“Bunda, Gavin mau punya bayi lucu juga,” ucapan Gavin tersebut mengambil alih perhatian semua orang yang ada di ruang tengah, terlebih Gavril yang sejak tadi memang duduk di samping istrinya, merangkul Adistya posesif.


“Gavin mau punya adik?” Gavril yang bertanya, dan bocah itu mengangguk polos. Seringai di bibir Gavril muncul, lalu menatap istrinya dengan tatapan mesum yang Adistya benci, karena jika sudah seperti ini, maka siap-siap saja keesokan harinya ia tidak bisa berjalan dengan normal. Dan semua itu karena ulah Gavril dan nafsunya. Laki-laki itu benar-benar melampiaskan gairahnya yang terpendam selama tujuh tahun mereka bercerai.


Adistya sendiri tidak percaya akan hal itu mengigat Gavril pernah kembali menikah setelah perceraian mereka, tapi Gavril menjelaskan bahwa pria itu tidak pernah berhubungan intim dengan Rania selama pernikahan mereka. Salah satu alasannya karena saat itu Gavril masih dibayangi rasa bersalah terhadap Adistya hingga tidak adanya gairah untuk melakukan hubungan suami istri, dan alasan yang kedua, Rania yang lebih dulu sakit membuat Gavril tidak mungkin melakukan hal seperti itu karena fokusnya pada kesembuhan Rania. Hingga kemudian Tuhan lebih memilih untuk mengambil nyawa wanita itu sebelum Gavril sempat menjadi suami yang sesungguhnya untuk perempuan yang nikahinya. Dan sekarang, Adistya-lah yang menjadi korban nafsu Gavril yang besar itu. Untungnya mereka sudah menikah, jadi sah-sah saja untuk melakukannya kapanpun.


“Gak usah macam-macam!” sinis Adistya mendorong tubuh suaminya agar menjauh.


“Aku gak macam-macam, Yank. Cuma satu macam aja, ngasih adik buat Gavin,” dengan tanpa bersalahnya, Gavril kembali menggeser duduknya semakin dekat pada sang istri, tatapan mesumnya masih juga tidak hilang, dan Adistya semakin was-was saat melihat wajah Gavril semakin mendekat. Pria itu seolah lupa bahwa masih banyak orang yang ada di sana.


“Gavril,” cicit Adistya pelan.


“Apa sayang?” Gavril semakin dekat, bahkan napasnya sudah bisa Adistya rasakan di permukaan wajahnya.


Bruk.


“Mesum tahu tempat dong lo,” dengus Seno yang berhasil mendorong jatuh Gavril dari atas sofa. 


“Shhh, sialan lo, No!” ringis Gavril lalu bangkit dari terjatuhnya dan kembali duduk di samping sang istri, Gavin sendiri sudah berada dalam pangkuan Seno entah sejak kapan yang jelas mata bocah itu sudah di tutup oleh tangan besar Seno. “Lagian siapa juga yang mau mesum, gue cuma suka aja godain Adis, wajahnya lucu kalau udah merasa terpojok. Gemes!” ujarnya menguyel pipi merah Adistya.


“Tuh, Mas contoh Gavril,” kata Azura tiba-tiba. “Belajar ngegoda, Mas, jangan aku mulu yang godain kamu. Mending kalau dapat bayaran, ini malah ditinggal paginya. Di kira aku cewek apaan,” dengusnya memutar bola mata.


Haris yang berada tepat di samping wanita cantik itu melayangkan tatapan tajamnya, tapi tidak sama sekali Azura merasa takut. Wanita tiga anak itu malah justru mengedipkan matanya genit lalu menyambar bibir suami tampannya, menciumnya singkat karena masih ingat berada dimana mereka sekarang.


“Kamu gak cukup dengan godaanku selama ini memangnya?” tanya haris pada sang istri.


“Ya mana cukup. Kamu ngegodanya pake wajah datar, Cuma tangan aja merayap ke mana-mana, meskipun ya itu cukup buat aku merem melek, sih,” ucapnya seraya mengerling nakal. “Tapi setidaknya wajahnya di perbarui gitu, ekspresinya di banyakin kayak Gavril, biar gak membosankan,” tambah Azura.


“Astaga-astaga-astaga! Gavin, lebih baik kamu main sama yang lain ya, jangan disini, bahaya, uncle takut otak kamu yang polos ini ternodai oleh mulut-mulut kotor manusia dewasa tidak berakhlak itu,” Seno secepatnya bangkit dari duduk, membawa Gavin dalam gendongannya, menjauhkan bocah itu dari ruang tengah.


Adistya menoleh, matanya mengikuti langkah Seno yang perlahan menghilang di balik tembok, lalu melayangkan tatapan tajam pada suami dan sahabatnya yang kadar mesumnya sama. Tapi untungnya mereka tidak saling tertarik satu sama lain, bisa bahaya jika sampai itu terjadi.


“Jaga ucapannya kalau di depan anak-anak,” delik Adistya pada Gavril dan Azura lalu bangkit dari duduknya, menyusul Gavin.


“Yank, mau ke mana?” Gavril sedikit berteriak.


“Cuci otak, biar gak terkontraminasi,” balas Adistya berteriak pula, hingga menimbulkan tangis seorang bayi mungil yang ada di kamar tak jauh dari ruang tengah tempat mereka berkumpul, dan kali ini si ibu baru itulah yang meninggalkan sofa. Menyisakan Azura, Elma, Gavril, Haris, dan Fikri. Kelimanya saling menoleh, lalu memilih dengan aktivitas masing-masing, sementara Gavril memilih untuk bangkit dan menyusul istrinya, ia ingin membicarakan mengenai rencana pembuatan adik untuk Gavin yang sudah meminta.


*****