
Selamat Membaca!!!
***
Adistya dan Gavril pulang lebih awal dari hotel tempat mereka menginap semalam. Lagi pula mereka tidak membutuhkan kamar hotel dengan suasana romantis seperti yang di siapkan orang tuanya karena mereka bukanlah sepasang pengantin yang saling mencintai.
Menginap di hotel hanyalah buang-buang uang dan Adistya tidak menyukai itu. Begitupun dengan Gavril. Laki-laki itu juga tidak menginginkan kembali satu kamar dengan perempuan yang baru kemarin dinikahinya, selain tak nyaman tidur di sofa sempit, Gavril pun malas jika harus terus-terusan menatap wajah menyebalkan Adistya yang selalu sibuk dengan ponselnya. Dan pulang adalah keputusan yang terbaik, dengan rencana Gavril yang akan langsung mengajak istri itu ke rumah miliknya sendiri yang sudah ia bangun beberapa tahun lalu.
Selesai mengemas barang-barangnya, Adistya kembali turun dari kamar dengan koper yang cukup besar. Melihat sang istri yang kesusahan, Gavril membantu wanita itu mengingat di rumah ini masih ada sang ayah mertua juga adik iparnya. Tentu saja Gavril tidak ingin di cap sebagai menantu yang tidak baik juga tidak pengertian, jadilah ia membawakan koper itu hingga memasukannya ke dalam bagasi.
“Ayah, Gavril mohon restunya untuk membawa Adistya tinggal bersama Gavril.” Izinnya menyalami punggung tangan sang mertua. Satya mengangguk dan menepuk pelan pundak menantunya itu beberapa kali.
“Tolong jaga putri Ayah dengan baik, Nak. Sayangi dia, dan bimbing dia untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan segan tegur dia saat istrimu melakukan kesalahan, tapi Ayah minta satu hal sama kamu, tolong jangan pernah kasari istrimu.”
“Baik Ayah, Gavril janji akan jaga istri Gavril dengan baik. Ayah tidak perlu khawatir.”
“Ayah percaya sama kamu, Nak.” Kembali Satya menepuk pundak menantunya itu, kemudian menoleh pada sang putri yang berdiri di sampingnya, memeluk, kemudian melayangkan kecupan singkat di kening putri satu-satunya itu. “Jadi istri yang baik untuk suami kamu, ingat jangan banyak membantah!”
“Iya Ayah.” Hanya itu yang menjadi jawaban Adistya dan di akhiri dengan kecupan singkat di pipi sang ayah. “Sen, lo jaga Ayah dengan baik, jangan pacaran mulu!” ujar Adistya pada adik semata wayangnya dengan nada penuh ancaman.
“Selama ini gue selalu jaga Ayah, gak seperti lo yang selalu nyusahin,” balas Seno membuat Adistya mendelik sebelum kemudian meninggalkan kedua orang tersayangnya menaiki mobil Gavril dengan perasaan berat, juga penyesalan yang tiba-tiba hinggap di hatinya, mengingat bahwa dirinya telah membohongi semua orang dengan pernikahannya ini. Meskipun diantara Gavril dan dirinya tidak mencantumkan batas maksimal pernikahan mereka, tetap saja Adistya tidak yakin bahwa rumah tangganya akan bertahan lama.
...***...
“Kamar gue dimana?” tanya Adistya begitu sampai di rumah Gavril.
“Di atas, pintu warna putih sebelah kanan, depannya kamar gue yang pintu warna coklat.” Gavril memberitahu seraya melangkah menuju dapur, tanpa sama sekali berniat membantu Adistya membawa barang-barangnya menuju kamar. Sialan memang.
Dengan susah payah, Adistya membawa koper besar berisi pakaiannya menaiki satu per satu undakan tangga. Setelah berhasil sampai di atas, ia kembali turun dan membawa koper satunya yang sedikit lebih kecil berisi barang-barang pentingnya termasuk laptop, teman setianya menghabiskan waktu untuk berimajinasi.
“Harus sering-sering olahraga kayaknya gue. Gila aja bawa barang segini doang pinggang gue sampai sakit,” menyeka peluh di pelipisnya, Adistya kemudian melakukan peregangan pada pinggangnya setelah itu menjatuhkan diri di empuknya ranjang berseprai putih.
“Akan jadi apa rumah tangga gue nanti,” gumam Adistya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Bunda, Tya minta maaf karena telah mempermainkan pernikahan yang sakral ini, tidak ada sedikit pun niatan untuk itu, hanya saja Tya tidak ingin semakin terluka lebih dari dulu yang di sebabkan oleh laki-laki yang sama.”
“Harus beli meja kerja kayaknya gue,” Adistya mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu saat menatap sekeliling kamarnya yang kini sudah terisi oleh barang-barang yang ia ambil dari kamarnya terdahulu.
Duduk di tepian ranjang, Adistya kini mulai menjelajahi online shop untuk mencari meja kerja yang setidaknya cocok dengan seleranya dan setelah itu ia dapatkan barulah Adistya melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat. Dan saking sibuknya berbenah, Adistya sampai melupakan bahwa dirinya belum memasukan apa pun ke dalam perutnya, bahkan air mineral sekalipun.
“Untung gue gak sampai mati karena dehidrasi,” berdecak kesal Adistya kemudian keluar dari kamarnya melangkah menuju dapur, mencari apa saja yang bisa dirinya masak untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
Senyum Adistya terbit begitu mendapati mie instan di kabinet dapur milik Gavril, lalu keberadaan telur dan beberapa sayuran yang masih sedikit segar menambah senyum di bibir tipisnya yang saat ini langsung berkutat mengolah mie instan itu menjadi makanan yang paling nikmat.
“Gav, gue pinjam mie instan sama telurnya, besok gue ganti.” Berteriak sekencang yang dirinya bisa, Adistya berharap bahwa sang tuan rumah dapat mendengarnya.
Tak membutuhkan waktu lama untuk mie yang di masaknya matang, karena kini makanan yang kurang menyehatkan itu sudah dapat Adistya nikmati.
“Ck, lo minta izin begitu mie-nya mateng, sengaja banget kayaknya!” delik Gavril yang tiba-tiba saja datang mengejutkan Adistya, dan membuatnya tersedak hingga wajahnya memerah karena rasa pedas dari cabe yang ditambahkannya ke dalam mie membuat tenggorokannya benar-benar perih. Dan sialnya, si pelaku hanya diam tanpa berniat membantunya. Gavril masih saja menjadi pria jahat setelah beberapa tahun berlalu.
“Hampir aja gue mati karena tersedak, sialan emang lo jadi manusia! Bukannya bantu malah bengong. Kalau barusan gue sampai mati, gak akan segan-segan gue hantuin sampai lo gila dan mati!” jengkel Adistya melayangkan tatapan membunuhnya.
“Kalau gitu, gue nyesel karena gak bikin lo mati,” ujarnya dengan tenang, menambah kekesalan Adistya.
Tak lagi menanggapi, Adistya memilih melahap kembali mie-nya yang masih sisa setengah mangkuk, meski dalam hati Adistya tetap menggerutu. Masa bodo dengan keberadaan mahkluk kejam bernama Gavril yang saat ini duduk di kursi seberangnya dengan secangkir kopi yang baru saja laki-laki itu buat.
Seolah tak saling mengenal dan tak saling melihat keberadaan masing-masing, Adistya melangkah menuju wastafel dan mencuci piring serta panci bekas dirinya gunakan, setelah itu melangkah meninggalkan dapur dan si tuan rumah yang masih duduk di tempatnya.
Merebahkan tubuhnya di kasur yang seprainya sudah dirinya ganti dengan warna merah muda kesukaannya, pikiran Adistya berkecamuk memikirkan nasib pernikahannya hingga satu minggu ke depan, karena untuk memikirkan terlalu jauh dari itu Adistya belum yakin dan mungkin tidak ingin memikirkannya. Baru satu hari saja sudah membuat Adistya ingin pergi dan berharap tidak lagi bertemu dengan pria semacam Gavril.
“Kenapa gue harus punya laki kayak dia Tuhan! Apa mungkin stok pria baik sudah punah?”
****
See you next chap!!!