
Happy Reading!!!
***
“Bosan ya nunggu aku?” Gavril menarik kepalanya dari leher Adistya dan meletakkannya di bahu sempit sang istri setelah meninggalkan satu kecupan di dekat telinganya.
Adistya menggelengkan kepala, tidak sama sekali meras bosan menunggu pria itu, karena selain tempatnya nyaman asal ada buku bacaan, maka kebosanan itu akan hilang. Apalagi mengingat Adistya adalah seorang penulis yang mana sendiri dan termenung dalam suasana sepi sudah menjadi sarapan sehari-harinya.
Kesunyian bukan hal yang membosankan bagi seorang penulis karena nyatanya sepi bisa membuat pikirannya bergerak lebih leluasa untuk menjelajahi dunia perhaluan untuk bahan tulisan.
Sama halnya dengan Adistya yang sejak tadi sudah menyusun berbagai ide untuk kelanjutan naskah novelnya yang belum selesai. Dan itu semua tersimpan apik di dalam kepalanya, tinggal ia rangkai dan ketik di dalam komputer kesayangannya yang selama ini menjadi kekasih setianya.
“Sudah selesai kerjanya?” di tengah usahanya menahan perasaan asing yang bergelenyar aneh dalam tubuhnya, Adistya bertanya sedikit gugup.
Meskipun kontak fisik sudah sering belakangan ini mereka lakukan, tetap saja Adistya masih merasa kaku dan belum terbiasa.
Sungguh, dirinya bukanlah perempuan suci dan polos yang tidak pernah melakukan pelukan dan ciuman selama pacaran, tapi tentu saja tidak pernah ada yang seintim ini dalam memeluknya. Gavril adalah yang pertama. Wajar bukan jika dirinya masih merasa sedikit tak nyaman?
“Heem,” jawab Gavril singkat, kemudian melepaskan pelukannya dan berjalan sedikit untuk duduk di samping Adistya yang sejak tadi meluruskan kakinya di sofa hitam Gavril hingga menampilkan kaki jenjang putih mulusnya karena saat ini perempuan itu menggunakan dress floral sebatas lutut lengan panjang berwarna hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya. Dan Adistya yang sadar bahwa suaminya akan duduk segera menurunkan kakinya, lalu menyimpan buku yang sejak tadi di bacanya ke atas meja.
Sebagai istri yang sedang belajar menjadi baik dan layak, Adistya berusaha untuk tidak mengabaikan Gavril, apalagi laki-laki itu tengah lelah sehabis bekerja.
“Mau minum?” Adistya hendak bangkit dari duduknya, tapi dengan cepat Gavril tahan, menggelengkan kepala tanda bahwa dia tidak memerlukan itu. Membuat Adistya akhirnya mengurungkan niatnya.
“Sebelum ke kedai bakso, aku istirahat dulu gak apa-apa ‘kan?”
Menggeleng adalah jawaban yang Adistya berikan, ia begitu paham dengan rasa lelah suaminya.
Karena pengertian istrinya itulah Gavril melayangkan kecupan singkat di pipi Adistya sebagai ungkapan terima kasih sebelum kemudian membaringkan tubuhnya di sofa dengan paha istrinya menjadi bantalan. Favorit Gavril belakangan ini.
Gavril mulai memejamkan matanya begitu elusan lembut Gavril terima di kepalanya dari jemari lentik Adistya. Ini nyaman, dan membuat Gavril yang sedang dalam keadaan lelah menjadi rileks kembali.
Kini ia menyesal kenapa tidak dari awal menerima pernikahannya dengan Adistya, tidak mengutarakan permintaan maafnya sejak kembali bertemu, atau bahkan Gavril menyesal kenapa ia tidak berusaha menerima Adistya dari dulu. Karena setelah di rasa, kedekatannya dengan Adistya belakangan ini jauh lebih nyaman dari kedekatannya dengan perempuan lain yang selama ini Gavril kencani. Mungkinkah karena Adistya istrinya?
Entahlah, karena yang jelas saat ini Gavril iri pada laki-laki yang pernah berada di sisi Adistya.
“Dis, kamu punya mantan?”
Elusan tangan Adistya terhenti dengan kening mengerut bingung mengenai pertanyaan yang Gavril layangkan tiba-tiba. Namun Adistya tetap memberikan angukannya sebagai jawaban dan itu sukses membuat wajah Gavril yang semula tenang jadi menegang.
“Kenapa memangnya?” tanya Adistya dengan keheranannya.
Gavril tak lantas menjawab, pria itu malah justru kembali bertanya mengenai Adistya yang sudah move on atau belum, masih sering berkomunikasi atau tidak, hingga menanyakan perbandingan ketampanan dirinya dengan pria-pria yang pernah menjadi kekasih Adistya di masa lalu.
Ada apa sebenarnya dengan suaminya itu?
“Kenapa waktu itu kamu berhenti ngejar aku? Berhenti hubungi aku dan ganggu aku?”
Gavril mengubah posisinya jadi duduk, dan kali ini pertanyaannya tertuju pada masa lalu mereka yang sudah berusaha Adistya lupakan. Namun dari nadanya, Adistya dapat menangkap bahwa ada ketidak relaan.
Entahlah ia benar atau tidak dalam mengartikannya.
“Dan membiarkan hatiku terluka lebih parah, begitu maksud kamu?!” Adistya mendelik kesal dan membuang wajahnya agar tidak bersitatap dengan Gavril yang saat ini menatapnya seolah menuntut penjelasan.
Bukan karena malu, hanya saja mengingat masa lalu selalu saja membuat Adistya teringat akan kekejaman Gavril di masa SMA dulu. Hatinya masih selalu berteriak perih meskipun rasa cinta itu tidak mampu pergi dari tempatnya.
“Bukan gitu, tapi bisa aja kan kalau perasaan aku berubah saat itu, bisa aja kita pacaran setelahnya. Kamu tahu, aku mulai merasa kehilangan dengan tidak adanya pesan beruntun kamu sejak kejadian terakhir itu, tapi aku selalu menepisnya, menganggap bahwa itu hanya sekedar rasa bersalahku,” Gavril menarik senyum miris.
“Andai tidak di sibukkan dengan segala hal mengenai ujian, mungkin aku akan menghampirimu untuk meminta maaf. Tapi sayangnya aku tidak memiliki waktu itu, karena begitu ujian selesai aku malah kembali disibukkan dengan belajar untuk tes masuk Universitas kedokteran di Jerman.” Lanjutnya dengan suara yang berubah lirih dan penyesalan kembali membayang di kedua mata Gavril yang selalu saja membuat Adistya lemah, tidak tega.
Adistya menoleh, kemudian membingkai wajah sendu suaminya dengan kedua telapak tangannya lalu membubuhkan kecupan singkat di bibir tipis Gavril yang sedikit terkejut dengan tindakannya itu, karena selama hubungan mereka membaik, baru kali inilah Adistya berani mencium lebih dulu, meskipun ini terlalu singkat.
“Mulai saat ini tolong untuk tidak membahas masa lalu itu lagi,” pinta Adistya dengan raut wajah memohon. “Itu menyakitkan. Bukan hanya untukku, tapi juga kamu. Sekarang lebih baik saling memaafkan diri sendiri. Aku yang memaafkan kebodohanku, dan kamu memaafkan kekejamanmu. Lagi pula aku sudah memaafkan kamu jauh sebelum hari ini. Jadi, ayo kita lupakan masa lalu buruk itu, karena masih ada masa depan yang harus kita perjuangkan.”
Senyum tulus nan lembut yang Adistya sunggingkan sukses merambat pada Gavril yang juga ikut menyunggingkan senyumnya, sebelum kemudian tangan pria itu membingkai wajah cantik berlesung pipit milik Adistya. Menarik lembut wajah itu agar lebih dekat dengan wajahnya yang masih berada dalam tangkupan tangan Adistya, lalu melayangkan kecupan kecil di bibir tipis istrinya itu berkali-kali hingga akhirnya berubah menjadi ciuman dalam yang memabukkan.
Tangan Adistya yang semula menangkup wajah Gavril beralih melingkar di leher suaminya. Sementara Gavril menahan tengkuk Adistya untuk lebih memperdalam ciumannya, dan semakin lama semakin membuat suasana panas.
Lenguhan berkali-kali Adistya keluarkan, menambah semangat Gavril untuk terus mencumbunya. Dan jangan lupakan bahwa gairah pun sudah sangat membakar Gavril yang sudah lama menahan diri dari hasrat yang ingin di salurkan. Jadi, jangan salahkan jika sekarang ia menginginkan Adistya berada di bawahnya, dalam kukungan tubuhnya yang sudah berkeringat karena gejolak nafsu yang kian membara.
Adistya mendorong tubuh Gavril sekuat tenaga begitu di rasa pasokan udaranya sudah sangat menipis. Dengan napas yang sama-sama terengah, keduanya saling menatap dengan sorot yang sama-sama di selimuti kabut gairah, terlebih Gavril yang bahkan saat ini matanya menggelap dengan wajah memerah, membuktikan bahwa laki-laki itu sudah tidak sanggup lagi menahannya.
Adistya yang paham pun akhirnya memberikan anggukan walau tahu Gavril tidak sama sekali memintanya, tapi hanya lewat tatapan itu, Adistya tahu bahwa Gavril menginginkannya. Dan sebagai istri, Adistya sudah seharusnya memberikan hak Gavril sebagai suaminya. Terlebih mereka sudah menikah hampir lima bulan ini dan Gavril belum sekali pun menerima itu.
“Kamu yakin?” tanya Gavril memastikan. “Aku gak akan maksa, kok, kalau sekiranya kamu belum siap. Lagi pula aku sudah berjanji pada diriku sendiri, akan melakukan itu hanya ketika kamu sudah benar-benar menerimaku, sudah benar-benar percaya sama aku. Aku gak ma—”
Adistya yang tidak ingin lebih banyak mendengar suaminya bicara langsung membungkam Gavril dengan ciumannya yang berhasil kembali memancing gairah Gavril. Adistya tidak ingin laki-laki itu mengingatkan kembali akan masa lalu dan pernikahan yang beberapa bulan ini sulit dirinya terima, karena kini ia sudah yakin pada perasaannya, ia sudah bisa mengakui kembali hatinya yang selama ini berusaha ia tepis. Terlebih saat ini ia tahu bahwa Gavril sudah mencintainya. Tidak ada alasan untuk Adistya menunda malam pertama mereka lebih lama lagi. Karena setidaknya dengan ini Adistya bisa sepenuhnya mengklaim Gavril sebagai miliknya begitupun sebaliknya.
“Maaf sayang, tapi aku tidak bisa lagi berhenti,” Gavril berbisik di depan telinga Adistya seraya melayangkan kecupan-kecupan basahnya di area leher sang istri hingga lenguhan dan ******* itu semakin Adistya lantunkan, apalagi ketika tangan Gavril semakin berani naik dan menyentuh dada Adistya yang masih terbungkus rapat.
Ini benar-benar menegangkan untuk Adistya yang baru pertama kalinya merasakan sentuhan laki-laki seintens dan seintim ini, tapi tidak dapat di pungkiri bahwa Adistya menyukainya. Ia suka dengar gelenyar aneh di dalam tubuhnya, ia suka sensasi memabukan ini, terlebih ia bahagia karena yang menyentuhnya sedemikian dalam adalah laki-laki yang sejak dulu dicintainya. Dalam hati Adistya berharap bahwa ini semua bukanlah hanya sekedar mimpi, jika pun iya, ia berharap untuk tidak dibangunkan dari mimpi indahnya ini.
***
See you next part !!!