Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
23. Semakin Dekat



Selamat Membaca!!!


***


Adistya bangun dari tidur singkatnya, mengerjapkan mata dan menatap sekeliling yang terlihat asing baginya.


Untuk beberapa saat ia mengingat bagaimana bisa berada di tempat asing ini sampai bayangan panasnya dengan Gavril melintas di kepala, mereka ulang satu per satu kejadian yang di alaminya sore tadi hingga akhirnya tiba di kamar ini. 


Pintu yang semula Adistya sangka kamar mandi ternyata adalah sebuah kamar pribadi Gavril di ruang kerjanya. Kamar yang sengaja di buat untuk Gavril istirahat di saat pekerjaannya menumpuk dan terlalu malas untuk pulang ke rumah.


Adistya tentu saja baru tahu, karena bagaimanapun baru kali ini lah ia di ajak ke kantornya, yang juga menjadi tempat dimana malam pertama mereka lakukan. 


Mengingat itu kembali wajah Adistya langsung di serang rasa panas, malu, bahagia dan perasaan aneh lainnya bercampur aduk menjadi satu, membuatnya refleks menutup wajah menggunakan kedua tangannya sebelum kemudian tarikan lembut dirasakannya.


“Kamu kenapa?” suara lembut Gavril membuat seluruh tubuh Adistya menegang, tidak menyangka bahwa pria itu ternyata ada di dekatnya.


Astaga, malu banget! Teriak batin Adistya yang wajahnya semakin memanas, dan dapat di pastikan bahwa kini wajahnya sudah semerah tomat.


“Sayang,” panggil Gavril lagi masih dengan suara lembutnya. “Kamu kenapa?”


Dengan cepat Adistya menggelengkan kepalanya seraya membuang wajah ke arah samping, tidak ingin sampai Gavril melihat wajah memerahnya.


Sungguh Adistya begitu malu saat ini, apalagi begitu bayangan mengenai Gavril yang menatap tubuh polosnya beberapa jam yang lalu melintas di kepalanya. Astaga itu memalukan.


“Mau pulang apa nginep disini aja?” Gavril kembali melayangkan tanya saat tidak juga mendengar sahutan dari sang istri yang malah memilih menatap arah lain, padahal pemandangan di belakangnya lebih indah karena tentu saja ada wajah tampannya.


“Emang ini jam berapa?” Adistya akhirnya mengeluarkan suara, namun tidak juga berbalik menghadap Gavril yang senantiasa menunggu.


“Jam sepuluh,”


“What! Aw ….” Pekiknya, refleks bangun, di susul dengan ringisan begitu perih Adistya rasakan pada bagian bawahnya. Ia lupa bahwa beberapa jam yang lalu baru saja di koyak oleh sang suami tercinta. Sial.


“Sakit ya?” Gavril ikut meringis kecil seraya duduk menyusul istrinya. “Makanya bangunnya pelan-pelan aja, Yang,” tambahnya kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Adistya yang sepertinya tidak perempuan itu sadari. “Aku gendong ke kamar mandi mau, ya,”


Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Gavril langsung bangkit dan menggendong Adistya menuju kamar mandi yang masih berada di kamar ruang kerja pribadinya. Menurunkan Adistya dengan hati-hati lalu kembali keluar untuk memberi ruang pada sang istri membersihkan sekaligus merilekskan tubuhnya yang Gavril yakini pasti pegal-pegal akibat pertempurannya beberapa jam yang lalu.


Senyum bangga Gavril ukir ketika teringat bagaimana akhirnya ia berhasil memiliki Adistya sepenuhnya, istri yang sebelumnya tidak ia harapkan, namun kini berubah tak ingin kehilangan. 


...*****...


Hari-hari selanjutnya yang Adistya jalani terasa lebih berwarna, apalagi dengan sikap Gavril yang semakin lembut dan juga penyayang sejak kejadian malam dimana Adistya menyerahkan sepenuhnya atas dirinya kepada sang suami. Gavril memperlakukannya dengan begitu hati-hati dan penuh kasih sayang membuat Adistya tentu saja bahagia, dan bersyukur memiliki pria itu. 


Benci yang bertahun-tahun tertanam tidak lagi menyisakan ruang barang seinci pun. Adistya kini benar-benar tidak peduli laki-laki itu pernah mempermalukan dan menyakitinya sedalam itu di masa lalu, karena bagi Adistya yang terpenting adalah masa sekarang dan masa yang akan datang. Sama halnya dengan Gavril yang kini tengah berusaha menebus kesalahannya yang lalu, meskipun tidak Adistya minta tetap akan Gavril lakukan. Semampunya.


Adistya bangkit dari duduknya dan melangkah jengkel ke arah lemari untuk mengambil apa yang suaminya itu inginkan. Tingkat menyebalkan Gavril tidak sama sekali berubah, sungguh. Sejak dulu hingga sekarang masih saja pria tercintanya itu menyebalkan meskipun dalam konteks yang berbeda. 


“Kamu tuh kebiasaan banget tahu gak!” ujar Adistya seraya mengetuk pintu kamar mandi untuk menyerahkan handuk yang Gavril minta. “Aku udah berapa kali ingetin sih, kalau mau ke kamar mandi itu bawa handuk, Gavril!” lanjutnya menggeram gemas sekaligus kesal.


“Namanya juga lupa, Yank,” sahut Gavril, begitu membuka pintu kamar mandi dan meraih handuk di tangan Adistya. Namun bukan hanya handuknya saja yang pria itu tarik, tapi tangan Adistya pun ikut di tarik hingga membuat Adistya yang tidak sama sekali siap dan berpegangan ikut terseret hingga menyentuh dada basah suaminya. Tentu saja Adistya terkejut dan refleks melayangkan tangan kecilnya memukul dada telanjang sang suami menyebalkan yang malah menyunggingkan senyum tidak berdosanya.


“Aaaa ... Gavril pakai handuknya dulu!” teriak panik Adistya seraya mendorong Gavril dengan sekuat tenaga begitu sadar bahwa sang suami masih dalam keadaan polos.


Gavril terkekeh geli mendapati sikap panik berlebihan istrinya yang terkesan menggemaskan. Membuatnya sangat suka menggoda Adistya, yang walaupun sudah beberapa kali dibuat keenakan di bawahnya masih saja malu begitu melihat dirinya tidak mengenakan handuk, padahal setiap malam jemari lentiknya begitu nakal mengeksplor tubuh polos Gavril.


Ck, dasar perempuan.


“Udah pakai handuk, nih,” kata Gavril menarik lembut pundak istrinya yang kini membelakangi dengan wajah tertutup kedua telapak tangan. 


Helaan napas lega Adistya keluarkan begitu melihat Gavril yang memang sudah mengenakan handuknya, menyembunyikan sesuatu yang selalu saja mampu membuat Adistya memerah karena bayangannya selalu saja tertuju pada malam pertama yang mereka lakukan beberapa hari yang lalu. Meskipun malam-malam setelahnya juga kembali mereka melakukannya, tapi tetap saja bayangan malam pertama yang selalu Adistya ingat. Mungkin karena malam itu yang lebih berkesan, mengingat untuk pertama kalinya ia membiarkan seorang laki-laki menyentuhnya lebih jauh.


Adistya berjalan menuju lemari, mengambil pakaian yang akan Gavril kenakan hari ini. Laki-laki itu entah kenapa belakangan ini berubah jadi manja yang mendekati malas, apa-apa harus selalu dilayani, bahkan mandi saja Gavril meminta di mandikan. Tapi jelas saja Adistya tidak menyetujui untuk hal itu.


Ck, yang benar saja!


“Gav, besok aku mau ke rumah Ayah, boleh?” izin Adistya, menoleh pada sang suami yang baru saja selesai mengenakan pakaiannya.


“Gak mau sekarang aja?” 


“Emang boleh?” balik Adistya bertanya.


“Bolehlah, sekalian kita nginap di sana,” kata Gavril dengan senyum lembutnya.


“Maksud kamu?” satu alis Adistya terangkat, tanda tak paham dengan apa yang di maksud suaminya. 


“Kita pergi sama-sama. Semenjak menikah bukankah kita tidak pernah datang bersama? Lagi pula Ayah kamu pasti senang kalau kita nginap, besoknya kita nginap di rumah orang tuaku, gimana?” usul Gavril. Adistya menganggukkan kepala setelah beberapa saat berpikir. 


Benar apa yang dikatakan suami tampannya itu. Selama ini mereka tidak pernah datang bersama dengan alasan kalau Gavril sibuk setiap kali sang ayah menanyakan pria itu di saat Adistya datang berkunjung. Begitupun saat Adistya menemui mertuanya. Beruntunglah mereka memahami pekerjaan Gavril terlebih keluarga Gavril sendiri yang memang sudah lebih dulu merasakan berada di masa yang Gavril jalani saat ini. Apalagi mengingat Gavril yang memang bekerja dalam dua bidang sekaligus dengan tanggung jawab yang sama besarnya.


Berhubung sang suami mengajaknya datang sore ini kekediaman sang ayah, jadilah Adistya memilih untuk membatalkan niatnya menghabiskan sore dengan menulis, menyalurkan ide yang sudah menumpuk di kepalanya. Mendatangi ayahnya lebih penting untuk saat ini apalagi dengan Gavril yang mau menemaninya. 


Adistya pun tidak tega terus-terusan berbohong pada sang ayah mengenai ketidak hadiran Gavril setiap kali dirinya berkunjung. Adistya tidak ingin sampai ayahnya kepikiran ia tidak bahagia dengan pernikahannya ini, meskipun tidak dapat di pungkiri bahwa awalnya memang Adistya dan Gavril tidaklah berada dalam hubungan yang baik. Namun kali ini tentu saja sudah berbeda, Gavril sepenuhnya sudah menjadi miliknya, begitupun sebaliknya. Dan jangan lupakan bahwa suami yang semula tidak menginginkannya kini sudah berakhir mencintainya. Bukankah Adistya menang?


***


See you next part!!