
Happy Reading !
***
"Bagaimana kabar kalian?” tanya Satya begitu mempersilahkan anak menantunya duduk.
“Allhamdulilah baik, Yah,” Gavril menjawab dengan ramah. Membuat Satya mengulas senyum lega karena sebagai ayah, itulah yang dirinya harapkan. Anak dan menantunya baik-baik saja.
Obrolan kembali berlanjut hingga pada pekerjaan Gavril dan ketidakpandaian Adistya dalam hal mengurus rumah. Obrolan yang menjurus pada sindiran itu tentu saja membuat Adistya mengerucutkan bibirnya, namun tidak dengan Gavril, karena pria itu malah justru tertawa dan mengangguki setiap yang di ucapkan mertuanya mengenai Adistya yang malas mandi, tukang ngemil dan kebiasaan buruk lainnya yang belum Gavril ketahui selama hidup dengan perempuan itu beberapa bulan belakangan ini.
“Sekarang mandi paginya rajin ya, Yang,” bisik Gavril di depan telinga istri manisnya itu, dan cubitan kecil di terima Gavril tidak lama setelahnya.
Satya menyunggingkan senyum lega melihat binar di mata Gavril yang memancarkan cinta dan kasih sayang, juga bahagia yang terlihat di wajah putri satu-satunya. Dulu Satya sempat ragu dengan pernikahan anaknya. Tapi kini ia yakin bahwa pilihannya tidak salah, terlebih dirinya sudah mengetahui bahwa dulu putri dan menantunya itu saling mengenal di masa remaja. Meskipun tidak tahu jelas ada cerita apa antara keduanya.
“Seno mana, Yah?” tanya Adistya yang sejak tadi tidak melihat keberadaan sang adik yang sedikit dirinya rindukan. Meskipun kadang nyinyir dan menyebalkan, Adistya tetap saja menyayangi adik badungnya itu, yang saat kecil dulu selalu saja mengintilinya kemanapun Adistya pergi sampai kemudian tumbuh remaja dan merasa tidak lagi membutuhkan kakaknya.
“Main ke rumah pacarnya,” jawab Satya seadanya sambil menghembuskan napas berat, terlihat terbebani. “Coba kamu bujuk dia untuk menikah, Dis, Ayah malu sama keluarga pacarnya karena Seno tidak juga kunjung melamar padahal pacaran sudah bertahun-tahun.” Keluh Satya pada akhirnya.
Gavril hanya menyimak karena memang tidak sama sekali mengetahui mengenai adik iparnya itu. Sejak menikah mereka memang tidak pernah bertemu karena Gavril yang memang sibuk juga tidak berusaha mendekatkan diri.
“Seno belum yakin mungkin Yah sama pacarnya. Biarin aja, lagi pula Tya juga gak setuju kalau Seno nikah sama Tante-Tante itu,” ujar Adistya jujur.
Gavril langsung menoleh pada sang istri dengan alis yang naik sebelah seolah bertanya kesungguhan dari ucapan istrinya itu. Namun Adistya mengabaikannya.
“Tapi tetap saja, Ayah gak enak sama keluarganya Riska. Masa anaknya di pacari mulu, gak dinikah-nikahin. Lagi pula adik kamu itu nunggu apa sih, kamu kan juga sudah menikah,” kata Satya terdengar putus asa.
Memang, Seno dan Riska sudah pacaran lebih dari tiga tahun, dan belakangan ini Adistya dengar bahwa keluarga dari perempuan itu menanyakan kepastian Seno untuk menikahi putrinya. Sayang, Seno tidak juga memberikan keputusan.
Namun Adistya tahu bahwa adiknya itu pasti berpikir ulang untuk menikahi Riska yang selalu tampil full make up. Terlihat seperti tante-tante menurut Adistya, padahal usia Riska satu tahun di bawah Seno, tepatnya dua puluh empat tahun. Tapi jelas saja bukan dandanan yang menjadi persoalan. Ada alasan lain yang tentunya tidak Adistya tahu. Dan enggan dirinya ketahui.
“Seno nunggu hatinya yakin, Yah. Meskipun anak lelaki Ayah itu nyebelin dan badung, dia tetap saja ingin memiliki istri yang baik, cantik, mengerti dirinya dan yang jelas tidak banyak menuntut. Seno mungkin memang cinta mati sama Riska, tapi untuk menikahinya Seno belum seyakin itu, Yah. Ayah sabar aja, cepat atau lambat Seno pasti akan menikah, entah dengan Riska, atau perempuan lain. Yang jelas untuk saat ini biarin dulu aja dia dengan keputusannya sendiri. Tya yakin, Seno bisa menentukan yang terbaik untuk dirinya sendiri termasuk mengenai pasangan yang akan menemani sisa hidupnya.” Adistya berusaha menenangkan sang ayah yang terlihat sekali mencemaskan putra satu-satunya.
...*****...
“Kamu masak apa?” Adistya berjengit kaget saat sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya.
“Ngagetin tahu gak!” dengusnya membuat Gavril terkekeh pelan, namun sama sekali tidak merasa bersalah. Gavril memberikan satu kecupan di pipi sang istri yang masih sibuk berkutat dengan alat memasaknya.
“Gav, bisa minggir gak, aku lagi masak nih,” kata Adistya dengan nada jengkel karena aktivitas masaknya jadi terbatas oleh pelukan Gavril.
“Aku masih pengen peluk kamu, kangen,” ucap Gavril berbisik tepat di depan telinga Adistya, membuat wanita itu sedikit merinding karena hembusan napas Gavril menyentuh kulitnya, dan itu terasa benar-benar geli.
“Tapi aku risi, Gav,” Adistya berusaha melepaskan lilitan tangan suaminya, tapi tentu saja itu sulit karena Gavril begitu erat memeluknya. “Ck, lagian kangen apaan sih, kita tiap hari juga ketemu. Pisah juga baru beberapa menit, lebay deh.” Lanjutnya memutar bola mata malas.
“Jawabannya bukan gitu, Yank,”
Adistya mengerutkan kening tak paham. “Maksud kamu?”
“Aku lagi praktekin adegan di novel kamu yang baru rilis,” kata Gavril yang masih juga enggan melepaskan lilitan tangannya di pinggang istri tercintanya itu.
Dan karena ucapan Gavril itu sontak membuat wajah Adistya memerah seketika, ingat akan apa yang dirinya tulis dalam novelnya. Adegan mesra yang jika di ingat-ingat memang mirip dengan yang tengah Gavril lakukan saat ini. Dan sepertinya Adistya pun ingat jawaban yang di maksud Gavril barusan. ‘Kangen-kangenannya nanti ya, sekarang aku masak dulu untuk sarapan kita. Kamu mau kan duduk dulu sebentar, tunggu aku menyelesaikan masakanku.’ Seharusnya itulah jawaban yang benar, jawaban manis yang ada pada novel milik Adistya di saat pemeran laki-laki mengatakan apa yang seperti Gavril katakan barusan.
“Jadi ceritanya kamu pengen kayak cowok-cowok di novel?” tanya Adistya dengan raut geli. Gavril mengangguk polos.
“Kamu tahu, aku tidak menginginkan laki-laki seperti apa yang ada di cerita-cerita yang aku buat. Aku hanya ingin kamu, Gavril-ku, bukan laki-laki lain,” ujar Adistya dengan senyum lembut yang terukir dan tatapan lembut yang selalu saja membuat Gavril menyesal akan tindakannya dulu pada perempuan itu.
“Tapi bukannya seorang penulis itu selalu menyertakan isi hati dan keinginannya yang tidak bisa mereka ungkapkan secara langsung?” Adistya tersenyum mendengar tebakan suaminya.
“Memang, tapi tidak semuanya. Kisah nyata yang di angkat dalam sebuah novel maupun film juga tidak semua benar-benar nyata karena selalu ada sentuhan fiksi untuk membuat kisah itu terasa lebih manis. Sama halnya dengan cerita-cerita yang aku buat, tidak semua sesuai kriteriaku, tidak semuanya sesuai dengan keinginanku, tapi tidak sedikit dalam lembaran novelku adalah mimpiku, harapanku dan penyesalanku,” jelas Adistya panjang lebar yang di dengarkan seksama oleh Gavril yang belum juga melepaskan lilitan tangannya.
“Jadi apa memiliki suami romantis seperti apa yang ada di novel-novelmu termasuk keinginan kamu?” tanya Gavril dengan nada menggoda, namun ia benar-benar serius ingin mengetahui kriteria pria impian Adistya.
Adistya mengukir senyumnya, lalu menggelengkan kepala. “Aku hanya ingin suami yang apa adanya, yang tulus dan berusaha membahagiakan pasangannya dengan caranya sendiri tanpa meniru orang lain untuk terlihat lebih baik.”
‘Istrinya tidak sedang menyindirnya ‘kan, karena ia meniru adegan romantis salah satu tokoh di novel yang di tulis perempuan itu?’ tanya hati Gavril.
“Baiklah, aku akan menjadi diriku sendiri, menjadi suamimu yang akan membahagiakan kamu dengan caraku, menebus segala kesalahanku di masa lalu dengan sebisaku. Dan yang terpenting aku akan tetap mencintaimu hingga selamanya.”
“Ekhem!” deheman itu terdengar, mengejutkan Adistya dan Gavril yang masih belum juga mengubah posisinya.
Menoleh ke arah suara, Adistya meringis kecil saat mendapati sang ayah tengah berdiri di sisi meja makan, dan Seno bersandar di samping kulkas. Entah sejak kapan kedua laki-laki beda generasi itu berada di sana, karena Adistya maupun Gavril tidak sama sekali menyadari kedatangan kedua orang itu.
“Lemnya lengket banget ya, Bang?” sindir Seno pada Gavril yang tidak juga melepaskan pelukannya. Namun begitu paham akan maksud adiknya, Gavril melepaskan lilitan tangannya di pinggang sang istri kemudian menyengir dan menggaruk kepalanya salah tingkah, sementara Adistya menunduk malu, wajahnya menghangat dan sudah dapat di pastikan bahwa semburat merah sudah menghiasi pipinya.
Sumpah Adistya malu banget.
“Syirik aja kamu, No. Makanya nikah, No, biar bisa mesra-mesraan juga,” cibir sang ayah, membuat laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu mengerucutkan bibirnya, sedangkan Adistya memeletkan lidahnya mengejek.
“Dikira nikah itu gampang,” Seno mencebikkan bibirnya seraya membuka pintu kulkas dan mengambil air dingin untuk membasahi tenggorokannya sekaligus menyegarkan kepalanya yang mulai memanas.
“Nikah kan memang gampang, cuma perlu penghulu, saksi, mahar—"
“Calon pengantinnya yang sulit,” sela Seno cepat.
“Lah, kamu kan udah punya calon, Sen?” Satya menaikan sebelah alisnya tidak paham dengan maksud ucapan putranya.
“Udah bubar. Dia mau nikah bulan depan,” kata Seno dengan lesu.
“Mampus!” seru Adistya tanpa hati. “Coba dari dulu kalian pisah, gak akan sampai selama ini lo jagain jodoh orang,” tambahnya tidak sama sekali mau memahami perasaan Seno yang saat ini tengah di landa kegalauan karena di tinggal nikah oleh sang kekasih.
“Ty, lo gak paham,” cicit Seno lemah.
Semalam sejak pulang dari bertemu dengan Riska, Seno masih berusaha untuk tegar, menyimpan kegalauannya sendiri, tapi pagi ini Seno tidak lagi mampu menahan itu semua. Putusnya hubungan dengan Riska adalah sesuatu hal yang berat dan menyakitkan karena selama tiga tahun ini Seno berusaha bertahan walau berkali-kali perempuan itu mengecewakannya dengan berselingkuh.
Karena cinta seseorang kadang menjadi bodoh, dan kebodohan itu Seno alami sendiri.
“Gue paham, No! Dan itu alasan kenapa gue gak pernah suka sama cewek lo. Tapi sayangnya lo terlalu bodoh untuk tidak percaya dan mendengarkan kata-kata gue. Sekarang lo rasakan sendiri 'kan akibatnya? Selamat, No, gue ikut bahagia.”
Setelah mengatakan itu Adistya kembali disibukan dengan masakannya yang tertunda, sementara Seno menunduk dalam membenarkan ucapan sang kakak, dan Gavril serta Satya mengernyit tidak paham.
***
See you next chap 😉