Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
21. Makan Siang



Happy Reading!!!


***


"Nanti ke rumah sakit ya, bawain aku makan siang. Pengen banget sekali-kali lunch bareng kamu,” Gavril menatap penuh harap pada istri cantik di hadapannya.


“Hari ini aku ada janji sama Elma dan Azura, gimana kalau nanti kamu ke sana aja?” usul Adistya karena memang ia tidak bisa membatalkan janji dengan sahabat-sahabat pemaksanya itu. 


“Ya udah nanti aku ke sana, tapi selesai makan siang kamu harus ikut aku ke rumah sakit,”


“Ngapain?” tanya Adistya dengan sebelah alis terangkat.


“Temenin aku aja, nanti pulangnya aku ajak ke kedai bakso yang enak, gimana?” Gavril menaik turunkan alisnya mencoba bernegosiasi. Ia tahu betul bahwa Adistya adalah penggemar bakso garis keras, maka dapat di pastikan bahwa perempuan tercintanya itu tidak akan menolak.


“Oke, tapi awas aja kalau sampai baksonya gak enak!” ancam Adistya dengan tajam, membuat Gavril terkekeh dan menarik istrinya itu ke dalam pelukan sebelum kemudian masuk ke mobil dan melajukan kendaraannya meninggalkan pelataran rumah.


Hari semakin beranjak naik dan Gavril tidak ingin terlambat sampai di tempat kerjanya, karena dapat dipastikan bahwa pasiennya sudah menunggu dengan tak sabar.


Selama hampir empat tahun ini menjadi dokter bedah umum, Gavril sudah banyak di hadapkan dengan berbagai penyakit dan juga tingkah laku pasien yang kadang membuatnya harus ektra sabar dalam menghadapinya. Tapi sejauh ini, Gavril menyukai pekerjaannya itu. Pekerjaan yang mulia menurutnya, karena bisa membantu orang-orang yang berada dalam kondisi tak baik. Dan ia akan tersenyum ketika melihat pasiennya kembali sembuh seperti sedia kala. Karena sungguh, ada kebahagiaan tersendiri untuk itu. Namun sepertinya Gavril akan lebih bahagia jika berhasil menyembuhkan luka di hati istrinya yang dulu pernah ia torehkan dan tentu dirinya ketahui bahwa hingga sekarang pun luka itu masih ada walau tidak sedalam dulu mengingat kini hubungan mereka sudah berangsur membaik.


Hari ini Gavril jalani dengan lancar, memeriksa pasiennya dengan senyum terukir tulus yang membuat pasien-pasiennya tertular akan kebahagiaan sang dokter muda itu meski tidak tahu alasan sebenarnya.


Waktu yang biasanya Gavril rasakan berjalan normal kini malah terasa lebih cepat dan pasien yang di tanganinya pun berangsur surut, tidak sebanyak saat dia datang tadi. Dan ini membuat Gavril lega karena setidaknya makan siang bersama sang istri akan terjalin lebih santai.


“Sus, saya makan siang di luar. Nanti hubungi saja jika ada pasien yang gawat.” Pesan Gavril sebelum kemudian meninggalkan ruangannya, melangkah riang menuju parkiran dengan senyum mengembang bak remaja tengah kasmaran. 


Tidak butuh waktu lama untuk Gavril tiba di café Bintang milik sahabat dari istrinya, karena setengah jam kemudian ia sudah memarkirkan mobilnya di depan café yang terlihat begitu ramai di jam makan siang ini.


Jujur ini adalah kali pertama Gavril datang ke café ini, karena biasanya ia akan makan di ruangannya setelah meminta salah satu OB membelikan makanan yang ia inginkan atau makan di kantin rumah sakit bersama teman sejawatnya. 


Mungkin beberapa tahun yang lalu Gavril sering makan di luar, tapi tentu bukan café sederhana seperti sekarang ini. Tempat makan yang Gavril kunjungi tidak jauh-jauh dari restoran yang mana kebersihan dan kesehatannya terjamin walau porsinya sedikit dengan bayaran fantastik, mengingat saat itu Gavril berpacaran dengan seseorang yang begitu gila kebersihan dan amat menjaga berat badan idealnya, hingga porsi makan saja amat wanita itu perhatikan.


Ribet? Oh tentu saja, maka dari itu Gavril memilih mengakhiri hubungan mereka karena selain alasan itu, kekasihnya pun terlalu banyak menuntut dan Gavril sungguh tidak suka itu, di tambah dengan tidak adanya restu dari sang mama memperkuat Gavril untuk mengakhiri hubungannya. 


Adistya yang menyadari dirinya tengah di perhatikan segera menoleh, dan tatapannya langsung bertemu dengan Gavril yang tengah berjalan ke arahnya. Senyum di bibir Adistya terbit dan itu membuat Elma juga Azura ikut menoleh, bahkan Azura yang nyatanya pecinta pria tampan garis keras, melongo terpesona seakan lupa bahwa si tampan dengan tubuh atletis dan kulit putih mulusnya itu pernah membuat Adistya-nya terluka selama bertahun-tahun, akibat cinta yang di tolak mentah-mentah. Sementara Elma bersikap biasa saja karena wanita itu sudah mengenal Gavril sejak SMA dulu, dan selama itu ia tidak pernah sama sekali menyukai Gavril, terlebih setelah tahu kekejamannya terhadap sang sahabat.


“Hai,” sapa Gavril pada kedua sahabat istrinya dengan kikuk.


“Sini duduk,” titah Adistya menarik kursi kosong di sebelahnya. “Sebentar lagi suami Azura sama Elma juga datang kok, mereka mau makan siang bareng juga. Gak apa-apa ‘kan kalau kita lunch-nya rame-rame?” Adistya meminta persetujuan suaminya. Ia tidak ingin nantinya malah membuat Gavril tidak nyaman karena mereka harus makan siang dengan banyak orang. Apalagi mengingat mereka belum mengenal satu sama lain.


“Gak apa-apa kok, itu akan lebih seru lagi,” kata Gavril yang sama sekali tidak merasa keberatan. Justru Gavril harus bersyukur karena dengan ini ia bisa mengenal sahabat-sahabat dari istrinya, untung-untung bisa lebih akrab.


Tak lama dua orang yang mereka tunggu datang dan duduk di samping istri masing-masing.


Perkenalan dan obrolan terjadi setelahnya hingga mereka berenam menikmati makan siang dengan suasana akrab yang tak jarang tawa terlontar dari mereka yang ada di meja itu. Dan tentu saja itu sangat membahagiakan bagi Adistya yang sebelumnya tidak pernah berani membayangkan semua ini. 


Dulu Adistya hanya bisa menatap iri kedua temannya ketika menceritakan suami masing-masing atau melihat keromantisan mereka dengan pasangan. Tapi kini Adistya tidak lagi merasa iri, tidak lagi merasa sedih, karena sekarang ia bisa melakukan apa yang sahabat-sahabatnya itu lakukan.


Sekarang Adistya bisa menceritakan harinya yang sudah berubah, tidak lagi di depan komputer seharian bahkan semalaman suntuk, karena kini ada Gavril yang menyita waktunya di siang maupun malam hari meskipun hanya untuk sekedar menghabiskan waktu dengan mengobrol mengenai hal-hal yang tidak penting.


Selesai dengan makan siang, Gavril yang lebih dulu pamit karena jatah istirahatnya yang akan segera habis di tambah dengan tanggung jawabnya pada pasien yang tidak bisa dirinya abaikan lebih lama. Dan tentu saja Adistya ikut serta sesuai perjanjian mereka pagi tadi.


“Lo gak bisa ninggalin bini lo aja gitu, Vril?” Azura terlihat tidak rela dengan kepergian sahabat satunya itu yang jarang sekali mau keluar jika tidak karena paksaan.


“Paham dikit kali, Ra, mereka kan pengantin baru, wajar kalau masih pengen berduaan. Salah lo kenapa nikah duluan jadinya udah keburu bosen. Apalagi laki lo noh, udah eumpet liat tingkah lo,” cibir Elma yang langsung saja mendapat cubitan panas di tangan dari Azura.


“Sembarangan aja lo kalau ngomong!” dengus Azura tidak terima. “Laki gue mana ada bosen-bosennya. Tiap hari aja nindih mulu,” kali ini Azura menoleh pada laki-laki di sampingnya, tepatnya pada sang suami tercinta yang sejak tadi tangannya tidak mau berhenti mengelus paha di balik dress selutut yang dikenakannya. Suami mesum emang. Untung saja tidak ada yang melihat karena terhalang meja.


Adistya yang merasa percakapan akan segera menjurus pada hal-hal yang liar, akhirnya segera menarik Gavril pergi dari hadapan sahabat-sahabatnya, terlebih Azura yang memang tidak bisa menyaring apa yang keluar dari mulutnya.


Adistya malu meskipun sadar dirinya sudah menikah, tapi tetap saja untuk urusan seperti itu masih tabu untuk Adistya. Dan ia pun tidak ingin membuat Gavril merasa tidak nyaman dengan obrolan teman-temannya yang sudah lebih berpengalaman dan urat malunya sudah putus. 


...****...


...See you next part!!...