
Selamat membaca !!!
***
“Oke cukup, kita sudahi terapi untuk hari ini,” ucap si dokter begitu Adistya tiba dengan langkah terakhirnya.
Adistya akhirnya bisa bernapas lega setelah salah satu perawat membantunya kembali duduk di kursi roda. Ini adalah terapi berjalan untuk ketiga kalinya, tapi Adistya masih merasa kaku untuk mengayunkan kedua kakinya itu, tubuhnya bergetar dan kakinya bukan main gatal. Adistya benar-benar lupa caranya melangkah setelah satu tahun belakangan ini setia di kursi roda.
Tangannya sudah sembuh tiga bulan lalu dan sekarang sudah kuat membantunya berpegangan. Dokter memang lebih dulu mengobati dan melakukan terapi pada tangannya karena tentu saja, Adistya membutuhkan kedua tangan untuk belajar jalan dan sungguh itu pun masih sulit.
Adistya masih tetap membutuhkan orang lain untuk bisa berdiri dan di saat seperti itulah keinginan menyerah selalu melintas. Adistya merasa tak sanggup, dan menyesal kenapa dulu saat kecelakaan itu tidak nyawanya saja yang melayang. Mungkin ia tidak akan semenderita sekarang ini.
“Mau langsung pulang?” tanya Satya yang setia menemani. Adistya mengangguk kecil dan membiarkan ayahnya itu mendorong kursi rodanya keluar dari ruang terapi, setelah sebelumnya Satya mengobrol dengan dokter, mendiskusikan kondisi Adistya.
“Ayah udah bisa menghubungi Gavin?” tanya Adistya di tengah perjalanan menuju tempat parkir.
Gelengan adalah jawaban yang pria paruh baya itu berikan. Walau posisi Adistya membelakangi tetap saja ia bisa tahu jawabannya, dan itu membuatnya semakin sedih.
Sudah lebih dari enam bulan, tapi Gavril seolah belum puas menghukumnya. Padahal ia sangat merindukan putranya, ia rindu celotehannya, perhatian kecilnya dan ia rindu memeluk tubuh mungil putra tampannya itu.
Andai tidak cacat, Adistya sudah pasti akan menyusul. Tapi sayangnya kenyataan malah justru tidak berpihak kepadanya. Seberapapun inginnya ia sembuh, Adistya tidak memiliki semangat yang cukup untuk itu.
****
“Arrggh!” geram Adistya saat kembali gagal untuk bangkit sendiri dari kursi rodanya. Ia hanya ingin berdiri di depan jendela kamarnya, menikmati semburat jingga yang mulai akan tenggelam, tapi berusaha sekuat tenaga pun nyatanya tidak mampu ia lakukan sendiri.
Adistya lelah, air matanya sudah mengalir membasahi pipi dan ia benar-benar ingin menyerah. Namun begitu bayangan wajah putranya melintas, Adistya tidak bisa berhenti untuk berusaha. Ia ingin bertemu putranya, dan jika Gavril tidak mau mempertemukannya, maka ia yang akan menemui bocah itu. Tapi setidaknya ia harus bisa berjalan dulu untuk tiba di tempat sang putra tinggal.
Begitu semangatnya kembali, Adistya menarik dan membuang napasnya terlebih dulu sebelum kemudian mencoba untuk bangkit dari kursi rodanya lagi dengan lebih berhati-hati dan fokus, namun begitu hampir berdiri sempurna, kakinya tiba-tiba gatal dan gemetar, tubuhnya kehilangan keseimbangannya dan akhirnya kembali terjatuh, tapi kali ini rasa sakit tidak Adistya rasakan karena tangan kekar lebih dulu menangkap tubuhnya agar tidak menyentuh lantai.
Adistya bersyukur dan menghela napasnya lega. “Makasi, Yah …” ucap Adistya tanpa menoleh sedikitpun.
“Lain kali lebih hati-hati, jangan maksain kalau memang belum mampu.”
Deg.
Tubuh Adistya menegang mendengar suara tak asing itu, dan perlahan kepalanya mendongak untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah mengenali.
“Gavril?” tanya Adistya tak percaya. Matanya memanas dan tak lama kemudian air matanya terjatuh. “Kamu ke sini sama Gavin kan? Mana … aku mau ketemu dia, Gav. Aku mau ketemu anakku,” ucap Adistya antusias walau air mata terus mengalir, bahkan semakin deras.
Gavril tak langsung menjawab, laki-laki itu memilih untuk membantu Adistya duduk lebih dulu di kursi rodanya.
“Gavin di depan? Aku mau ketemu dia, Gav, bisa tolong ban—”
“Aku datang sendiri,” jawab cepat Gavril memotong kalimat mantan istrinya itu.
“Jangan becanda,” Adistya memukul kecil dada laki-laki yang bersimpuh di depan kursi rodanya seraya tertawa getir. “Gak mungkin kamu datang ke sini sendiri. Aku yakin Gavin yang minta kamu bawa dia pulang ‘kan?”
“Aku emang datang sendiri, Gavin bahkan gak tahu kalau aku ke sini. Dia baru berangkat sekolah saat aku pergi,” terang Gavin masih dengan raut wajahnya yang tanpa ekspresi. Raut yang begitu asing di indera Adistya dan itu membuatnya tak nyaman, entah karena alasan apa.
“Aku gak bohong.” Jawab cepat Gavril menangkap raut tak percaya mantan istrinya. Senyum Adistya seketika pudar.
“Kenapa?” menatap tepat manik pria di depannya. “Aku tahu aku salah, aku sudah keterlaluan dengan kata-kataku tempo hari. Tapi ... Gavril, kenapa harus dengan cara ini kamu menghukumku? Sejak enam tahun belakangan ini hanya Gavin sumber kebahagiaanku, semangatku, dan tujuanku. Hanya dia yang aku miliki, tolong ... jangan jauhkan aku dari anakku, Gavril.”
“Jika perasaanmu saja seperti ini, bagaimana dengan aku yang baru bertemu dan merasakan kebahagiaan ini, tapi dengan teganya kamu akan menjauhkan kami lagi? Tidakkah kamu peduli pada perasaanku? Jangan kamu kira hanya kamu sendiri yang tersiksa selama enam tahun belakangan ini, Dis! Aku lebih tersiksa,” Gavril menekan emosi dan air matanya yang sudah hendak jatuh begitu kembali mengingat bagaimana perjuangannya untuk tetap waras.
“Jika kamu ada Gavin yang membuatmu tersenyum dan bangkit, aku punya siapa? Aku tidak memilikinya, Dis. Aku sendiri. Enam tahun berusaha hidup normal di tengah sesal dan luka atas kepergianmu. Tidak ada yang menyemangatiku jika bukan diriku sendiri. Sekarang, di saat Gavin hadir memberi warna dan harapan baru untukku, kamu malah dengan kejamnya memintaku untuk melepaskan anakku pada orang lain?” Gavril menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa, Dis. Tidak akan pernah bisa.”
“Gav—"
“Jika berjauhan dengan Gavin kamu anggap siksaan, lalu bagaimana dengan aku yang harus kehilangan kamu dengan kenyataan baru bahwa akan ada seseorang yang membawamu? Tidak cukupkah kamu menghukumku selama enam tahun ini dengan menyembunyikan keberadaan Gavin? kenapa harus di tambah dengan kenyataan bahwa aku sudah tidak lagi memiliki kesempatan kembali padamu? Aku sadar, aku memang seberengsek itu di masa lalu. Tapi hukuman ini terlalu berat, Dis. Aku gak bisa jika harus merelakan dan kehilangan dua-duanya. Aku gak sanggup,” Gavril menunduk dalam, menyembunyikan air matanya yang tak lagi bisa di tahan.
“Jika kamu memang sudah mantap menikah dengan pria itu, tolong jangan kamu ambil Gavin dari hidupku, aku membutuhkannya untuk tetap bertahan, Dis.” Gavril kembali mendongak, menatap tepat manik Adistya yang masih meneteskan air mata.
“Jika aku tidak bisa memilikimu lagi, tolong ijinkan aku untuk memiliki Gavin. Aku tidak akan menghalangi kebahagiaanmu dengan dia, tapi tolong jangan kamu paksa aku untuk berpisah dengan anakku. Hanya Gavin yang aku punya setelah sadar bahwa menggapaimu mustahil untukku lakukan begitu aku tahu ada dia yang memiliki hatimu.”
Adistya di buat bungkam oleh kalimat panjang Gavril yang mengutarakan isi hatinya. Ada sesak yang Adistya rasakan saat menyaksikan dan mendengar langsung Gavril menyerah seperti ini.
,Jujur, bukan ini yang ingin Adistya lihat saat bertemu dengan mantan suaminya sejak enam tahun yang lalu. Bukan luka dan kesedihan, bukan kerapuhan dan ketidak berdayaan pria itu, melainkan kebahagiaan Gavril lah yang sejak dulu Adistya persiapkan untuk hatinya agar tidak tersakiti.
Tapi semua yang di saksikan malah jauh dari apa yang dulu dipikirkannya. Jadi untuk apa selama enam tahun ini ia pergi untuk menangguhkan hati jika pada akhirnya kehancuran pria itu yang ia saksikan? Karena dengan begini, dirinya yang merasa bersalah, dirinyalah yang terlihat egois dan jahat. Adistya tidak bisa membuat laki-laki itu semakin menderita, karena yang ia tahu dirinyalah yang selama ini terbiasa akan luka, sementara Gavril selalu yang memberi luka.
Seharusnya Adistya bahagia melihat laki-laki pemberi luka itu merasakan apa yang namanya sengsara, tapi itu sama sekali tidak membuatnya berbangga, Adistya tidak merasakan puas, dan ia tidak merasa lega. Hatinya malah justru semakin terluka. Perih, sesak dan perasaan sakit lainnya yang tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata.
“Kamu akan bertemu dengan Gavin, nanti, setelah kamu bisa berjalan dengan normal. Kamu yang akan menghampirinya ke tempatku. Tapi tolong, jangan bawa dia pergi dari hidupku,” mohon Gavril sekali lagi dan Adistya menganggukinya kali ini. Tidak ingin semakin melihat pria yang dulu di cintainya semakin menderita karenanya, walau sebenarnya sejak dulu ia lah yang dilukai.
“Tujuan kedatanganku hari ini bukan untuk ini, aku hanya ingin mampir dan melihat kondisimu. Sebenarnya cukup dari jauh dan diam-diam seperti biasanya, tapi kamu terlalu ceroboh dan aku tidak mungkin membiarkan kamu terjatuh dan merasakan sakit lagi. Maaf telah lancang menghampirimu, maaf telah melanggar janji untuk tidak menemuimu dan muncul dihidupmu lagi, aku minta maaf, Dis. Tapi setelah ini aku janji akan pergi dari hadapanmu,” ucap Gavril meyakinkan. Ia tidak ingin mendapat pengusiran kembali, jadi inilah saatnya ia pergi sendiri tanpa harus susah-susah wanita itu usir, karena jujur Gavril benci ketika dirinya lemah hanya karena seorang Adistya.
“Gav—”
“Sekali lagi aku minta maaf, Dis,” potong Gavril cepat, tidak ingin mendengar sepatah kata pun dari wanita yang hingga saat ini masih dicintainya itu.
Gavril tidak sanggup mendengar kata menyakitkan yang di ucapkan Adistya, ia lemah, sungguh. “Dan satu lagi … Adistya, selamat atas hubunganmu dengan dia. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu dimana pun kamu berada. Dan terima kasih pernah mencintaiku,” ucap Gavril dengan bendungan air mata yang sekuat tenaga di tahan agar tidak meluncur di hadapan perempuan itu.
Cup.
Satu kecupan singkat Gavril curi dari bibir perempuan yang setia duduk di kursi rodanya, membuat si empu terkejut dan memaku di tempatnya dengan tatapan yang sulit di artikan. “Selamanya aku akan mencintaimu, Adistya. Selamat tinggal.”
Setelah mengucapkan itu, Gavril bangkit dan berjalan cepat keluar dari kamar yang Adistya tempati sementara, meninggalkan perempuan itu yang masih tidak bergerak dari posisinya, hanya tatapannya yang berubah kosong begitupun dengan hatinya yang kini merasakan semakin dingin dan sesak, tapi merasa tak ada yang memenuhinya
“Benarkah semua ini sudah berakhir?” tanya Adistya pada hatinya.
***
See you next part!!