
Selamat Membaca !!!!
****
Gavril mengacak rambutnya frustrasi, kesal namun juga bahagia saat menangkap persetujuan dari maksud yang Adistya ucapkan. Bergegas Gavril berdiri dari duduknya, tidak lupa membawa serta buku yang berisi syarat dari wanita yang akan dinikahinya, lalu dengan cepat menghubungi pengacaranya untuk di ajak bertemu, setelah itu menghubungi sang mama agar berkemas.
“Nanti aja Gavril jelaskannya, Ma, sekarang Mama berkemas aja, sekalian punya Gavin. bilang ayah jangan ke mana-mana, Gavril akan pulang kurang lebih pukul Sembilan malam,” ucap Gavril tergesa-gesa. “Oh iya, Mama jangan lupa hubungi penghulu, buat janji untuk lusa. Harus bisa ya, Ma. Gavril tutup dulu telponnya, bye.”
Begitu saja Gavril memutuskan sambungan teleponnya tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya membalas. Gavril benar-benar di kejar waktu, dan sungguh ini adalah hal yang sangat menegangkan juga membahagiakan mengingat apa yang sedang dirinya perjuangkan.
Turun dari mobilnya, Gavril bergegas berlari dan masuk ke lobi sebuah perkantoran, memasuki lift dan menekan tombol di sana, menunggu dengan tidak sabar untuk sampai di ruang kerja pengacara keluarganya, lalu tanpa menunggu si empu ruangan mempersilahkan, Gavril sudah masuk lebih dulu, mengejutkan seorang laki-laki paruh baya yang terduduk di meja kerjanya.
“Pak, sekarang juga,” kata Gavril tanpa basa-basi, seraya menyerahkan buku yang sejak tadi pegangnya.
Laki-laki paruh baya itu menaikan sebelah alisnya, tapi Gavril enggan menjelaskan, waktunya saat ini begitu mepet, dan masih banyak yang harus Gavril urus. Terlebih perjalanan yang harus di tempuhnya untuk menjemput anak dan juga orang tuanya, mengingat tidak mungkin dirinya membiarkan sang papa menyetir sendiri dari jarak yang cukup jauh.
“Sekalian untuk mengalihkan nama rumah sakit, rumah dan yang lainnya, pindahkan atas nama Adistya Fasyin dan juga Gavin Mahendra Putra,” titah Gavril pada pengacara keluarganya itu, membuat laki-laki paruh baya yang tengah mengerjakan apa yang diperintahkan Gavril sebelumnya mendongak menatap laki-laki yang duduk di depannya itu.
“Pak Gavril serius?” tanya pria paruh baya itu memastikan.
Tanpa ragu Gavril mengangguk. Dan itu membuat si pengacara menghela napas, tapi tak urung menuruti perintah bosnya. Sementara Gavril kini sibuk menelepon orang-orang kepercayaannya untuk mengurus sisanya.
Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan surat perjanjian yang sebanarnya Adistya buat, Gavril tanpa membaca ulang langsung membubuhkan tanda tangannya, dan meminta sang pengacara untuk melakukan hal yang sama tidak lupa memberi stempel sebagai pengesahan kertas tersebut dan setelahnya Gavril pamit undur diri.
“Jangan lupa pengalihan nama semua aset yang saya miliki, Pak,” kata Gavril sebelum benar-benar meninggalkan ruangan pengacaranya itu.
Melihat bagaimana tergesa-gesanya Gavril, sang pengacara hanya menggelengkan kepala dengan senyum singkat terbit di bibirnya, cukup paham mengapa pria itu melakukan semua ini, apalagi saat mendengar singkat obrolan pria itu dengan seseorang dalam telepon.
“Semoga sukses, Nak, dan semoga kamu bahagia setelah ini,” guman pria paruh baya itu sebelum kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda akibat kedatangan Gavril yang mendadak.
***
“Apa kamu gila, Gavril?!” teriak Avril terkejut saat sang putra datang di hari yang sudah malam bahkan dirinya hampir saja terelelap karena lama menunggu. Namun kini rasa kantuknya hilang di gantikan dengan geram dan tak percaya saat Gavril memberitahukan mengenai pernikahannya dengan Adistya yang akan di laksanakan lusa. Lebih terkejut lagi saat sebuah map putranya itu berikan untuk di tandatangani.
Avril dan Gatan membaca itu dengan seksama, lalu menoleh pada putranya yang terlihat lelah tapi raut bahagia jelas mereka tangkap. “Apa kamu benar-benar yakin, Gavril?” tanya Gatan tegas. Tanpa berpikir Gavril langsung menganggukkan kepalanya.
“Adistya pintar,” celetuk Avril tiba-tiba tanpa mengalihkan tatapannya dari kertas yang di pegang. Tanpa basa-basi lagi, Avril langsung membubuhkan tanda tangannya dengan senyum terukir, lalu menyerahkan map itu pada suaminya.
“Tandatangan, Pa, biar begitu Gavril berani ngecewain kita lagi, dia miskin semiskin-miskinnya,” kata Avril pada sang suami, lalu melayangkan tatapan tajam pada sang putra yang meringis melihatnya.
Meskipun sudah memaafkannya dan kembali menerima kehadirannya sebagai anak, tetap saja Avril adalah sosok yang pedendam, hingga kini selalu saja Gavril dibuat tidak berkutik dengan sindiran-sindiran halus sang mama.
“Kenapa harus lusa?” tanya Gatan saat sudah membubuhkan tanda tangannya juga, menyetujui apa yang di ajukan Adistya.
“Adis yang minta,” ucap Gavril. “Ini tantangan tahu gak sih, Pa, Ma,” Gavril menatap kedua orang tuanya itu bergantian. “Adis bilang, kalau gak lusa, ya gak sama sekali.” Lanjutnya mendesah lelah.
Seharian Gavril benar-benar seperti orang gila, menghubungi sana sini untuk mempersiapkan pernikahannya yang tidak semuanya berjalan lancar mengingat yang Gavril minta terlalu mendadak, terlebih mengenai WO, gedung, dan katering. Tapi pada akhirnya semua selesai dan Gavril tinggal menjemput orang tuanya.
****
Sementara Gavril kewalahan menyiapkan ini dan itu, Adistya malah justru anteng-anteng saja begitu tiba di rumah sekembalinya dari kediaman Gavril yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya juga.
Satya yang melihat kedatangan putrinya mengernyitkan kening dan menanyakan keberadaan putrinya, namun sang putri hanya menjawab bahwa dirinya ketinggalan pesawat tanpa mengatakan lebih jelasnya, membuat Satya tidak puas. Tapi tidak berusaha memaksa.
Paginya, Adistya mengajak iparnya ke butik membeli kebaya yang akan dikenakannya besok, sekaligus membelikan sang adik ipar, ayah dan juga Seno. Keluarganya itu tentu saja bertanya-tanya, tapi Adistya hanya memberikan senyum sebagai jawaban. Sok misterius. Memang, tapi namanya juga kejutan.
Dan di hari selanjutnya, pagi-pagi sekali Gavril menghubungi Adistya untuk bersiap dan akan ada yang menjemputnya pukul sepuluh nanti. Tentu saja Adistya melaksanakan perintah itu, tidak lupa memberi tahu keluarganya untuk mengenakan pakaian yang kemarin dirinya belikan. Setelahnya Satya, Seno juga istrinya duduk manis di ruang tamu, dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak mendapatkan jawaban, hingga kemudian sebuah mobil berhenti di pekarangan rumah Satya, dan Adistya meminta anggota keluarganya untuk masuk.
Di sepanjang perjalanan, masih saja pertanyaan mengenai kepergian mereka menjadi yang di lontarkan Seno serta Satya. Mereka benar-benar penasaran dan sialnya tidak bisa menebak sama sekali. Entah karena terlalu bodah, atau memang Adistya yang pintar membuat rencana. Yang jelas, saat tiba di sebuah gedung, ketiga orang yang Adistya bawa itu mengaga tak percaya dan sama-sama menatap Adistya menuntut penjelasan.
“Ty …"
Adistya hanya mengedikkan bahunya singkat, lalu menggandeng tangan ayahnya dan mengikuti langkah seseorang yang tidak mereka kenal yang sudah menunggu di depan gedung yang akan menjadi tempat acara pernikahan terjadi.
“Sumapah, Tya, lo mau nikah?” tanya Seno dengan wajah frustasinya karena sejak tadi rasa penasarannya tidak juga terjawab.
“Sama siapa?” kali ini Satya yang bersuara. “Bukannya Romeo akan memperkenalkanmu dengan orang tuanya dulu?” lanjutnya masih sambil terus melanjutkan langkah melewati lorong yang tidak terlalu cukup penerangan.
Jujur saja, Adistya tidak tahu bahwa Gavril akan menyiapkannya hingga seperti ini, padahal saat itu ia hanya meminta pria itu untuk datang ke rumahnya membawa penghulu. Tapi tidak dapat di pungkiri bahwa hatinya menghangat. Dengan jangka waktu yang begitu singkat, Gavril masih mempersiapkan pernikahan terbaik untuknya. Dan sungguh Adistya terharu.
“Bunda!” teriak bocah enam tahun itu berlari menghampiri Adistya, dan langsung berhambur memeluk wanita dalam balutan kebaya putih itu.
“Loh, Gav, kok kamu disini?” heran Seno.
“O jelas dong, masa Ayah mau nikah Gavin gak datang,” jawab bocah itu mengejutkan Satya, Seno dan juga istrinya.
“Jadi …” Seno tak melanjutkan kalimatnya, menoleh pada sang kakak yang menganggukkan kepalanya dengan senyum terukir manis.
“Sial lo, Ty. Acara penting kayak gini lo gak bicarain lebih dulu,” dengus kesal Seno, melayangkan tinjuan ke udara, karena tidak mungkin untuk dirinya meninju sang kakak. Bisa-bisa di amuk masa dirinya.
“Namanya juga kejutan, Sen. Lagi pula ini dadakan, gue cuma ngasih waktu dua hari sama Gavril untuk nikahin gue, itu pun gue tanpa mikir dulu,” cengengesan Adistya, langsung mendapat pelototan dari orang tuanya.
“Jadi ini alasan kamu gak jadi terbang ke Swiss?” tanya Satya.
Adistya mengangguk pelan, lalu menjelaskan semuanya bagaimana ia bisa tidak jadi pergi dan mengenai pernikahan mendadak ini. Tentu saja Satya dan Seno geleng kepala, tidak habis pikir dengan ide gila Adistya yang pastinya merepotkan pihak Gavril.
“Tya sengaja gak bilang, soalnya takutnya pada kecewa kalau Gavril gak memenuhi keinginan Tya. Kan Ayah juga yang malu nantinya sama tetangga,” terang Adistya. Setelahnya Adistya digiring masuk ke ruangan untuk bermake up, sementara Seno, dan Satya memilih menghampiri calon besannya. Sedangkan istri Seno di biarkan untuk menemani sang kakak ipar.
Meskipun ini bukan pernikahan pertama dan sejak tadi Adistya bersikap tenang, tidak dapat di bohongi bahwa jantungnya berdebar. Ia gugup menghadapi hari ini, terlebih sosok Gavril belum terlihat batang hidungnya, tidak ada juga pesan yang pria itu kirimkan untuk menenangkannya. Adistya takut semua ini tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkannya.
****
Tbc ...