
Selamat Membaca !!!
***
Sore harinya, Adistya pulang bersama Romeo dengan berat hati karena harus berpisah kembali dengan Gavril dan Gavin. Bocah itu tidak bisa ikut karena masih harus sekolah, sementara Gavril tentu saja tidak mungkin meninggalkan anaknya, meskipun sebenarnya juga tidak ingin Adistya pergi apalagi bersama seorang laki-laki yang masih berstatus kekasih wanita itu. Namun Gavril janji akan menjemput Adistya kembali setelah wanita itu menyelesaikan urusannya dengan pria bule itu. Adistya sudah berjanji dan sepakat untuk merajut kasih dengannya lagi, terlebih sekarang ada alasan untuk mereka kembali bersama.
Gavril tidak hentinya mengecek ponsel, bertingkah seperti remaja kasmaran yang sedang menunggu chat dari pujaannya. Membuat Avril dan Gatan saling tatap lalu sama-sama mengedikkan bahunya.
“Ayah, ayo main mobil-mobilan,” ajak Gavin yang dengan cepat Gavril satujui. Pria dewasa itu turun dari sofanya dan duduk di karpet bersama sang putra yang dengan semangat mengeluarkan semua mainannya.
Gavril yang sedang berada dalam mood amat baik tentu saja bermain tak kalah riangnya dari bocah yang sebentar lagi akan masuk sekolah dasar.
Gatan dan Avril yang menyaksikan itu di buat bertanya-tanya dengan sikap Gavril yang tidak biasanya. Tapi mereka cukup bersyukur, setelah sekian lama putranya itu murung dan tak bergairah kini kembali berwarna.
Puas dengan bermain, Gavril kemudian mengajak anaknya untuk mandi sambil menunggu makan malam siap. Bocah itu tidak banyak membantah, tidak juga terlalu sedih karena ditinggal kembali oleh bundanya. Gavin sudah mengerti dengan keadaan orang tuanya, karena saat itu Gavril menjelaskan apa adanya ketika Gavin bertanya mengenai dirinya dan Adistya yang tidak tinggal dalam satu atap seperti pasangan ayah ibu lainnya.
Gavril menjelaskan dengan perlahan mengenai perpisahan di antaranya dan Adistya, beruntung bocah itu paham meskipun terlihat sedih. Ya tentu saja, siapa memangnya yang tidak akan sedih mengetahui kedua orang tuanya berpisah? Gavin adalah salah satu anak yang sedih mendapati kenyataan itu. Tapi Gavril terus meyakinkan pada putranya itu bahwa ia dan Adistya tidak akan pernah melupakan Gavin, dan kasih sayang tetap akan di berikan meskipun kedua orang tuanya tidak lagi bersama. Dan sekarang, Gavril akan meminta dukungan anaknya untuk ia bisa kembali menikah dengan Adistya, memberi bocah itu keluarga yang lengkap seperti yang di harapkan semua anak.
****
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Romeo dan Adistya akhirnya tiba rumah Satya yang kebetulan tengah melakukan makan malam, membuat keduanya langsung bergabung karena kebetulan perut sudah keroncongan meminta asupan.
Selesai dengan makan malam, Satya mengajak keduanya mengobrol sejenak sebelum Romeo memutuskan pulang ke hotel untuk istirahat. Adistya yang merasakan lelah pun mengangguk menyetujui dan mengantar pria itu ke depan.
“Bersiaplah, lusa aku akan membawamu ke Swiss untuk bertemu keluargaku. Aku ingin kita menikah di sana. Kamu setuju ‘kan?”
Adistya menangkap tangan Romeo yang tengah mengelus pipinya, menatap pria itu dengan tatapan yang rumit. Adistya tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan mengenai perasaannya, mengenai Gavril dan hubungan yang baru saja di mulainya kepada Romeo. Ia takut membuat laki-laki itu terluka, walau dirinya sadar sudah membuat Romeo kecewa dengan pengkhianatannya.
“Istirahatlah, aku tahu kamu lelah. Besok aku kembali ke sini dan meminta ijin kepada Ayah mengenai kepergian kita,” setelahnya Romeo melayangkan kecupan di kening Adistya sebelum kemudian melangkah masuk ke dalam mobil milik Adistya yang digunakannya selama berada di Indonesia atas permintaan wanita itu.
Tin … tin …
Adistya mengangkat kepalanya yang semula menunduk, menatap laju mobil yang di kendarai Romeo dengan tatapan bersalah hingga kendaraan itu hilang di balik gerbang yang kembali pak satpam tutup.
“Maaf,” gumam pelan Adistya lalu masuk ke dalam rumah dan naik ke kamarnya, membersihkan tubuhnya yang lengket sebelum kemudian berbaring di ranjang dengan perasaan yang tak menentu. Sampai deringan dari ponselnya terdengar mengalihkan Adistya.
“Hallo,” ucap Adistya begitu menggeser tombol hijau di layar gawainya.
“Kamu sudah sampai?” tanya seseorang di seberang sana, yang bisa langsung Adistya kenali suaranya tanpa melihat lebih dulu nama yang tertera di layar.
“Sudah, ini baru mau istirahat,” jawab Adistya lesu.
“Kamu kenapa lesu gitu kedengarannya, cape?” tanya Gavril terdengar cemas. Adistya mengangguk, meski sadar bahwa seseorang di seberang sana tidak dapat melihatnya.
“Lusa Romeo ngajak aku ke Swiss—"
“Ngapain?” sahut Gavril cepat, memotong kalimat Adistya.
“Bawa aku ketemu orang tuanya,”
“Dis—”
“Aku bingung harus bagaimana menjelaskannya sama dia, Gav. Aku … aku takut membuatnya kecewa,” lirih Adistya. “Aku ….”
“Adistya, apa itu artinya kamu tidak menginginkan aku?”
“Gavril, please! Kamu tahu bagaimana perasaanku, selama ini hanya kamu dan selalu kamu yang ada di hatiku. Tapi ini tidak mudah, Gav! Romeo terlalu baik untuk aku kecewakan meskipun pada kenyataannya aku sudah membuat dia kecewa.”
“Ya, aku sadar, aku memang jahat selama ini,” sahut Gavril dari seberang sana.
“Aku paham,” jawab Gavril memotong. “Istirahatlah sayang, jangan terlalu di pikirkan. Aku percaya jodoh tidak akan ke mana.”
“Gav—”
“Aku tidak akan menyerah, sayang. Aku pastikan akan memilikimu lagi. Sekarang istirahatlah, jangan memikirkan apa pun, biar aku yang berjuang meraihmu sekalipun harus berperang dengannya.”
****
Siang harinya, Romeo kembali ke rumah Satya untuk menemui Adistya sekaligus meminta restu pada pria paruh baya itu dan juga meminta izin untuk membawa Adistya ke Swiss bertemu keluarganya. Satya tentu saja mengizinkan, tapi tetap menyerahkan keputusan pada Adistya sendiri.
Adistya sebenarnya ingin menolak, tapi tidak tahu harus memberikan alasan seperti apa. Menjelaskan mengenai hubungannya dengan Gavril, Adistya tidak seberani itu.
“Bagaimana, sudah di persiapkan?” tanya Romeo begitu Adistya turun dari kamarnya, duduk bergabung bersama ayah juga pria bule itu. Hanya anggukan singkat yang Adistya berikan sebagai jawaban.
“Berangkat pukul berapa kalian besok?” tanya Satya pada Romeo.
“Pukul delapan,” jawabnya singkat.
“Kalau begitu biar Ayah yang antar kalian ke bandara,”
“Maaf sebelumnya, saya tidak berniat menolak, tapi biar kami menggunakan taksi saja. Ayah, beristirahatlah di rumah,” tolak Romeo sopan.
“Benar apa yang di katakana Romeo, Yah. Ayah di rumah aja, biar kita naik taksi ke bandara, lagi pula Tya khawatir jika harus membiarkan ayah menyetir jauh sendirian. Tya sama Romeo pasti akan baik-baik saja, Ayah tidak perlu khawatir,” ucap Adistya meyakinkan sang ayah. Satya menghela napasnya pasrah, meskipun sedikit tak rela.
Meninggalkan pembahasan mengenai keberangkatan Adistya dan Romeo ke Swiss esok hari, Romeo dan Satya kini membahas mengenai keluarga pria itu dan juga pernikahan yang Romeo ingin diselenggarakan di negara kelahiran pria itu. Adistya tidak banyak terlibat dalam obrolan itu karena saat ini yang ada dalam pikiran Adistya adalah Gavril yang belum juga ada menghubunginya sejak semalam. Adistya takut Gavril memilih menyerah pada akhirnya, dan membiarkan dirinya menikah dengan Romeo.
Adistya akui bahwa dirinya lemah, ia masih saja bersedia kembali pada Gavril yang jelas-jelas sudah menghancurkannya. Tapi mau bagaimana lagi, hatinya tidak mau dikendalikan dan cintanya tidak juga mau pudar. Sebanyak apa pun luka yang Gavril goreskan nyatanya Adistya masih tetap mengharapkan kesembuhan dari orang yang memberinya luka. Adistya hanya butuh Gavril untuk memperbaki kerusakan hatinya, bukan orang lain yang akan menciptakan kenangan baru.
Jika orang lain berpikir kembali pada masa lalu adalah mengulang cerita dan kesakitan yang lalu, maka Adistya disini berharap akan mendapatkan kisah yang baru meskipun Gavril adalah masa lalu.
Adistya berharap bahwa jalan hidupnya dengan Gavril bukanlah sebuah buku yang berkali-kali di baca akan berakhir sama, tapi Adistya mengharap bahwa kisahnya dengan pria itu adalah sebuah jendela, meskipun setiap kali di buka pemandangannya tetap sama, namun sensasinya tak pernah sama. Selalu ada perubahan rasa meskipun itu dingin dan panas sekalipun. Tapi jangan lupakan bahwa kesejukan akan selalu didapatkan.
***
“Kamu kenapa? Aku perhatikan sejak tadi kayaknya gelisah banget?” Romeo perpindah duduk ke samping Adistya saat Satya memutuskan undur diri untuk istirahat.
“Ga kapa-apa kok,” jawab Adistya singkat, tanpa menoleh sedikitpun pada Romeo. Bukan enggan, tapi Adistya selalu merasa bersalah setiap kali melihat tatapan pria penyayang itu.
“Baby, kita sudah akan menikah sebentar lagi, tidakkah kamu ingin terbuka kepadaku? Aku siap mendengar segala keresahanmu,” ucap Romeo, meraih tangan Adistya dan meremasnya lembut, menatap lembut sang kekasih yang masih juga enggan menatapnya. “Ada apa? Jangan pernah memendam apa pun seorang diri, honey, itu hanya akan menyiksa dirimu sendiri. Bicaralah.”
Adistya mendongak, menatap wajah tampan Romeo dengan tatapan yang rumit di artikan, sementara Romeo setia dengan sorot teduhnya yang semakin membuat Adistya merasa bersalah karena telah mengkhianati dan mengecewakan pria baik di hadapannya itu.
“Rom ….” Adistya tidak melanjutkan ucapannya, terlalu takut melihat wajah kecewa dan terluka Romeo jika dirinya menyampaikan mengenai hubungannya dengan Gavril yang baru di mulai juga mengenai perasaannya kepada pria di depannya itu. Adistya belum siap.
“Maaf jika aku terlalu memaksakan,” Adistya langsung mendongak begitu mendengar ucapan Romeo. Menatap laki-laki itu dengan sorot tak paham. “Tapi apa benar tidak ada rasa sedikitpun untuk aku?” tanya pria itu yang masih tidak Adistya pahami ke mana arah pembicaraan Romeo. Namun tak butuh waktu lama untuk Adistya bisa mencerna maksud dari kalimat pria itu.
“Maaf,” Adistya menunduk merasa bersalah.
“Tidak apa, aku mengerti, Hon,” Romeo mengulas senyumnya, lalu mengangkat dagu Adistya agar wanita itu kembali mendongak menatapnya. “Hati memang tidak pernah bisa dikendalikan, mereka tak tertebak dan juga sulit di pahami. Aku tahu perasaanmu, dan maaf karena aku terlalu memaksamu. Tapi aku tidak ingin menyerah begitu saja, aku akan tetap membawamu ke Swiss besok.”
Adistya menatap Romeo tak percaya, ia sudah lega mengira bahwa pria itu akan melepaskannya, tapi nyatanya … Adistya menggelengkan kepala pelan, lalu membuang napasnya lelah. Hanya satu harapannya saat ini, menunggu keputusan Gavril.
***
Tbc ...