Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
39. Bukan Kesalahan



Selamat Membaca !!!


***


Mall adalah tempat yang Adistya kunjungi hari ini bersama anaknya yang merengek ingin membeli robot mainan yang dilihatnya di iklan televisi. Meskipun sudah cukup banyak mainan yang bocah itu miliki, pemberian dari Seno, tetap saja Gavin tidak bisa di bujuk karena apa yang diinginkannya tentu belum bocah itu miliki.


Adistya bukan tidak punya uang untuk membelikan apa pun yang putranya itu inginkan, uangnya dari hasil menulis selama ini lebih dari cukup untuk memenuhi keinginan mereka, tapi apa yang Gavin inginkan tidak pernah bertahan lama. Bocah itu begitu cepat bosan dan lebih cepat merusaknya. Bukankah akan lebih bermanfaat uangnya jika digunakan untuk hal lain, seperti makanan misalnya, karena tentu itu bisa mengenyangkan perut. 


Tapi Adistya tidak mampu menolak keinginan anaknya. Selama itu membuat Gavin bahagia, Adistya akan membelikannya. Adistya sadar siapa lagi yang akan membahagiakan anaknya selain dirinya sendiri, karena ayahnya bahkan tidak tahu mengenai keberadaannya dan Adistya sangsi Gavril akan menerima kehadiran anaknya.


“Bunda, apa Gavin boleh membeli ini juga?” tanya bocah itu sambil menunjukkan mobil-mobilan yang letaknya tidak jauh dari barang yang pria kecil itu inginkan.


“Pilih salah satu, please!” ujar Adistya tegas, namun tak menghilangkan kesan lembut dari suaranya. Bocah itu menatap kedua mainan yang diinginkannya, menimbang. Keduanya ia inginkan, tapi ingat bahwa sang bunda tidak suka jika dirinya serakah.


Akhirnya Gavin memilih robot yang memang menjadi incarannya sejak awal. Sementara mobil-mobilan yang juga diinginkannya ia tatap dengan nanar. Namun ia janji akan memilikinya. Entah itu merengek pada Uncle-nya atau meminta pada bundanya dengan jarak waktu antara satu atau dua minggu lagi, karena Gavin ingat bahwa sang bunda melarangnya membeli mainan terlalu sering mengingat mainannya sudah banyak. Pemberian sahabat-sahabat ibunya, kakeknya juga uncle-nya, dan banyak juga yang dibelikan oleh bundanya di Swiss dan semua itu ia bawa pindah ke negara ini.


“Aku sudah memilih, Bun,” ucap Gavin sedikit lesu.


Adistya tersenyum lembut, lalu mengusak sayang rambut tebal putranya dan menuntun Gavin menuju kasir untuk membayar barang yang anaknya itu inginkan.


Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan pembayaran karena kebetulan toko yang mereka kunjungi cukup sepi.


“Mandi bola mau?” tawar Adistya saat melewati wahana bermain anak yang masih berada di dalam mall yang dikunjunginya.


Gavin mendongak dan mendelik sebal ke arah bundanya. “Aku bukan bayi lagi, Bunda. Sudah tidak pantas aku bermain di tempat seperti itu.”


“Benarkah? Tapi menurut bunda kamu masihlah bayi kecil yang selalu menangis dan merengek minta di gendong,” goda Adistya sedikit meledek, membuat putranya itu memajukan bibir, cemberut. Namun tak dapat di pungkiri bahwa menangis memang masih kerap kali dirinya lakukan ketika keinginannya tidak bundanya itu penuhi.


“Jadi ke mana lagi kita akan pergi sekarang?” tanya Adistya setelah meredakan tawa gelinya.


“Makan, Gavin mau burger sama es krim,” jawab bocah itu dengan antusias, pasalnya kedua makanan itu adalah kegemarannya, terlebih jarang sekali Gavin bisa mendapatkannya karena tentu saja Adistya melarang anaknya terlalu sering memakan fast food.


“Untuk hari ini, Bunda ijinkan. Tapi janji jangan banyak-banyak?”


Dengan cepat Gavin menganggukkan kepalanya, dan menarik tangan bundanya untuk segera pergi menuju restoran cepat saji yang terkenal dimana-mana. Gavin terlihat tak sabar, membuat Adistya geleng kepala seraya menyunggingkan senyumnya.


“Bunda, bukannya Ayah kerja di Indonesia, kenapa dia belum menemui kita?” pertanyaan tak disangka itu meluncur dari mulut Gavin ketika mereka baru saja duduk di kursi yang tak jauh dari pintu masuk.


Tatapan Gavin tertuju pada sebuah keluarga muda yang tengah asyik becanda, dimana ada seorang bocah seusia Gavin yang terlihat memberenggut manja karena kejahilan dari pria yang di tebak sebagai ayahnya.


Adistya meringis kecil, merasa bersalah karena hingga saat ini belum juga mampu memberi tahu Gavin keberadaan ayahnya. Adistya sedih tentu saja, tapi mau bagaimana lagi, hatinya belum siap untuk menemui mantan suaminya.


Adistya masih selemah itu dan ia belum siap jika harus menyaksikan kebahagiaan Gavril dengan perempuan lain yang laki-laki itu cinta. Perasaannya terhadap pria yang sudah menghancurkan hatinya masih tertanam dengan sempurna. Ia tidak mampu membuangnya walaupun sangat ingin.


“Ayah masih sibuk, Sayang. Nanti dia pasti akan menemui kita.” Sekali lagi Adistya berbohong pada sang putra yang terlihat sekali amat menginginkan kehadiran sosok ayah di sampingnya, apalagi melihat pemandangan di depannya yang begitu harmonis. Adistya tak sanggup menahan kesedihannya.


Haruskah ia menghubungi Gavril saat ini? Tapi apa yang akan pria itu katakan jika tiba-tiba dirinya mengenalkan Gavin sebagai putra dari pria itu. Apakah Gavril akan percaya? Dan, apakah keluarga baru mantan suaminya itu akan menerima kehadiran Gavin? Jujur saja, Adistya masih mengkhawatirkan soal itu, karena bagaimanapun kehamilannya tidak siapapun ketahui kecuali keluarga dan sahabat-sahabatnya. Adistya tidak ingin di anggap menjadikan Gavin alat untuk kembali pada Gavril, padahal tidak sedikitpun dirinya memikirkan hal itu. Baginya, hubungannya dengan Gavril sudah selesai, tapi belum jika itu menyangkut Gavin. Bagaimanapun Gavin darah daging Gavril, mantan suaminya.


“Bun, Bunda gak jadi beliin Gavin burger dan es krim?” tanya bocah itu menyadarkan Adistya dari lamunannya. Wajah Gavin tidak sesedih tadi, bocah itu sudah kembali ceria dan Adistya dapat menghela napas lega setidaknya untuk saat ini, sebelum pertanyaan lainnya mengenai Gavril bocah itu lontarkan.


“Jadi dong. Gavin mau es krim rasa apa, biar Bunda pesankan, sekaligus sama burger double cheese kesukaan kamu.”


“Tambah ayam boleh?” katanya kembali bersemangat. Adistya mengangguk dengan senyum yang terukir sebelum kemudian bangkit untuk memesan apa yang putranya itu inginkan.


Dalam hati Adistya berjanji untuk selalu membahagiakan putranya. Ada atau tidaknya Gavril di sisi mereka, Adistya akan terus menyayangi putranya, melindunginya dan berdiri paling depan di saat ada orang lain yang menyakiti buah hatinya.


Seburuk apa pun Gavril di masa lalu dan setega apa pun pria itu terhadapnya dulu, Gavin tidak hadir atas kesalahan, karena bagaimanapun cinta itu pernah Adistya rasakan dari Gavril walau hanya sekejap.


...****...


Setelah meminta pendapat pada adik juga ayahnya semalam, Adistya akhirnya memutuskan untuk membawa Gavin ke rumah kakek dan neneknya, yang tak lain adalah orang tua Gavril. Ia ingin mengenalkan Gavin pada kedua baya itu terlebih dulu sebelum nanti megenalkannya pada Gavril. Adistya tidak ingin terus-terusan menutupi keberadaan anaknya dari keluarga mantan suaminya karena bagaimanapun mereka berhak tahu dan mengenal anggota lain yang lahir dari rahimnya.


Sebenarnya ini adalah usul dari ayahnya, dan setelah di pikirkan matang-matang Adistya akhirnya menyetujui. Dan disinilah kini dirinya berdiri sekarang, depan pintu kediaman orang tua Gavril yang sudah lama tidak Adistya kunjungi. Tepatnya setelah memberi tahu mengenai gugatan cerainya.


“Bunda, ini rumah siapa?” tanya polos Gavin mengalihkan Adistya yang tengah gugup di depan pintu, menunggu si pemilik rumah membukakannya.


“Ini rumah Kakek sama Nenek,” jawab Adistya dengan lembut.


“Emang Gavin punya Kakek lain selain Kakek Satya ya?” tanya bocah itu dengan kebingungan di wajah polosnya. Adistya hanya tersenyum dan mengangguk sebelum kemudian mengusak gemas rambut putranya.


“Apa mereka baik?” kembali bocah lima tahun itu bertanya. 


“Ten—”


Ceklek.


Ucapan Adistya terpotong oleh suara pintu yang terbuka, menariknya untuk menatap ke arah depan dan langsung berhadapan dengan wanita baya yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda, namun terlihat lebih kurus dari yang terakhir kali Adistya lihat.


“Adistya?” ucap wanita itu tak percaya. “Ini … benar-benar kamu, Ty?” matanya berkaca-kaca dan langsung berhambur memeluk Adistya dengan isak tangis penuh kerinduan.


Adistya tentu saja membalas pelukan itu, pelukan hangat yang selalu mengingatkannya pada sosok sang ibu yang telah tiada.


“Ya Tuhan, Mama kangen banget sama kamu, Nak. Gimana kabar kamu? Kamu ke mana aja selama ini? Kenapa gak pernah main-main ke sini, kenapa gak pernah hubungi Mama?” tanya Avril bertubi-tubi seraya menangkup wajah Adistya yang juga sudah basah oleh air mata.


“Tya baik, Ma. Maaf kalau selama ini Tya gak pernah hubungin Mama, Tya cuma butuh waktu untuk menenangkan diri. Ty- Tya ...” Adistya tak lagi sanggup meneruskan katanya, terlalu sakit saat kembali mengingat masa itu.


Avril yang paham pun memilih untuk menganggukkan kepala dan kembali memeluk Adistya erat sampai kemudian …


“Bunda,” panggil Gavin menarik pelan ujung blus yang Adistya kenakan hari ini, membuat kedua perempuan beda usia yang tengah saling melepas rindu itu mengalihkan tatapan ke arah suara.


“Tya, in- ini …?”


Adistya mengangguk sebelum Avril menyelesaikan ucapannya. Membuat wanita baya itu menutup mulutnya terkejut sekaligus haru. Tanpa menunggu lama, Avril langsung berlutut, menyamakan tinggi badannya dengan bocah yang bersembunyi di belakang kaki Adistya.


“Nama kamu siapa, Nak?” tanya Avril lembut, kemudian mengusak kepala Gavin dengan sayang.


“Gavin,” jawab bocah itu dengan raut wajah yang sedikit kebingungan. 


Adistya ikut menurunkan tubuhnya untuk mensejajarkan dengan tinggi badan sang putra lalu mengukir senyum lembutnya. “Ini Nenek Avril. Ayo salim dulu,” ucap Adistya pada anaknya itu.


Gavin menurut dan mengulurkan tangannya sebelum kemudian mencium punggung tangan yang sudah keriput itu dengan tatapan polosnya, membuat air mata haru kembali menetes dari mata Avril. Setelahnya wanita baya itu langsung saja meraih tubuh mungil Gavin masuk ke dalam pelukannya. Menyalurkan rasa haru juga rindu yang begitu besar. Keinginannya memiliki seorang cucu akhirnya terkabul walau menyesal karena tidak mengetahui keberadaannya sejak masih bersemayam dalam perut ibunya. 


***


See you next part !!!