Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
Epilog



Happy Reading!!!


***


“Gavril!” 


Mendengar teriakan itu, Gavril segera berlari dari ruang tamu menuju kamarnya yang sudah pindah ke lantai satu karena tidak tega melihat sang istri yang tengah mengandung buah hatinya kelelahan jika harus naik turun tangga.


Ya, Adistya hamil satu bulan setelah menjenguk anak Seno. Karena Gavin yang terus menerus meninta adik bayi, jadilah Gavril dengan senang hati membuatnya bersama sang istri tercinta hingga kemudian hasilnya mereka tuai dan kini kandungan Adistya sudah menginjak usia empat bulan. 


Gavin tidak sabar menunggu calon adiknya lahir, sementara Gavril harus menumpuk sabar dalam menghadapi ngidam si ibu hamil. Adistya benar-benar balas dendam untuk kehamilan pertamanya yang hanya di lalui seorang diri. Dan sekarang Gavril entah harus bersyukur atau justru menyesalinya karena pernah berbicara ingin mengganti waktu yang sudah dirinya lewati.


Ini benar-benar menyiksanya. Adistya tidak tanggung-tanggung dalam mengerjainya setiap hari, entah itu malam atau siang. Ada saja yang wanita hamil itu inginkan dan itu tidak masuk akal. Oke, keinginannya memang tidak aneh, hanya saja Adistya meminta di waktu yang tidak tepat. Itu yang bikin sulit. Salah satu permintaannya yaitu es dawet saat jam satu dini hari, dimana ada yang jual? Dan meminta skoteng singapura di pukul enam pagi, jam segitu penjualnya masih tidur nyenyak, karena mereka mulai berjualan sore hari.


Bukan hanya itu saja, Gavril selalu di buat keki dengan tingkah-tingkah menyebalkan istrinya. Adistya selalu saja gemar mengerjai Gavril, lima menit sebelumnya siomay yang di minta, dan saat makanan itu berada di depan mata Adistya bahkan enggan untuk meliriknya kemudian akan meminta makanan yang lain.


Sering kali Gavril ingin menyemburkan kekesalannya, tapi ia tidak kuasa. Gavril tidak ingin menyakiti hati istrinya. Gavril tidak ingin kebodohannya dulu kembali terulang dan dirinya kehilangan Adistya lagi. Tidak. Gavril tidak akan sanggup jika itu terjadi lagi. Jadi, sebisa mungkin Gavril meredam amarahnya, selama Adistya tidak meminta yang lebih aneh lagi, semacam nikah lagi misalnya. No, selamanya tidak akan pernah Gavril izinkan.


“Kenapa sayang,” lembut Gavril bertanya saat tiba di kamar dimana istrinya berada, tengah menonton drama bersama kedua sahabat dan adik iparnya yang memang hari ini berkunjung untuk quality time bersama. Para perempuan di kamar, laki-laki di ruang tamu dan anak-anak di taman belakang bersama para kakek-nenek. Adil bukan?


“Pengen nasi goreng cumi, tapi harus kamu yang buat,” pintanya dengan wajah manis yang kadang kala ingin sekali Gavril tenggelamkan karena ia selalu tidak bisa menolak jika istrinya sudah berwajah seperti itu.


“Oke, ada lagi yang kamu mau?” gelengan menjadi jawaban sang istri, dan itu membuat Gavril menghela napas lega. Cuma nasi goreng, Gavril sudah sering membuatnya. “Kalau gitu aku buatkan dulu, nanti aku bawa ke sini,” ucap Gavril seraya mendekatkan tubuhnya hendak mencium kening sang istri tapi wanita hamil itu dengan cepat mendorong Gavril menjauh dengan kemudian menutup hidung dan mulutnya. 


“Jangan dekat-dekat,”


'Masih seperti ini'. Batin Gavril menghela lelah dan kecewa karena sejak satu bulan belakangan ini Adistya menolak untuk berdekatan dengannya. Entahlah apa salah dan dosanya hingga membuat si jabang bayi enggan dirinya dekati. Gavril jadi takut setelah lahir nanti anaknya itu akan memusuhinya.


Gavril akhirnya berjalan dengan lesu menuju dapur untuk membuat apa yang istrinya itu mau. Mengabaikan tawa dari para wanita yang puas karena penderitaan yang diterimanya.


“Giliran pengen apa-apa sama aku, tapi di sentuh gak mau. Apa sih sebenarnya yang kamu inginkan, Nak, masih dalam kandungan aja udah rese banget!” gerutu Gavril bermonolog sendiri sepanjang perjalanan dari kamar menuju dapur, bahkan saat membuatkan nasi goreng pesanan sang istri, masih saja gerutuan itu tak henti.


Namun saat kembali bergerak menuju kamar untuk menyerahkan nasi goreng buatannya pada sang istri, wajah Gavril dengan cepat berubah lembut kembali, tidak ada raut tak ikhlas atau bahkan kesal. Gavril benar-benar manis dan terlihat begitu sabar, padahal hatinya sudah menggerutu panjang lebar. Untung saja hati tidak bersuara, coba kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa Gavril jadi duda untuk yang ketiga kalinya karena ketahuan menggerutu. 


“Makan sendiri aja,” Gavril mengangguk dan menyerahkan piring berisi nasi goreng cumi buatannya pada Adistya. Disaat mata itu berbinar, Gavril selalu merasakan hatinya menghangat dan itu alasan ia kuat bersabar hingga saat ini, meskipun …


“Gavril, kok kurang garam sih? Ini juga minyaknya kebanyakan, bawangnya masih mentah, dan … ish, sebenarnya kamu bisa potong cumi gak sih, kok, gak beraturan gini?” komentar seperti itulah yang selalu membuat Gavril ingin menenggelamkan istrinya. Selalu saja ada kesalahan dari apa yang Gavril lakukan. Huffh, begini banget cobaan. 


“Masak lagi pokoknya, aku gak mau tahu,” katanya dengan nada merajuk. Gavril hanya bisa menghela napas dan kembali menerima piring berisi nasi goreng yang baru satu suap masuk mulut istrinya. Suami memang selalu tidak memiliki karisma saat menghadapi istri yang hamil. Ketegasannya hilang dan sikap kepemimpinannya entah tergadai ke mana. 


“Baik nyonya, biar saya buatkan yang baru,” tunduk Gavril seraya melangkah mundur meninggalkan kembali kamarnya dan harus dengan sabar menerima tawa sahabat-sahabat istrinya. Oh Tuhan, akan sampai kapan aku harus menghadapi hal seperti ini?


***


“Masih punya niat lo hamilin istri lo lagi selanjutnya setelah tahu bagaimana stres-nya menghadapi ngidam?” tanya Fikri saat Gavril baru saja kembali ke ruang tamu setelah satu jam lamanya pergi untuk membuatkan nasi goreng yang diinginkan Adistya sampai berkali-kali hingga sesuai dengan keinginan istrinya itu. Yang disebut ‘ngidam’ ini sepertinya lebih pantas di sebut mengerjai. Karena Gavril benar-benar merasa dikerjai oleh istrinya sendiri. Dan sialnya ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak.


“Entahlah, gue pikir-pikir dulu nanti,” lesu Gavril menjawab, membuat ketiga pria yang lainnya tertawa. Ya, menertawakan penderitaan Gavril. padahal Haris mengalami lebih dari yang Gavril rasakan saat ini. Suka tidak tahu diri emang. Sayangnya saat itu Gavril belum sedekat ini dengan suami dari sahabat istrinya, jadi ia belum leluasa melayangkan ejekkan.


“Tapi terima aja sih, Vril. Toh proses buatnya kan enak. Semenyebalkan apa pun istri lo, tetap sabar menghadapi ngidamnya, apalagi dengan mood-nya yang selalu tidak tertebak. Menjadi perempuan tidak mudah, jadi berusahalah untuk mengerti dan memahami kaum mereka. Perempuan banyak berjuangnya, banyak sakitnya dan banyak yang dikorbankannya, salah satunya adalah nyawa,” terang Fikri bijak.


“Melahirkan anak itu tidak mudah, kita sebagai pria hanya tahu kenikmatannya saja, sedangkan mereka para wanita harus rela mengandung selama kurang lebih Sembilan bulan, menerima kondisi tubuhnya yang berubah dan masih banyak lagi yang harus para wanita alami sepanjang kehamilannya, belum lagi sakitnya melahirkan. Dan perjuangan mereka belum selesai di situ saja, setelah anak kita lahir mereka juga harus mengurusnya, menjaganya, dan memastikan anak-anak kita baik-baik saja. Sedangkan kita para laki-laki hanya harus mengorbankan tenaga untuk mencari nafkah, memastikan anak istri tidak kekurangan. Waktu kita habis untuk pekerjaan yang mendapat imbalan setiap bulannya, sementar seorang istri …,” Fikri menatap Gavril, Seno dan Haris secara bergantian, lalu menggelengkan kepala. 


“Waktu siangnya dilimpahkan untuk anak dan pekerjaan rumah, malamnya justru kita para pria yang merampas waktu istirahatnya demi kepuasan. Itu memang kewajiban, tapi tidakkah kalian pikir bahwa banyak dari kaum kita begitu egois? Tak jarang kita merasa kesal dengan permintaan istri kita, apalagi menuruti ngidamnya, atau bahkan saat si istri menuntut perhatian kita. Namun pernahkah para pria berpikir bagaimana kesalnya mereka saat mengasuh darah daging kita, menenangkannya ketika menangis, membujuknya saat sulit di suruh tidur, belum lagi menuruti keinginan kita di tengah rasa lelahnya. Apa pernah mereka protes? Pernah mereka mengeluh? Ya mungkin pernah, tapi percaya atau tidak, mereka lebih ikhlas melakukannya di bandingkan kita para pria yang hanya di repotkan dengan ngidam dan rengekan lainnya yang tidak seberapa.”


Ketiga pria itu mencerna baik-baik yang di sampaikan Fikri, hingga beberapa detik kemudian, Gavril meringis kecil. Ia mengakui bahwa selama ini ia masih belum seikhlas itu dalam menuruti ngidam istrinya. Tapi Gavril janji akan berusaha untuk menjadi suami yang lebih baik lagi, ia akan terus belajar dan memperbaiki dirinya agar tidak menyakiti Adistya lagi. Sebisa mungkin Gavril akan membuat Adistya bahagia tanpa adanya kepalsuan dari senyum manis perempuan itu.


***


Bye bye guys,


ketemu di ceritaku yang lain ya.


Jangan lupa mampir!!