Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
48. Khawatir



Selamat Membaca!!!


***


Adistya begitu cemas saat mengetahui sang putra demam dan tidak juga turun dari semalam padahal ia sudah mengompresnya, memberikan obat juga, tapi tetap saja demam Gavin tidak juga membaik. Terlebih saat ini dirinya di rumah hanya berdua dengan Gavin, tidak ada yang menenangkannya. Ayahnya pergi karena ada urusan bersama teman-teman tuanya sementara Seno bekerja dan adik iparnya pamit untuk mengunjungi keluarganya.


Adistya memang selalu panik berlebihan saat anaknya sakit, dan gara-gara kepanikannya ini membuat Adistya tidak bisa berpikir jernih. Ia ingin membawa anaknya itu ke rumah sakit, tapi tidak berani jika harus mengemudi sendiri sementara di rumah tidak ada yang bisa dirinya mintai tolong untuk menyetir. Sampai akhirnya Adistya memilih untuk menghubungi mantan suaminya untuk ia mintai bantuan, tapi laki-laki itu tak kunjung menjawab panggilannya, pesannya pun hanya centang dua abu-abu tanda bahwa si penerima belum membaca, sementara Adistya semakin panik saat mendengar racauan tak nyaman Gavin.


Adistya terus mengotak atik ponselnya, sampai sebuah aplikasi yang lama tidak dirinya gunakan memberi secercah harapan untuk Adistya.


“Asataga, kenapa gak kepikiran sejak tadi coba, ck!” decak Adistya merutuki kebodohannya sendiri.


Tanpa menunggu lama, wanita itu segera memesan taksi online dari aplikasi yang ada di ponsel, setelahnya ia bergegas turun dari kamarnya dan memanggil satpam rumah, meminta bantuan pria paruh baya itu untuk membantunya membopong Gavin, karena sungguh ia sudah tidak kuat mengangkat anaknya yang semakin tumbuh besar. Adistya juga tidak mau mengambil resiko mereka terjatuh saat menuruni undakan tangga.


“Kalau Ayah pulang kasih tahu saya di rumah sakit ya, Pak,” pesan Adistya begitu taksi yang di pesannya tiba di depan rumahnya. “Dan terima kasih udah bantu bopong Gavin, saya pergi dulu.”


Tanpa menunggu jawaban satpam rumahnya itu, Adistya menutup pintu taksi dan kembali fokus pada anaknya yang meracau tidak jelas dengan tubuh menggigilnya, padahal cuaca cukup panas siang hari ini, di tambah lagi dengan jaket tebal yang membungkus tubuh mungilnya.


“Sabar ya, Nak, sebentar lagi kita tiba di rumah sakit,” ucap Adistya yang terus-terusan mengecupi kening sang putra dan sesekali menyeka keringat yang muncul di pelipis putra tersayangnya itu.


Setibanya di rumah sakit, Adistya dengan cepat menggendong putranya itu masuk ke dalam. Tidak peduli dengan berat tubuh Gavin yang membuatnya kewalahan, Adistya ingin anaknya segera di tangani. Namun sayangnya ia harus tetap mematuhi peraturan rumah sakit yang salah satunya adalah mengantri giliran untuk menerima pemeriksaan karena kebetulan hari ini rumah sakit begitu ramai dengan orang-orang yang butuh penanganan.


Adistya sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, ia begitu cemas pada Gavin yang terus-terusan bergumam tak jelas, tubuhnya panas dan anaknya itu begitu lemas. Sebagai ibu, Adistya tentu saja tidak tega melihat putranya seperti ini. Ia ingin menggantikan posisi bocah itu saja, tapi sadar bahwa itu tidaklah mungkin.


“Dis?”


Adistya menoleh saat sebuah suara yang di kenalnya memanggil, ia langsung menoleh dan mendapati Gavril di sana dengan tatapan bertanya. Tangis Adistya semakin menjadi dan itu membuat Gavin cemas juga panik.


Tanpa menunggu penjelasan mantan istrinya itu, Gavril segera meraih tubuh anaknya dan begitu terkejut saat mendapati suhu panas anaknya.


“Ke ruang aku, Dis,” perintah Gavril seraya berlari menuju ruangannya. Ia tahu bahwa hari ini rumah sakit sedang penuh jadi Gavril memilih untuk membawa anaknya menuju ruangan kerjanya. Toh di sana ada ranjang, dan untuk keperluan lainnya Gavril bisa meminta salah satu perawat untuk menyiapkannya. Kebetulan barang-barang Gavril juga ada di ruang kerjanya jadi tidak membuatnya kerepotan harus memeriksa keadaan Gavin saat ini. 


Adistya yang mengikuti mantan suaminya sejak tadi tidak henti mengikuti gerak laki-laki itu yang sepertinya tidak kalah panik darinya, terbukti dari bentakan-bentakan Gavril pada seseorang di seberang teleponnya. Tanpa bertanya pun Adistya tahu siapa yang pria itu hubungi karena tidak sampai lima belas menit ruangan Gavril di ketuk seseorang dan masuklah seorang perawat yang membawa lengkap peralatan medis yang Gavril butuhkan.


“Sejak kapan Gavin demam?” tanya Gavril masih dengan kesibukannya memeriksa keadaan sang putra.


“Dari kemarin,” jawab Adistya di sisa isakannya.


“Lalu kenapa ga—”


“Aku udah ngabarin kamu tadi, tapi gak ada respons,” ucap Adistya cepat sebelum Gavril selesai dengan kalimatnya. Toh Adistya sudah dapat menebaknya.


Gavril menoleh dengan tatapan seolah mengatakan ‘benarkah?’ tapi kemudian Gavril merongoh sakunya untuk mengambil ponsel dan mengecek benda itu. Benar saja, ada beberapa panggilan tidak terjawab dari mantan istrinya itu, membuat Gavril meringis, merasa bersalah.


“Maaf,” cicit Gavril menyesal.


“Udah gak apa-apa. Itu Gavin gimana keadaannya?” tanya Adistya kembali beralih pada sang putra yang kini sudah di pasang selang infus dan terlelap tenang, tidak meracau seperti tadi. Raut cemasnya terlihat jelas di wajah cantik itu, membuat Gavril tahu seberapa takutnya Adistya, apalagi wanita itu sampai menangis seperti tadi, tidak perlu diragukan lagi seberapa sayangnya Adistya pada putranya.


“Maafin Bunda .…” lirih Adistya seraya mengecup kening Gavin yang tertidur. Air matanya kembali menetes dan itu tidak lepas dari perhatian Gavril yang masih berdiri di samping mantan istrinya. Hatinya tidak kalah sakit melihat dua orang tercintanya yang seperti ini.


“Jangan nangis, Gavin pasti cepat sembuh, kok, aku bakal rawat dia sebaik mungkin.” Gavril mengusap lembut punggung Adistya untuk menenangkan wanita itu. Inginnya Gavril memeluk tubuh rapuh itu, tapi ia tidak ingin Adistya merasa tak nyaman dan berakhir dengan hubungan mereka yang kembali canggung.


Gavril sudah berjanji untuk melakukan pendekatan dengan mantan istrinya itu secara perlahan, karena ia mengerti, masih ada trauma atas luka yang dirinya berikan dulu.


Di sisi lain, Byanca mendengus kesal saat menyaksikan sendiri Gavril meninggalkannya demi menghampiri Adistya dan anaknya. Kebencian yang semula akan Byanca surutkan malah kembali naik kepermukaan. Dan kini ia semakin benci pada perempuan bernama Adistya, amat benci hingga membuatnya ingin sekali melenyapkan wanita itu karena gara-gara dia Gavril meninggalkannya, gara-gara dia Gavril mengabaikannya, dan gara-gara dia pula ia tidak dapat memiliki pria itu.


Selama tiga tahun setelah kepergian Rania, Byanca amat yakin bahwa ia bisa kembali mendapatkan mantan kekasihnya dan memilikinya seorang diri. Sial wanita itu datang sebelum ia berhasil meluluhkan kembali hati Gavril. Dan apa yang dilihatnya barusan membuat Byanca merasa terancam.


“Ngomong-ngomong mana yang mesti gue singkirin. Anaknya, atau ibunya?” pikiran jahat mulai menguasai Byanca dan seringai mengerikannya mengikuti arah perginya Adistya yang menyusul langkah cepat Gavril.


“Gue gak akan biarin lo memiliki Gavril untuk kedua kalinya, cupu. Gak akan! Lihat apa yang akan gue lakukan nanti.”


***


“Apa Gavin belum bisa di pindahin ke ruang perawatan?” tanya Adistya di tengah kesunyian yang tercipta entah sudah berapa lama. Jujur saja, Adistya merasa kurang nyaman karena kini mereka berada di ruangan kerja Gavril di lantai delapan, ruangan yang dulu pernah menjadi saksi percintaannya dengan pria itu untuk pertama kali.


“Gavin biar di rawat di sini aja, lebih nyaman. Biar aku juga bisa langsung jagain dia sambil bekerja dan aku tangani langsung. Kamu tenang aja, meskipun tidak di ruang perawatan dan tidak ada dokter yang merawat langsung Gavin, aku bisa melakukan itu sendiri. Kamu masih ingat bukan bahwa aku juga seorang dokter meskipun sudah mengundurkan diri dari propesi itu. Tapi tenang aja ilmunya masih aku kuasai, kok. Kamu gak perlu khawatir,” jelas Gavril panjang lebar, tidak mengerti dengan keresahan Adistya yang benar-benar tak nyaman berada di ruang kerja pria itu.


Adistya akui bahwa di sini Gavin akan lebih nyaman, di awasi langsung oleh Gavril, seorang ayah sekaligus dokter. Adistya tidak mengkhawatirkan itu, karena yakin bahwa pria itu bisa memberikan perawatan terbaik untuk anaknya, tapi bagaimana dengan nasibnya? Adistya enggan selalu berduaan dengan pria itu karena itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya dan lagi Adistya merasa tidak bisa bergerak bebas jika berada satu ruangan dengan Gavril.


Membuang napasnya lelah, Adistya akhirnya memilih untuk pasrah. Mengesampingkan dulu kenyamanan dan perasaannya demi sang putra yang hingga saat ini belum juga bangun dari tidurnya.


“Kamu udah makan?” tanya Gavril saat dirasa Adistya tidak akan mengeluarkan suaranya lagi. Gelengan pelan menjadi jawaban yang Adistya berikan. “Kalau begitu biar aku belikan makanan untukmu, kebetulan aku juga belum makan siang,” lanjut Gavril seraya bangkit dari duduknya.


“Kamu aja, aku biar nanti beli sendiri. Untuk sekarang aku belum merasa lapar,” tolak Adistya halus.


Gavril menggelengkan kepalanya, lalu melangkah mendekat ke arah anaknya tertidur, dimana Adistya juga duduk di tepi ranjangnya, setia menunggu sang buah hati.


“Jangan keras kepala, Dis. Kamu harus makan, jangan sampai setelah Gavin sembuh malah kamu yang sakit, nanti siapa yang akan jaga anak kita? Aku gak bisa selalu ada di sampingnya karena aku harus kerja. Cuma kamu yang bisa aku percaya untuk menjaga dan merawat anak aku. Kamu paham kan maksud aku?”


Adistya menoleh sekilas pada mantan suaminya itu sebelum kemudian mengangguk pelan. Gavril yang melihat itu tersenyum manis, kemudian mengusak lembut rambut Adistya, membuat wanita itu terkejut dan menegang di tempatnya. Tidak beda jauh dengan Gavril yang kemudian merutuki sikap refleksnya.


“Maaf,” sesal Gavril. “Kalau begitu aku turun dulu. Kamu mau makan apa?” tanya Gavril mengalihkan suasana canggung ini.


“Eumm, apa aja,” jawab Adistya gugup. 


Gavril mengangguk paham lalu melirik pada sang buah hati dan membungkuk untuk memberikan satu kecupan di kening hangat sang putra. “Ayah keluar sebentar ya, Nak. Kamu cepat sembuh, Ayah sayang kamu,” ucap Gavril begitu tulus, membuat Adistya terharu dan kembali merasa bersalah karena terlalu lama menyembunyikan keberadaan sang putra dari ayah kandung anaknya.


“Maaf,” bisik hati Adistya. 


***


TBC ...