Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
52. Benci



Selamat membaca !!!


***


"Maaf," cicit Gavril tiba-tiba.


Perempuan yang baru saja mengubah posisinya menjadi berbaring itu menoleh tidak mengerti pada laki-laki yang duduk di samping ranjangnya.


"Aku gak yakin dengan alasan Byanca melakukan ini, tapi aku sadar bahwa mungkin ini ada kaitannya denganku. Aku minta maaf."


Gavril menunduk menyesal. Sementara Adistya masih belum paham akan apa maksud dari yang mantan suaminya itu katakan. Setidaknya untuk beberapa saat, karena di menit setelahnya Adistya mulai mengerti. Kecelakaannya bukan kebetulan, bukan juga karena ketidak hati-hatiannya tapi memang sudah direncanakan. Si penabrak memang sudah berniat mencelaianya.


Adistya tidak bisa berkata apa-apa. Marah? Sudah jelas. Benci? Apalagi. Adistya tidak menyangka bahwa semua ini akan terjadi kepadanya. Lebih tidak menyangka lagi kenapa perempuan itu selalu saja ingin mengusiknya. Tidak cukup kah saat remaja dulu dia mempermalukan, memaki dan merendahkannya. Tidak cukup kah semua penderitaannya saat remaja dulu. Tidak cukup, kah?


"Aku gak pernah tahu dia akan melakukan hal senekat ini, aku juga gak tahu hal apa yang membuat Byanca mencelakainya ..."


"Gak tahu?" Adistya menatap sinis pada laki-laki itu. "Kamu gak tahu alasan dia mencelakaiku karena apa?" tambahnya seraya menggelengkan kepala tak habis pikir. "Aku gak ngerti sebenarnya kamu itu terlalu polos atau memang bodoh. Semuanya sudah jelas, Gavril! Sejak dulu alasan dia melukai aku adalah gara-gara kamu. Apa yang dia lakukan terhadap aku semua alasannya adalah kamu. Kamu, Gavril!" bentak marah Adistya. Air matanya sudah tidak lagi bisa di bendung dan kekecewaan serta benci itu jelas membayang di kedua matanya. Ya, Adistya benci pada perempuan itu, ia juga benci pada laki-laki di hadapannya, laki-laki yang sejak dulu selalu menjadi alasannya terluka dan menangis.


"Dis-"


"Tidak cukupkan kalian melukaiku di masa remaja, tidak cukupkah kalian menyiksaku di masa lalu. Tidak cukupkah, Gavril? Tidak cukupkah kalian membuat aku menderita? Dan sekarang bahkan cacat!" teriak Adistya penuh emosi. Sungguh ia benar-benar terluka sekarang.


"Aku tidak tahu bahwa mencintaimu adalah kesalahan dan sebegitu menyakitkannya. Tapi apa salah?" ucapnya sendu. "Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin memiliki perasaan itu, Gav. Nyatanya aku gak bisa memilih, dan hati ini berlabuh dengan sendirinya tanpa bisa aku kendalikan, itu bukan keinginanku. Karena yang aku mau, aku jatuh cinta pada orang yang juga mencintaiku, pada seseorang yang bisa membawaku pada kebahagiaan, bukan pada luka yang semakin hari semakin mematikan,"


"Dis-"


"Pergi, Gav. Tolong pergi dari hidupku. Jangan pernah temui aku lagi, jangan pernah bersikap seolah kamu peduli dan mencintaiku. Menjauhlah, aku sudah cukup menderita selama ini, bahkan semakin menderita dengan keadaan ini. Semuanya sudah selesai, aku udah gak sanggup lagi, Gav ..." lirih Adistya menundukkan kepalanya dan air mata sukses terjatuh mengiringi kesakitannya.


Gavril berniat untuk meraih tubuh itu ke dalam pelukannya, tapi dengan cepat Adistya menepisnya menggunakan satu tangan yang masih berfungsi dengan bebas walau ada luka yang cukup membuatnya perih.


"Jangan pernah sentuh aku!" ujarnya tajam. "Pergilah sejauh mungkin, bawa Gavin bersamamu. Bukan karena aku tidak menyayangi anakku, tapi aku sadar dengan keadaanku seperti ini tidak akan bisa merawat Gavin dengan baik," ucap Adistya dengan suara yang lirih.


Berat rasanya jika harus jauh dari putranya itu, tapi terpaksa Adistya harus melalukan ini, demi Gavin tumbuh dengan baik. Ia percaya Gavril mampu memberikan kasih sayang yang bocah itu butuhkan.


****


Jujur ia tidak ingin melakukan itu, Gavril tidak ingin pergi meskipun Adistya memaksa. Tapi ia tidak bisa untuk bertahan, ia tidak bisa tetap tinggal, bukan karena tidak ingin. Namun karena semua orang memang menyarankan dirinya untuk pergi, menjauh dari Adistya yang bahkan sejak pengusirannya tempo hari benar-benar tidak ingin menatapnya lagi.


Tidak ada kesempatan untuk Gavril memohon ampun, tidak ada kesempatan untuk Gavril berbicara dan meminta untuk tetap tinggal. Adistya selalu mengusirnya. Berteriak histeris memintanya untuk menjauh dan tidak lagi menampakan diri. Itulah yang menjadi alasan Satya, Seno, dan kedua orang tuanya mendukung kepergian Gavril.


Semua tahu hanya itulah jalan yang terbaik. Adistya tidak ada daya untuk pergi mengingat kondisinya yang bahkan tidak mampu untuk sekedar pergi ke kamar mandi, maka memang Gavril lah yang harus pergi. Meskipun Satya sendiri tak rela jika cucunya ikut pergi. Tapi sekali lagi, tidak akan cukup waktu dan tenaga untuk membagi perhatian dan kasih sayang pada bocah itu dalam keadaan Adistya yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri.


Mendapatkan respons yang seperti ini, Gavril jadi menyesal telah memberitahukan siapa dalang dari kecelakaan yang menimpa mantan istrinya itu. Gavril akan memilih bungkam dan menyimpan kebenarannya sendiri jika tahu bahwa Adistya malah menyuruhnya untuk menjauh. Sungguh, Gavril tak sanggup. Lima tahun lebih sudah cukup menyiksa berada jauh dari wanita itu, tanpa kabar apa lagi bertatap muka. Dan sekarang, mungkinkah ia akan sanggup kembali berjauhan dengan wanita yang dicintainya itu?


"Gavril, ambil barang-barang Gavin di rumah mertuamu," kata Avril menepuk pundak sang putra yang sejak tiga puluh menit lalu berdiri di depan pintu ruang rawat Adistya yang tertutup rapat. Ya, hanya mengintip yang bisa laki-laki itu lakukan sejak dua hari belakangan ini. Tidak ingin kembali membuat mantan istrinya histeris dan membuat kaki serta tangan Adistya yang cedera kembali sakit akibat wanita itu terlalu banyak gerak gara-gara meluapkan emosinya.


"Gavin sudah bersedia ikut aku?" tanya Gavril tanpa mengalihkan tatapannya dari kaca kecil yang ada di pintu kamar Adistya.


"Sudah, tadi pagi Adistya sudah membujuknya. Dan Gavin paham dengan kondisi ibunya. Gavin akan ikut bersama kita," ucap Avril pelan.


"Kita?" Gavril menoleh pada sang mama.


Avril mengangguk. "Papa sama Mama memutuskan untuk ikut kamu dan Gavin. Tidak mungkin bukan kamu membiarkan Gavin seorang diri selama kamu bekerja? Mama gak mau cucu Mama terabaikan dan kurang perhatian. Adistya tidak bisa memerankan sosok ibu untuk beberapa waktu ini. Jadi, biar Mama yang rawat Gavin. kamu gak keberatan kan kalau Mama dan Papa ikut?"


Gavril menggelengkan kepalanya cepat, tidak sama sekali keberatan jika kedua orang tuanya ikut bersamanya. Justru Gavril bersyukur karena dengan begitu ia tidak terlalu mengkhawatirkan putranya. Gavril tidak percaya pada orang asing yang mungkin saja akan dirinya sewa untuk menjaga Gavin selama Gavril sibuk dengan pekerjaannya. Gavril juga takut anaknya merasa terabaikan dan kekurangan kasih sayang orang tuanya.


Sebenarnya Gavril tidak harus pergi, toh kemungkinan mereka bertemu amatlah tipis mengingat Gavril yang pastinya akan menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa Gavril akan memaksakan diri untuk menemui mantan istrinya, mencuri-curi waktu menatap wajah cantik itu dan tidak menutup kemungkinan dengan alasan Gavin mereka akan bertemu.


Dan karena itu, Gavril memilih untuk meninggalkan kota tempat lahirnya, kota tempatnya tumbuh dan kota yang memberinya warna dan cerita tentang cinta. Alasaan lainnya, karena Gavril tidak ingin membuat Adistya tidak leluasa untuk bergerak karena takut bertemu dengannya.


"Kalau begitu Gavril ke rumah Ayah dulu. Nanti sore kita berangkat," Gavril lalu mengecup pelipis ibunya dan pergi meninggalkan wanita paruh baya itu di sana.


Avril memandang punggung Gavril yang terlihat rapuh, sebagai ibu tentu saja ia sedih. Tapi inilah jalan hidup, tidak selamanya yang kuat akan terus kuat, tidak selamanya yang bahagia akan terus bahagia dan tidak selamanya yang terbaik akan membahagiakan. Karena kenyataannya demi kebaikan semua harus dilakukan walau itu menyakitkan.


***


see you next part!!