Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
59. Kejutan yang tak diharapkan



Happy Reading!!!


***


Tiga bulan terakhir ini Adistya menjalani therapy dengan serius hingga kemajuan itu begitu pesat dan kini Adistya sudah tidak lagi duduk di kursi rodanya. Adistya sudah bisa berjalan walau masih membutuhkan bantuan tongkat, tapi setidaknya Adistya tidak lagi terlalu merepotkan orang lain seperti satu tahun belakangan ini. Sekarang ia sudah bisa mengurus dirinya sendiri meskipun masih sedikit kesulitan. Namun Adistya tetap bersyukur dan ia sudah tidak sabar untuk sembuh sepenuhnya agar segera bisa bertemu langsung dengan sang putra yang sudah amat dirindukannya.


Kabar terakhir yang dirinya dapat mengenai keadaan bocah itu adalah satu bulan yang lalu itu pun bukan dari Gavin sendiri, melainkan dari nenek bocah itu. Entah karena Gavril tidak mengizinkan atau memang anaknya itu sudah lupa memiliki seorang ibu, namun untuk sekarang Adistya tidak terlalu memikirkan itu, ia percaya sang putra baik-baik saja bersama ayahnya. Tujuannya sekarang adalah bisa berjalan dengan normal lagi untuk menyusul sang putra.


“Ty, kita berangkat sekarang?” tanya sang ayah dari ambang pintu. Adistya mengangguk semangat seraya meraih kedua tongkatnya yang bersandar pada sisi ranjangnya dan melangkah hati-hati menghampiri Satya yang tersenyum bahagia melihat putrinya tak lagi menampilkan kesedihan.


“Bagaimana sekarang, apa masih selalu merasakan sakit?” tanya Satya di tengah perjalanan menuju rumah sakit tempat dimana Adistya selalu melakukan therapy.


“Enggak, Yah, kaki aku sekarang udah lebih ringan dan sepertinya aku akan segera bisa berjalan tanpa menggunakan benda ini,” Adistya menunjuk tongkatnya.


“Syukurlah,” lega Satya. “Ayah senang pada akhirnya kamu mampu berlapang hati dan ikhlas dengan keadaan kamu hingga semangat yang kamu miliki membawa kesembuhan ini,” Satya menyunggingkan senyumnya, bahagia karena pada akhirnya sang putri kembali bisa berjalan setelah sekian lama hanya mampu duduk di kursi roda tanpa bisa melakukan apa pun selain menulis.


“Ayah,” panggil pelan Adistya dengan mata yang sudah berkaca. “Terima kasih karena sudah merawat Tya hingga saat ini, terima kasih sudah bersedia Tya repotkan. Meskipun kata terima kasih ini tidak dapat membayar semua yang telah Ayah lakukan dan berikan, tapi Tya tetap ingin mengucapkannya. Ayah, terima kasih atas kesabarannya, dan terima kasih atas segalanya,” ucap Adistya lalu berhambur ke dalam pria paruh baya itu dan menangis di sana. Tangis yang menggambarkan akan rasa terima kasih dan bangganya memiliki sosok ayah seperti Satya yang selama ini begitu menyayanginya.


“Jangan berterima kasih, Nak. Sudah menjadi tugas sebagai ayah untuk selalu ada dan mendampingi anaknya dalam keadaan terpuruk sekalipun, dan Ayah tidak merasa di repotkan selama ini. Ayah justru merasa bahagia karena masih bisa melakukan semua itu untukmu, namun Ayah minta maaf karena belum memberikan kebahagiaan yang abadi untukmu. Maaf, Nak, maafkan Ayah ….”


Adistya menggeleng cepat. “Adistya sudah bahagia Ayah, jangan merasa bersalah mengenai itu lagi, Tya mohon!” pinta Adistya sendu, sedih jika mengingat kembali bagaimana penyesalan Satya di hari Adistya pulang ke rumah selesai menggungat cerai Gavril. Laki-laki paruh baya itu terus menggumamkan kata maaf karena menurut pria itu kesalahannya yang telah memaksakan pernikahan antara Adistya dan Gavril, padahal Adistya sendiri tidak menyalahkan sang ayah akan hal itu. Bagaimanapun dalam pernikahannya dulu Adistya pernah merasakan bahagia meski amat singkat.


Sisa perjalanan menuju rumah sakit di habiskan dengan obrolan ringan setelah kata maaf saling keduanya lontarkan. Dan begitu tiba di tempat tujuan, Adistya dengan semangat melakukan therapy berjalan hingga kabar bahagia sang dokter berikan mengenai perkembangan kakinya. Kini Adistya sudah bisa melepaskan alat bantu berupa tongkat itu dengan catatan bahwa ia harus tetap hati-hati dan tidak terlalu memaksakan, juga tidak menaiki tangga terlebih dulu karena kakinya belum terlalu kuat untuk itu. Tak apa, Adistya tetap bahagia, begitu pun dengan Satya yang setia menemani therapy dari awal hingga hari ini.


⸙⸙


Rencananya hari ini Adistya ingin mengunjungi anaknya, sesuai dengan janji Gavril beberapa waktu lalu yang mana laki-laki itu akan mempertemukannya dengan Gavin setelah ia bisa berjalan dengan normal, dan sekarang adalah saatnya. Tapi rencana itu terpaksa di tunda karena Romeo, laki-laki bule yang tak lain adalah kekasih Adistya datang berkunjung dengan niat menjenguk Adistya yang belakangan tidak terdengar kabarnya. Ya, Adistya memang tidak berusaha menghubungi pria itu karena terlalu fokus pada kesembuhan kakinya dan sekarang pun ia tidak tahu bahwa Romeo akan datang. Ini sungguh kejutan, tapi sayangnya tidak membahagiakan untuk Adistya. Berbeda dengan Romeo yang sepertinya amat bahagia dan terkejut dengan keadaan Adistya yang sudah bisa berdiri dengan tegap lagi dan melangkah dengan sempurna.


Ucapan syukur pria bule itu lantunkan dengan raut wajah tak percaya, namun juga bahagia tercetak begitu jelas. Romeo bahkan tidak hentinya melayangkan kecupan di kening Adistya, membuat wanita itu risih, tapi sebisa mungkin tidak memperlihatkannya.


“Kamu udah rapi gini, mau pergi?” tanya Romeo yang baru saja menyadari penampilan Adistya yang terlihat seperti orang yang akan bepergian.


Adistya mengangguk pelan, lalu meringis. “Awalnya iya, tapi gak apa-apa aku bisa pergi lain kali, kok. Kamu baru sampai banget?” tanya Adistya mengalihkan.


“Iya, aku sengaja langsung ke sini sebelum ke hotel, kangen sama kamu,” jawabnya di susul dengan kedipan mata genit yang membuat Adistya terkekeh kecil dan melayangkan pukulan kecil pada dada pria bule itu.


“Dasar gombal!” ujarnya kemudian mempersilahkan Romeo untuk masuk ke dalam rumah dan menyuruh laki-laki itu duduk sementara dirinya melenggang masuk lebih dalam menghampiri ayahnya yang berada di teras belakang bersama Seno dan istrinya yang kebetulan berkunjung.


“Yah,” panggil Adistya menghentikan kegiatan Satya yang tengah bermain catur dengan putranya.


“Loh Ty, kamu kok udah pulang lagi?” heran Satya begitu mendongak. Seno ikut menoleh dan menaikan sebelah alisnya ikut heran. Belum ada sepuluh menit kakaknya itu berpamitan, kini sudah kembali lagi dengan wajah yang tidak secerah sebelumnya.


“Oh begitu, kalau begitu biar Ayah temuin, kamu buatin minum, ya,” ucap Satya bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan Adistya yang menghela napasnya dalam diam.


“Gak senang banget kayaknya lo, Ty, bukannya yang datang calon suami?” entah itu ejekan atau pertanyaan biasa yang adiknya lontarkan, tapi yang jelas Adistya dapat menangkap ketidak sukaan dari nada laki-laki yang lebih muda dua tahun darinya itu. Memilih tak menjawab, Adistya meninggalkan adiknya itu dan segera membuatkan minuman untuk Romeo serta ayahnya, tidak lupa dengan camilan yang akan menemani mereka mengobrol.


Sebelumnya Adistya mengecek ponselnya dan membuka aplikasi chat yang sering di gunakannya lalu mengetikkan sesuatu pada orang yang akan di hubunginya, setelah itu barulah Adistya melangkah menuju ruang tamu dan duduk di samping ayahnya yang sudah mengobrol asyik dengan pria bule itu.


Satya memang menyukai Romeo karena sepanjang mengenal pria itu cukup ramah dan sopan, asyik juga di ajak mengobrol walau Romeo belum begitu lancar menggunakan Bahasa Indonesia, namun untungnya Satya menguasai Bahasa Inggris jadi tidak terlalu melongo saat Romeo mengajaknya mengobrol.


“Apa tidak sebaiknya kamu ajak Romeo ke Bandung-nya, Ty?” kata Satya memberi usulan, membuat Adistya terkejut dan membulatkan matanya, menatap protes pada sang ayah, tapi sayangnya Satya tidak menangkap maksud Adistya, membuat wanita itu kesal dan merutuk dalam hati. Ck,yang benar saja mengajak Romeo!


“Jangan, Yah, lagi pula Romeo pasti capek. Dia baru aja datang, loh. Nanti Tya biar berangkat sendiri aja. Lagi pulang Tya udah kasih tahu Mama kalau gak jadi datang hari ini,” jawab Adistya.


“Apa kamu benar-benar harus pergi, Baby? Ah seharusnya aku bilang dulu kalau mau datang. Maaf,” ringis Romeo tak enak hati.


“Gak apa-apa kok, aku cuma mau menemui Gavin aja,” Adistya mengulas senyum tipis. Tidak ingin kekasihnya itu merasa bersalah, meskipun tidak dapat di pungkiri bahwa Adistya sedikit kesal dengan kedatangan pria itu yang tidak tepat waktunya.


“Maafin Bunda, sayang. Maaf karena Bunda belum bisa nemuin kamu,” bisik hati Adistya sedih karena belum juga bisa melepas rindu dengan sang buah hati.


⸙⸙⸙


“Adistya gak jadi datang, Vril. Ada tamu katanya,” beri tahu Avril begitu membaca pesan yang mantan menantunya itu kirimkan beberapa menit lalu. Gavril yang meskipun terlihat tidak peduli, tapi tetap mendengar dan ada sedikit kecewa yang merasuk ke dalam dadanya. Membuat mood-nya yang semula baik menjadi begitu buruk seketika.


Gavril memang sudah berjanji tidak akan menampakkan diri di hadapan Adistya, dan Gavril memang akan melakukan itu, ia tidak akan keluar saat Adistya datang menemui putranya, ia akan tetap tinggal di kamarnya atau pergi mengungsi ke mana saja asal tidak terlihat oleh pandangan perempuan itu. Namun Gavril sudah merencanakan untuk menatap wanita itu dari kejauhan selama beberapa saat untuk memastikan langsung keadaan mantan istrinya. Tapi sayangnya, yang sejak tadi di tunggu malah justru tidak jadi datang.


Tamu? Siapa kira-kira orang yang dapat menghentikan kepergian Adistya untuk menemui anaknya sendiri. Mungkinkah …? Dengan cepat Gavril menggelengkan kepalanya. Siapapun itu, Gavril tidak berhak tahu apa lagi memikirkannya. Ia bukan lagi siapa-siapa Adistya, di luar tanggung jawabnya kepada Gavin. Tapi tetap saja ada yang mengganjal di hatinyanya, dan rasanya begitu tak nyaman.


Gavril bangkit dari duduknya dan melangkah menuju lantai atas dimana kamarnya berada, tidak sama sekali menanggapi apa yang di sampaikan sang mama.


Begitu tiba di kamarnya yang luas, Gavril langsung menghampiri sang putra yang tertidur nyenyak di sana, hari memang sudah siang, dan bocah itu tidur setelah lelah bermain bola bersamanya tadi. Gavin tidak mengetahui bundanya akan datang, karena Gavril dan Gatan serta Avril sepakat, mereka sengaja ingin memberikan kejutan pada Gavin yang sudah dari jauh-jauh hari mengutarakan rasa rindunya pada sang bunda. Dan Gavril merasa lega karena tidak sempat memberi tahu bocah itu perihal kedatangan Adistya, karena jika Gavin tahu, ia tidak bisa menebak bagaimana kecewanya sang putra saat tahu bahwa bundanya tidak jadi datang.


Gavril ikut membaringkan tubuhnya di sana, menatap lekat wajah damai sang putra, kemudian tangannya terulur mengusap lembut kepala Gavin. “Maafin Ayah, Nak, maafin Bunda juga. Maaf sudah menjadi orang tua yang egois untuk kamu. Maafkan kami yang tidak bisa memberimu keluarga yang utuh seperti keluarga-keluarga lainnya. Meskipun Ayah ingin, tapi Ayah tidak bisa. Ayah terlalu tahu diri untuk tidak merengkuh Bundamu lagi karena ayah sadar Bundamu tidak pernah bahagia bersama Ayah. Ayah harap di kemudian hari tidak akan ada benci yang timbul di hatimu untuk kami.”


Mengecup kening putranya perhalan, Gavril kemudian memejamkan matanya ikut terlelap bersama sang putra. Ia ingin mengistirahatkan kepalanya, hatinya dan juga pikirannya yang penuh dengan Adistya yang tidak akan lama lagi melangsungkan pernikahan, jangan di tanya dari mana Gavril tahu, karena selama ini, sejak hadirnya Gavin, Gavril berhubungan baik dengan mantan adik iparnya. Ya, Seno yang memberi tahu semuanya mengenai lamaran pria bule itu terhadap Adistya dan rencana pernikahan yang katanya akan di langsungkan setelah Adistya benar-benar sembuh.


Dan sepertinya Gavril tidak salah menebak mengenai tamu yang di bicarakan ibunya tadi. Sudah pasti pria bule itu, karena Gavril tahu Adistya sudah amat merindukan anaknya, jika bukan pria bule itu, Adistya tidak akan mungkin membatalkan kedatangannya.


“Sepenting itukah dia di bandingkan dengan menemui anak kita?” Gavril bertanya miris dalam hatinya.


****