
Selamat Membaca!!!
***
“Bunda payah, masa nangkap bola aja gak bisa, sih,” omel Gavin dengan wajah cemberutnya yang menggemaskan.
“Maaf sayang. Tuh salahin Uncle kamu yang nendangnya kekencengan,” tunjuk Adistya seraya mendelik pada sang adik yang malah berjingkrak bahagia sambil menjulur-julurkan lidahnya mengejek Gavin. Membuat bocah itu semakin memajukan bibirnya sebal. Tidak terima dengan kekalahan yang diterimanya.
“Wle, Gavin kalah, wlee,” ejek Seno masih belum puas.
Gavin yang kesal pun akhirnya mendongak dan menatap garang Uncle menyebalkannya itu, lalu tendangan diberikannya pada kaki Seno. Membuat laki-laki itu meringis dan mengejar Gavin yang sudah melarikan diri lebih dulu.
Menyaksikan itu Adistya hanya bisa geleng kepala dengan senyum mengembang di bibirnya, menampilkan lesung pipitnya yang menambah manis wanita cantik itu.
Gavril yang berada di sana pun tidak menyia-nyiakan pemandangan indah itu, apalagi ia sudah lama tidak melihat senyum sang mantan istri yang selalu membuat hatinya menghangat. Andai pengkhianatan itu tidak dirinya lakukan, mungkin senyum Adistya akan dirinya nikmati setiap hari.
“Bunda, Gavin langsung berenang ya,” teriak Gavin nyaring, menyadarkan Gavril dari keterpesonaannya terhadap senyum sang mantan istri.
Gavril menoleh ke arah dimana anaknya berlari menuju tepi pantai bersama Seno dan istrinya, di susul dengan kedua paruh baya yang ternyata tidak mau kalah dengan yang muda. Gavril hendak menyusul, tapi tepukan di pundaknya lebih dulu mengurungkan langkahnya, membuat Gavril menoleh dan mendapati keberadaan Satya disana.
“Gunakan kesempatan sebaik mungkin. Ayah tahu kamu ingin kembali, dan Ayah akan dukung. Tapi maaf Ayah tidak bisa membantumu, jadi pandai-pandailah mendapatkan kembali hatinya. Ayah yakin Tya pun masih memiliki perasaan itu untukmu.”
Setelah mengucapkan itu, Satya melangkah pergi menyusul semua orang ke tepi pantai, meninggalkan Adistya dan Gavril berdua. Sebagai orang tua, Satya amat tahu bahwa sang putri masih mencintai mantan suaminya, begitupun sebaliknya. Semoga keputusannya kali ini benar.
Untuk beberapa saat Gavril diam, mencerna apa yang diucapkan mantan ayah mertuanya itu, namun beberapa detik kemudian senyum mengembang di bibirnya. Tidak menyangka bahwa dukungan akan mantan ayah mertuanya itu berikan, padahal selama ini Gavril mengira bahwa Satya tak akan lagi mengizinkannya mendekati Adistya karena telah menyakiti putri kesayangannya itu. Tidak menyangka Satya malah justru memberinya kesempatan. Ia harap Adistya pun akan memberikannya kesempatan kedua, kesempatan yang tidak akan pernah dirinya sia-siakan lagi.
****
Adistya memilih untuk duduk di bangku yang ada di bawah pohon kelapa tak jauh dari tempat keluarganya bermain air. Ia tidak berniat untuk ikut karena terlalu malas apalagi dalam cuaca yang cukup panas ini. Adistya memilih untuk bersantai dengan membayangkan segarnya air kelapa muda yang akan membasahi tenggorokannya yang kering. Betapa segarnya. Pikir Adistya.
“Nih,”
Satu buah kelapa utuh yang atas dan bawahnya sudah di pangkas melayang di depan wajah Adistya, membuat wanita yang tengah mengkhayal melepas dahaga itu menoleh dan mendapati Gavril berdiri di sisi kanannya dengan dua buah kelapa di tangan kanan dan kirinya.
“Panas-panas gini segar minum air kelapa,” ucap Gavril dengan senyum manisnya yang terukir seraya kembali mengulurkan kelapa yang belum juga wanita itu terima.
Adistya diam sejenak untuk mencerna, sebelum kemudian menerima kelapa itu dan langsung meminumnya menggunakan sedotan yang sudah tersedia dari lubang kelapa tersebut, yang di buat si penjual agar bisa di nikmati dengan mudah.
Gavril yang masih berdiri hingga saat ini menyunggingkan senyumnya, kemudian tanpa meminta izin ia duduk di samping wanita itu, membuat Adistya sedikit terkejut dan menatap Gavril dengan alis terangkat bingung.
“Gak apa-apa kan aku duduk disini?” tanya Gavil sambil menatap wajah cantik di depannya. Dengan ragu, Adistya mengangguk, kemudian memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan, sementara Gavril masih setia menatap wajah cantik yang dirindukannya itu. Ingin sekali Gavril mengelus pipi sang mantan istri yang terlihat lebih tirus dari enam tahun yang lalu, namun tentu saja Gavril tidak memiliki keberanian untuk itu saat ini, karena sadar bahwa Adistya tidak akan suka.
Meskipun wanita itu bilang sudah memaafkannya, Gavril yakin masih ada luka yang dan kekecewaan yang masih Adistya pendam. Terbukti dari jarak yang perempuan itu berikan.
“Dis, boleh aku minta video dan foto Gavin sejak lahir sampai sebelum aku bertemu dengannya? Aku ingin melihat perkembangan dia yang aku lewatkan,” ucap Gavril terdengar sedih dan menyesal.
Adistya kembali menolah ke arah Gavril yang masih menatapnya, hingga kedua mata mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat sebelum Adistya memutuskannya terlebih dulu. Enggan berlama-lama bertatapan.
"Boleh, nanti aku kirim lewat e-mail.”
Tidak ada alasan untuk Adistya melarang, toh Gavril adalah ayah dari anaknya, sudah sewajarnya Gavril tahu segala hal mengenai Gavin. Mungkin dengan itu juga Adistya bisa sedikit mengurangi rasa bersalahnya karena selama ini menyembunyikan keberadaan sang putra, walau sebenarnya ini bukan sepenuhnya kesalahan Adistya. Mungkin.
...****...
Hari sudah beranjak sore, dan semua orang yang tadi asyik bermain air di pantai sudah kembali dengan kelelahan, Gavin bahkan langsung tertidur begitu Adistya selesai memandikannya. Dan sepertinya yang lain pun sama. Kini villa yang Gavril sewa terlihat sepi tak berpenghuni. Gavril entah ke mana sejak satu jam lalu. Hanya Adistya yang bertahan di sana seorang diri dengan kebingungan mengenai apa yang harus dirinya lakukan. Adistya menyesali mengenai laptopnya yang tertinggal, padahal jika ia tidak melupakannya sudah pasti waktu luang ini akan ia gunakan untuk menulis. Kapan lagi kan, menulis sambil liburan. Tapi sayangnya teman setianya itu tidak berada dengannya saat ini.
Dari pada bosan di villa tanpa melakukan apa pun, akhirnya Adistya memilih untuk jalan-jalan, sekaligus menunggu waktu makan malam yang katanya, Gavril akan mengajak mereka makan malam bersama di salah satu restoran tidak jauh dari tempat mereka menginap.
Dengan kaki telanjang, Adistya menyusuri pasir putih pantai tanpa tujuan yang jelas. Wanita itu hanya ingin menikmati semilir angin dan suara ombak yang mengalun indah di telinganya, menikmati liburannya dan tentu saja kesendiriannya.
Sejak perceraiannya dengan Gavril, Adistya tidak pernah pergi berlibur karena terlalu sibuk dengan kesakitan dan kesedihannya, di tambah dengan kesibukannya mengurus Gavin membuatnya tidak ada waktu untuk sekedar memanjakan diri. Namun Adistya tidak sama sekali menyesalinya. Karena sekali lagi harus ia tegaskan bahwa kehadiran Gavin bukanlah suatu kesalahan. Kehadiran Gavin merupakan semangat baru untuknya walau ia harus kehilangan Gavril. Meskipun saat itu Adistya pernah berharap Gavril ada di sampingnya agar kebahagiaan yang dirinya rasakan atas hadirnya sang putra lebih sempurna.
Merasa sudah cukup jauh berjalan, Adistya memilih duduk di lembutnya pasir pantai, menatap jauh ke luasnya hamparan laut yang seolah tak ada ujung. Banyangan Adistya terlempar pada masa kecilnya yang begitu bahagia, masa yang mana dirinya tidak mengenal apa pun selain bermain.
Adistya merasa bahwa kehidupannya saat kecil begitu damai, namun seiring berjalannya waktu dan dirinya mulai beranjak dewasa, kehidupannya tidak berbeda dengan lautan yang ada di depannya. Mula-mula terlihat tenang, namun kemudian gelombang datang dan ombak menyambar. Siapa saja yang tidak bisa berenang dan tidak memiliki pegangan maka akan terbawa hanyut ke tengah lautan luas. Terobang ambing dan kemudian tenggelam saat tidak ada sebuah pertolongan dan semangat untuk kembali ketepian.
Sama halnya dengan Adistya. Ia mungkin tidak akan berada di sini jika saat guncangan rumah tangganya dengan Gavril, Adistya tidak memiliki pegangan dan tidak memiliki semangat serta tujuan. Adistya tidak akan tahu bagaimana nasibnya jika saat itu tidak ada keluarganya, tidak ada Gavin dalam kandungannya. Mungkin Adistya akan terlunta-lunta, atau justru tenggelam dan mati karena tak sanggup menerima guncangan.
Kini Adistya mensyukuri hidupnya. Meskipun tidak lagi bersama Gavril setidaknya ada Gavin yang membuatnya tetap waras, tetap semangat dan tetap memiliki tujuan. Dan untuk luka dan kekecewaan yang pernah di dapatnya dulu, Adistya akan berusaha untuk mengikhlaskannya, ia akan berdamai dan melupakan semuanya. Semua yang sudah terjadi di masa lalu. Kesakitan yang membimbingnya pada sebuah kedewasaan.
***
Tbc ...