
Selamat Membaca!!!
***
“Gavril, bisa bicara sebentar?” Adistya menghentikan langkah Gavril yang hendak kembali ke kamar setelah selesai makan malam bersama untuk pertama kalinya setelah dua minggu sejak hari itu terlewati tanpa obrolan berarti layaknya pasangan suami istri lainnya.
Waktu memang berjalan begitu cepat, dan Adistya sudah memikirkan semuanya hingga menemukan keputusan yang dengan terpaksa harus dirinya ambil setelah begitu banyak pertimbangan.
Sebenarnya Adistya tidak ingin egois mengingat ada bayi tidak bersalah di dalam perutnya, tapi Adistya sendiri tidak bisa terus menerus mengorbankan hati dan perasaannya, membiarkan lukanya semakin dalam sementara Gavril bahagia bersama perempuan tercintanya.
Tadinya Adistya tidak yakin dengan keputusannya ini, tapi setelah dilihat bahwa Gavril malah semakin terlena dengan Rania, dan sepertinya tidak ada niatan untuk berterus terang pada Adistya yang hingga saat ini masih berstatus sebagai istrinya, membuat Adistya akhirnya tahu bahwa inilah yang memang harus dirinya lakukan.
Biarlah ia hidup tanpa Gavril asal hatinya terselamatkan. Urusan anak dalam kandungannya, Adistya janji akan memberi tahu Gavril ... nanti setelah anaknya lahir.
“Ayo kita bercerai,” ucap Adistya satu detik setelah Gavril kembali menjatuhkan bokongnya di kursi. Membuat laki-laki itu terkejut dengan tubuh menegang.
“Sejak awal pernikahan ini memang sama-sama tidak kita inginkan bukan? Jadi, ayo kita bercerai. Toh dia sudah kembali,” kata Adistya berusaha untuk menyunggingkan senyum tegarnya, walau itu terasa sulit Adistya lakukan.
“Dis—”
“Maaf jika aku lancang mengetahui tentang dia, aku tidak sengaja mendengar obrolan kalian beberapa waktu lalu di rumah sakit. Dan aku sadar bahwa kalian memang masih saling mencintai. Aku tidak berhak berada di antara kalian berdua yang sudah lebih dulu memimpikan sebuah kehidupan berumah tangga, dan aku tidak ingin menghancurkan mimpi orang lain. Jadi, ayo kita bercerai dan jalani kehidupan masing-masing. Kehidupan yang sama-sama kita inginkan.”
Adistya mendorong sebuah amplop putih yang sudah disiapkannya ke depan Gavril, membiarkan laki-laki itu membuka dan membacanya dengan seksama sebelum kemudian Adistya meletakkan balpoin yang juga sudah disiapkannya di samping tangan Gavril.
“Kamu tinggal menandatanganinya. Maaf jika aku mendaftarkan perceraian kita tanpa lebih dulu mendiskusikannya dengan kamu. Aku hanya merasa bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk kamu dan ... mungkin juga untukku” ucap Adistya tak sepenuhnya yakin dan masih berusaha menahan air matanya yang siap menetes kapan saja.
Gavril masih tidak mengeluarkan suaranya, masih terlalu syok dengan kenyataan di depannya. Tangannya bergetar memegang lembaran yang menyatakan gugatan Adistya.
Hatinya ngilu, dan perasaannya tak menentu. Ada sebagian hati yang berteriak menolak gugatan cerai Adistya, tapi sebagian hatinya yang lain menyuarakan bahwa dengan ini mimpinya bersama Rania dulu dapat terwujud dengan mudah. Tapi tetap saja, Gavril merasa tak rela. Ia tidak ingin kehilangan Adistya.
Tapi, ia juga mencintai Rania.
“Dis—”
“Aku gak mau terus-terusan tersakiti, Gav. Aku lelah terus menerima luka yang selalu saja kamu goreskan. Aku sudah gak sanggup,” pada akhirnya air mata yang sejak tadi Adistya bendung lolos juga, menerobos pertahananya. “Jangan siksa aku terus menerus dengan kesakitan yang sama, Gav. Aku gak bisa … aku gak sekuat itu. Ayo kita bercerai,”
Ingin sekali Gavril meneriakkan kata ‘tidak’ tapi lidahnya seakan kelu, tenggorokannya tercekat dan lehernya pun seakan kaku hanya untuk memberikan sebuah gelengan.
Bahu Adistya turun naik, seirama dengan isak tangis yang keluar. Suara itu seakan menyiksa pendengaran Gavril yang kini menatap Adistya dengan tatapan tak terbaca. Terluka, kecewa, marah dan tatapan lainnya yang bercampur menjadi satu. Namun Gavril sadar bahwa itu adalah kesalahannya. Ia yang sudah membuat wanita itu menyerah pada akhirnya.
Lalu apa yang harus Gavril lakukan saat ini?
Bukankah akan semakin egois jika masih bersikeras mempertahankan Adistya di sisinya?
Tanpa kata, Gavril meraih balpoin yang sebelumnya Adistya berikan, lalu membubuhkan tandatangan di kertas yang juga istrinya itu berikan.
Meski dengan berat hati, Gavril menyetujui gugatan cerai Adistya. Ia tidak ingin egois terus memaksa Adistya berada di sampingnya sedangkan sang hati justru bercabang.
Gavril bukan tidak mencintai Adistya, tapi ia sadar bahwa cintanya belum sekuat itu terhadap perempuan yang dinikahinya satu tahun lalu. Perasaannya masih terbagi, cintanya mudah goyah dan hatinya bingung untuk memilih salah satu diantara Rania dan Adistya. Namun keputusan ini Gavril ambil untuk menghentikan dirinya melukai Adistya lebih dalam lagi. Walau pada kenyataannya Adistya benar-benar hancur saat Gavril menyetujui gugatan cerainya begitu saja. Tanpa perlawanan dan penjelasan yang selama ini Adistya nantikan.
Kecewa? Jangan di tanya. Tapi Adistya jelas tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak awal dirinya yang memang menginginkan perpisahan ini. Ia yang mengajukan gugatan itu dan Adistya harus menerima di saat Gavril menyetujuinya. Karena pada dasarnya memang itulah tujuannya. Harusnya Adistya bersyukur bukan karena Gavril tidak mempersulit keinginannya? Namun tak bisa di bohongi bahwa kini hatinya benar-benar sakit.
Tangan yang sejak tadi meremas kuat ujung piyama yang dikenakannya, kini bergerak pelan menyentuh perutnya yang masih belum terlihat menonjol.
“Baby, tolong jangan bersedih dengan semua ini. Kuatkan Bunda dalam menjalani hari untuk kedepannya. Hanya kamu yang kini menjadi semangat Bunda, menjadi tujuan Bunda. Maafkan Bunda yang tidak bisa mempertahankan Ayah kamu terus berada di samping kita. Tolong jangan benci Bunda, jangan benci Ayah kamu juga, karena bagaimanapun dialah yang membuat kamu ada, dan dialah yang membuat Bunda sadar bahwa cinta tak selamanya harus memiliki.” Batin Adistya menangis.
...****...
“Apa tidak bisa di pikirkan sekali lagi?” lirih April bertanya pada anak dan menantunya yang datang berkunjung hanya untuk memberi kabar mengenai perceraian. Air mata tidak lagi bisa di cegah. April syok, tidak menyangka bahwa rumah tangga anaknya yang ia kira baik-baik saja selama ini nyatanya berada di ujung kehancuran.
“Maaf, Ma, tapi ini sudah menjadi keputusan kami berdua. Bercerai mungkin jalan yang terbaik untuk kami,” jawab Adistya tak kalah sedihnya.
Sebenarnya bukan ini yang Adistya inginkan, bukan ini yang diharapkannya, tapi Adistya sadar dirinya tak boleh egois, hatinya tak boleh lagi semakin terluka karena sakit dari orang yang sama. Adistya juga sadar tidak bisa ia terus mengikat Gavril sementara bahagia laki-laki itu bukan dengannya.
Meskipun tidak tega akan tangis ibu mertuanya yang pilu, Adistya tidak ingin mengubah keputusannya. Hanya kata maaf yang bisa Adistya lontarkan, sementara Gavril sejak tadi menunduk, tak sedikitpun mengeluarkan suara, dan ayah mertuanya berusaha untuk tegar walau sorot kecewa itu tidak dapat di sembunyikan.
Setelah ini ayah dan adiknya lah yang harus Adistya hadapi dengan harapan kedua laki-laki tersayangnya itu dapat memahami keadaannya dan tidak mempersulit perpisahannya dengan Gavril.
Namun yang terjadi malah justru kemurkaan Seno, adiknya itu menghajar Gavril habis-habisan, melayangkan amarah dan kekecewaannya pada laki-laki yang dipercayakan untuk menjaga dan membahagiakan kakak perempuan satu-satunya. Terlebih Seno tahu apa yang Gavril lakukan di belakang Adistya.
“Jangan pernah lagi lo nampakin diri di depan keluarga gue!” seru Seno murka seraya menendang perut Gavril yang sejak tadi tidak sama sekali memberi perlawanan, sebelum kemudian pergi membawa serta Adistya yang menangis histeris, tidak tega melihat mantan suaminya babak belur. Tapi Seno tidak sama sekali mengizinkan Adistya menolong bahkan untuk sekedar membantu Gavril berdiri.
“Ayah, Gavril minta maaf karena tidak bisa menepati janji Gavril sama Ayah, maafin Gavril yang malah membuat kalian semua kecewa. Maaf ….” Gavril bersimpuh di bawah kaki Satya yang sejak tadi diam menyaksikan anaknya memukuli Gavril dengan membabi-buta.
Satya sebenarnya kecewa, amat kecewa. Tapi ia sadar diri bahwa ini juga mungkin salahnya karena selalu saja memaksakan perjodohan pada putri semata wayangnya.
Salahnya karena meminta anaknya menikah secepat itu tanpa mengizinkan keduanya untuk saling mendekatkan diri terlebih dulu. Salahnya tidak coba mencari tahu masa lalu yang terjadi pada anak dan menantunya, dan salahnya juga tidak memperhatikan rumah tangga anak-anaknya.
Satya sadar, sebagai orang tua ia telah gagal. Gagal memastikan kebahagiaan putrinya. Andai tidak memaksa anaknya segera menikah, mungkin kehancuran ini tidak akan pernah terjadi.
“Pulanglah, Nak. Ayah tahu perpisahan ini memang yang terbaik,” ucap Satya seraya bangkit dari duduknya dan meninggalkan Gavril seorang diri di ruang tamu dengan kehancurannya yang hanya pria itu sendiri yang tahu.
****
See you next part!!