Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
25. Resah



Selamat Membaca !!!


***


Satu bulan berlalu sejak menginap di rumah Satya yang kemudian berlanjut ke rumah Avril, kini Adistya dan Gavril sudah kembali tinggal di rumah mereka.


Hubungan keduanya terjalin semakin dekat bahkan seakan tidak lagi ada sekat. Kemajuan yang begitu cepat untuk mereka yang memiliki kisah buruk di masa remaja.


Adistya tentu saja menikmati hari-hari bahagianya ini bersama Gavril, namun sepertinya tidak untuk dua hari belakangan ini dimana sebuah gangguan datang dari masa lalu mereka. Ya, masa lalu mereka. Byanca.


Teng nong …


Adistya yang kebetulan turun untuk membuat es teh manis, berjalan menuju pintu utama dan melihat siapa yang datang di pagi menjelang siang ini. Dalam kepalanya ia menebak bahwa mungkin itu adalah mertuanya, atau teman-temannya yang datang berkunjung karena Adistya yang tidak setuju di ajak ke mall, namun dugaannya salah karena yang datang ternyata adalah Byanca, orang yang sama sekali tidak pernah Adistya sangka-sangka.


“Lo?” ujarnya dengan nada terkejut. “Ngapain lo disini?" tanya sinis Byanca begitu sudah dapat mengendalikan dirinya.


“Gue tinggal di sini,” Adistya menjawab singkat. Berusaha mempertahankan sikap tenangnya seolah sudah memprediksi kedatangan perempuan di depannya. Dan jawaban yang Adistya berikan membuat Byanca semakin terkejut. Membuktikan bahwa perempuan itu belum mengetahui perihal pernikahannya dengan Gavril.


Haruskah saat ini Adistya bersedih karena suaminya menyembunyikan hubungan mereka dari Byanca?


“Mau cari siapa?” tanya Aditya kemudian.


“Sejak kapan?” menghiraukan pertanyaan Adistya, Byanca malah justru balik bertanya, dan Adistya yang paham dengan tanya lawan bicaranya itu tanpa sungkan menjawab dengan apa adanya. Memberitahukan musuhnya sejak dulu mengenai alasan keberadaannya saat ini yang tak lain adalah mengikuti sang suami.


Wajah tegang sekaligus tak percaya dapat dengan jelas Adistya tangkap begitu juga dengan raut kesal Byanca yang membuat Adistya pada akhirnya bisa menyunggingkan senyum kemenangan.


Dulu mana pernah ia bisa seperti ini, mengingat Gavri ada di kubu perempuan itu. Tapi sekarang harus dengan bangga Adistya mengakui kemenangannya. Gavril sepenuhnya miliknya secara agama, hukum dan juga hati.


“Dari dulu ternyata lo gak pernah menyerah untuk mendapatkan Gavril,” Byanca menggelengkan kepalanya singkat, lalu mendorong pundak Adistya untuk memberinya jalan masuk tanpa harus repot-repot meminta izin. “Sekarang lo gunain apa untuk menjerat Gavril sampai-sampai dia mau aja nikahin perempuan kayak lo?” tanyanya dengan nada meremehkan. Membuat Adistya naik pitam, tapi berusaha untuk dirinya tahan. 


Selama dua tahun meladeni Byanca, Adistya sudah begitu hapal bagaimana menghadapi siluman cantik itu. “Tentu saja dengan menggunakan orang tuanya,” santai Adistya menjawab, seraya duduk menyusul tamu tak di undangnya.


“Pintar juga lo ternyata,”


Adistya menyunggingkan senyum sombongnya, tapi tidak memberikan tanggapan apa pun. Biarlah masa lalu suaminya itu berspekulasi sendiri. 


...“Tapi lo jangan terlalu senang dulu, cupu, karena harus lo ketahui bahwa hingga saat ini Gavril masih belum bisa ngelupain gue. Lo boleh berhasil menikahi Gavril, tapi sampai kapanpun lo gak akan pernah bisa mendapatkan hati Gavril karena hingga saat ini nyatanya masih ada gue yang dia cintai,” kata Byanca dengan percaya dirinya sebelum kemudian berlalu pergi....


Ucapan Byanca tempo hari itu sebenarnya tidak ingin Adistya percaya, tidak ingin ia hiraukan, namun tetap saja hatinya tak tenang, perasaannya galau dan otaknya terus saja bertanya mengenai benar atau tidaknya apa yang dikatakan Byanca.


Adistya kini sadar bahwa ternyata kepercayaannya terhadap Gavril belum sekuat itu, perasaannya belum seyakin itu dan cintanya masih diliputi rasa ragu. Namun salahkah? 


Puk.


“Ngagetin lo, Ra!” delik kesal Adistya. 


“Makanya jangan banyak ngelamun, Bu, kesambet tahu rasa, lo!” ujarnya, kemudian duduk di sofa samping Adistya. 


Pagi tadi entah ada angin badai dari mana perempuan yang bisa di bilang masih pengantin baru itu menanyakan keberadaannya di rumah, dan tidak sampai satu jam kemudian sosoknya sudah berdiri di depan pintu rumah seperti orang linglung yang tidak tahu arah jalan pulang.


Jujur saja, Azura bingung, tapi ketika di tanya, Adistya tidak juga membuka suara atau menjelaskan alasan mengenai kedatangannya yang Azura bisa katakan amat langka mengingat Adistya yang selalu saja sulit di ajak pergi dan memilih mendekam di kamar dengan kekasih setianya, yaitu sebuah laptop dan camilan.


“Lo sebenarnya kenapa sih, Ty, dari tadi diem-diem bae. Berantem sama laki lo?"


Adistya menggelengkan kepalanya tanpa sedikitpun menoleh pada Azura yang mengajaknya bicara.


"Masalah sama penerbit lo?” tebak Azura, namun kembali mendapat gelengan kepala dari sahabatnya itu. 


“Terus lo kenapa, Adistya! Jangan mendadak bisu coba. Gue gak akan paham kalau lo gak cerita,” ucap Azura yang sudah kelewat gemas dengan aksi diam sahabatnya itu. 


Sudah dua jam Adistya membisu, bahkan dirinya sudah selesai dengan urusan rumah juga anaknya, sementara Adistya masih saja bungkam. Azura tidak paham dengan maksud dan tujuan sang sahabat datang ke rumahnya. Tapi sepertinya jika hanya untuk melamun masih banyak tempat yang lebih cocok dari pada rumahnya, misal kuburan yang begitu sepi dan adem, atau pinggir sungai agar ketika sadar dia sudah hanyut di bawa arus.


“Apa Gavril benar-benar udah cinta gue?” tanya Adistya begitu pelan, nyaris seperti cicitan. Hingga Azura harus meminta sahabatnya itu mengulang pertanyaannya.


“Kenapa gak lo tanya dianya langsung?” balik Azura bertanya, alisnya terangkat heran, ia masih belum paham ke mana sebenarnya Adistya akan membawanya pada sebuah percakapan.


Adistya menggelengkan kepalanya lesu. “Beberapa hari lalu dia datang ke rumah Gavril. Terkejut liat gue ada di sana, sampai akhirnya dia bilang bahwa Gavril tidak akan pernah jatuh cinta sama gue, karena sejak dulu hingga sekarang masih dialah yang ada di hati Gavril ….” Adistya menceritakan apa yang Byanca ucapkan pada hari itu, dan Azura mendengarkannya dengan baik hingga ia tahu apa maksud yang coba sahabatnya itu sampaikan, dan alasan kenapa Adistya murung sejak tadi.


“Dan lo percaya apa yang perempuan sialan itu katakan?” Azura bertanya setelah mendengar keseluruhan cerita yang Adistya sampaikan.


Adistya mengedikan bahunya, tanda ia pun tak tahu. Percaya? Mungkin sedikit, karena bagaimanapun sejak masa remaja dulu Adistya menyaksikan dengan langsung secinta apa Gavril terhadap perempuan itu, terlebih kenyataan bahwa keduanya masih dekat hingga saat ini, meskipun Gavril mengaku hanya sebagai sahabat.


Ya, Gavril mungkin menganggapnya seperti itu, tapi bagaimana dengan Byanca sendiri? Tidak ada yang tidak mungkin jika perempuan cantik itu masih mengharapkan Gavril kembali.


“Sebenarnya sekarang apa sih yang lo khawatirkan, Ty? Cinta Gavril atau kedatangan perempuan di masa lalu kalian? Oke, gue tahu bagaimana berengseknya dia saat remaja dulu, tapi sejauh belakangan ini, setelah kalian menikah dan memutuskan untuk berdamai, gue lihat dia tulus terhadap lo, dia mencintai lo dan gue yakin lo menyadari itu, Ty.”


Dalam hati Adistya mengangguki itu. Ia merasakan dengan jelas ketulusan Gavril terhadapnya, cinta Gavril dan kesungguhan pria itu dalam menebus kesalahannya yang dulu. Namun tidak bolehkah ia memiliki rasa takut itu, rasa khawatir akan kebenaran yang di ucapkan Byanca tempo hari.


Jujur Adistya resah, bagaimana jika nanti ucapan Byanca benar, bahwa laki-laki itu tidak pernah bisa mencintainya dengan tulus, bagaimana jika kenyataan membuktikan bahwa hanya Byanca yang ada di hati pria itu? Haruskah ia kembali terluka oleh orang yang sama? Haruskah ia menyerah di saat hati tidak ingin lagi mengaku kalah? Dan haruskah ia kembali pergi meski raga tetap ingin berada dekat dengan sandaran hati? Mampukah Adistya?


...****...


See you next part ...