
Selamat Membaca !!!
***
"Hallo Bun—Daddy?” sapaan itu berubah jadi seruan tak percaya membuat Adistya yang berada di samping Romeo terkekeh geli, begitupun dengan laki-laki itu sendiri. Lalu kemudian si pria bule itu melebarkan senyumnya menatap Gavin yang masih menatapnya tanpa berkedip di layar ponsel milik Adistya.
Sejak satu jam yang lalu kedatangannya, Romeo merengek meminta wanita tercintanya itu untuk menghubungi Gavin, mengingat betapa dirinya merindukan bocah cilik yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri itu. Dan beruntung Adistya mengabulkannya meskipun sedikit ragu.
“Hallo boy,” sapa Romeo melambaikan tangannya di depan layar datar yang menampilkan wajah menggemaskan Gavin. Ada rindu juga kebahagiaan di sana, membuat Romeo kembali mengulas senyumnya. Tanpa dijelaskan pun Romeo tahu bahwa bocah itu pasti bahagia bertemu dengan ayah kandung yang selama lima tahun hidupnya tidak pernah sama sekali memberikan pelukan.
“Daddy, where are you?” tanya bocah itu masih dengan raut terkejutnya. Setelah berbulan-bulan lamanya, ia kembali bertatap muka dengan sosok yang dianggapnya ayah, sosok yang selalu menggantikan peran Gavril walau tidak sepenuhnya.
“I am here, in Indonesia, beside your Mother,” jawab Romeo seraya mengarahkan kamera ke arah Adistya, dan wanita itu kemudian melambaikan tangannya seraya mengembangkan senyum. Tidak lupa menyapa sang buah hati yang terlihat semakin terkejut.
“Really?” Romeo mengangguk begitupun dengan Adistya, dan setelahnya Gavin berteriak riang di seberang sana. bocah itu sampai loncat-loncat di ranjangnya, membuat Romeo dan Adistya kembali terkekeh geli.
“You miss me, son?” tanya Romeo dan itu langsung mendapat anggukan bocah itu.
Tanpa ketiganya sadari bahwa sejak tadi Gavril mendengarkan, dan penasaran siapa laki-laki yang anaknya itu panggil ‘daddy’. Seketika dada Gavril terasa begitu sesak. Apa lagi saat mendengar tawa mantan istrinya dan pria yang tidak di kenal di seberang sana. Semakin menyesakkan karena Gavin mengabaikan keberadaannya. Bocah itu terlalu semangat berbicara dengan lawannya.
Segala hal bocah itu tanyakan dan ceritakan sampai tak lama kemudian sambungan di tutup dan Gavin masih belum juga menghilangkan raut bahagianya. Gavril yang tak lagi bisa menahan rasa penasarannya berjalan menghampiri sang putra dan duduk di samping bocah itu.
“Senang bangat kayaknya anak Ayah,” ucap Gavril sebagai pembuka, dan di tanggapi anaknya itu dengan anggukan antusias. Tanpa diminta bocah itu menceritakan sosok yang selama kurang lebih satu jam mengobrol dengannya lewat call video, dan tentu saja Gavril mendengarkan dengan seksama sambil menahan rasa sesaknya, sesekali Gavril melayangkan tanya dan di jawab lancar oleh bocah itu seakan Gavin memang senang membicarakan sosok itu.
Gavril tidak tahu hubungan jelas antara laki-laki yang di panggil ‘daddy’ oleh putranya dengan Adistya, dan Gavril pun belum tahu siapa nama pria itu karena Gavin hanya memanggilnya dengan sebutan yang tidak Gavril sukai. Jujur, Gavril merasa sesak saat tahu bahwa perannya sebagai ayah selama lima tahun belakangan ini ada yang menempati, namun lebih dari pada itu, Gavril entah mengapa merasa bahwa posisinya di hati Adistya pun tergeser oleh sosok yang tidak di kenalnya tapi begitu dekat dengan anaknya.
“Ayah mau gak temenin Gavin pulang ke rumah kakek? Gavin pengen ketemu Daddy,” ujar bocah itu begitu selesai dengan ceritanya. Tatapannya polosnya terlihat memohon, dan jika tidak salah mengartikan Gavril melihat ada rindu di kedua mata bulat anaknya itu. Dada Gavril bertambah sesak, dan ia marah saat ini, tapi sebisa mungkin Gavril tidak memperlihatkan kemarahannya di depan sang putra.
“Tanya Bunda dulu ya, kalau Bunda bolehin kita ke sana, baru kita pergi,” ucap Gavril dengan lembut.
Gavin menggeleng. “Jangan, Bunda pasti gak akan kasih ijin. Bunda pernah bilang kenapa milih minta Gavin ikut Ayah, Bunda gak mau Gavin lihat kondisi bunda yang gak bisa ngapa-ngapain. Bunda gak mau Gavin sedih,” ucap bocah itu dengan raut wajah sendunya.
Gavril membawa putranya itu ke dalam pelukan, bangga pada sang putra yang sudah mengerti dengan kesulitan orang tuanya, Gavin mandiri, dan Gavril lebih bangga pada sosok yang sudah membuat putranya tumbuh sebaik ini.
“Kalau begitu besok kita berangkat. Jangan lupa bangun pagi karena perjalanan kita cukup panjang.”
Gavril mendongak menatap ayahnya tak percaya, tapi setelah pria dewasa itu mengangguk kecil dengan senyum lembutnya langsung saja Gavin berseru gembira dan memeluk ayahnya erat, tidak lupa mengucapkan terima kasih. Namun dalam kesenangan bocah itu ada perasaan takut dan iri melingkupi hati Gavril. Seberharga itukah sosok yang kamu panggil ‘Daddy itu, Nak? Tanya hati Gavril perih.
Meskipun berat hati, Gavril tetap menuruti anaknya untuk bertemu sosok ‘daddy’. Bukan karena itu saja, tapi juga karena rasa penasarannya sendiri dan ingin melihat secara langsung kedekatan mereka meskipun Gavril sadar hatinya akan terluka.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, Gavril dan Gavin akhirnya tiba di halaman rumah Satya. Dengan terburu bocah itu turun dari mobil sang Ayah dan berlari menuju pintu utama, terlihat tak sabar untuk bertemu dengan sosok yang dirindukannya.
Gavril sendiri tidak langsung turun, ia memilih untuk diam di dalam mobil untuk beberapa saat, menyiapkan hatinya untuk menerima tatapan benci dan marah mantan istri juga menyiapkan hati untuk menyaksikan drama anaknya dengan pria asing itu secara langsung. Jujur, Gavril ragu, tapi ia tidak ingin tenggelam dalam rasa penasarannya. Mungkin saja setelah ini Gavril bisa tahu jalan yang harus ia pilih untuk kedepannya. Mungkinkah ada harapan atau justru malah kekecewaan yang dirinya dapatkan.
Menarik dan membuang napasnya perlahan berkali-kali, Gavril akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil dan membuka pintu bagasi untuk mengambil oleh-oleh yang sang mama siapkan untuk Adistya dan keluarganya, lalu berjalan menuju pintu utama rumah Satya yang terbuka dan suara tawa bahagia menyambut kedatangan Gavril. Namun tentu saja itu tidak membahagiakan karena Gavril sadar bukan bersamanya tawa itu tercipta. Sakit. Itu yang Gavril rasakan saat ini.
“Tuhan, inikah karma untukku?” gumam Gavril pilu, kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dan mengucapkan salam sebelum menerobos masuk ke dalam rumah mantan mertuanya, menghentikan gelak tawa yang semula terdengar dan kini semua orang menoleh ke arahnya.
Dengan susah payah Gavril melayangkan senyumnya, kemudian menyalami punggung tangan Satya yang berdiri menghampirinya, menyambut kedatangan Gavril dengan senyum ramahnya.
Dulu mantan ayah mertuanya itu memang sempat kecewa terhadapnya begitu juga dengan Seno, tapi semua sudah selesai beberapa, setelah Gavril gencar memohon ampunan tentu saja.
“Ini ada titipan oleh-oleh dari Mama. Maaf gak ngabarin dulu kalau mau datang,” ucap Gavril santun dan sedikit canggung. Gavril sudah merasa tak nyaman berada di sana apalagi melihat Adistya yang dengan terang-terangan mengabaikannya. Gavril bisa tahu karena ia sesekali mencuri pandang ke arah wanita yang duduk bersebelahan dengan laki-laki bule, yang menurut penilaiannya sendiri cukup tampan dan terlihat penyayang. Semua itu terlihat jelas dari mata teduh yang laki-laki itu miliki.
“Repot-repot aja emang Avril itu,” Satya menggelengkan kepalanya dengan senyum kecil seraya menerima barang bawaan mantan menantunya, lalu menyuruh Gavril masuk dan duduk, tapi Gavril menolak dengan halus.
Namun penolakannya itu tidak berhasil membawa Gavril keluar dari rumah itu karena sedetik kemudian Gavin turun dari pangkuan laki-laki bule itu dan berlari menghampiri Gavril. menarik ayahnya untuk duduk di sofa lain yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Adistya dan laki-laki bule itu.
“Daddy, Gavin udah ketemu Ayah, dong,” ucap bocah itu dengan nada bangga, membuat Gavril menoleh dan menatap putranya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. “Ayo, Dad, kenalan dulu. Ayah Gavin baik loh, kemarin Gavin baru di beliin mainan, di ajak ke taman hiburan, ke kebun binatang …” cerita Gavin berlanjut dengan begitu lancarnya, sementara Adistya masih terlihat enggan menatapnya, dan Gavril berusaha mencuri-curi pandang, sedangkan laki-laki bule itu menyimak dengan antusias setiap cerita yang keluar dari mulut mungil Gavin.
Sejauh ini Gavril bisa menilai bahwa laki-laki itu begitu tulus. Ekspresinya dalam menanggapi cerita bocah itu tidak di buat-buat. Gavril lega, tapi juga sesak di saat yang bersamaan. Ia merasa terancam saat ini.
Sekali lagi Gavril melirik ke arah Adistya, ingin lebih lama menatap wajah cantik itu, namun seketika itu juga Gavril menyesal. Laki-laki itu menatap nanar pada tangan yang saling bertautan itu dan tiba-tiba saja dadanya di serang rasa sesak. Ini baru tangan yang saling bertaut, lalu apa kabar Adistya yang melihat dirinya pergi dengan perempuan lain? Bagaimana kabar Adistya yang pastinya melihat Gavril memeluk dan mencium Rania waktu itu? Bagaimana kabar hati Adistya? Jawabannya adalah Gavril tidak tahu, tapi ia sadar bahwa sakitnya lebih dari yang dirinya rasakan saat ini.
Entah berapa lama Gavril melamun, karena setelah sadar ia sudah menemukan Satya bergabung bersama dan ikut menanggapi cerita cucunya. Satu cangkir berisi kopi sudah terhidang di hadapannya, begitu juga dengan beberapa toples camilan di meja yang bertambah jumlahnya. Entah sejak kapan, Gavril tidak menyadarinya saking larutnya ia dalam lamunan.
Di ruangan yang cukup luas itu hanya Gavril dan Adistya yang larut dalam pikirannya, sementara ketiga orang lainnya masih seru dengan percakapannya, lebih tepatnya Gavin yang banyak berceloteh.
***
See you next part!!!