Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
17. Keraguan yang Bertambah



Selamat membaca !!!


***


Adistya sampai di rumah saat jam menunjukan di angka tiga dengan jarum panjangnya mengarah ke angka delapan. Jika ketika berangkat tadi wajah Adistya cerah seperti langit siang yang dengan sombong menunjukkan sinarnya, kini Adistya pulang membawa wajah mendung yang juga sama dengan penampakan langit menuju sore ini, menandakan bahwa hujan akan turun membasahi bumi. Seolah tahu bahu salah satu yang bernaung di bawahnya berada dalam suasana yang tidak baik-baik saja.


Ucapan Elma dan Azura masih terngiang di kepalanya, begitupun sekelebat bayangan masa lalu dan kejadian dimana ia melihat Gavril bersama perempuan yang amat Adistya benci. Siapa lagi jika bukan Byanca, kekasih Gavril yang turut mempermalukannya pada zaman SMA dulu.


Mengingat kejadian itu, membuat kebencian yang perlahan terkikis kembali naik kepermukaan, dan sikap serta janji manis yang belakangan sering Gavril ungkapkan tidak mampu membuat hatinya tenang.


Adistya dari awal masih ragu, dan keraguan itu bertambah ketika melihat bagaimana kedekatan Gavril dengan Byanca belum lama ini. Keduanya masih terlihat seperti pasangan kekasih. Dan mungkinkah ….


“Sayang,” 


Lamunan Adistya terhenti begitu suara lembut dengan hembusan hangat di belakang telinganya menyapa, membuatnya terkejut dan refleks menoleh, mengakibatkan wajahnya beradu dengan wajah tampan Gavril yang melayangkan senyum manis dan sorot lembut sarat akan ketulusan.


Adistya meringis pelan, bukan ringisan kesakitan akibat wajahnya bertubrukan, melainkan ringisan akan pemikiran-pemikiran di kepalanya yang sejak tadi berputar. Adistya ingin percaya pada Gavril, tapi sebagian hatinya menolak. Apalagi dengan dukungan di Mall beberapa waktu lalu yang membuktikan bahwa antara Gavril dan Bianca masih berhubungan dengan baik meskipun mengenai statusnya tidak dapat Adistya tebak.


“Kamu ngelamun?”


Sekali lagi suara Gavril mengejutkannya sekaligus menyadarkan Adistya dari lamunannya.


“Nggak kok.” Singkat Adistya menjawab, kemudian membuang muka dari wajah Gavril, kembali menatap layar yang sudah menggelap di depannya yang entah sudah berapa lama ia abaikan.


Kening Gavril mengerut, heran dengan sikap Adistya yang kembali dingin. Namun Gavril tidak terlalu memikirkannya, ia hanya menganggap bahwa mungkin istrinya itu tengah fokus memikirkan kelanjutan novelnya yang baru. 


“Lagi sibuk ya?” Gavril mengelus sayang rambut lurus sepunggung milik Adistya yang terurai. Tapi baru saja tangannya itu bergerak, Adistya dengan segera menepisnya kasar, membuat Gavril mengerutkan kembali keningnya, heran.


“Dis—” belum selesai Gavril berucap, Adistya terlebih dulu bangkit dari duduknya, berjalan melewati Gavril masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. 


“Dia kenapa sih?” Gavril bertanya pada dirinya sendiri mengenai keheranannya atas sikap Adistya yang kembali sulit dirinya rengkuh. Pikiran Gavril mulai berputar, bertanya-tanya mengenai apa kiranya penyebab sang istri kembali pada sikapnya di awal. Sungguh Gavril tidak mengerti. 


Beberapa hari belakangan ini mereka baik-baik saja, bahkan Adistya sudah terlihat membuka diri, lalu apa yang membuat perempuan itu kembali cuek dan seolah enggan menatapnya? Gavril menggelengkan kepalanya, jelas ia tidak tahu jawabannya.


Tok… tok… tok.


“Dis, kamu baik-baik aja ‘kan?”  tanyanya saat beberapa menit berlalu sang istri tidak juga keluar dari kamar mandi. Gavril khawatir, tapi begitu suara gemericik air dari shower terdengar akhirnya ia menghela napas pelan, menebak bahwa mungkin istrinya itu tengah mandi. 


Meski rasa penasaran masih berkolebat di kepalanya, Gavril memutuskan pergi ke kamarnya sendiri dan akan menanyakannya lagi ketika makan malam nanti. Berharap bahwa nanti mood istrinya dalam keadaan baik, karena Gavril tahu di saat berada dalam mood buruk perempuan tidak akan mau bersuara. Apalagi perempuan PMS. Di jidatnya seolah tertulis ‘senggol bacok’ atau ‘awas anjing galak’. Mood-nya yang turun naik tak jarang membuat orang bingung terlebih pasangan, tidak di tanya salah, di tanya serba salah.


Tapi, memangnya Adistya sedang PMS? Ah entahlah, biar jawabannya di tunda dulu, saat ini Gavril hanya ingin mandi karena badannya sudah begitu lengket oleh keringat akibat aktivitasnya di rumah sakit, apalagi banyaknya pasien yang harus Gavril operasi.


...*****...


Beberapa hari belakangan ini Adistya melihat ketulusan di mata pria itu, apalagi caranya menunjukan kasih sayang. Tapi mungkinkah ketulusannya itu tidak menipu? Adistya jelas tidak tahu karena jawabannya hanya ada pada pria itu. Tapi bolehkah ia berharap bahwa Gavril memang tulus? Lalu bagaimana dengan Byanca? Mungkinkah mereka masih memiliki hubungan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu? Atau malah justru semakin dalam dan dirinya hadir sebagai perusak membuat kedua orang yang saling mencintai itu tidak dapat bersatu. 


“Gak! Gue bukan perusak. Gue bukan perusak.” Berkali-kali Adistya menggumamkan itu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


...******...


Sudah berkali-kali Gavril mengetuk pintu kamar Adistya yang terkunci, memanggil untuk mengajak makan malam, namun tidak juga ada sahutan dari dalam, membuatnya menghela napas dan turun dengan lesu menuju dapur. 


Makanan yang tersaji di meja makan tidak sama sekali membuat Gavril berselera, padahal saat di perjalanan pulang tadi perutnya sudah sangat keroncongan. Membayangkan bisa makan bersama dengan Adistya seperti beberapa hari terakhir menambah semangatnya untuk segera sampai di rumah. Tapi kini jangankan untuk makan, menatapnya saja Gavril tidak begitu berselera.


Pikirannya berputar mengenai perubahan sikap Adistya yang tiba-tiba, kembali seperti semula atau mungkin malah lebih dari sebelumnya sampai perempuan itu tidak mau menghiraukan panggilannya.


Gavril membuang napasnya kasar, lalu bangkit kembali dari duduknya dan melangkah meninggalkan meja makan. Jam baru menunjukan pukul delapan malam, tapi Gavril sudah memutuskan untuk mengunci dan mematikan sebagian lampu bagian dalam rumahnya sebelum naik kembali ke lantai dua dan berdiri di depan pintu kamar Adistya yang masih tertutup rapat. 


“Dis,” panggil Gavril seraya mengetuk pintu bercat putih di hadapannya. “Kamu marah sama aku? Maafin aku kalau itu memang benar. Tapi apa boleh aku tahu alasannya?” Gavril menghembuskan napasnya perlahan. 


Adistya mendengar panggilan Gavril, ia mendengar dengan jelas ucapan Gavril yang dari nadanya terdengar lesu. Sejak tadi sebenarnya ia sudah ingin bertanya langsung pada laki-laki itu mengenai hubungannya dengan Byanca, mengenai sikap manis pria itu belakangan ini dan meyakinkan keraguannya akan perasaan pria itu kepadanya. Tapi Adistya belum seberani itu, ia belum siap mendengar jawaban Gavril yang mungkin saja akan menyakiti perasaannya. Tapi diam seperti ini malah membuatnya tidak nyaman.


“Ya Tuhan, aku harus gimana?” gumam Adistya seraya bangkit dari kursi kerjanya, melangkah mendekati pintu hendak ia buka, tapi urung, dan memilih untuk duduk di tepi ranjang setelah mengambil asal koleksi bukunya. Adistya berusaha untuk fokus pada bacaannya, mengabaikan ketukan pintu dan bujukan Gavril yang kembali terdengar. Namun tetap saja ia tidak bisa, hatinya malah semakin sesak mendengar nada lesu di campur kebingungan laki-laki di luar kamarnya. 


“Sorry, Gav, sekarang aku butuh waktu untuk meyakinkan hatiku agar siap kembali terluka atas perasaan ini, agar kuat seperti dulu,” Adistya menghembuskan napasnya perlahan begitu bayangan mengenai kejadian dulu kembali terulang di dalam kepalanya, menimbulkan nyeri di dada dan tanpa terasa air matanya mengalir di susul isakan pilu yang menyesakkan. 


Saat remaja dulu Adistya selalu seperti ini begitu pulang dari sekolah. Penolakan kejam Gavril yang membuatnya menjadi remaja cengeng sekaligus tegar, karena ia akan tersenyum di depan orang-orang lalu menangis setelah di rasa semua orang tidak ada.


“Huffh. Jangan ingat itu lagi, Dis, jangan.” Adistya mengintruksikan pikiran dan hatinya untuk tidak lagi kembali ke masa dimana kebodohan itu dirinya alami. 


Adistya melirik jam yang tertempel di dindingnya. Sudah pukul dua belas malam lewat dan ia yakin bahwa Gavril sudah tidur nyenyak saat ini.


Turun perlahan dari ranjangnya, Adistya kemudian mengambil teko kacanya yang sudah kosong sejak tadi, dan untuk menghindari Gavril terpaksa membuatnya menahan rasa haus, tapi kali ini ia yakin bahwa suaminya itu sudah tertidur, itulah mengapa ia berani keluar kamar. Namun begitu Adistya membuka pintu, alangkah terkejutnya ia mendapati Gavril tertidur di depan pintu kamarnya, dengan posisi duduk dan bersandar pada kusen.


Gurat lelah terlihat jelas di wajah pria itu, membuat Adistya meringis bersalah. Dengan perlahan ia menunduk untuk memberikan elusan lembut di kening Gavril yang berkerut dalam. Air mata yang sejak tadi sudah surut kembali mengalir, tapi kali ini dengan alasan rasa bersalahnya.


Niat yang ingin ke dapur untuk mengambil air minum, Adistya urungkan, memilih ikut duduk di samping pria itu. Menatap tidak tega pada sang suami yang tertidur dalam posisi tidak nyaman, tapi tidak tega juga jika harus membangunkannya. Jadilah Adistya hanya memilih untuk diam menemani sambil sesekali memberi elusan lembut di kening dan sepanjang wajah Gavril, hingga laki-laki itu bergumam tak jelas, mungkin merasa terusik akibat sentuhannya.


“Maaf,” gumamnya pelan, lalu meraih satu tangan Gavril dan memberikan satu kecupan cukup lama di jari yang terdapat cincin nikah mereka. Fakta ini baru Adistya ketahui, karena memang baru kali ini juga Adistya memperhatikan jari suaminya. 


*****


See you next part !!!