Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
56. Sakit Hati



Selamat Membaca !!!


***


Baru kali ini Gavril merasa beruntung dengan nada dering ponselnya, karena setidaknya dengan alasan itu ia bisa pergi. Terlalu sesak berada di depan Adistya tapi tidak di hiraukan, terlebih ada laki-laki lain yang berada di sampingnya menambah rasa sakit hati.


Dengan ini Gavril mengakui bahwa hati perempuan lebih kuat di bandingkan dengan laki-laki. Adistya bisa tahan untuk beberapa waktu, menyaksikan langsung bagaimana pengkhianatan Gavril saat itu dalam pernikahan mereka, sementara sekarang, dirinya merasa ingin mati saja ketika melihat wanita itu bersama laki-laki lain, padahal sudah jelas bahwa hubungan mereka sudah selesai.


Gavril tidak rela, dan sepertinya tidak akan pernah bisa rela Adistya bersama laki-laki lain. Tapi apakah Adistya akan peduli? Jawabannya adalah tidak. Untuk apa memangnya wanita itu peduli pada laki-laki yang jelas-jelas sudah melukainya, laki-laki yang sudah mengecewakan karena pengkhinatannya dan bahkan menjadi alasan wanita itu cacat seperti ini? Tidak. Adistya tidak akan pernah peduli. Justru wanita itu pantas membencinya.


Setelah berpamitan pada Satya dan dan anaknya juga Adistya serta laki-laki bule itu, Gavril melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah. Telepon yang diterimanya adalah dari kantor polisi, memintanya untuk datang dan melihat kondisi Byanca, sekaligus ada yang ingin mereka bahas.


Sebenarnya Gavril malas karena jika ia melihat wajah mantan kekasihnya itu ia jadi kembali teringat bagaimana murka dan bencinya Adistya terhadapnya, dan Gavril takut tidak bisa menahan diri untuk tidak membunuh Byanca.


Setibanya di kantor polisi, Gavril langsung di bawa menuju sel Byanca, dan Gavril akui bahwa keadaan perempuan itu tidak baik-baik saja. Polisi yang mendampinginya menjelaskan mengenai kejiwaan Byanca yang terguncang akibat penabrakan terhadap Adistya beberapa waktu lalu, dan polisi menyarankan untuk Byanca di pindahkan ke rumah sakit agar di tangani oleh ahlinya. Tentu itu masih dalam pengawasan polisi karena bagaimanapun Byanca sudah dinyatakan sebagai tersangka karena sebelumnya perempuan itu baik-baik saja dan melakukan penabrakan dalam keadaan sadar. Hanya saja dia terlalu syok begitu melihat tubuh Adistya terpental jauh akibat ulah mobil yang dikemudikannya, hingga membuat mentalnya terguncang dan berakhir seperti ini.


Gavril tidak bisa memutuskan semua ini sendiri, karena bagaimanapun Adsitya lah yang berhak menghukum Byanca. Wanita itu yang menjadi korban. Sudah jelas wanita itu yang bisa memutuskan bagaimana kelanjutan hukuman untuk si pelaku.


Maka dari itu, Gavril akhirnya menghubungi Adistya dan meminta mantan istrinya itu datang ke kantor polisi. Meskipun awalnya menolak dan memaki-maki Gavril serta Byanca, akhirnya Adistya setuju untuk datang. Dan satu jam kemudian perempuan itu tiba bersama Satya dan juga laki-laki bule itu, sementara Gavin entah di titipkan pada siapa, karena bocah itu tidak terlihat keberadaannya.


Mengingat tidak bolehnya banyak orang yang masuk, jadilah Adistya mau tidak mau membiarkan Gavril mendorong kursi rodanya menuju sel yang di tempati Byanca seorang diri. Terlihat di sana perempuan itu terduduk dengan memeluk lututnya sendiri, kepalanya menunduk dan tubuhnya bergetar. Sesekali kepala dengan rambut acak-acakannya itu menggeleng dan gumaman tak jelas terdengar.


Melihat langsung bagaimana kondisi Byanca saat ini membuat Adistya sedikit iba, tapi begitu menatap dirinya sendiri yang dalam keadaan cacat, amarah dan kebencian itu kembali naik kepermukaan. Namun beruntung hatinya belum sekeras itu. Adistya menyetujui usul polisi untuk memindahkan Byanca ke rumah sakit jiwa untuk di sembuhkan mentalnya, masih sambil menjalani masa hukumannya yang tentu saja tidak sebentar.


Lagi pula, Adistya tidak sebaik itu, ia terlalu menyayangkan jika waktu hukuman Byanca di jalani terlalu singkat karena kematian wanita itu datang lebih cepat. Adistya ingin Byanca benar-benar menyesali perbuatannya terlebih dulu, dan tentu saja Adistya masih ingin mendengar kata maaf keluar dari mulut Byanca yang biasanya perempuan itu gunakan untuk memaki dan merendahkannya.


“Terima kasih untuk kerja samanya, saya akan segera memindahkannya ke rumah sakit. Untuk ibu, semoga lekas sembuh,” ucap si polisi seraya mengulurkan tangannya yang kemudian di jabat oleh Gavril dan Adistya secara bergantiaan.


Setelahnya Gavil kembali mendorong kursi roda Adistya keluar dari kantor. Di sana Satya dan si laki-laki bule itu sudah menunggu dan Adistya langsung di ambil alih oleh pria itu, sementara Gavril hanya bisa menatap dengan sendu dan tak rela.


“Percayalah jodoh tak akan ke mana,” ucap Satya menepuk pelan pundak Gavril, mengerti dengan perasaan mantan menantunya itu. 


**** 


Hari ini Gavril harus membawa Gavin kembali, karena besok bocah itu harus sekolah, begitupun dengan dirinya yang harus kembali bekerja, meskipun sebenarnya selama disini pun ia tetap bekerja. Menyibukkan diri agar tidak terlalu memikirkan Adistya dan pria bule itu.


“Gavin udah siap?” tanya Gavril begitu tiba di kediaman mantan istrinya dan mendapati sang putra tengah duduk di teras, hanya berdua dengan Adistya yang setia di kursi rodanya, menikmati brownis kukus yang terlihat masih hangat dengan di temani susu putih kesukaan kedua orang itu. Senyum Gavril melebar begitu bayangan mengenai keluarga kecilnya yang bahagia tengah menikmati kudapan sore hari di teras melintas dalam benaknya.


“Kita gak bisa nginep semalam lagi, Yah?” tanya bocah itu terlihat enggan untuk pergi.


Adistya yang mengertipun mengusap lembut rambut tebal putranya itu. “Besok kan kamu harus sekolah. Ingat apa kata Bunda semalam?” 


“Gavin gak boleh malas, sekolahnya harus pintar biar dapat nilai seratus dan buat Bunda sama Ayah bangga."


“Anak pintar,” Adistya mengacak gemas rambut sang putra. “Lain kali kalau liburannya panjang Gavin boleh pulang ke sini, jenguk Bunda. Ingat sayang, Bunda juga bukannya gak mau sama-sama kamu terus, bukannya bunda gak sayang kamu juga, Bunda sayang banget sama Gavin. Tapi Gavin bisa lihat ‘kan kondisi Bunda sekarang? Bunda gak mungkin mampu untuk merawat kamu saat ini, karena untuk sendiri saja Bunda memerlukan orang lain. Kamu paham kan, Nak?”


“Iya Bunda. Maafin Gavin yang belum bisa rawat Bunda. Gavin janji akan cepat besar dan menjadi anak baik yang membanggakan untuk Bunda sama Ayah. Cepat sembuh, Gavin sayang Bunda,” ucapnya lugu lalu memeluk bundanya itu sayang. Tentu saja Adistya membalasnya, tidak lupa untuk menghujani bocah itu dengan ciumannya.


Gavril yang menyaksikan itu terharu, bahkan sampai meneteskan air mata yang dengan segera di hapusnya kembali sebelum kedua orang itu melihatnya.


Entah lah sejak kapan dirinya jadi secengeng ini, karena yang jelas, jika itu berhubungan dengan Gavin dan Adistya, Gavril merasa dirinya lemah.


Adistya langsung melayangkan tatapan protes dan hendak menolak, tapi Gavin lebih dulu melayangkan persetujuannya dan dengan pengertian bocah itu melenggang masuk ke dalam rumah, meninggalkan Gavril dan Adistya hanya berdua di teras depan rumah. 


Untuk beberapa saat keduanya hanya diam dalam kebisuan, Adistya menatap lurus ke depan dengan raut tak sukanya, sementara Gavril setia menatap wajah wanita itu dari samping dengan jarak satu meter. Tak apa, itu sudah lebih dari cukup baginya.


“Aku tahu, kamu sudah terlanjur marah sama aku, dan kata maaf tidak akan pernah ada artinya lagi,”


“Bagus kalau sadar diri!” sahut Adistya dengan nada sinisnya.


Gavril hanya menanggapi dengan senyum tipis, sudah bisa menebak mengenai respons yang akan di berikan wanita itu.


“Meskipun begitu aku akan tetap mengatakannya,” Gavril menarik napas lalu membuangnya perlahan. “Adis, maafkan aku yang telah berkali-kali menyakitimu hingga kebencian itu muncul di hatimu. Untuk kejadian di masa remaja kita dulu, maafkan aku karena telah memberimu masa muda yang mengerikan, dan untuk pernikahan kita—”


“Tolong jangan bahas masalah itu lagi. Anggap kita tak pernah memiliki masa itu,” ucap Adistya memotong cepat kalimat Gavril seraya melayangkan tatapan terganggu.


“Bagaimana bisa seperti itu, Dis? Sesingkat apa pun pernikahan itu, nyatanya kita pernah bersama, menjalani rumah tangga—”


“Yang pada akhirnya kamu hancurkan!” kembali Adistya memotong ucapan Gavril dan kali ini nadanya lebih tinggi dengan sorot kemarahan yang terlihat jelas. “Kamu tahu, aku pernah menyimpan harapan pada pernikahan kita, pada sikap kamu dan janjimu? Tapi pada akhirnya hanya kekecewaan yang aku dapat.”


“Dis--”


“Sudahlah Gavril, aku lelah.”


“Tolong beri aku satu lagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku sudah menyesal, Dis, amat menyesal! Tolong beri aku kepercayaan kembali untuk memperbaiki yang sudah terjadi. Mengenai penabrakan yang Byanca lakukan, sungguh aku tidak pernah berpikir dia akan melakukan hal senekad itu. Aku akui, kami memang sering bertemu dan mengobrol bersama beberapa tahun belakangan ini, tapi tidak ada sedikitpun rasa yang aku miliki dan kukira dia pun sama. Ak—”


“Tidak perlu menjelaskannya sedetail itu padaku, Gavril. Aku tidak peduli apa pun alasanmu, karena itu semua tidak akan pernah merubah keadaanku saat ini. Pergilah seperti pintaku. Menjauhlah Gavril, jangan buat aku semakin muak dan membencimu.”


Gavril menghela napasnya berat lalu mengacak rambutnya frustrasi, menaklukkan Adistya memang masih sesulit itu, dan sepertinya semakin sulit mengingat bagaimana keras kepalanya perempuan itu, di tambah dengan keras hatinya Adistya saat ini.


Gavril bangkit dari duduknya dan hendak melangkah masuk ke dalam rumah Satya, tapi kalimat Adistya menghentikan langkahnya.


“Sepertinya Gavin tidak perlu lagi ikut denganmu, aku yakin Romeo bisa menyayangi dan menjaga Gavin dengan baik. Seperti beberapa tahun belakangan sebelum Gavin mengenal Ayahnya. Kamu pergilah, jangan pernah muncul di hadapan kami lagi.”


Wajah Gavril memerah, ia benar-benar marah saat ini. “Kamu bilang apa barusan? Coba ulangi sekali lagi,” pinta Gavril begitu dingin. Membuat Adistya terkejut dan tak lagi bisa mengelurakan suaranya. Keberaniannya semula lenyap begitu saja. Nada ini tidak pernah Adistya dengar sebelumnya.


“Kamu boleh membenciku, Dis! Kamu boleh mencaci makiku bahkan kamu boleh membuatku babak belur atau membuatku bernasib sama denganmu untuk balas dendam. Kamu boleh melakukan segala hal untuk menghukumku karena sudah membuatmu terluka akibat pengkhianatanku dan kesalahan yang tidak aku ketahui. Tapi kamu tidak berhak menjauhkan aku dari anakku. Selain anakmu, dia juga anak aku, darah dagingku! Jangan kamu harap aku akan membiarkan orang lain mengambil anakku apalagi dia yang tidak memiliki sedikitpun hak untuk itu.”


“Dia calon suamiku. Dia berhak atas Gavin!” teriak Adistya marah.


Gavril menggelengkan kepalanya singkat, masih berusaha menampilkan wajah datar dan dinginnya meskipun hatinya tengah remuk saat ini. Calon suami. Tidak adakah kenyataan yang lebih menyakitkan lagi dari ini?


“Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan Gavin diambil oleh siapapun. Kamu mau menikah dengannya bukan? Maka buat saja anak untuk kalian. Gavin anakku, dan akan tetap menjadi anakku.”


Setelahnya Gavril pergi dari hadapan Adistya, melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah dan langsung menggendong Gavin tanpa memedulikan teriakan Adistya, bahkan Gavril tidak sempat untuk berpamitan pada Satya. Ia terlalu marah, dan tidak ingin semakin emosi jika lebih lama lagi menanggapi mantan istrinya.


****


See you next part!!!