
Selamat Membaca !!!
***
Gavril yang merasa tidurnya terusik dan pegal mulai dirinya rasakan bergerak tak nyaman, lalu mengerjapkan mata untuk menyesuaikannya dengan cahaya sebelum kemudian samar-samar netranya menangkap sosok sang istri yang semalaman ia tunggu. Gavril mengucek matanya sebelum membukanya lebar dan sosok cantik Adistya semakin jelas terlihat, tangannya terulur menyeka air mata gadis itu.
“Kamu nangis?” tanya Gavril setelah memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Anggukan kecil perempuan itu berikan bersamaan dengan bertambah derasnya air mata yang mengalir. Membuat Gavril panik dan segera menegakkan duduknya. “Kenapa?” kembali Gavril bertanya seraya menangkup wajah basah istrinya.
“Kamu kenapa tidur disini?” bukannya menjawab, Adistya malah balik bertanya.
“Aku nunggu kamu, eh malah ketiduran,” jawabnya dengan seulas senyum menyusul kemudian. Semakin membuat Adistya merasa bersalah. “Kamu mau ngambil minum?” Gavril sudah tahu kebiasaan istrinya setiap malam, itulah alasan mengapa Gavril lebih memilih menunggu hingga ketiduran di depan pintu kamar gadis itu. Bukan berniat membuat istrinya iba bahkan merasa bersalah, tapi Gavril hanya ingin bertemu istrinya. Ia ingin tahu kejelasan mengenai sikapnya yang kembali seperti dulu dan ingin segera memperbaiki hubungan mereka.
“Udah ngambil minumnya?” Adistya menggeleng kecil, menarik senyum di bibir Gavril. “Ya udah, kamu masuk kamar aja, airnya biar aku yang ambilin?” kata Gavril kembali menggerakkan ibu jarinya mengusap air mata yang tersisa di sudut mata sang istri, lalu membawa perempuan itu untuk berdiri.
Ringisan kecil Gavril keluarkan karena sendi-sendinya terasa kaku saat digerakkan, dan itu membuat Adistya meringis, tahu bagaimana tidak nyamannya tidur dalam posisi Gavril tadi. Dan pegal di sekujur badan sudah pasti akan dirasakan. Adistya jadi berpikir, haruskah ia memberikan pijatan kepada suaminya itu?
Setelah di rasa pegalnya berkurang, Gavril kemudian mengambil pitcher yang tergeletak di pinggir pintu. “Tunggu bentar ya, biar aku ambilin dulu airnya,” Adistya mengangguk, tidak berniat membantah. Menatap kepergian Gavril yang kini sudah menuruni undakan tangga.
Setelah sosoknya tidak terlihat lagi barulah Adistya masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang menunggu Gavril sambil memikirkan bagaimana ia menjelaskan mengenai sikapnya, menanyakan hubungan pria itu dengan Byanca dan yang terpenting adalah menanyakan kesungguhan pria itu dalam membina rumah tangga bersamanya.
Adistya ingin semua kejelasan itu agar tidak lagi ada keraguan setelahnya. Jika pun mungkin Byanca masih pacar pria itu, Adistya tidak akan takut karena kenyataan sudah membuatnya menang, statusnya lebih tinggi, bahkan sudah di akui negara dan yang terpenting sudah sah di mata Tuhan.
Tak lama Gavril kembali, tidak hanya dengan pitcher-nya saja, melainkan di tambah susu coklat hangat yang biasa laki-laki itu buatkan untuk Adistya setiap malam belakangan ini.
Meletakan teko kaca yang sudah di isi kembali dengan air putih di meja kerja Adistya terlebih dulu barulah Gavril melangkah menghampiri istrinya, menyerahkan gelas berisi susu coklat hangat kemudian duduk di tepi ranjang, bersampingan dengan Adistya.
“Terima kasih,” ucap Adistya seraya meneguk hingga setengahnya susu buatan Gavril, yang laki-laki itu jawab dengan anggukan singkat.
Untuk beberapa saat mereka hanya bertahan dalam kesunyian malam, sibuk dengan pikirannya sendiri hingga kemudian Gavril yang lebih dulu memecah keheningan dengan tanya yang sejak sore tadi tidak juga menemukan jawabannya. Pertanyaan mengenai ada apa dengan sikap sang istri.
“Dis—”
"Apa kamu masih memiliki hubungan dengan dia?” pada akhirnya Adistya mengutarakan pertanyaan yang mengganggu pikirannya sejak siang tadi. Menatap Gavril dengan pandangan yang tidak bisa laki-laki itu artikan.
“Dia?” mengerutkan sebelah alisnya, Gavril tidak paham dengan ‘dia’ yang di maksud istrinya.
Adistya mengangguk, kemudian membuang pandangannya dari Gavril. “Byanca.” Mengucapkan nama itu masih saja Adistya emosi. Bukan karena perempuan itu kekasih Gavril saja, tapi perempuan itu juga pernah mempermalukannya dan merendahkan harga dirinya di hadapan banyak orang.
Gavril cukup terkejut saat istrinya menyebutkan satu nama itu, apalagi dengan nada suaranya yang terdengar menahan emosi.
Meringis pelan, Gavril kemudian menggeser duduknya lebih dekat, lalu meraih dagu istrinya agar perempuan itu menatapnya sebelum kemudian memberikan penjelasan mengenai apa yang Adistya mau. Tanpa ada yang di tutupi.
Hubungannya dengan Byanca sudah berakhir sejak semester awal perkuliahan dan sejak saat itu Gavril tidak lagi menerima kabar apa pun dari Byanca. Tidak juga dengan dirinya menghubungi perempuan itu mengingat jadwal kuliah Gavril yang padat dan jarak mereka yang tidak dekat.
Saat itu Gavril melanjutkan kuliah di Jerman sementara Bianca di Singapura. Hubungan mereka mulai merenggang sejak saat itu dan keduanya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka karena tidak bisa menjalani long distance relationship.
Tidak lama dari itu Gavril mendapat kabar bahwa Byanca memiliki kekasih baru yang tentu saja membuatnya galau, tapi tidak butuh waktu lama untuk Gavril menerima kenyataan kesendiriannya.
Gavril dan Byanca berpisah dengan cara baik-baik dan sesekali mereka bertemu hanya untuk sekedar reuni bersama teman-teman yang lainnya. Di sana ia berkenalan dengan kekasih dari mantannya dan Gavril percaya bahwa Byanca lebih bahagia dengan kekasih barunya di bandingkan saat bersama dengannya. Gavril sudah merelakannya, dan ia tidak pernah berniat memiliki Byanca kembali. Hubungannya dengan gadis itu murni sebagai teman. Itulah mengapa hingga saat ini keduanya masih akrab.
“Kamu ketemu Byanca?” tanya Gavril begitu menyelesaikan ceritanya.
Adistya menggeleng pelan. “Beberapa waktu lalu aku liat kalian jalan di Mall,” jawabnya dengan seulas senyum amat tipis, kemudian mengalihkan tatapannya dari Gavril. Menghindar. Ya itu yang Adistya lakukan karena tidak ingin sampai suaminya tahu bahwa dirinya sempat cemburu.
“Kamu di Mall juga waktu itu?” Adistya mengangguk. “Kenapa gak samperin aku?” Gavril menaikan sebelah alisnya.
“Kok untuk apa?” kening Gavril semakin mengerut.
“Ya untuk apa aku nyamperin kalian? Lagi pula saat itu hubungan kita belum dekat. Aku gak punya kesiapan untuk kembali di permalukan,” ucapan Adistya berubah lirih di akhir, dan senyum miris tergambar di wajahnya. Sementara Gavril meringis bersalah.
“Sayang,” panggilnya lembut, meraih pundak sang istri agar menghadapnya lalu membawanya ke dalam pelukan hangat yang nyaman. Kecupan demi kecupan Gavril bubuhkan di puncak kepala Adistya sebelum kemudian meletakan dagunya di sana. “Maafin kesalahanku di masa lalu, kesalahan yang aku tahu membuatmu amat terluka dan membenciku. Aku sadar, terlalu kejam mempermalukan kamu dulu. Maafkan aku Adistya. Aku menyesal ….”
“Gav, apa kamu sungguh ingin memperbaiki hubungan ini?” tanya Adistya dalam pelukan suaminya. Gavril mengangguk yakin. “Apa kamu mencintaiku?” dengan ragu Adistya melayangkan tanya itu.
Gavril melepaskan pelukannya, mencengkram erat pundak Adistya dan menatap dalam mata kecoklatannya. “Aku gak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh, Dis, tapi yang jelas aku mencintai kamu, aku menginginkan kamu, dan aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku tahu kamu ragu, tapi coba lihat ke dalam mataku, apa kamu menemukan kebohongan di sana?” Gavril menggelengkan kepala singkat. “Aku tulus, dan perasaan ini serius. Aku mencintai kamu, Adistya Fasyin.”
...*****...
“Kamu gak kerja?” menatap jam yang menggantung di dinding kamarnya sudah menunjukan angka delapan lewat lima belas menit, sementara Gavril masih anteng bergelung dalam selimut tebal Adistya.
Dini hari tadi mereka memang tidur dalam satu ranjang yang sama, dan itu entah siapa yang mengizinkan karena yang jelas begitu Adistya bangun langsung mendapati dirinya dalam pelukan Gavril. Dan itu terasa menyenangkan, hatinya menghangat dan senyumnya terbit begitu saja.
“Gavril,” kali ini Adistya mengguncang pelan tubuh suaminya agar bangun, takut laki-laki itu kesiangan berangkat kerja. “Ini sudah hampir setengah Sembilan loh. Ayo bangun, kasian pasien kamu nunggu. Gavril!” gemas Adistya karena melihat tidak juga ada pergerakan dari suaminya, hingga sebuah cubitan dirinya layangkan membuat Gavril mengaduh, tapi laki-laki itu tidak sama sekali berniat untuk sekedar membuka matanya.
“Apa sih sayang, aku masih ngantuk.” Katanya dengan malas lalu menarik pinggang Adistya hingga membuat perempuan itu terkesiap dan jatuh di atas dada bidangnya.
“Gavril, ini udah siang, kamu harus kerja!” kesal Adistya seraya melayangkan pukulan-pukulan kecil di dada suaminya itu, yang sialnya nyaman untuk bersandar.
“Aku kerjanya malam, Dis. Jadi, lebih baik sekarang tidur lagi biar aku gak ngantuk nanti.” Gavril tidak sama sekali membuka matanya, dan semakin menekan kepala Adistya agar tetap bersandar di dadanya.
“Loh, kok, malam?” heran Adistya yang kembali berusaha mengangkat kepalanya, namun sayang Gavril tidak membiarkan itu, sampai pada akhirnya Adistya pasrah dan memilih mencari posisi nyamannya lalu melingkarkan tangan di perut Gavril meskipun sedikit canggung karena belum terbiasa.
“Aku di pindahkan ke IGD untuk beberapa minggu ke depan,” singkatnya menjelaskan.
Adistya hanya mengangguk paham, dan setelahnya tidak lagi ada obrolan diantara mereka, hanya deru napas keduanyalah yang menjadi penanda bahwa kehidupan masih ada, juga detak jantung Gavril yang seirama dengan detak jantung Adistya yang menggila.
“Gav, kamu tahu bahwa perasaanku sejak dulu tidak pernah berubah?” Adistya membuka suara di tengah keheningan yang tercipta. “Di permalukan di depan umum oleh orang yang aku cintai membuat hati ini amat sakit,” lanjutnya mengutarakan perasaannya, tidak peduli Gavril mendengar atau tidak.
“Aku berusaha untuk bertahan, menebalkan muka dan juga perasaan. Menerima ejekan kamu juga teman-teman yang lain. Tapi nyatanya aku tidak sekuat itu, aku kecewa pada diriku sendiri, aku marah dan aku benci pada diriku sendiri. Termasuk membenci kamu juga. Tapi aku sadar bahwa perasaan ini tidak pernah bisa benar-benar aku hilangkan walau sudah berusaha sekuat tenaga,” air mata mulai menetes, membasahi kaos hitam yang Gavril kenakan.
“Aku tidak pernah tahu alasan mencintai kamu, dan mungkin itu sebabnya aku juga tidak menemukan alasan untuk menghilangkan perasaan ini walau jelas kamu menyakitiku … ah, bukan kamu, tapi aku sendiri yang menyakiti diri sendiri,” ralatnya dengan seulas senyum tipis yang tentu saja tidak dapat Gavril lihat.
“Azura selalu bilang bahwa aku perempuan bodoh karena mau-mau saja merendahkan diri hanya untuk mendapatkan cinta kamu. Walau ya … tidak sama sekali aku dapatkan saat itu,” kali ini Adistya terkekeh pelan, geli menyadari bahwa apa yang Azura katakan tidaklah salah. Dirinya bodoh. Adistya akui itu sekarang.
“Elma setiap hari menceramahiku, bahkan dia bilang pengen banget jedotin kepala aku ke tembok agar segera sadar bahwa kamu tidak pantas aku perjuangkan. Dasarnya aku yang keras kepala dan kerasukan setan cinta, aku tidak sama sekali menghiraukan itu, aku malah kembali mengungkapkan perasaanku sama kamu sampai pada akhirnya Elma benar-benar jedotin kepalaku ke tembok toilet," tawa Adistya pecah walau air mata masih saja mengalir. Mengenang masa itu membuatnya ingin tertawa. Menertawakan kebodohannya tentu saja.
Gavril yang sejak awal tidak benar-benar tertidur, mendengarkan dengan seksama cerita Adistya, dan hatinya teriris perih mendengar kenyataan itu. Namun tidak ada niat untuk menghentikan istrinya bercerita, Gavril ingin tahu sedalam apa Adistya terluka karena dirinya dan setelahnya ia berjanji akan membayar luka-luka itu dengan kebahagiaan yang tidak bisa istrinya lupakan.
“Kamu gak akan percaya kalau Elma jedotin kepala aku pake kekuatan penuh. Dia berharap aku hilang ingatan dan lupa sama kamu,” tawa itu semakin kencang terdengar, tapi Gavril menangkap kegetiran dari suara yang Adistya keluarkan. Membuat Gavril tanpa sadar semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping istrinya itu.
“Besoknya aku gak sekolah karena pening, bahkan sampai benjol kepalaku. Ayah sama Bunda tanya aku kenapa, dan Elma bilang kalau aku jatuh waktu di sekolah. Sialan banget ‘kan dia? Tapi ya gimana, aku gak bisa benci Elma karena aku tahu, dia adalah teman yang begitu peduli. Aku sayang dia melebihi rasa sayangku pada adikku sendiri. Aku beruntung memiliki Elma, memiliki Azura yang siap memberikan bahunya untuk aku menangis, menyiapkan telinganya untuk aku berkeluh kesah dan merentangkan tangannya siap memelukku untuk memberi kekuatan, dukungan dan cinta, walaupun sebelum itu mereka menceramahiku habis-habisan.”
Gavril ikut senang mendengar cerita Adistya mengenai sahabat-sahabatnya yang begitu peduli, senang karena di saat luka dirinya torehkan ada sahabat-sahabatnya yang merangkul, dan sepertinya Gavril berhutang maaf juga terima kasih pada kedua sahabat dari istrinya itu.
*****
See you next chap !!!