Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
8. Terlintas Ingatan Dulu



Selamat Membaca !!!


***


Meskipun sudah berstatus menjadi seorang istri, tidak membuat pagi Adistya berubah sebagaimana istri-istri lainnya yang baru saja menikah, karena sesuai kesepakatan sebelum pernikahan berlangsung. Tidak di izinkan mencampuri urusan masing-masing, di tambah dengan tidak adanya kewajiban untuk melayani bagaimana selayaknya suami istri. Jadi, di jam sepuluh pagi ini, Adistya baru saja bangun dari tidur nyenyaknya, sementara di rumah tidak ada siapa pun selain Adistya, yang artinya, Gavril sudah berangkat ke rumah sakit untuk bekerja.


Begitu selesai membasahi tenggorokannya dengan air dingin yang di ambilnya dari lemari es, Adistya kembali naik ke kamarnya untuk mandi karena ia hari ini berniat untuk belanja kebutuhannya selama di rumah ini. Masih ingat bukan bahwa Gavril tidak peduli walau dirinya kelaparan sekali pun? Sebab itu lah Adistya memutuskan untuk berbelanja dan memenuhi isi kulkas yang sudah kosong, karena dirinya enggan jika harus mati kelaparan. 


Masa bodo dengan Gavril, toh laki-laki itu memiliki uang yang banyak, makan di restoran bintang lima sekali pun tidak akan membuat laki-laki itu jatuh miskin dalam sekejap.


Begitu selesai dengan tampilan sederhananya seperti biasa, Adistya kemudian keluar dari rumah, tidak lupa dirinya kunci lebih dulu sebelum menaiki ojek pesanannya karena Adistya tidak ingin mengambil resiko masuknya maling yang akan membawa kabur barang-barang berharga di rumah Gavril. 


Adistya tidak ingin di salahkan, apalagi sampai masuk ke penjara gara-gara kelalaiannya. Meskipun tidak saling mencampuri urusan masing-masing, tapi setidaknya Adistya bisa menjaga harta benda laki-laki yang menjadi suaminya.


“Wih pengantin baru,” Azura, yang tak lain adalah sahabat sekaligus tetangga Adistya di tempat tinggal sebelumnya, menyapa tanpa sama sekali Adistya harapkan. Tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu dengan wanita itu walau kini mereka sudah tinggal di komplek yang berbeda. 


“Belanjanya, kok, masih sendirian. Lakinya mana, Sis?” lanjutnya bertanya, menatap kanan, kiri, depan dan belakang untuk mencari pasangan Adistya yang jelas-jelas tidak berada di sana.


“Lo juga bukannya udah punya laki sama anak, tapi kok belanjanya sendirian?” balik Adistya bertanya dengan nada enggan, hanya untuk mengalihkan percakapan dengan sahabatnya itu. Adistya malas jika harus membahas Gavril.


“Laki gue, ya, kerja lah, masa iya ngintilin gue belanja. Cukup gue aja yang ngabisin uangnya, dia biar cari nafkah.”


“Nah itu lo tahu.” Cuek Adistya menjawab.


“Tapi ‘kan beda, Sis. Lo masih pengantin baru, seminggu aja belum. Harusnya mesra-mesraan dulu gitu, belanja di temenin, bobo di kelonin, makan di suapin, kalau perlu mandi juga barengan biar bisa saling nyabunin.” Azura terkekeh dengan ucapannya sendiri, sementara Adistya memutar bola matanya malas. 


Tanpa menanggapi ocehan perempuan itu Adistya melanjutkan langkah menyusuri rak demi rak untuk mengisi trolinya yang saat ini masih kosong. Terus menanggapi ocehan Azura hanya akan membuatnya pusing dan sudah dapat di pastikan ia akan telat pulang ke rumah dan meninggalkan pekerjaannya yang sudah sejak kemarin terabaikan gara-gara harus mengurusi kepindahannya serta membenahi barang-barangnya seorang diri.


“Ra, gue duluan ya,  see you.” Pamit Adistya begitu selesai membayar semua belanjaannya, dan Azura baru saja menerima giliran.


“Oke, hati-hati, Ty. Jangan lupa sampaikan salam gue sama laki lo.” Azura sedikit berteriak mengucapkan itu, membuat beberapa orang menoleh dan menatap aneh, sementara Adistya hanya cuek dan melenggang begitu saja tanpa sama sekali membalas ucapan sahabatnya. 


Azura memang terkadang sememalukan itu, tapi Adistya tetap saja menyayangi wanita itu.


...***...


Selesai membereskan barang-barang belanjaannya, Adistya membawa kantong kresek besar satunya yang berisi khusus cemilan untuk ia simpan di kamarnya, teman yang harus selalu ada di sampingnya, menemani dalam segala waktu terutama di saat dirinya menuangkan segala imajinasi ke dalam sebuah tulisan.


Menjadi seorang penulis tidaklah mudah seperti apa yang di pikirkan orang-orang yang hanya sekedar menjadi penikmat. Mereka hanya tahu membaca dan berkomentar mengenai baik dan buruknya tulisan itu sendiri, tanpa tahu bagaimana susahnya seorang penulis merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat indah yang dapat di nikmati pecintanya. Sudah seperti seorang selebriti, di cibir dan di rendahkan. Padahal diri mereka sendiri belum tentu mampu. 


Seorang penulis seperti dirinya tidak sembarang asal tulis, karena di setiap lembar kata yang di rangkai selalu Adistya sematkan sebuah harapan, atau juga berbagi pengalaman yang pernah dirasakannya. 


Dulu Adistya menuliskan harapan di karyanya mengenai sebuah pernikahan indah dengan cinta sebagai pondasi. Namun nyatanya realita memang tidak pernah seindah ekspektasi, dan kenyataan harus dirinya terima dengan menjalankan pernikahan yang sama sekali tidak ia inginkan, bahkan dirinya pun tidak di inginkan oleh suaminya. 


Alasan kenapa surat perjanjian itu Adistya buat hanya untuk mencegah hatinya kembali jatuh pada orang yang sama, yang dulu pernah menggoreskan luka. 


Kenyataan dulu dirinya selalu mendapat penolakan yang sarat akan sebuah hinaan, membuat Adistya tidak ingin lagi jatuh pada laki-laki itu. Jika pun suatu saat nanti perasaan cinta itu kembali muncul, dengan sekuat tenaga ia akan menyembunyikannya. Adistya ingin Gavril yang lebih dulu jatuh cinta padanya, dan akan ia pastikan bahwa laki-laki itu yang nanti tidak siap kehilangannya. Cukup dulu dirinya di campakan, tidak untuk selanjutnya.


Adistya menghentikan sejenak jari-jarinya yang tengah menari lincah di atas tombol-tombol huruf di depannya, hanya untuk menghembuskan napasnya. Ternyata mengingat Gavril masih sesakit itu, dadanya masih sesesak dulu, dan bayangan penolakan kejam laki-laki yang menjadi suaminya kini masih tergambar jelas dalam ingatan. 


Mulai dari tatapan jijik yang Gavril berikan, penolakan di hadapan warga sekolah yang membuatnya malu, hingga dirinya yang di bandingkan dengan kekasih pria itu, yang saat masa sekolah dulu adalah perempuan tercantik yang ada di SMA-nya.


“Lo mau jadi pacar gue?”


Gavril menunjuk dirinya sendiri, saat kata cinta kembali Adistya utarakan entah untuk ke berapa kalinya.


“Sebenarnya lo punya kaca gak sih di rumah? Apa perlu gue beliin?” tatapan sinis Gavril berikan, tanpa peduli bahwa hampir semua warga sekolah menyaksikan, memenuhi lapangan basket. Laki-laki tidak berperasaan itu seolah bahagia semua orang menyaksikan, karena menurutnya Adistya lah yang menanggung malu. 


“Muka buruk rupa kayak gini, pengen jadi pacar gue?” tawa Gavril terdengar sarat akan penghinaan. “Kalau lo udah bisa nyaingin cantiknya Byanca, mungkin gue akan pertimbangkan. Itu pun kalau lo mampu.”


Perkataannya itu di akhiri dengan tawa yang terdengar semakin menyakitkan, bukan hanya Gavril, tapi juga teman-teman laki-laki itu, serta perempuan yang di sebutkan namanya. 


Entah untuk ke berapa kalinya, penolakan seperti ini Adistya dapatkan, namun dirinya tidak ingin juga menyerah sampai pada akhirnya ia berada di titik lelah dan bertekad untuk berhenti mengejar laki-laki itu. 


Tangan Adistya mengepal kuat, wajahnya sudah memerah, menahan amarah. Untuk kesekian kalinya ia di rendahkan, dirinya di ejek dan di permalukan. Adistya merasa bahwa kini sudah cukup baginya bersabar.


Adistya mengangkat kepalanya yang semula menunduk, menatap berani laki-laki di depannya yang masih melayangkan senyum mengejek dengan tangan yang merangkul pundak gadis di sampingnya. Senyum sinis Adistya berikan, sebelum kemudian ia berkata, “Kalau nanti gue udah melebihi cantiknya dia,” Adistya menunjuk Byanca tanpa sedikit pun mengalihkan tatapannya dari Gavril.  “Sorry, di saat itu juga tipe gue bukan lagi laki-laki semacam lo.”


Setelah mengucapkan itu Adistya pergi, dan sejak saat itu pula dirinya berhenti mengejar laki-laki yang sudah banyak memberinya luka. Meskipun banyak orang yang membicarakan dan mengatainya tidak tahu malu, Adistya hanya perlu menutup telinganya, dan bertahan hingga kelulusan itu dirinya dapat. 


Adistya tersenyum kecil mengingat semua masa kelamnya dulu bersama laki-laki yang kini malah menjadi suaminya, membuat Adistya sempat menyalahkan takdir yang sudah memberinya jodoh berupa laki-laki yang tidak sama sekali Adistya harapkan kehadirannya. Namun, sepertinya ia memang harus mulai menerima takdirnya itu, hidup bersama dengan Gavril dalam ikatan sebuah pernikahan.


***


See you next chap !!!