
Selamat Membaca!!!
***
Sesuai janji, Gavril mengantarkan Gavin pada sore harinya meskipun rasanya ia masih berat berpisah dari putra tercintanya yang baru saja ia ketahui keberadaannya kemarin siang.
Gavril tidak ingin berpisah dengan Gavin, tapi ia sadar bahwa ia tidak bisa memonopoli bocah itu seorang diri, ada Adistya yang tak lain adalah ibu Gavin yang mengandung, melahirkan dan merawat bocah itu hingga sebesar ini. Sementara Gavril tidak ikut andil dalam mengurusnya selama ini meskipun sebenarnya ia juga berhak atas Gavin. Ia ayahnya, ayah kandungnya. Tapi Gavril merasa bahwa dirinya tidak seberhak itu.
Gavril berharap ia dapat bertemu dengan Adistya saat mengantarkan anaknya ke rumah Satya, tapi sepertinya keberuntungan tidak sedang berpihak padanya. Hanya Satya dan istri Seno yang menyambut kedatangannya dengan Gavin. Sementara sosok yang dirindukannya tidak juga menampakkan diri walau Gavril sudah bertahan selama satu jam di rumah mertuanya itu, tentu saja itu karena Satya yang memintanya mampir terlebih dulu dan Gavin yang mengajaknya bermain robot-robotan.
“Kakek, Bunda mana?” tanya Gavin pada akhirnya, membuat Gavril menghela napas lega mengingat itulah yang ingin ia tanyakan sejak tadi, tapi terlalu sungkan, mengingat sore kemarin Adistya menolak berbicara dengannya dalam telepon.
“Bunda kamu lagi pergi sama Aunty Azura,” jawab Satya yang saat ini duduk di sofa menyaksikan interaksi Gavin serta Gavril yang terlihat akrab walau baru sehari menghabiskan waktu bersama.
“Ke mana?” kembali pertanyaan yang ingin Gavril lontarkan diwakili oleh putranya. Gavin seolah tahu kegundahan hati ayahnya saat tidak mendapati keberadaan Adistya, padahal Gavril begitu merindukan sosok yang sudah dirinya khianati dan ia lukai berkali-kali.
“Kakek gak tahu, Bunda cuma bilang mau pergi, gak bilang kalau mau pergi ke mana.”
Satya melirik Gavril yang sepertinya juga menyimak baik-baik obrolannya dengan sang cucu. Senyum terlukis di bibir rentanya, sadar bahwa menantunya itu juga mengharapkan kehadiran Adistya.
Satya dapat melihat bahwa ada rindu juga penyesalan di mata Gavril, dan ia yakin bahwa laki-laki yang bertahun-tahun lalu pernah menjabat tangannya untuk ijab kobul itu masih mengharapkan putrinya, laki-laki itu masih mencintai Adistya. Satya tahu itu.
“Masih lama gak pulangnya?”
Satya menggeleng sebagai jawaban. “Kenapa memangnya?”
“Gak apa-apa, tadinya Gavin pengen main sama Bunda juga, kayak teman-teman Gavin di Swiss, mereka main sama Daddy dan Mommy-nya. Gavin juga pengen kayak mereka. Sekarang di saat Ayah ada, malah Bundanya yang gak ada.”
Helaan napas panjang terdengar dari bocah itu, membuat Gavril dan Satya saling pandang kemudian menatap Gavin yang kini menunduk, terlihat tak lagi semangat.
“Suatu saat nanti, Ayah janji kita akan main bersama, jalan-jalan dan melakukan banyak hal bersama, Gavin, Ayah sama Bunda. Ayah janji!” ujar Gavril yakin lalu meraih putranya itu ke dalam pelukan, mengecupi sayang puncak kepala putranya. Gavril sedih mendengar keinginan putranya.
Terdengar sederhana memang, tapi begitu sulit dilakukan mengingat masa lalu mereka yang begitu menyakitkan, terlebih untuk Adistya yang sepertinya kini amat membencinya. Namun ia berjanji akan mengabulkan keingin putranya, ia berjanji akan kembali mendapatkan maaf mantan istrinya, dan mendapatkan kembali perempuan itu. Semoga belum ada seseorang yang berhasil mendapatkan hati mantan istrinya.
Satya tidak bisa berkata apa-apa, tapi ia ikut terluka mendengar keinginan cucunya. Bagaimanapun perpisahan Gavril dan Adistya menjadi pukulan beratnya saat itu.
...****...
Hari-hari Gavril selanjutnya berjalan dengan lebih semangat. Senyumnya sudah kembali dapat terukir, dan Gavril tidak lagi menjadi sosok dingin di rumah sakit tempatnya bekerja. Namun Gavril tetap tidak kembali pada propesinya sebagai dokter, kali ini karena ia tidak ingin waktunya tersita sepenuhnya oleh pekerjaan.
Gavril ingin memiliki waktu lebih banyak untuk putranya, bahkan sesekali Gavril mengajak bocah kesayangannya itu ke tempat kerjanya, mengenalkan Gavin pada karyawannya, juga pada teman dokternya dengan bangga. Dan itu tentu saja mengejutkan mereka. Tapi hanya sesaat karena ingat bahwa Gavril sudah pernah menikah dua kali. Dan mereka tahu bahwa dari pernikahan keduanya Gavril tidak memiliki buah hati. Jadi sudah dapat mereka simpulkan dari mana Gavin berasal.
Gavril hanya menyimpulkan bahwa mungkin memang sebenci itu Adistya terhadap dirinya. Hanya menghela napas yang dapat Gavril lakukan, dan tentu saja bersabar. Semoga suatu saat nanti mereka bisa bertemu dan mengobrolkan semua hal yang belum selesai diantara mereka selama enam tahun ini. Hubungan suami istri memang sudah pengadilan selesaikan, tapi ada yang belum selesai diantara mereka selain hadirnya Gavin, yaitu perasaan.
Hati Gavril tidak baik-baik saja sejak gugatan cerai Adistya lontarkan, ia tidak baik-baik saja saat kepergian wanita itu, lebih tak baik saat tidak melihat Adistya sama sekali selama bertahun-tahun. Hanya foto yang masih tersimpan di rumah mereka dulu yang menjadi pengobat rindunya, namun tentu saja itu tidak dapat benar-benar menyembuhkan hati dan perasaannya. Pun dengan pernikahannya dengan Rania yang dilakukan tak lama setelah perceraiannya dengan Adistya.
Gavril sadar bahwa dirinya sudah berdosa pada Rania, tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya bahwa ia menyesal telah mengkhianati Adistya, ia menyesal telah melukai wanita itu dan Gavril menyesal telah membuat Adistya menyerah pada dirinya. Namun penyesalan itu tidak berarti. Semua sudah terjadi dan yang Gavril perlu lakukan adalah hidup bersama dengan Rania, menjalani pernikahan mereka walau dalam bayang-bayang Adistya.
Itu tentu saja tak mudah, tapi Gavril tidak ingin kembali mengecewakan perempuan. Gavril tidak ingin kembali menyakiti perempuan, walau sadar bahwa dengan selalu memikirkan Adistya ia telah melukai perasaan Rania.
“Ayah, Gavin pengen itu,” tunjuknya pada penjual telur gulung yang berada tak jauh dari posisi mereka berada.
Siang ini Gavril memang mengajak anaknya itu ke taman setelah sebelumnya melakukan makan siang berdua.
Gavril memutuskan untuk tidak kembali ke rumah sakit karena memang tidak banyak pekerjaan yang harus dirinya selesaikan.
“Boleh, tapi jangan banyak-banyak, jangan pakai saus juga!” peringat Gavril tak main-main. Bocah itu mengangguk setuju dan turun dari kursi yang di dudukinya bersama sang ayah, lalu berlari menuju si penjual.
Melihat bagaimana aktif dan cerianya Gavin, membuat hati Gavril berdesir. Mungkin akan lebih sempurna lagi kebahagiaan putranya jika dirinya dan Adistya masih bersama.
Hanya membayangkannya saja membuat senyum Gavril terukir lebar, bagaimana jika mereka benar-benar berkumpul sebagai keluarga kecil. Tak dapat Gavril terka sebesar apa rasa bahagianya.
“Bunda!”
Teriakan itu membangunkan Gavril dari lamunannya, dan dengan refleks ia menatap ke depan dimana anaknya tadi berada, tapi sang putra tidak lagi nampak, membuat Gavril menatap kanan kirinya hingga sosok itu ia dapatkan tengah berlari menuju seorang perempuan yang berjalan dari arah berlawanan.
Gavril terpaku pada sosok cantik yang dirindukannya itu. Adistya terlihat semakin cantik dan menarik, membuat Gavril tidak dapat menyangkalnya bahwa ia terpesona terlebih pembawaan wanita itu yang keibuaan saat mendapati kehadiran anaknya. Tanpa mencari lebih dalam pun Gavril tahu bahwa Adistya begitu menyayangi sang putra.
Langkah kaki Gavril membawanya kehadapan perempuan itu, matanya tak lepas menatap Adistya yang berinteraksi dengan Gavin, hingga kini ia berada tepat di depan wanita itu.
Adistya belum menyadari keberadaannya karena masih sibuk dengan Gavin yang berceloteh ini itu. Sampai pada akhirnya Adistya mendongak, tatapan mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat, sebelum wanita itu memutuskannya lebih dulu dan kembali menoleh pada bocah di hadapannya.
Senyum Adistya tidak lagi ada, begitupun dengan fokus perempuan itu yang tak lagi memperhatikan celotehan anaknya. Gavril tahu bahwa perubahan itu pastilah karena dirinya, namun Gavril ingin egois sekarang.
Setelah dua minggu ini ia tak juga bertemu di rumah orang tua wanita itu, kini Tuhan memberikan jalan untuk mereka bertemu. Dan inilah cara Tuhan mempertemukan mereka. Gavril tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Banyak yang ingin Gavril ucapkan pada perempuan itu, salah satunya adalah permintaan maaf.
Selama ini Gavril merasa dihantui oleh penyesalan dan ia ingin segera menyelesaikannya saat ini juga. Semoga Adistya berkenan untuk meluangkan waktunya. Satu menit pun tidak masalah, yang penting kata maafnya tercurah.
***
See you next capt guys!!!