Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
68. Impian



Happy Reading !!!


***


“Selamat datang di rumah baru kita, Sayang.” Gavril merentangkan kedua tangannya begitu pintu utama sudah di buka, menampilkan ruang tamu yang luas dengan perabotan tersusun rapi sesuai tempat dan kegunaannya.


Adistya menutup mulutnya terkejut sekaligus tidak percaya. Gavril benar-benar memberikannya kejutan berkali-kali. Pernikahan mendadak yang cukup menakjubkan, aset yang pindah alih atas namanya, dan sekarang rumah dengan halaman luas yang menjadi impiannya. Sungguh ini adalah kejutan yang tidak pernah Adistya bayangkan, tidak pernah ia harapkan, tapi tentu saja tidak pernah bisa ia tolak.


Melangkah masuk ke dalam rumah itu, Adistya menatap sekeliling, masuk ke dalam ruangan-ruangan lainnya hingga kemudian tiba di bagian belakangan rumah itu, dan di suguhkan dengan pemandangan kolam renang, gazebo yang nyaman untuk bersantai, di tambah dengan taman bermain anak yang lengkap. 


Rumahnya memang tidak terlalu besar dan tidak banyak ruangan di dalamnya, hanya saja halaman depan dan belakang benar-benar luas. Sesuai dengan yang Adistya impikan. 


Dengan mata berkaca-kaca, Adistya menoleh pada laki-laki yang berdiri di sampingnya, menatap dengan senyum manis yang tersungging. “Bagaimana apa kamu suka?” tanya pria itu.


Adistya mengangguk cepat, lalu berhambur memeluk sang suami, mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.


“Sejak kapan kamu menyiapkan ini semua?” Adistya mengurai pelukannya, lalu menyeka air matanya dengan buru-buru. “Dan dari mana kamu tahu kalau aku lebih suka rumah dengan halaman luas?” rasa penasaran itu tidak bisa Adistya tahan, karena seingatnya ia tidak pernah mengutarakan mimpinya yang satu ini.


“Novel yang kamu tulis,” jawab pria itu masih dengan senyumnya. “Aku masih ingat saat itu kamu pernah bilang bahwa dalam setiap buku yang kamu tulis ada sebagian harapan yang tidak kamu ungkapkan, ada keinginan yang hanya mampu di pendam dan ada rasa yang tak dapat di utarakan,” Gavril menangkup wajah cantik istrinya, lalu mengecup singkat bibir tipis itu. “Semua ini aku ketahui dari novel-novel yang kamu tulis. Meskipun ... ya, aku tidak sepenuhnya tahu apa keinginan terbesarmu. Tapi aku ingin selalu berusaha untuk mewujudkan apa yang menjadi mimpimu, dan mungkin ini salah satunya.”


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Adistya kembali memeluk pria itu erat, menumpahkan air mata bahagianya di dada bidang sang suami yang meskipun di masa lalu selalu menggoreskan luka, tapi di masa sekarang dan semoga dimasa yang akan datang pria itu akan menaburkan kebahagiaan di rumah tangganya.


“Jadi, apa sekarang kamu ingin melihat kamar kita?” kata Gavril sedikit menarik kepala Adistya agar dapat melihat wajah cantik itu.


“Kamu belum jawab, sejak kapan kamu menyiapkan ini semua?” menghiraukan pertanyaan Gavril sebelumnya, Adistya balik bertanya, menatap suaminya itu dengan amat penasaran. 


“Sejak kamu kembali, aku mulai merencanakan ini, dan satu tahun yang lalu pembangunan di mulai. Rencananya aku akan memberikan rumah ini untuk permintaan maafku yang sudah menelantarkan kalian. Saat itu aku kurang percaya diri untuk berharap kembali memilikimu mengingat betapa bencinya kamu terhadapku. Tapi sekarang aku justru tidak menyangka bahwa rumah ini akan kita tinggali bersama,” senyum Gavril semakin lebar, kemudian menatap tepat pada mata Adistya yang basah namun tetap berbinar. “Sayang, aku ingin kita bahagia di rumah ini, bersama Gavin dan anak-anak kita yang lainnya.”


Adistya mengangguk sebagai jawaban persetujuannya. Hatinya sekarang sudah sepenuhnya yakin pada laki-laki di depannya, tidak ada lagi ragu seperti beberapa waktu lalu. Kini Adistya sudah percaya akan cinta yang pria itu miliki dan sekarang Adistya percaya bahwa luka itu tak akan lagi ada.


“Jadi, apa kita sudah bisa ke kamar?” satu kecupan singkat kembali Gavril daratkan di bibir tipis istrinya itu lalu kedipan nakal di layangkannya, membuat Adistya mencubit perut Gavril dengan wajah yang sudah merona malu. Sementara Gavril yang gemas menjawil hidung mancung Adistya dan langsung menggendong wanita itu tanpa aba-aba.


“Gavril!” Adistya refleks melingkarkan lengannya di leher suaminya itu karena terlalu terkejut dan takut terjatuh.


“Sekarang mimpi-mimpimu menjadi mimpiku juga, begitupun sebaliknya. Jadi berhubung impianku sejak dulu memiliki banyak anak, mari kita mulainya. Gavin juga pasti gak sabar menunggu adik-adiknya lahir.”


Tanpa banyak basa-basi lagi, Gavril langsung saja menyambar bibir Adistya sambil melangkah hati-hati menaiki undakan tangga menuju kamar mereka, dan menjatuhkan istrinya itu di empuknya kasur tanpa melepaskan ciuman mereka yang semakin bergerak liar dan panas.


Tangan yang sejak tadi berada di punggung Adistya mulai merambat masuk ke blus yang istrinya itu kenakan, meraih benda kenyal yang ada di dalamnya lalu diremasnya dengan lembut hingga sebuah lenguhan terdengar menambah semangat Gavril untuk terus menjelajahi tubuh istrinya, melepas satu per satu pakaian yang wanita itu kenakan dan juga pakiannya sendiri. 


Gavril menatap takjub pemandangan indah di depannya, matanya semakin menggelap terselimuti gairah dan napasnya sudah semakin panas, tidak sabar untuk segera melahap istrinya, menyalurkan hasrat yang sudah lama di pendam, meskipun sebenarnya beberapa waktu lalu, sebelum menikah mereka melakukan kegiatan panas ini. Tapi sekarang rasanya berbeda karena tentu saja status sudah kembali mengikat mereka.


Lenguhan panjang Adistya memberi isyarat pada Gavril untuk bergerak semakin cepat, dan tidak lama kemudian erangan kenikmatan itu meluncur bersamaan, mengantarkan pelepasan keduanya. 


Gavril ambruk di tubuh polos Adistya dengan napas yang terengah. “Terima kasih, Sayang,” bisiknya tepat di depan wajah cantik Adistya yang merona. Setelahnya satu kecupan Gavril jatuhkan di kening sang istri lalu menjatuhkan tubuhnya ke samping dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. 


“Istirahat dulu sebentar, nanti kita lanjutkan,” ucap Gavril berbisik dengan hembusan napas yang sengaja di tiupkan di depan telinga wanita yang terpejam kelelahan itu. Tapi tentu saja Adistya dapat mendengar dan merasakannya dengan jelas, membuat gairah dalam dirinya kembali bangkit, menginginkan Gavril menyentuhnya lagi, tapi terlalu malu untuknya ungkapkan, jadilah Adistya hanya diam menunggu suaminya itu kembali menyerang.


Di saat matahari sudah berada di puncaknya, Adistya dan Gavril baru saja bangun dari tidur nyenyaknya. Wajah keduanya sama-sama segar dan merona, binar kebahagiaan terpancar begitu juga dengan cinta yang berkobar.


Satu kecupan di kening Gavril berikan sebagai ucapan selamat pagi, ah, ralat, maksudnya selamat siang karena ini sudah hampir pukul dua belas. Keduanya kemudian tersenyum, dan Gavril bangkit lebih dulu dari tidurnya mengangkat tubuh polos istrinya, memangkunya ala bridal menuju kamar mandi, dan aktivitas panas yang semalam mereka lakukan kembali terjadi siang ini, bedanya kali ini mereka tidak melakukannya di atas tempat tidur melainkan bathub yang sudah di isi dengan air hangat dan sabun beraroma mawar.


Dua jam mereka menghabiskan waktu di kamar mandi dan kini dapur menjadi tempat yang keduanya singgahi. Bukan untuk kembali berbuat mesum, tapi kali ini mereka menggunakan dapur dengan fungsi yang seharusnya, yaitu memasak. Cacing-cacing di perut sudah keroncongan sejak tadi, dan Adistya maupun Gavril ingat bahwa mereka sudah melewatkan makan malam juga sarapannya, makan siangpun sudah mereka lewati akibat aktivitas menyenangkan yang mereka lakukan. Benar-benar tidak tahu waktu.


“Jangan terlalu pedas, Yank,” Gavril yang duduk anteng di kursi mini bar dapurnya mengintrupsikan saat Adistya mulai memasukan cabe rawit ke dalam cobek, bergabung dengan bahan lainnya untuk membuat sambal.


Adistya mengangguk, dan menuruti permintaan suaminya itu. Sebenarnya sejak tadi Gavril sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi tentu saja tidak Adistya izinkan karena Gavril hanya akan menghambat pekerjaannya. Jadilah laki-laki itu hanya menyuruh-nyuruh, membuat Adistya kesal, dan ingin sekali menjejeli mulut suminya itu dengan cabe. Tapi tidak jadi, karena bibir itu nantinya di gunakan untuk menciumnya.


“Banyakain udangnya, Yank, aku suka bengat sama udang soalnya.”


Adistya melirik suaminya itu dengan sinis, lalu melanjutkan aktivitasnya yang sekarang sudah beralih mencuci udang yang akan di gunakannya untuk membuat sambal goreng kentang udang.


Adistya sudah jengah sebenarnya mendengar kicauan suaminya yang minta ini dan itu, melarangnya menambahkan ini dan itu ke dalam masakannya. Seperti Adistya tidak bisa memasak dan ia tidak tahu selera pria itu. Andai saja ini bukan hari pertamanya menjadi seorang istri, Adistya ingin sekali mengguyur Gavril dengan minyak panas, agar matang bersama masakannya yang lain. Tapi tentu saja itu terlalu sadis untuknya lakukan, jadi Adistya sekuat mungkin menahan emosinya.


Satu jam kemudian, Adistya menyelesaikan masakannya dan perempuan itu membawa hasilnya ke meja makan dimana Gavril sudah duduk di salah satu kursinya. Entah sejak kapan pria itu pindah tempat duduk, karena saking malasnya mendengarkan laki-laki itu, Adistya memilih fokus pada pekerjaannya dan akhirnya tidak menyadari kepindahan Gavril. Tapi tak apa, toh hanya pindah tempat duduk, bukan pindah hati.


“Tujuh tahun berlalu, akhirnya aku bisa merasakan masakan kamu lagi,” kata Gavril menatap hidangan di depannya dengan mata berbinar.


Adistya menyerahkan piring yang sudah diisi nasi pada pria itu, lalu mengambilkan lauk yang diinginkan Gavril. Setelah itu barulah Adistya duduk di kursi yang bersebelahan dengan suaminya.


“Masih seenak dulu,” komentar Gavril memuji.


Adistya mengembangkan senyumnya dan terkekeh geli saat melihat bagaimana lahapnya laki-laki itu makan.


“Kamu lapar banget, ya, Gav?”


“Itu yang pertama,” jawabnya sebelum menyuapkan kembali nasi ke dalam mulutnya. “Kedua karena ini enak benget, dan ketiga karena kamu yang masak. Aku kangen banget makan masakan kamu. Hampir enam tahun kamu pergi ninggalin aku, Dis, dan di tahun selanjutnya kamu malah semakin membenciku. Sumpah, baru kali ini lagi aku makan selahap ini,” terang Gavril panjang lebar.


Tujuh tahun, ah tidak, hampir delapan tahun bukanlah waktu yang sebenatar. Gavril sudah tidak sanggup dengan hidupnya yang hampa jika saja Adistya tidak dengan cepat kembali dan menjadi miliknya.


Gavril tidak tahu akan bagaimana dirinya jika saat itu Adistya tidak bisa memaafkannya. Gavril tidak mampu membayangkan jika Adistya benar-benar memilih Romeo, dan Gavril tak yakin bisa bernapas jika dirinya kehilangan sumber kebahagiaannya. Kini ia bersyukur dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya, mengulangi kebodohannya yang malah justru merusak kebahagiaannya sendiri.


Tidak akan ada lagi Rania lainnya setelah ini, tidak akan ada lagi Byanca yang mengancam serta merusak bahagianya, dan tidak akan Gavril biarkan pengganggu lainnya menyentuh rumah tanganya, keluarganya, dan mimpi-mimpi indah yang sudah disusunnya dengan Adistya. Tidak akan Gavril membiarkan semuanya kacau seperti tahun-tahun yang sudah beralu.


Tidak akan!


***


SELESAI


Tinggal bonus Chapter ya.