
Happy Reading !!!
***
“Saya terima nikah dan kawinnya Adistya Fasyin binti Bapak Satya Firdaus dengan mas kawin tersebut tunai!”
“Sah?”
SAH !!!
Air mata Adistya mengalir dengan lancarnya melewati pipi begitu mendengar Gavril mengucapkan ijab kobul dengan lancarnya dalam satu kali tarikan napas. Padahal sejak tadi Adistya berharap bahwa laki-laki itu gagal mengucapkannya dan pernikahan di hentikan. Namun sayang, harapan tak pernah sesuai dengan kenyataan. Dan kini Adistya benci dengan kenyataan yang memperlancar jalannya pernikahan ini.
Adistya ingin menikah, tapi bukan dengan pria yang baru saja selesai menjabat tangan ayahnya. Ia ingin menikah dengan pria yang mencintainya dan tentu saja dirinya cintai, bukan laki-laki semacam Gavril yang dulu bahkan pernah merendahkannya dan menolak cintanya dengan begitu kejam.
Di saat semua tamu yang hadir mengaminkan doa yang di pimpin oleh penghulu, Adistya justru memikirkan nasibnya setelah ini yang mana ketenangan tidak akan lagi dirinya dapatkan dan kebebasan tidak akan lagi dirinya miliki, di tambah dengan tugas baru yang mengharuskan dirinya melayani suami. Oh tidak-tidak, untuk ini jelas Adistya tidak akan membiarkan laki-laki menyebalkan itu menyentuhnya barang seinci pun.
Sebuah sikutan di tangannya mengalihkan Adistya dari lamunannya yang mengerikan, menoleh dan menatap tajam laki-laki yang baru saja sah menjadi su-- Adistya tidak sanggup melanjutkan kata itu, karena sampai kapan pun ia tidak ingin menjadikan Gavril sebagai suaminya.
“Nak, silahkan cium tangan suami kamu,” titah si penghulu membuat Adistya membulatkan matanya. Hendak menolak, namun sang ayah lebih dulu memberinya peringatan lewat tatapan mata.
Dengan ragu Adistya meraih tangan Gavril dan membawanya mendekat pada bibirnya. Tak sampai satu detik Adistya dengan cepat kembali menjauhkannya, bahkan sang photograper belum sempat mengambil potret. Di saat giliran Gavril mengecup keningnya pun Adistya lebih dulu memundurkan kepalanya sebelum bibir Gavril benar-benar sampai pada tujuannya. Tidak peduli walau laki-laki itu melayangkan tatapan tajam tanda protes.
Satu per satu tamu undangan hadir, mengantri untuk menyalami kedua pengantin yang tengah berbahagia, walau pada kenyataannya itu tidak sama sekali di rasakan kedua orang yang baru di sah kan dalam sebuah ikatan suci sebuah pernikahan.
Meski tamu yang di undang tidak terlalu banyak, tapi tetap saja pegal dan lelah itu Adistya rasakan, membuatnya berdoa bahwa waktu akan cepat berjalan dan ia segera pulang, beristirahat di kamarnya yang nyaman.
“Yang sebentar lagi lepas perawan, bahagia banget kayaknya.” Kata Azura, sahabat Adistya sejak masa kanak-kanak sekaligus tetangganya itu dengan kedipan genit yang dilayangkan pada Gavril.
Adistya segera mendengus, bukan karena sahabatnya menatap penuh pemujaan pada laki-laki di sampingnya, tapi karena ia tidak suka dengan ucapan sahabatnya yang mengatakan bahwa dirinya bahagia. Adistya jadi ingin sekali berteriak di depan telinga sahabatnya itu, mengatakan bahwa dirinya tidaklah bahagia saat ini.
“Mas-nya nanti yang lembut ya, Tya masih perawan dan belum berpengalaman. Jangankan malam pertama, ciuman aja masih kaku,”
“Lebih baik lo cepat pergi deh, Ra!” wajah Adistya benar-benar merah, selain kesal ia juga malu, apalagi Gavril sempat meliriknya dan menatapnya dengan satu alis terangkat. Sahabatnya itu memang sialan, dan Adistya bersumpah untuk melenyapkan Azura, begitu kata halal di berikan untuk membunuh.
Ia tahu jelas bagaimana Gavril tak menyukai Adistya dulu saat sahabatnya itu mengejar dengan terang-terangan. Dan kini ia tidak menyangka bahwa Tuhan menyatukan mereka dalam sebuah pernikahan. Sungguh rencana Tuhan yang begitu indah. “Jodoh gak akan pernah ke mana, emang.”
Baru saja Adistya menghela napas lega satu lagi sahabat menyebalkannya datang dengan kehebohannya sendiri. Menyesal rasanya ia mengundang sahabat-sahabat terdekatnya jika saja dari awal tahu akan selebay ini tanggapan mereka.
Wajah Gavril terlihat malas begitu mengenali siapa yang datang menghampirinya. “Kalau gak terpaksa gue juga ogah nikah sama dia!” dengus Gavril dengan pelan, namun masih dapat di dengar oleh Elma dan suaminya, juga Adistya yang sudah melayangkan delikan tak sukanya.
“Hati-hati bro, benci sama cinta kadang berbeda tipis. Hari ini lo boleh bilang terpaksa dan gak suka dengan pernikahan ini, tapi banyak kemungkinan untuk kedepannya lo malah justru gak mau kehilangan Adistya. Cepat sadari sebelum penyesalan lebih dulu menghampiri.” Fikri, yang tak lain adalah suami Elma menepuk pundak Gavril singkat, lalu membawa istrinya turun dari atas pelaminan. Tentu saja keduanya tidak lupa mengucapkan selamat dan memberikan doa untuk kelanggengan rumah tangga kedua mempelai yang tak saling cinta itu.
Sejak kepergian Elma dan suaminya, tidak ada lagi percakapan atau interaksi lain di antara Gavril dan Adistya, bahkan hingga acara selesai dan satu per satu tamu undangan meninggalkan tempat acara.
“Cape?” tanya Avril begitu melihat wajah menantunya yang lesu. Adistya hanya menjawab dengan anggukan kecil, kemudian menyandarkan kepalanya pada pundak sang mertua yang sudah duduk di sebelahnya, tempat yang semula Gavril duduki. Sementara kini entah ke mana laki-laki itu pergi, karena tidak sama sekali memberitahunya.
“Makasih ya, sayang sudah bersedia jadi istrinya Gavril. Mama senang banget waktu tahu bahwa kamu adalah teman Gavril semasa sekolah dulu dan Mama gak nyangka juga kalau Satya adalah Ayah kamu. Tahu begitu, dari dulu Mama jodohkan kalian berdua.” Adistya hanya merespons dengan senyuman kecil. Sementara Avril terus saja menceritakan bagaimana Gavril selama ini.
Mertuanya itu pun tak lupa menceritakan perempuan-perempuan yang pernah Gavril kenalkan padanya yang sama sekali tidak pernah Avril sukai. Dan cerita itu berakhir saat Gavril datang dengan sebotol air mineral yang di berikan pada Adistya. Setelah itu mertuanya pamit dan tak lupa menyerahkan kunci kamar hotel yang akan menjadi tempat tinggal mereka untuk dua hari ke depan.
“Lo mandi apa mati?!” dengus Gavril saat Adistya baru saja keluar dari kamar mandi setelah satu jam berada di dalam untuk membersihkan tubuh lelah dan lengketnya.
“Ketiduran gue,” jawab Adistya sekenanya, kemudian melangkah melewati Gavril begitu saja untuk membaringkan tubuh di empuknya kasur hotel berukuran king size dengan seprai putih yang di taburi kelopak bunga mawar merah dan di bentuk lambang cinta. Sayang sebenarnya untuk di hancurkan, tapi rasa lelah dan pegal-pegal di tubuhnya jelas tidak bisa Adistya abaikan.
“Lo tidur di sofa nanti, Gav," ujar Adistya, menarik selimut sebelum memejamkan mata, mengabaikan protesan Gavril yang tidak menyetujui untuk tidur di sofa yang panjang dan luasnya tidak seberapa itu.
“Mimpi apa gue nikah sama cewek model kayak lo. Ck, nyebelin!” gerutu Gavril, yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan cara di banting cukup keras, membuat Adistya yang baru saja memejamkan mata terlonjak kaget dan refleks terbangun.
“Gavril sialan! Hampir aja jantung gue copot.”
***
See you next chap!!!